Pak Dhe Ismail,
nek gak salah peledak ini untuk menyingkirkan longsoran bebatuan yang
mencapai 1.000 meter kubik dan sebagian menutup sungai di bawah tanah.
Longsoran ini diakibatkan  gempa 27 Mei tahun lalu. Untuk mengeluarkannya,
bisa diatasi dengan cara meledakkan reruntuhan tersebut. Berita lengkapnya
sila klik di http://gunungsewu.wordpress.com/tag/cave-and-karst-news/page/2/
.

Nek dietung cucuk ndak cucuk, ya mungkin masih cucuk lah Pak Dhe,
wong peledakannya dilakukan untuk menyelamatkan proyek yang sudah berjalan.
Nek dietung-etung juga, mungkin kerusakan yang ditimbulkan akibat
penyingkiran longsoran yang menutup aliran sungai bawah tanah ini tidak
sebesar aktivitas penambangan batu kapur seperti abstraknya Mas Langgeng di
http://gunungsewu.wordpress.com/2006/11/24/identifikasi-kerusakan-kawasan-karst-akibat-aktivitas-penambangan-di-kabupaten-gunungkidul/

Mas Vicky,
saya masih utang jurnal karst vol III ya....

wassalam,
komo

On 3/27/07, Ismail Zaini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 Kalau tidak salah dulu proyek Gua Bribin ini untuk dibikin Pembangkit
Listrik Tenaga air ( ? )
Melihat untuk merelaisasikan proyek ini harus " merusak" Gua  Gua ( dg
meledakan  segala) , apa tidak sayang , disisi lain kita konsen terhadap
klestarian alam.
Kalau dilihat "hasil"  ( dari listrik yang dihasilkan nantinya  mungkin
hanya puluhan- ratusan KW ) mungkin juga tidak terlalu banyak , apalagi
untuk daerah ini masih banyak alternatif lain ( menggunakan sumber energi
lain ) tanpa harus "merusak" alamnya.
Ora cucuk , istilah Gunung Kidule...

ISM
====================================


Penelusuran Sumber Air
*Luweng Ngejring Akses Masuk Lain ke Goa Bribin di Gunung Kidul *

Upaya penghancuran bebatuan yang menutup penampang Goa Bribin di Semanu,
Gunung Kidul, beberapa waktu lalu, masih menyisakan sedikit pekerjaan. Belum
semua pecahan batu hasil peledakan yang melibatkan dua penyelam sifon (pipa
penuh air) dari Jerman, Marco Wendelberger dan Matias Leyk, November tahun
lalu, itu tersingkir.

Artinya masih ada sisa bebatuan yang membendung aliran air di dalam goa
berkedalaman sekitar 100 meter di bawah permukaan tanah tersebut. Batuan itu
jelas menjadi penghambat pembangunan dam utama karena keberadaannya membuat
permukaan air menjadi naik.

Beberapa upaya pun kembali dicoba, salah satunya mencari jalan lain untuk
masuk ke dalam penampang goa guna menyingkirkan batu-batu sisa secara
manual. Setelah melalui sejumlah pemikiran, pilihan pun tertuju ke luweng
atau lubang vertikal.

Lubang ini diharapkan bisa menjadi jalan masuk dari sisi lain. Mengingat,
untuk masuk dari jalan utama, yakni terowongan vertikal, hasil pengeboran
masih cukup sulit, meski kini telah terpasang lift.

Salah satu luweng yang kemudian menjadi pilihan adalah luweng Ngejring.
"Akhir bulan ini kami berencana untuk mencoba masuk ke dalam luweng
Ngejring. Kami masih menunggu situasi kondusif," ujar Dicky J Mesah, Ketua
Acintyacunyata Speleological Club (ASC), pekan lalu.

ASC ialah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang
penelusuran goa yang juga terlibat dalam pembangunan bendungan sungai bawah
tanah Bribin.

*Tak mudah*

Masuk dalam goa bawah tanah, apalagi yang jalurnya vertikal dan terdapat
sungai di dalamnya, bukan persoalan mudah. Selain keterampilan dan dukungan
peralatan yang memadai, kondisi cuaca menjadi bagian yang tidak bisa
dianggap remeh.

Debit air sungai bawah tanah biasanya bertambah, seiring datangnya musim
hujan baik itu yang turun di daerah tersebut maupun di daerah hulu.

Sementara itu, luweng Ngejring yang berada sekitar satu kilometer arah
barat daya dari titik pengeboran sebenarnya telah dimatikan (ditimbun).

Sekitar 40 tahun terakhir, warga sengaja menimbunnya dengan tanah untuk
dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

"Berhubung ada rencana menjadikannya jalan masuk, maka Februari kemarin
warga bersama pihak-pihak terkait berupaya membuka kembali timbunan. Kini
lubang luweng ditutup memakai papan agar Lumpur tidak ikut masuk bersama air
hujan," kata Dicky.

Ngejring merupakan luweng keempat yang akan dicoba sebagai jalan masuk ke
Bribin. Sebelumnya, ada tiga luweng lain di Kecamatan Semanu yang telah
dicoba. Namun, luweng-luweng itu tidak berhasil dimanfaatkan lantaran
beberapa masalah. Salah satunya ada luweng yang ujungnya menyempit sehingga
tidak bisa dimasuki. "Karena tidak berhasil itulah, akhirnya diledakkan,"
kata Dicky.

Menurut Solichin selaku penghubung antara Universitas Kalsruhe Jerman dan
Pemprov DI Yogyakarta

dalam pembangunan bendungan Bribin di Indonesia, luweng Ngejring merupakan
pintu masuk terdekat dengan lokasi reruntuhan. Hal ini sesuai dengan
pengukuran Matias Leyk.

Kalau sampai tembus ke dalam goa, menurut Solichin, hal itu merupakan
suatu keuntungan. Kalau upaya ini berhasil, maka upaya menyingkirkan
penghalang bisa dilakukan lebih mudah.

"Memang ada rencana peledakan kembali tanggal 16-21 April mendatang oleh
tim yang sama. ASC diharapkan mencari akses masuk lebih dulu," tuturnya.

Meledakkan batuan di dalam goa penuh air memang tidak mudah. Pengalaman
peledakan pertama yang melibatkan Profesor Nestmanm selaku pimpinan proyek
dari Universitas Kalsruhe dan harus diulang hingga tiga kali akan menjadi
referensi tersendiri bagi para ahli terkait. (WER)




Kirim email ke