Den Bagus Arif,
Meninggikan tanggul itu memang yg mudah. Dengan catatan tanggul dibuat
sesuai dengan peruntukannya. maksudku tanggul yg selama ini dibuat
adalah peninggian dari tanggul darurat dimana, dasar tanggul tidak
tertanam.
handicapnya hanyalah rembesan seperti yg saya wanti2 sebelumnya dan
terbukti dari foto2 itu. Bahwa gorong-gorong menjadi penyebab ambrol
dan jebolnya tanggul. Mekanisme rembesannya ya masih berkutet karena
rumus hidrostatik. Wah ampuh tenan rumus "rho ge ha " ini. digambarku
aku tulis H dan Rho (BJ) saja. Soale grafitasi ini relatip konstant
ditempat itu.
Kendala lainnya dengan selubung jebolnya lubang lama yg pernah muncrat
juga. Ini menandakan dibawah sono banyak rekahan2nya. Mungkin dicoba
dideteksi saja dengan metode seismic ya ... hehehehe ... ya tinggal
naruh geophone aja trus dimonitor. kan harga geophone juga ga mahal
kok. Sapa tahu bisa jadi thesisnya dosen ITS ... Terinya mestinya
seperti teori gunungapi yg memonitor bawah permukaan. Tremor2 kecil yg
terrekam aku rasa dapat dipakai sebagai acuan teoritis.
Soal cost
Kalau melihat kerusakan lokal disini mnurutku masih relatif kecil,
tetapi "colateral damage" karena terganggunya nadi transportasi ini yg
sulit diperkirakan.
rdp
On 8/29/06, Arief Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kang Vicky,
Melanjutkan ide pembicaraan tentang pembangunan "selubung" lumpur untuk
menciptakan kondisi hidrostatik lumpur di lokasi semburan, yg memiliki risiko kegagalan
yg paling kecil adalah dengan meninggikan tanggul yg ada sampai 2 atau 3 meter di atas
semburan maksimal. Namun yg aku tidak tahu adalah berapa estimasi biayanya, dan akankah
lapindo mau/mampu membiayainya? Untuk itu adakah gambar dari permukaan yg menunjukkan
geometri dan dimensi tanggul yg sekarang ada? Mas soffian atau yg lain yg bekecimpung di
bidang geologi teknik mungkin punya rekan civil engineer yg dapat membuat perkiraan
tentang biayanya? Hehehe jangan sampe saya usul sesuatu yg gak mungkin atau naif secara
ekonomi.
Catatan :
1) Data yg saya ketahui semburan tertinggi = 25 ft di atas permukaan atau 36 ft
di atas muka laut.
2) Beberapa hari yang lalu ada kabar bahwa terjadi semburan setinggi 50 m.
Menurut saya semburan 50m kemungkinan akibat tersumbatnya lubang sesaat oleh
material padat, atau ada peningkatan fraksi air yg berakibat pada penurunan
densitas fluida (lumpur) . Untuk itu perlu kejelasan apakah ada kenampakan
bertambahnya fraksi air, adakah gas H2S terdeteksi saat semburan 50m?. saya
yakin tekanan formasi masih relatif konstan.
3) Informasi via sms dari mas Soffian, area yg tergenang adalah 240 ha.
Apakah usulan say tentang peninggian tanggul sampai 3m di atas tinggi semburan
maksimal :
1) Masuk akal secara teknis?
2) Tidak berlebihan dalam skala ekonomi bencana?
Mohon rekan2 IAGI memberi pencerahan.
Terima kasih & salam,
A R I E F B U D I M A N
Pertamina - Eksplorasi Sumatra
Phone : (021) 350 2150 ext.1782
Mobile : 0813 1770 4257 / (021) 70 23 73 63
-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, August 29, 2006 7:52 AM
To: [email protected]
Cc: migas indonesia; HAGI-Net; [EMAIL PROTECTED]; [email protected];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Pandangan dari atas.
Gambar dan foto lengkap ada di Dongeng Geologi : http://rovicky.wordpress.com
Pandangan dari atas.
Untuk memberikan gambaran dalam skala ruang (peta). Berikut saya
lampirkan foto-foto yang diambil dari atas. Berapa luas daerah yg
terkena dampak lumpur ini ?. Mungkin sulit bagi yg tidak sempat
melihat. kalau sebelumnya geologi hanya melihat bawah permukaan saja,
sekarang bagaimana seorang geologi melihat dampak di permukaannya.
Pandangan dari atas (satelite view).
Perhatikan luas area yg terpengaruh. Seberapa skala yg diakibatkan
oleh lumpur, bayangkan dari sebuah lubang pengeboran sumur berukuran
sekian inci itu (+/- 10 inci) mampu membuat rekahan yg akhirnya
mengeluarkan material sebanyak itu. Seberapa besar pressure atau
tekanan dibawah tanah. Tekanan yang mampu mendorong seluruh material
(lumpur) ke permukaan dengan debit 50 000 m kubik sehari.
Juga jangan lupa perhatikan skala jarak 500 m yang ada disebelah kiri,
ini bisa dipakai untuk melihat skala luas dampak yg ditimbulkannya.
Nantinya dengan pandangan skala ini bisa dibayangkan seberapa besar
kemungkinan akan menenggelamkan sebuah kota atau sebuah desa ?
Berikutnya disamping kiri ini adalah pandangan miring dari helikopter
(helicopter view) ada juga yg menyebutnya "bird view".
Sekarang kita lihat sama-sama pandangan dari helikopter secara miring
ini. Bisa terlihat seandainya jalan itu hanya kecil membelah
kolam-kolam lumpur. Digambar ini terlihat bagaimana jalan tol di
tengah membelah kolam ini dan bagaimana ketika tanggul disekitar tol
ini jebol. Ya kita dapat melihat dan memperkirakan risiko berada jalan
tol. Foto ini diambil 29 july lalu. Terlihat bagaimana dampak jebolnya
dinding atau tanggul yg membanjiri perumahan disebelahnya.
Disamping ini gambaran yg diambil pada tanggal yang sama 29 July 2006
dilihat dari sisi sebelahnya. Terlihat perumahan yg tersapu terendam
banjir lumpur akibat jebolnya tanggul sehari sebelumnya.
Sangat cepat penjalaran banjir lumpur ini. Hanya dalam sehari saja
sudah menghabiskan berpuluh-puluh rumah penduduk.
Masih seperti pandangan diatas memperlihatkan lokasi jebolnya tanggul
pada tanggal 28 July 2006 lalu. Serta alirannya yang menyebar
kemana-mana. Karena topografi daerah ini sangat landai maka penyebaran
lumpur ini akan terkonsentrasi di lokasi semburan, dan menyebar
kesegala arah.
Gorong-gorong sering merupakan titik lemah dalam tanggul. Seperti yg
saya gambarkan sebelumnya disini, bahwa bagian dasar dari tanggul ini
merupakan daerah yg menerima beban tekanan tinggi kolom air yang
terbesar. Gambar sebelah membuktikan bahwa aliran dari bawah ini yg
harus diamati ketika ketinggian kolom lumpur sudah mencapai titik
maksimum tanggul. Rembesan-rembesan kecil harus diawasi karena akan
menjadikan awal jebolnya tanggul. Selain itu kondisi awal atau denah
/peta lingkungan sebelum dibangunnya bendung atau tanggul ini perlu
diketahui dengan baik untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya
kebocoran dan jebolnya tanggul-tanggul yg sudah dibuat saat ini.
Sisi pandangan lain dari luapan lumpur ini juga memperlihatkan desain
pembangunan tanggul-tanggul yg sudah direncakan dengan sistem buka
tutup untuk mengantisipasi melubernya air. Ada sedikit kendala
tentunya. Salah satunya adalah bahwa lumpur ini terdiri dari 30%
material padatan yg akan mengendap sehingga akan mendangkalkan
kolam-kolam ini dengan sangat cepat.
Sekali lagi saya tampilkan delta buatan yang merupakan hasil rekayasa
yang berada di sebelah utara kota Gresik. Kali ini saya tampilkan
delta yang ada dengan lebih detil lagi. Kita sebut saja Delta Pangkah.
Apa saja yang dapat kita pelajari dari gambar disebelah ini ?.
Warna biru muda (turquoise) menunjukkan pola penyebaran sedimen yg
diangkut oleh aliran air laut yg melalui Selat Madura. Batuan yg
keluar dari lubang semburan di Porong ini juga sama secara genetika
(pembentukannya). Jadi warna biru muda (turquoise) itu adalah
endapan-endapan halus berukuran lempung yg menyebar dan terendapkan
didasar-dasar laut.
Perhatikan skala pembanding yang ada. Dimensi dari kanal buatan yg
konon dibuat sekitar 100 tahun yang lalu ini memiliki panjang 15 Km.
Bandingkan dengan ukuran kolam-kolam di lumpur Sidoarjo pada gambar
paling atas. Terlihat bahwa ukuran kolam itu tidak seberapa kalau
dibandingkan lumpur alami yg mendangkalkan laut. Dengan demikian
menurut saya kita tidak perlu takut dengan pendangkalan yg mungkin
terjadi akibat memasukkan atau mengalirkan lumpur ini ke laut. Namun
ada hal lain yg perlu difikirkan yaitu komposisi kimiawi. Menurut
penelitian ITS sebelumnya menunjukkan bahwa tidak perlu ditakutkan
juga karena dianggap aman untuk biota-biota laut.
Selain itu bisa juga dilihat kan ? Banyak tambak-tambak ikan dan udang
di delta yg 'baru' ini. Lah kalau memang bisa menjadi sumber ekonomi
baru lak malah bagus tah ? Nah, kita jangan buru-buru ketakutan dengan
perubahan. Jelas tidak mungkin tidak terjadi perubahan lingkungan.
Usaha menghitung ulang kerugian dengan mengembalikan ekosistem seperti
sebelumnya justru malah usaha sia-sia, namun usaha bagaimana
beradaptasi dengan lingkungan ini yg lebih penting.
Mnurutku Menteri KLH justru bertugas untuk membuat lingkungan yang
berubah-ubah ini tetap menjadi lingkungan yang layak huni dan layak
pakai. Biarkan saja kalau Lapindo membuang "sampah"nya ke pantai.
Namun KLH "melawan" dengan membuat studi khusus untuk membuat
lingkungan tempat pembuangan ini menjadi layak pakai. Dan masih
mungkin membebankan ongkos studinya ke siapa saja yg merubah kondisi
itu. Jadi KLH mestinya berpikir foreward (kedapan) bukan hanya
mencegah supaya tidak berubah, tetapi lingkungan boleh merubah asalkan
masih tetap layak huni.
--
http://rovicky.wordpress.com/
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006
----- Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006
----- Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
--
http://rovicky.wordpress.com/
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006
----- Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------