Sorry Oom Vicky. Kok kayaknya nggak sinkron nih. Alasan yang dikemukakan Oom
Vicky memang valid, tapi kesimpulannya harusnya: RPTK itu tidak perlu.

Lha ngapain lagi, kan RPTK tidak bisa jadi pegangan karyawan untuk
nasionalisasi. RPTK juga bukan main business BPMIGAS, jadi nggak usah cawe2
soal renumerasi dan kepegawaian. Capek sendiri malahan nanti.

Kalau saya setuju kalau RPTK dihilangkan saja, dan biarkan renumerasi
pegawai perminyakan Indonesia mengikuti pasar. Lebih fair dan kompetitif,
dan perusahaan minyak tidak ada alasan lagi membatasi renumerasi pegawainya.
Dan menurut Tukul, kita jangan jadi orang ndeso dan katro yang selalu sirik
melihat orang lain seneng. Karena semua itu adalah hasil kristalisasi
keringat sendiri.

Dan dunia sekarang sudah global, bukan hanya di bidang perminyakan. Bahkan
acara Empat Mata pun sudah bisa dinikmati di seluruh dunia lewat internet.
Coba kalau mengikuti aturan, pasti video Empat Mata di youtube sudah
diberangus karena melanggar copyright dan copyleft.

Salam -

Aris


2007/3/27, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]>:

Masih perlukah RPTK ?

Jawab saya masih perlu !! untuk merencakan masa depan sebuah
organisasi. Nah yang menjadi sulit ketika (oleh karyawan) RPTK menjadi
sesuatu sekenario yang HARUS diikuti begitu saja tanpa adanya
kompetisi dan kompetensi. RPTK sering dianggap sebagai tool untuk
menunjang karier seseorang. Bahkan sering terlontar adanya kekesalan
ketika namanya tidak-naik dari tahun ketahun. Yang buntutnya
menyalahkan management yg tidak berani fight, bahkan menyalahkan
BPMIGAS yang ga punya nyali dsb.

Menurut saya RPTK ini "tool-nya perusahaan" untuk mengembangkan
organisasi usaha, didalamnya menyangkut masalah ketenaga kerjaan. RPTK
"bukan tool-nya karyawan" untuk naik ke jenjang lebih tinggi. Aku rasa
ini sebuah kelirumologi yg cukup parah ketika RPTK dianggap sebagai
model suksesi dalam progam Nasionalisasi.
Hal ini diperparah dengan sikap karyawan yang kurang jiwa
persaingannya untuk "merebut" tampuk kepemimpinan (manajerial) dalam
organisasi perusahaan migas.

Tool-nya karywan ya termasuk knowledge, knowhow, sklill dsb. Ini yang
harus digali oleh  perusahaan yang berlaku untuk setiap karywan.

OK deh ... kembali ke LAPTOP !
Bisnisnya BPMIGAS (dh BPPKA) adalah mengatur kontraktor migas untuk
dapat optimum menambah cadangan minyak yang digali dari bumi
Indonesia. Jadi jelas bukan berbisnis tentang tenaga kerja. Memang
salah satu untuk menunjang penambahan cadangan ini dengan meningkatkan
kemampuan 'human resources'.

Jelas bahwa suksesnya human resources management di BPMIGAS bukan
hanya nasionalisasi saja, bahkan bisa jadi bukan hal yang penting
untuk kondisi saat ini. Untuk kondisi saat ini mendapatkan "qualified
people" ini bisa dari berbagai sumber. Skali lagi kondisi saat ini
sudah jauuh berbeda dengan kondisi dunia bisnis tahun 80-an. Dahulu
negara dapat memilki power untuk mengatur kontraktor. Saat ini
perusahaan sudah boleh memilki SP (Serikat Pekerja), iklim bisnis
freetrade sudah mulai merebak. Batasan negara-negara dalam usaha
bisnis sudah mulai luntur. Yang akhirnya RPTK bukan lagi tool ampuh
yang dapat digunakan BPMIGAS dalam "mengatur" kontraktor. Lah nanti
gaji kalau besarnya remunerasi diatur (dibatasi) juga malah protes
semua :(

Akan lebih baik kalau BPMIGAS kembali ke LAPTOP !
kembali ke "main bussines theme" --> add resources with high efficiency

Sakjane ya bukan hanya BPMIGAS, ada MIGAS, ada ESDM ... ada presiden,
ada saya, ada kamu ... semua punya andil dalam menambah jumlah
cadangan migas dari bumi Indonesia

rdp

On 3/27/07, Harry RW <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ini mah cerita lama, masalahnya bukannya RPTK nya yang gagal, tapi
BPMIGAS yang kurang diberi wewenang, manpower dan kekuatan untuk melakukan
kontrol………. Segitu aja komentar saya …………. Udah sering sikh topic ini
dibahas di milis ini dan milis MIGAS, tapi kayaknya nggak ada gunanya
juga……. Capek dekh!!!
>
>   ________________________________

>
> From: Iman Argakoesoemah [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>  Sent: Tuesday, March 27, 2007 6:54 AM
>
>  To: [email protected]
>  Subject: RE: [iagi-net-l] BPMIGAS: 2.444 Lowong untuk GGE
>
>
> Kelihatannya pengurangan ekspat hanya sekitar 10 orang per tahun,
padahal coy asing secara "intensif" melakukan eksplorasi disini sudah sejak
35 tahun yang lalu (dari mulai negara ekportir migas hingga mulai menjadi
negara importir migas). Barangkali penurunan di bagian eksplorasi bisa lebih
kecil dari 1 % atau malah mereka bertambah dengan bertambahnya discovery ??
Apakah model RPTK "gagal" mengakselerasi penurunan jumlah ekspat ?
>
>
> Thanks. Iman
>
>
> -----Original Message-----
>  From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>  Sent: Monday, March 26, 2007 12:32 PM
>  To: [email protected]
>  Subject: RE: [iagi-net-l] BPMIGAS: 2.444 Lowong untuk GGE
>
> Pak Iman,
>
> Jumlah TKA di PSC production Indonesia menurun (walaupun tak signifikan)
dari tahun ke tahun, ini datanya :
> 2002 : 821 orang
> 2003 : 819 orang
> 2004 : 805 orang
> 2005 : 794 orang
>
> Pada tahun 2005 tercatat ada 19.788 TKN dan 794 TKA di PSC produksi.
Walaupun jumlah TKA tak sampai 4 % dari seluruh tenaga kerja,
expenditure-nya signifikan di dalam personnel cost.
>
> Salam,
>
> awang


----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007

----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




--
===========================
Se queremos progredir, não devemos repetir a história, mas fazer uma
história nova.

If we want to progress, we do not have to repeat history, but to make a new
history.

Kirim email ke