Kang Vicky,
Kalo Signature Bonus dianggap sebagai penghalang investasi, kenapa masih
banyak investor yang mau explorasi disini? di Malaysia mungkin cuma 4 atau
lima oil coy saja, disini bejibun. Saking  banyaknya investor, tenaga GnG
kita habis bis diserap dengan harga yang tinggi?

Atau kah lebih baik membuang sejuta dolar dan dapat beberapa kali lipatnya
pas produksi nanti (mekanisme CR)? Ataukah hilang 1 juta dolar tapi blok
dilepas kembali dengan harga harga dua tiga kali lipatnya tanpa ngebor sama
sekali?

Maaf sekedar tanya karena belum tahu.

Shofi

On 5/10/07, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Memang signature bonus itu sebuah hal wajar. Namun dampaknya bisa
bermacam-macam.
Salah satu yang saya amati ketika evaluasi beberapa PSC term dan
bagaimana investasi masuk ke sebuah negara. Ternyata signature bonus
ada yg menginterpretasikan sebagai "palak" (maaf) ... lah iya kan ...
wong belum apa-apa sudah disuruh bayar ini itu. Ini juga mirip pajak
yang dikenakan pada saat eksplorasi, wupst biacar asoal palak ... eh
pajak ini salah satu yg membuat

Ada sebuah negara yg tidak memasukkan signature bonus dalam KKS-nya.
Dalam hatinya "tetapi ntar kalau you sudah pasti akan untung karena
dapet lapangan minyak, baru deh gwe minta bagian, kagak tanggung
tanggung, gantian gwe sembeleh lue !".

Dalam perbandingan keekonomian beberapa PSC term negara-negara ini
yang iseng-iseng aku lakukan. Ternyata kumpeni-kumpeni akan betaruh
atau berantem memperebutkan blok dalam mengadu program (komitment
spend) di negara ini. Sampe-sampe ada looh yang punya komitmen
drilling sampai 16 sumur eksplorasi, iya 16 sumur dalam 4 tahun !! Ini
di ustrali.

Mungkin saja, mungkin saja looh, di MIGAS sana gedenya angka bonus ini
bukan hal utama dalam evaluasi pemenangan tender. Tetapi sudah bisa
membuat kumpeni-kumpeni (investor) ini sudah enggan dengan adanya
bonus-bonusan. Seolah-olah itu uang pasti hilang (sunk cost).
Kehilangan 5 juta karena dry hole masih ok ketimbang hilang 1 juta
karena harus ngasih bonus ... ini pikirannya investor looh.

Padahal setelah dihitung-hitung keekonomiannya PSC ini ternyata ngga
beda jauh setelah mendapatkan minyak dan dikerjakan tuntas sampai
PSCnya habis. Jadi secara ekonomi (fiskal/commercial) ndak beda banyak
yg diperoleh goverment maupun investor. Tetapi yang satu merasa ngga
dikerjain. Dan ternyata negara memperoleh "harta" (goverment take)
yang sama juga. Hanya yang tidak minta duluan berhasil mengundang yang
satunya mungkin tersendat dalam mengundang investor.

salam

rdp

Kirim email ke