Fase padat nya kalau memang bisa dipisah dari air mah sayang kalau dibuang.
Katanya bisa dipakai bahan batubata kualitas tinggi....
Wayan Ismara Heru Young <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
atau mungkin bisa di pompa ke laut dalam (seperti tailing tambang newmont
nusa tenggara gitu)...
tinggal hitung-2an saja, mana yang paling murah, paling kecil dampaknya, dan
bisa dilakukan dengan mudah dan cepat (yang paling feasible)...
Ariadi Subandrio wrote: Mas Budi,
misalnya lumpur yang seabreg itu (yang water content-nya diatas 70%) itu
dikeringkan, lantas sisa solid yang ada unload di laut yang lebih lepas jauh
dari kawasan budidaya (tambak dsb) .....apa tidak memungkinkan?.... (anggap
saja kayak bawa batubara dari Kaltim, tapi dilepas dilautan lepas, jauh dari
batas thermoklin) ..... itu juga kalau mau dibuang, atau barangkali malah bisa
dijual ke Singapore.... jadi gak perlu ngeruk dari pasir Riau atau dimanfaatkan
lebih serius lagi sebagai sumberdaya baru, misalnya jadi bahan batubata.
kayak2nya dengan de-watering (pengeringan) - masak teknologi dan modal kuat gak
mampu menangani sih- dan dilakukan simultan oleh beberapa tim permukaan,
misalnya :
1. Tim-1 : menangani lumpur yang saat ini existing keluar, asumsi 50.000 M3 per
hari.
2. Tim-2 : Menangani lumpur yang sudah terlanjur nyebar berjuta meter kubik
itu, dikeringkan juga.
Asalkan kita gak buru-buru bilang "susah", rasanya kok seberapa truk, berapa
tongkang, berapa banyak "kompor" untuk nguapin air dari lumpur, dsb... pasti
bisa dihitung.... dan jangan-jangan jauh lebih murah dari pembiayaan selama
ini. Syaratnya satu : Asal mau, dan yang mau ya kudu kompak dari berbagai macam
pihak, baik pemerintah, baik lapindo, baik masyarakat..... atau pilihannya
adalah tiap hari kita saksikan kesedihan masyarakat sekitar yang semakin perih.
Setelah beres urusan permukaan, putuskan penanganan dengan mengkaitkan fakta
bawah permukaannya.
salam,
ar-
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Next-gen email? Have it all with the all-new Yahoo! Mail Beta.