Sent from my BlackBerry® wireless device -----Original Message----- From: Harry Kusna <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 26 Mar 2007 18:25:20 To:[email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] RPTK, Masih perlu ndak ? ---> BPMIGAS: 2.444 Lowong untuk GGE Mohon ijin untuk ikut memberikan komentar. Dalam menapaki karier, ada 3 hal utama yang berpengaruh katanya sih, yaitu skill, motivation, dan opportunity. Untuk perform dengan baik, ketiga hal ini harus terus dibina, tetapi tentunya kepada bibit yang sudah terseleksi dengan baik, dan hal ini sebetulnya sudah harus dilakukan sejak saat awal perekrutan. Pada saat awal satu company meng-hire seseorang, dia sudah harus yakin bahwa orang tsb ketika diambil memang cocok untuk memenuhi kebutuhan company tsb., tidak hanya untuk kebutuhan pada saat itu, tetapi juga untuk kebutuhan ke depan, dia akan mampu untuk ikut berkembang dengan company tsb. Jadi orang tsb akan bisa dikembangkan, dengan jalan membina ketiga hal di atas (keahliannya, motivasinya, dan juga kesempatannya). Keahlian dikembangkan dengan macam2 cara, ant. lain formal/informal training, gaul tanya sana-sini untuk belajar, dipaksa menyelesaikan proyek, dsb. Motivasi dibina dengan reward and punishment, guidance and counselling, dsb. Kedua hal tsb di atas relatif banyak bergantung kepada individu-nya, sedangkan hal ketiga, yaitu kesempatan/opportunity/peluang, lebih banyak ditentukan oleh systemnya/managementnya, yaitu bagaimana system memberi kesempatan kepada individu untuk berkembang. Ada system yang memberi peluang kalau seseorang sudah mentok, dia dipindah ke tempat lain, tetapi ada juga system yang tidak demikian, walaupun tidak terlepas bahwa pemberian kesempatan ini juga banyak dipengaruhi oleh kinerja individu tsb. Kalau dia memang tidak terlalu cerdas, mungkin management tidak dapat memberikan dia kesempatan terlalu luas. Namun semua ini kembali ke system perekrutan di awal. Kalau system perekrutannya baik, relatif orang yang diambil akan pinter2, dan hal ini akan memudahkan pembinaannya. Nah sekarang kembali ke industri migas kita, apakah semua yaang terlibat, management (terutama HRD) KKKS sudah mengarahkan hal ini kesana (ke Indonesianisasi) ? Apakah BPMIGAS juga demikian? Semuanya mungkin dapat dipikirkan untuk dikoreksi kembali jika memang belum demikian. Wassalam, Harry Kusna Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Masih perlukah RPTK ? Jawab saya masih perlu !! untuk merencakan masa depan sebuah organisasi. Nah yang menjadi sulit ketika (oleh karyawan) RPTK menjadi sesuatu sekenario yang HARUS diikuti begitu saja tanpa adanya kompetisi dan kompetensi. RPTK sering dianggap sebagai tool untuk menunjang karier seseorang. Bahkan sering terlontar adanya kekesalan ketika namanya tidak-naik dari tahun ketahun. Yang buntutnya menyalahkan management yg tidak berani fight, bahkan menyalahkan BPMIGAS yang ga punya nyali dsb. Menurut saya RPTK ini "tool-nya perusahaan" untuk mengembangkan organisasi usaha, didalamnya menyangkut masalah ketenaga kerjaan. RPTK "bukan tool-nya karyawan" untuk naik ke jenjang lebih tinggi. Aku rasa ini sebuah kelirumologi yg cukup parah ketika RPTK dianggap sebagai model suksesi dalam progam Nasionalisasi. Hal ini diperparah dengan sikap karyawan yang kurang jiwa persaingannya untuk "merebut" tampuk kepemimpinan (manajerial) dalam organisasi perusahaan