Rekan-rekan saya di SDM External BPMIGAS(bagian yang mengurusi SDM nasional dan ekspat di oil companies) bila ada usulan2 RPTKA (rencana penempatan tenaga kerja asing) yang diusulkan oleh oil companies selalu mengkonsultasikannya ke bagian2 teknis terkait di BPMIGAS.
Bila ada posisi ekspat untuk geologist, geophysicist, sr. geologist, sr geophysicist, chief geologist, chief geophysicist, atau exploration manager yang baru atau diperpanjang, rekan2 SDM External itu akan berkonsultasi dengan Divisi Eksplorasi. Lalu kami akan memeriksa keperluannya, efeknya kalau ekspat ybs. ada, dan kapabilitas orangnya. Tak jarang, mereka kami panggil untuk membuktikan kapabilitasnya itu (misalnya lewat presentasi, lewat program2 dll.). Untuk posisi2 yang diperpanjang, kami juga mencari masukan ke departemen2 teknis asal ekspat itu. Ekspat yang rasialis atau yang tidak dapat bekerja sama misalnya pernah tidak diperpanjang lagi di suatu oil company, itu atas laporan2 SDM nasional di company tersebut dan setelah dilakukan penelitian. Singkatnya, kami di BPMIGAS tak begitu saja menerima usulan2 RPTKA. Tetapi, banyak pos-pos G & G pengalaman menengah 10-15 tahun yang kosong tak diisi oleh SDM nasional sebab memang sulit dicari (brain drain ke LN), pos2 itu kemudian diisi ekspat...(itu keluhan seorang rekan saya di SDM Eksternal BPMIGAS yang belakangan terpaksa menyetujui RPTKA tenaga G & G akibat brain drain ini : ada yang pergi ada yang datang). Salam, awang -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, January 25, 2007 3:31 PM To: [email protected] Cc: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Lagi Lagi Cost Recovery > pertama-tama saya mohon maaf dgn komentar saya yg nyeleneh. Tapi hrs diakui bhw kenyataan dilapangan memang menyakitkan, sehingga tenaga prof.nasional tdk mendapatkan porsi yg pas dgn perkataan lain hanya jadi ban serep.Banyak tenaga kita yg bagus2, sbg bukti dgn banyak tenaga ahli kita yg berkiprah di internasional....Pihak operator/expart asing selalu mempunyai presepsi yg negatif thd tenaga nasional ( walaupun ada memang beberapa kaya gitu; tapi kan gak semuanya. )...kalau kita bilang kecolongan kayak nya gak; lha waktu mengajukan rptka, kan disebutkan si "john" itu keahliannya apa/pendidikan formalnya apa/ siapa yg menjadi incumbent nya dsb. dan ini kan di presentasikan didepan para pejabat yg berwenang.dan kalau sekiranya ada hal2 yg mencurigakan, bisa dipanggil/inerview/sebelum diteruskan unutk diberikan work permit dsb ( kalau ternyata mereka tidak becus jgn kasih work permit/ atau cabut work permit nya...yang lebih celaka ada tenaga manegement nasional di company tsb. biasanya lebih bule dari bulenya sendiri...yah sih persoalannya tdk hanya sekedar tenaga kerja saja/sistem/kontrol/perlu dibenahi....supaya pengelolaan kekayaan alam dinegeri dapat dipakai secara maksimal untuk mensejahterakan rakyat banyak....dan ahirnya expat tdk sama dgn expert... Wassalam Yth bapak "so what gitu lho", > > Saya sangat tidak setuju dengan statement anda, karena ini bukan > sekedar "masalah So What Gitu Lho", tapi suatu "kecolongan" fundamental > yang mesti cepat-cepat dibenahi dan dibuat jelas. Meng-ekspat-kan bule > yang baru keluar sekolah untuk belajar di Indonesia, dan biayanya > di-beban-kan ke cost-recovery, jelas-jelas "perampokan". > > Sebenarnya peraturan authority MIGAS Indonesia sejak jaman dulu sangat > jelas, bule-bule yang bisa ditempatkan disini (sebagai pegawai, expats, > yang dianggap expert) adalah orang-orang yang seharusnya memang punya > pengalaman luas di bidangnya, yang nantinya pengalamannya mesti dibagi > ke pegawai lokal yang akan pegang post dia dalam beberapa tahun. Jadi, > seperti sudah dikomentari mas Frank, mas Syaiful, sangatlah absurd untuk > percaya kalau ada bule yang baru selesai sekolah 3 tahun yang lalu > (apapun sekolah asalnya) ditempatkan di Indonesia, dibebankan pada > recovery cost atau production cost, atau biaya apapun, dianggap expert, > yang dianggap punya "kesaktian" lebih untuk dibagi. Yang terjadi, mereka > "mengambil kesaktian%2 --------------------------------------------------------------------- siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini??? ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!! semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional... --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini??? ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!! semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional... --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

