Kalo saya kok cenderung kuncinya drive mechanism (DM) dulu ya......

Setelah kita tahu DM baru bermain di beberapa scenario. Nah masalahnya
bagaimana mengetahui DM?

Ada beberapa cara tetapi yang bagus ya kalo punya data produksi dalam
artian punya dynamic model.

Disinilah bisa dilakukan beberapa cara antara lain yang Mas Rovicky
bilang seperti simulasi, history match, dan material balance.

Lebih bagus lagi kalo ada sumur yang bisa dilakukan pressure transient
test.

Sehingga kita bisa memperkirakan bagaimana perilaku reservoir kita dari
Flowing Build Up (FBU) test.

Tetapi gimana kalo kita Cuma punya static model? Ya mau gimana
lagi...paling ya lihat strukturnya apakah open dan ada water leg?

Kalo demikian adanya ya bisa diasumsikan reservoirnya cenderung water
drive sehingga kita perlu meletakkan sumur horizontal setinggi mungkin
dari air.

Atau bisa juga pake analog lapangan/sumur tetangga yang ada.

Intinya bagaimana kita memprediksikan DM reservoir sebelum bermain2 dgn
model. 

Karena model hanyalah tool yang bisa kita pakai dalam pengujian
interpretasi kita.

Ini sependek pengetahuan saya. Dan maaf kalo ada yang tidak berkenan.

 

-doddy-

 

 

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, May 11, 2007 7:21 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Kriteria penempatan sumur horizontal

 

Berbagi pengalaman dengan sumur Hz di Kondur dulu. Rekan dari Kondur

mungkin bisa mengupdate hasil seterusnya. Saya hanya mengikuti ketika

design awal.

 

Lapangan Lukit (DC) pernah di bor horizontal pada zona minyak spt

kasus Pak Shofi. Pengalaman penting dalam penempatan elevasi ini

ternyata sangat sensitif terhadap permeabilitas relatif G O W. Selain

itu juga strong water drive characteristic dan pressure.

Kuncinya --> Simulasi

Simulasi sendiri berdasarkan "model" sehingga model menjadi sangat

kritis dan sulit bahkan boleh dibilang unpredictable ! Walaupun agak

beruntung karena pada batupasir yg diperkirakan seragam (tidak

berlapis-lapis). Untuk karbonat barangkali akan sama, sehingga

permeabilitas boleh dianggap seragam.

 

Oil zone memiliki ketebalan sekitar 30 ft (kalau ga salah :).

Pada saat simulasi dibuat 3 macam kasus yaitu sumur ditempatkan 1/3

bawah, 1/2, 1/3 diatas, dengan horizontal lenght yg konstant.

Ketiganya dibuat dengan beberapa macam rate produksi. Jadi simulasinya

tidak hanya satu macam saja.

 

Pada kasus tertentu akan terlihat:

- OWC, dan atau OGC yang bergerak naik

- Oil zone bertambah tebal tetapi saturasi jauuh berkurang -> Gas akan
bertambah

- Gas lebih banyak masuk ketimbang air walaupun 1/3 dibawah karena

rate terlalu besar.

- Yang keluar gas dan air setelah disedot terlalu besar

- dll

 

Seolah-olah segala macam kemungkinan bisa terjadi. Pengeboranpun

akhirnya dilakukan dengan 1/2 diatas OWC, untuk mempermudah

mengontrol. Akhirnya kalau ngga salah, pada saat dilakukan komplesi

digunakan perforated liner, yang didalamnya diberi "open-end tubing".

dimana tubing ini bisa digerakkan maju mundur dicari titik-titik

posisi tertentu yang optimum. Perlu diingat bahwa walaupun lubangnya

terbukanya cukup panjang (karena tidak disemen), lokasi ujung pipa

terbuka merupakan tempat dimana differential pressure (beda tekanan)

paling besar.

 

Jadi kuncinya uji saja dengan simulasi dengan model terbaik. Karena

segala macam kemungkinan bisa terjadi tergantung parameter produksi

dan juga penempatan posisi Hz well. Cari saja yang optimum dimana

nanti dimainkan dengan parameter (metode) produksinya.

 

segini dulu :)

salam

 

RDP

 

On 5/11/07, Shofiyuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> rekans,

> barangkali ada yang mau share tentang kriteria penempatan posisi sumur

> horizontal terhadap kedudukan GOC and OWC. Kalo sumur tersebut
memiliki

> kedua jenis kontak tersebut, kriteria apakah yang dipakai untuk
menempatkan

> posisi sumur horizontalnya, misal :

> 1. untuk sumur minyak, apakah sumur horizontal harus berada di tengah
tengah

> antara OWC dan GOCnya? apakah tidak mendekati salah satu kontaknya?
kriteria

> apa yang dipakai untuk itu.

> 2. konsekuensi apakah yang harus ditanggung dengan penempatan sumur
tersebut

> diatas. Apakah kalo dekat dengan OWC akan terjadi water coning yang
cepat?

> apakah kalo dekat dengan GOC akan terjadi penurunan produksi
minyaknya? dsb

> dsb ..

> 3. bagaimana kita tahu drive mechanism suatu sumur apakah itu water
drive

> atau gas cap drive atau solution? apakah ada hubunganya dengan
penempatan

> sumur orizontalnya?

> 

> 

> terima kasih sebelumnya.

> 

> 

> salam

> 

> shofi

> 

> 

 

 

-- 

http://rovicky.wordpress.com/

 

------------------------------------------------------------------------
----

Hot News!!!

CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]

Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the

29th IATMI Annual Convention and Exhibition,

Bali Convention Center, 13-16 November 2007

------------------------------------------------------------------------
----

To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id

To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

No. Rek: 123 0085005314

Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia

No. Rekening: 255-1088580

A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke