Rekan Anggota IAGI Apa yang saya sampaikan secara "samar samar", telah diterjemahkan oleh ADB dengan gamblang !!!!! So , apa lagi yang kita "takut"-kan , suarakan gaung ilmiah kita berdasarkan keyakina dan FAKTA yang dapat kita terjemahkan . Pak Lufthi , bagaimana ????? Pembicaraan mengenai LUSI kok agak "sepi" , padahal percayalah bahwa bagaimanapun ahli kebumian akan menjadi tumpuan untuk menjelaskan case ini , baik kepada masyarakat , dan juga nanti di Pengadilan. Percayalah !!!!!!!!!!!!!!! Si - Abah (kaya peramal yach ) _____________________________________________________________________ > Kuncinya sebenarnya ada di "integration" dan "comprehensiveness" dari > analisis para ahli kebumian yang selama ini dijadikan rujukan oleh > masyarakat (baca: media) maupun kepolisian. Kalau kita perhatikan, > kebanyakan (hampir keseluruhan) ahli kebumian yang dirujuk tidak begitu > mendalami alias menghindarkan diri dari menganalisis data teknis dan > kronologis pemboran "yang berkaitan langsung dengan kejadian semburan". > Pada > umumnya para ahli tersebut mengatakan bahwa "itu urusan drilling > engineer", > dan mereka merasa tidak berkompeten untuk ikut-ikutan menganalisis > data-data > tersebut secara lebih mendalam, padahal banyak sekali informasi tambahan > yang bisa diperoleh dari data pemboran tersebut untuk menjelaskan apa yang > terjadi secara dinamis. Hal ini bisa dimaklumi karena pada umumnya para > ahli > yang dirujuk adalah saintist berbasis akademis (bukan practicioner) atau > saintist dari disiplin ilmu yang lebih berat ke aplikasi permukaan > (geoteknik dsb). Tentunya akan sangat tidak professional kalau mereka > ikut-ikutan menganalisis data pemboran tanpa dasar pengetahuan dan > pengalaman yang kuat. Namun kita lupa bahwa kawan-kawan wellsite > geologist, > operation geologist, exploration-operation geologist, ataupun > production-operation geologist: mereka mempunyai kompetensi yang kita > butuhkan untuk ikut menjembatani gap antara kejadian pemboran dengan > semburan yang akhirnya memicu proses alam menjadi semakin membesar > membentuk > mud-volcano. Dalam tim IAGI sebenarnya ada 2 orang operation geologist > yang > mumpuni, tetapi sejauh yang saya tahu mereka berdua jarang sekali terlibat > (atau dilibatkan) dalam day-to-day evaluation tim secara keseluruhan. > Untuk > menekankan pentingnya "kunci" tersebut coba anda semua perhatikan ungkapan > Professor Sukendar Asikin berikut "Saya bukan ahli pemboran, tapi > berdasarkan fakta-fakta dan saya telah mempelajari kasus serupa di tempat > lain, termasuk browsing internet dan membaca literatur di luar negeri, > saya > yakin ini mud volcano," katanya (DetikCom 28 Desember 2006: "2 Pakar > Geologi > Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo"). > > Kebanyakan dari para ahli kebumian tersebut diatas hanya melihat "hasil > akhir yang dinamis" (perkembangan dari semburan kecil menjadi mud-volcano) > dan "fenomena awal yang statis" (sejarah tektonik, sedimentasi, data > seismik, data permukaan, bertebarannya mud volcano fenomena di jalur > kendeng, dsb). Jembatannya yang berupa "pemboran" dan disisi lain "gempa" > dalam kaitannya dengan proses awal semburan hampir-hampir tidak disentuh > (bahkan seringkali dihindari). > > Jadi, pertanyaannya: pada kemana para ahli WSG kita? > > Longsor-banjir di Panti Jember, di Pacet Mojokerto, dan diberbagai tempat > lainnya adalah bencana alam. Penggundulan hutan, perubahan fungsi lahan, > dan > perencanaan pemukiman yang salah adalah penyebabnya. Siapa yang > bertanggung-jawab? Penggundul hutan, pengubah fungsi lahan, perencana dan > pelaksana tata ruang seharusnya bertanggung-jawab. Tapi karena jarak waktu > antara kejadian dengan penyebab-nya terlalu jauh, maka kita kesulitan > untuk > mengejar-ngejar penanggung-jawabnya. > > Dalam kasus Lumpur Sidoardjo, jarak waktu antara kejadian dan "yang > dicurigai" jadi penyebabnya sangat dekat. Makanya, tidak heran kalau > dengan > gampang massa (media), pemerintah, dsb langsung bisa tunjuk jari memaksa > "yang dicurigai jadi penyebab" untuk bertanggung-jawab. Sementara itu soal > kecurigaan tsb (bahasa ilmiahnya: hipothesis) masih belum juga bisa > dibuktikan secara komprehensif dan integratif, karena tim ahli kebumiannya > masih minus WSG. > > Lalu:.... bagaimana dengan para ahli WSg kita?? > > > Salam > > adb > arema > > ----- Original Message ----- > From: <[EMAIL PROTECTED]> >> Rekan >> >> Harus diakui bahwa posisi >> ahli kebumian dalam persoalan lumpur di BP-1 >> >> tidak terlalu enak. Karena secara kasat mata memang yang >> "menyebabkan" >> terjadi adalah >> pemboran. >> Dengan demikian masyarakat (apalagi >> Pemerintah) akan langsung menuduh >> pemboran >> yang menyebabkan terjadinya BENCANA ini. >> >> Belum lagi implikasi "popularitas" >> Pemerintah jelas sangat dipertaruhkan apabila >> >> "memihak" Lap[indo. >> >> Saya >> mengharapkan keteguhan hati dan kejernihan para ahli kebumian untuk >> tetap >> mengatakan apa yang diyakini-nya berdasarkan >> kaidah ilmu kebumian. >> >> Oleh karena pandangan >> pandangan dari segi kebumian tidak populer , maka kita >> >> tidak heran bahwa issue ahli kebumian ":dibayar" oleh Lapindo >> muncul sejak lama. >> >> Pelik memang !!!!! >> >> Si - Abah >> >> >> _____________________________________________________________________ >> >> >> >>> Pelik juga tho? Jadi lain waktu ahli geologi >> perlu belajar kepada pakar >>> politik utk memastikan bahwa >> kebijakan SBY murni tanpa motif kepentingan >>> politik. >>> >> >>> Wassalaam >>> Ahmiyul >>> >>> >>> >> -----Original Message----- >>> >> From: Rovicky Dwi Putrohari >> [mailto:[EMAIL PROTECTED] >>> Sent: Friday, December 29, 2006 >> 11:10 >>> To: [email protected]; migas indonesia; >> [EMAIL PROTECTED] >>> Subject: [iagi-net-l] Lapindo Harus >> Sediakan Rp 3,8 T - 2 Pakar Geologi >>> Kuak >>> Misteri >> Lumpur Sidoarjo >>> >>> Walaupun Geologist menyatakan gejala >> itu sebagai bencana alam tetapi >>> SBY tetap menuntut Lapindo >> untuk bertanggung jawab. >>> >>> Hmmm ;) >>> >>> RDP >>> >>> ===== >>> >>> JAWAPOS >> Jumat, 29 Des 2006, >>> Lapindo Harus Sediakan Rp 3,8 T >>> >> >>> Hasil Rapat SBY dengan Bupati Sidoarjo dan Gubenur Jatim >>> JAKARTA - Tidak sia-sia Gubernur Jawa Timur Imam Utomo dan Bupati >> >>> Sidoarjo Win Hendrarso dua hari di Jakarta untuk memperjuangkan >> warga >>> korban lumpur Lapindo. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono >> mengabulkan >>> proposal untuk memastikan anggaran penanggulangan >> lumpur di Porong, >>> Sidoarjo. >>> >>> --- >>> >>> 2 Pakar Geologi Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo >>> >> Detik.com Desember 28th, 2006 >>> >>> 2006-12-28 18:48:00 >> Budi Sugiharto - detikcom Surabaya - Untuk menguak >>> misteri >> semburan lumpur yang terjadi di sekitar sumur Lapindo Brantas >>> >> Inc di Porong, Sidoarjo, Polda Jawa Timur memanggil 2 spesialis >>> >> geologi asal Indonesia. >>> >>> >> http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/28/tim >> >>> e/184850/idnews/725009/idkanal/10 >>> >>> -- >>> http://rovicky.wordpress.com/ >>> > > --------------------------------------------------------------------- > ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006 > ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > >

