Terima kasih Pak Shofiyudin, masukan yang sangat beranfaat bagi semua .

 

Ada pengalaman saya pada carbonate reservoir di Sumsel. Saya coba
eksperimen sederhana, yaitu

melakukan pengukuran kandungan dolomite (metoda kalsimetri), sewaktu
drilling, dengan kerapatan pengambilan sample ditingkatkan.

grafik pada zone poros homogen, kandungan dolomitnya tinggi, pada zone
fracture, kurva kandungan dolomite 'spiky', dan [pada zone porositas
rendah sampai tight, kandungan dolomitnya

menurun. Tentu saja asumsi hanya berlaku pada kondisi reservoir
tertentu, dalam hal ini yang mengalami proses dolomitisasi yang
intensif. Tetapi paling tidak kita berusaha  mengoptimumkan

data, proses untuk mendapatkan data dan mengintegrasikan dengan data
lain, untuk mempertajam interpretasi.

 

Agus Sutoto

 

________________________________

From: Shofiyuddin [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, March 29, 2007 7:48 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Logging Acq.kondisi Under Balance Drilling

 

Tambahan mas,

Akan lebih baik seandainya interpretasi log didukung oleh oleh data data
permboran seperti yang saya sebutkan di bawah ini:

 

1. Loss circulation zone. Ini adalah gambaran nyata dari adanya fracture
network yang OPEN. Saya garis bawahi kata OPEN untuk lebih menjelaskan
kondisi fracture yang aktual daripada kita melakukannya dari
resistivity-based image log dimana kita gak bisa mendefine mana yang
open dan mana yang closed. Yang perlu diperhatikan adalah loss
circualtion yang pertama kali terjadi untuk menghindari salah
interpretasi terhadap zona zona yang berada di bawahnya. Loss bisa
berlangsung terus menerus yang disebabkan oleh zona loss yang terus
menerus tapi bisa juga oleh zona loss yang pertama ditemui saja. Nah
nanti kalo sampe tahap interpretasi fracture dari image log, data data
diatas harus diperhatikan. Coba buat zonal fracture berdasarkan data
loss kalo ada. 

 

2. Coba perhatikan kembali sample descriptionnya. Minta sama WSG nya
untuk mengambil interval sample menjadi lebih rapat sehingga akan
didapatkan resolusi vertical sample yang padat. Ciri khas OPEN fracture
biasanya ditandainya oleh adanya Crystal Growth yang bagus, entah berupa
kurasa amaupun calcite yang biasanya akan mudah sekali terbentuk kalo
ada space yang terbuka. 

 

3. Coba minta ke Mudlogging company untuk membuat Instan ROP dengan
kejelian sampe tingkat 0.1 meter atau kalo bisa lebih kecil lagi untuk
mendapatkan average ROP yang lebih baik. ROP yang normal biasanya di
vaerage untuk sekitar 1 meter. Biasanya mereka menyimpan data ini masih
dalam bentuk time based di data base mereka. Anda bisa cross check untuk
depth dengan melihat drilling time. 

 

4. Data drilling torque kadangkala bisa membantu identifikasi fracture
juga.

 

5. Biasanya Logging company selalu menggambungkan interpretasi image
dengan dipole sonic untuk interpretasi fracture. Kalo ada data cross
dipole shear dan stoneley wave cukup membantu analisa fracture juga.
hati hati dengan interpretasi data dari resistivity image log yang
mendasarkan pada differential conductivity semata diman antara shale dan
fracture bisa menghasilkan effect yang sama. 

 

 

ok, met berburu fracture.

 

 

 

 

 

 

On 3/29/07, Sandrya Laksana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

Terima kasih sebelumnya Pak Agus, Pak Shofi dan Pak Gde serta rekan2 yg
lainnya atas masukannya.

 

Mungkin perlu sedikit saya jelaskan masalahnya.

Target formation adalah Quartzite reservoirs yg berumur ordovician.
Formasi ini telah mengalami kurang lebih 5 kali periode structure. Mudah
terlihat oleh 3D seismic main faults (in general thrust faults) dan
trend natural fracture (kata: pak Gde) dibantu dengan software Fraca.
Porosity sangat rendah sekali: 3%. Oleh sebab itu kita menginginkan utk
mem-bor sumur yg kurang lebih mendekati fracture network. Paling tidak
kalau pun dari natural fracture tak mengalir, akan dilakukan
fracturation setelah itu. 

Satu sumur berhasil dibor pas didekat fracture network dan hasilnya
cukup bagus. Namun karena lemahnya kontrol BOP (kata: pak shofi), blow
out lah yg terjadi.

 

Untuk menghindari problem yg telah terjadi dan konon dengan UBD bisa
membantu mengurangi biaya pengeboran, mengurangi Skin well bore,
meningkatkan produksi dengan meminimumkan formaiton damange, untuk itu
akan dicoba pilot wells UBD. 

 

Dari quartzite formation yg tebalnya kurang lebih 300m, kita tak bisa
menentukan dimana letak jelasnya bagian yg paling fracture atau berapa
persenkah dia. Harus dilakukan dulu fracture model (dari logs imagery +
analog field + seismic). Paling tidak apabila satu sumur berhasil di
lakukan interpretasi fracture dari log, akan dianalogikan ke sumur lain
dimana kira2 yg berpotensial. 

 

Yang diharapkan adalah: disamping engineering data terpenuhi (reducing
skin, improvement productivity) juga geological informasinya dari model
fracture bisa kita buat. 

 

Dari masukan semua rekan2, bisa saya simpulkan bahwa resolusi imagery
logs akan lebih akurat dengn wireline (sulit utk kondisi kita).
Alternatif lain adalah dengan LWD tetapi tentu tidak akan sangat akurat.


 

Apakah ada dari rekan2 yg tahu success ratio nya: EcoScope dari
Schlumberger ?

 

 

sandrya

 


  

Kirim email ke