Bicara tentang gaji memang tidak akan pernah ada putusnya. Besaran gaji yang jadi target memang tergantung dari individu. Itu semua tidak lepas dari sifat dasar manusia yang selalu dipenuhi dengan target dan keinginan.
Memang kalau dilihat dari kaca "Materi", pendapatan expat dan nasional di negara kita bisa dibilang sangatlah tidak adil. Ambilah contoh, seorang national manager di perusahaan tambang, yang membawahi sekian banyak karyawan, juga mengurusi tetek bengek dari A-Z, di departemennya, digaji bersih sekitar Rp40-45 juta. Sementara salah satu karyawannya seorang expat fresh graduate yang masih harus ditraining untuk bisa mapping dan logging bisa mendapatkan USD 5 ribuan bersih sebulan. Di lain pihak karyawannya yang lain yang juga fresh graduate, cuma yang ini national, mendapatkan sekitar Rp 6-7 juta sebulan. Sungguh sangat terasa kesenjangan yang terjadi. Tidak aneh jika ahirnya seorang yang merasa mampu dan merasa setara atau lebih mumpuni dari expat akan mencari solusi bagaimana bisa mendapatkan gaji yang setara atau bahkan lebih dari expat. Salah satu solusinya ya dengan mendulang dollar di negara lain. Atau menggandeng investor untuk bikin perusahaan di Indonesia dan ia menjadi bagian dari top management di perusahaan tsb dengan gaji sesuai yang dia inginkan. Harapan untuk bisa "Ada harga ada rupa" sebenarnya ada pada para professional national yang saat ini mengeluhkan penggajian karyawan nasional di Indonesia. Kita menantikan beberapa orang dari profesional tersebut berada di top management di perusahaan di Indonesia. Yang menjadi penentu kebijakan, sehingga ia punya "Taji" untuk menyalurkan keinginan para pekerja yang mempunyai skill dan nilai jual yang tinggi dengan gaji yang tinggi setara dengan expat. Karena mereka berasal dari background yang sama. Pertanyaan yang akan muncul nanti adalah: setelah ia nanti jadi petinggi perusahaan, yang tentunya akan berkutat dengan urusan budgeting, masihkah nanti ia se-ideal saat masih menjadi bawahan? Beranikah ia menggaji karyawannya yang punya skill dan nilai jual tinggi setara dengan expat? Ataukah ia akan mencari calon karyawan lain yang punya skill sedikit lebih rendah tapi dengan gaji yang jauh lebih rendah? Kenapa saya sangsikan ini akan terjadi? karena kacamata penentu kebijakan biasanya lebih luas dan melihat semua aspek managerial secara menyeluruh dan tidak hanya fokus pada satu/dua persoalan. Tampaknya jalan panjang dan berliku untuk bisa mendapatkan kesetaraan gaji dengan expat. Belum terlihat ada cross cut menuju ke sana. salam, bk ----- Pesan Asli ---- Dari: budi santoso <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sabtu, 19 Mei, 2007 8:25:13 Topik: Re: [iagi-net-l] HCS vs expat was: Re: [iagi-net-l] Fw: [IATMI-KL] Re: BP Migas: Gaji Ekspatriat Tambang Kelewat Mahal Urun rembug pak . . Mestinya setelah pasar tenaga kerja global menjadi hal yang sudah sangat umum seperti sekarang ini, patokan penentuan gaji bukan lagi ekspat non ekspat. Cara berpikir perusahaan (mestinya) : jika memiliki ekspektasi mempekerjakan tenaga kerja dengan level kemampuan tertentu maka harga ybs juga dipatok dengan harga tertentu pula (tak memandang ekspat, eks ekspat dan non ekspat). Jadi apakah di ekspat, bekas ekspat, non ekspat jika kualifikasinya memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh perusahaan tersebut 'dengan sendirinya (mestinya) harganya ngikut . . . ada barang ada rupa . . . bagi karyawan lama yang memiliki kualifikasi sama dengan sendirinya mesti teraktrol . . untuk yang lain tapi sekedar berkebangsaan sama tapi kualifikasinya berbeda ya mesti belajar lagi dan bekerja lebih smart&keras lagi untuk sampai ke sana . . . Hal ini menjadi terasa fair baik bagi mereka yang pernah jadi ekspat mau balik kembali atau yang tidak pernah jadi ekspat tapi kualifikasinya sama akan memperoleh perlakuan yang sama pula . . . . Kecuali ada perlakuan khusus spt yang telah dibahas di sini: spt kemudahan berkarir dalam jalur managerial role di Mly dll . . . . Sekedar sharing saja: Idealnya hal-hal di atas juga berlaku bagi perusahaan Asing yang beroperasi di Indonesia . . saya sendiri pernah pada posisi ditawari untuk bekerja di negeri sendiri oleh asing dengan posisi 'lebih' dari yang sekarang, tapi gaji yang mereka tawarkan adalah gaji (pasar-bahasa mereka) tenaga ahli indonesia yang mereka bayarkan selama ini . . . jadi ya . . matur nuwun - lain kali saja mister!! sTJ - Mineral Geologist --- nyoto - ke-el <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ya betul, di MidEast umumnya company memberi gaji > lokal lebih besar dari > expatnya, kecuali itu juga lokal mendapat prioritas > di management. Kalau > expatnya terutama sebagai professional / experts > atau mentor bagi orang2 > lokal. > Di KL gaji lokal lebih kecil dari expat, tapi mereka > ke jalur managerial > lebih banyak. > > wass, > > > ____________________________________________________________________________________Pinpoint customers who are looking for what you sell. http://searchmarketing.yahoo.com/ ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- ________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/