migas. Tool-nya karywan ya termasuk knowledge, knowhow, sklill dsb. Ini yang harus digali oleh perusahaan yang berlaku untuk setiap karywan. OK deh ... kembali ke LAPTOP ! Bisnisnya BPMIGAS (dh BPPKA) adalah mengatur kontraktor migas untuk dapat optimum menambah cadangan minyak yang digali dari bumi Indonesia. Jadi jelas bukan berbisnis tentang tenaga kerja. Memang salah satu untuk menunjang penambahan cadangan ini dengan meningkatkan kemampuan 'human resources'. Jelas bahwa suksesnya human resources management di BPMIGAS bukan hanya nasionalisasi saja, bahkan bisa jadi bukan hal yang penting untuk kondisi saat ini. Untuk kondisi saat ini mendapatkan "qualified people" ini bisa dari berbagai sumber. Skali lagi kondisi saat ini sudah jauuh berbeda dengan kondisi dunia bisnis tahun 80-an. Dahulu negara dapat memilki power untuk mengatur kontraktor. Saat ini perusahaan sudah boleh memilki SP (Serikat Pekerja), iklim bisnis freetrade sudah mulai merebak. Batasan negara-negara dalam usaha bisnis sudah mulai luntur. Yang akhirnya RPTK bukan lagi tool ampuh yang dapat digunakan BPMIGAS dalam "mengatur" kontraktor. Lah nanti gaji kalau besarnya remunerasi diatur (dibatasi) juga malah protes semua :( Akan lebih baik kalau BPMIGAS kembali ke LAPTOP ! kembali ke "main bussines theme" --> add resources with high efficiency Sakjane ya bukan hanya BPMIGAS, ada MIGAS, ada ESDM ... ada presiden, ada saya, ada kamu ... semua punya andil dalam menambah jumlah cadangan migas dari bumi Indonesia rdp On 3/27/07, Harry RW wrote: > > ini mah cerita lama, masalahnya bukannya RPTK nya yang gagal, tapi BPMIGAS > yang kurang diberi wewenang, manpower dan kekuatan untuk melakukan > kontrol………. Segitu aja komentar saya …………. Udah sering sikh topic ini dibahas > di milis ini dan milis MIGAS, tapi kayaknya nggak ada gunanya juga……. Capek > dekh!!! > > ________________________________ > > From: Iman Argakoesoemah [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Tuesday, March 27, 2007 6:54 AM > > To: [email protected] > Subject: RE: [iagi-net-l] BPMIGAS: 2.444 Lowong untuk GGE > > > Kelihatannya pengurangan ekspat hanya sekitar 10 orang per tahun, padahal coy > asing secara "intensif" melakukan eksplorasi disini sudah sejak 35 tahun yang > lalu (dari mulai negara ekportir migas hingga mulai menjadi negara importir > migas). Barangkali penurunan di bagian eksplorasi bisa lebih kecil dari 1 % > atau malah mereka bertambah dengan bertambahnya discovery ?? Apakah model > RPTK "gagal" mengakselerasi penurunan jumlah ekspat ? > > > Thanks. Iman > > > -----Original Message----- > From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Monday, March 26, 2007 12:32 PM > To: [email protected] > Subject: RE: [iagi-net-l] BPMIGAS: 2.444 Lowong untuk GGE > > Pak Iman, > > Jumlah TKA di PSC production Indonesia menurun (walaupun tak signifikan) dari > tahun ke tahun, ini datanya : > 2002 : 821 orang > 2003 : 819 orang > 2004 : 805 orang > 2005 : 794 orang > > Pada tahun 2005 tercatat ada 19.788 TKN dan 794 TKA di PSC produksi. Walaupun > jumlah TKA tak sampai 4 % dari seluruh tenaga kerja, expenditure-nya > signifikan di dalam personnel cost. > > Salam, > > awang ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- ---------------- Be a PS3 game guru. Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.: <http://us.rd.yahoo.com/evt=49936/*http://videogames.yahoo.com>

