Pak Djatmiko,
Jadi kesimpulannya kalo mirah delima yang aseli sli sli sli itu bagaimana ciri-cirinya? Harus terdapat inklusi mineral? Atau harus tidak ada kumpulan gelembung udara berukuran mikron? Kalo bapak enggak keberatan, boleh dong Bapak berikan ciri-ciri khas dari batu-batu mulia yang terkenal, berikut pengamatan dengan mata telanjang dan/atau dengan loupe. Terima kasih sebelumnya Pak. Salam, Firman GEA ________________________________ From: miko [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, April 17, 2007 7:19 PM To: IAGI Subject: [iagi-net-l] HATI-HATI SYNTHETIC RUBY = MIRAH SINTETIS Rekan-rekan Gems-Lovers IAGI yang budiman, Bulan Maret 2007 yang lalu , mang Okim kedatangan seorang tamu Jepang berpostur pendek, kekar, dan berwibawa. Kata pengawalnya , dia adalah seorang Profesor di bidang Karate yang diundang khusus oleh organisasi karate nasional yang berkedudukan di Jakarta. Cukup fasih berbahasa Indonesia, dia selalu datang dengan mobil baby-benz mewah berwarna hitam. Pada kedatangannya yang pertama, Pak Profesor yang memakai cincin emas berhiaskan batu merah dikelilingi "berlian" zircon, minta mang Okim untuk memeriksa 2 batu merah lepasan yang beratnya masing-masing sekitar 20 karat ( 4 gram ). Pak Profesor yakin bahwa batu merah yang konon baru dibelinya adalah pigeon blood ruby atau mirah delima berwarna darah merpati ( sangat mahal !). Kedua batu yang mang Okim periksa memiliki kekerasan sekitar 9 skala Mohs, translusen mendekati transparan, berat jenisnya 3,4, dan memancarkan cahaya merah menyala di bawah sinar ultra violet. Dengan pembesaran 40 kali, kabut putih seperti kapas yang tampak nyata dengan mata bugil ternyata merupakan kumpulan gelembung udara berukuran mikron. Inklusi mineral tidak ditemukan. Kesimpulannya adalah Mirah Siam Kapas atau Cotton Siamese Ruby yang tak lain adalah synthetic ruby. Mendapatkan kenyataan tersebut, Pak Profesor dan pengawalnya tampak sangat kecewa . Hal ini bisa dimaklumi karena kedua batu merah tersebut pastilah dibeli dengan harga mahal. Apakah Pak Profesor kapok ? Ternyata tidak ! Dua minggu kemudian , Pak Profesor dengan pengawal dan mobil yang sama datang lagi membawa sebuah liontin dan sebuah cincin dengan batu merah yang dikelilingi berlian kecil-kecil ( lihat foto di bawah ). Kata pengawalnya, untuk mengikatnya saja Pak Profesor telah mengeluarkan ongkos lebih dari 20 jutaan rupiah. Tanpa basa-basi, Pak Profesor langsung minta mang Okim memeriksa batunya ( tanpa dilepas dari ikatannya ). Hasilnya ternyata tidak berbeda dengan sebelumnya, keduanya adalah synthetic ruby. Rekan-rekan bisa bayangkan betapa marahnya Pak Profesor dan pengawalnya. Mang Okim sendiri siih hanya bisa menasehatinya untuk periksa sebelum membeli. Kasihan juga ya Pak Profesor kita. Keahliannya di bidang karate ternyata tak mampu menolongnya dalam pembelian batu merah. Semoga rekan-rekan Gems-Lovers IAGI bisa lebih berhati-hati kalau berhasrat membeli batumulia. Bawalah loupe 10 X dan senter khusus untuk meriksa inklusi dalam batu . Kalau tidak, maka jangan kecewa kalau batumulia yang dibeli ternyata palsu ( mang Okim pernah ngalami lho, tanpa bawa perlengkapan , beli batu kecubung di Jl. ABC Bandung dan setelah diperiksa di rumah ternyata palsu ). Sekian dulu ya, semoga bermanfaat. Salam batumulia, mang Okim. FOTO : Cincin berhiaskan berlian dan synthetic ruby.
<<attachment: image001.jpg>>

