Pak Ismail lagi cerita pengalamannya sendiri ....

wass,





On 5/21/07, Ismail Zaini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Melu nimbrung dikit ,.....
Ada yang bilang membahas soal pergajian ini ibaratnya spt bicara  masalah
"
porno" ada yang terang terangan , ada yang merasa gak enak , ada yang malu
malu , dst , dst......
Bicara masalah Gaji ini ternyata tidak sama  dg Penghasilan , banyak yang
Gajinya kecil tapi penghasilannya gede bahkan berlipat lipat dari Gajinya
,
makanya dia tenang tenang  saja meskipun hanya digaji kecil..........Gak
tahu atau karena Gajinya kecil mendorong untuk "kreatif" untuk
meningkatkan
Penghasilan sehingga meskipun Gaji kecil tapi penghasilannya besar ......


ISM


----- Original Message -----
From: "budi santoso" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Saturday, May 19, 2007 11:08 PM
Subject: Re: Hal: [iagi-net-l] HCS vs expat was: Re: [iagi-net-l] Fw:
[IATMI-KL] Re: BP Migas: Gaji Ekspatriat Tambang Kelewat Mahal


> Lha ini tantangan beliau-beliau yang sedang di
> posisi-posisi tertentu untuk membuat 'terobosan' . . .
>
> Saya dengar MEDCO sudah dan sedang melakukan itu (tapi
> yang ngomong ini 'yang punya' kalau tidak salah). . .
>
>
> tapi kalau sekedar jadi exploration/country manager
> dari sebuah perusahaan asing di Indonesia . .  yang
> bersangkutan tak akan punya 'kekuasaan' penuh untuk
> mengubah struktur gaji karyawan yang ada, yang bisa
> dilakukan 'sekedar' dan  mestinya 'berani' mengajukan
> proposal 'gaji+benefit lain' yang sepadan . . .
> parameternya tergantung perusahaan masing-masing
> karena tiap multi nasional sepertinya mereka punya
> 'range' tertentu untuk gaji karyawannya secara
> internasional, . .  sayangnya (sialnya) dari beberapa
> perusahaan dimana saya pernah bekerja . .  kita yang
> di Indonesia tidak pernah berada di range itu yang
> terendah sekalipun . . .  meskipun saya tahu posisi
> kami waktu itu berada paling tidak di tengah-tengah
> kisarannya . . . .
>
> Bukan hal mudah (pengalaman sendiri) tapi bukan
> mustahil untuk melakukannya . . .  dimulai dari kita
> sendiri pas negosiasi berani 'menjual' diri, mungkin
> juga via 'komunitas profesi geologi' atau regulasi . .
> .
>
> Yang susah jika beberapa pihak menggeneralisasinya,
> misalnya:
>
> mineral geologist pengalaman >10th= min US$7,000
>                             <10th = US$ 5,000
>
> tidak lalu setiap geologist dengan rentang pengalaman
> seperti itu minta 'harus' bergaji sejumlah itu . . .
> mestinya balik lagi 'ada rupa ada harga' . . .
>
> jadi kalau saya tidak berkualifikasi sebagai 'barang'
> berharga US$7,000 perbulan mestinya saya juga tidak
> memaksa orang lain untuk 'membeli' saya seharga itu .
> . .  begitu juga sebaliknya . .
>
>
> --- Bowo Kusnanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>> Bicara tentang gaji memang tidak akan pernah ada
>> putusnya.
>> Besaran gaji yang jadi target memang tergantung dari
>> individu. Itu semua tidak lepas dari sifat dasar
>> manusia yang selalu dipenuhi dengan target dan
>> keinginan.
>>
>> Memang kalau dilihat dari kaca "Materi", pendapatan
>> expat dan nasional di negara kita bisa dibilang
>> sangatlah tidak adil.
>>
>> Ambilah contoh, seorang national manager di
>> perusahaan tambang, yang membawahi sekian banyak
>> karyawan, juga mengurusi tetek bengek dari A-Z, di
>> departemennya, digaji bersih sekitar Rp40-45 juta.
>> Sementara salah satu karyawannya seorang expat fresh
>> graduate yang masih harus ditraining untuk bisa
>> mapping dan logging bisa mendapatkan USD 5 ribuan
>> bersih sebulan. Di lain pihak karyawannya yang lain
>> yang juga fresh graduate, cuma yang ini national,
>> mendapatkan sekitar Rp 6-7 juta sebulan.
>>
>> Sungguh sangat terasa kesenjangan yang terjadi.
>>
>> Tidak aneh jika ahirnya seorang yang merasa mampu
>> dan merasa setara atau lebih mumpuni dari expat akan
>> mencari solusi bagaimana bisa mendapatkan gaji yang
>> setara atau bahkan lebih dari expat. Salah satu
>> solusinya ya dengan mendulang dollar di negara lain.
>> Atau menggandeng investor untuk bikin perusahaan di
>> Indonesia dan ia menjadi bagian dari top management
>> di perusahaan tsb dengan gaji sesuai yang dia
>> inginkan.
>>
>> Harapan untuk bisa "Ada harga ada rupa" sebenarnya
>> ada pada para professional national yang saat ini
>> mengeluhkan penggajian karyawan nasional di
>> Indonesia. Kita menantikan beberapa orang dari
>> profesional tersebut berada di top management di
>> perusahaan di Indonesia. Yang menjadi penentu
>> kebijakan, sehingga ia punya "Taji" untuk
>> menyalurkan keinginan para pekerja yang mempunyai
>> skill dan nilai jual yang tinggi dengan gaji yang
>> tinggi setara dengan expat. Karena mereka berasal
>> dari background yang sama.
>>
>> Pertanyaan yang akan muncul nanti adalah: setelah ia
>> nanti jadi petinggi perusahaan, yang tentunya akan
>> berkutat dengan urusan budgeting, masihkah nanti ia
>> se-ideal saat masih menjadi bawahan? Beranikah ia
>> menggaji karyawannya yang punya skill dan nilai jual
>> tinggi setara dengan expat? Ataukah ia akan mencari
>> calon karyawan lain yang punya skill sedikit lebih
>> rendah tapi dengan gaji yang jauh lebih rendah?
>> Kenapa saya sangsikan ini akan terjadi? karena
>> kacamata penentu kebijakan biasanya lebih luas dan
>> melihat semua aspek managerial secara menyeluruh dan
>> tidak hanya fokus pada satu/dua persoalan.
>>
>> Tampaknya jalan panjang dan berliku untuk bisa
>> mendapatkan kesetaraan gaji dengan expat. Belum
>> terlihat ada cross cut menuju ke sana.
>>
>> salam,
>> bk
>>
>>
>>
>> ----- Pesan Asli ----
>> Dari: budi santoso <[EMAIL PROTECTED]>
>> Kepada: [email protected]
>> Terkirim: Sabtu, 19 Mei, 2007 8:25:13
>> Topik: Re: [iagi-net-l] HCS vs expat was: Re:
>> [iagi-net-l] Fw: [IATMI-KL] Re: BP Migas: Gaji
>> Ekspatriat Tambang Kelewat Mahal
>>
>>
>> Urun rembug pak . .
>>
>> Mestinya setelah pasar tenaga kerja global menjadi
>> hal
>> yang sudah sangat umum seperti sekarang ini, patokan
>> penentuan gaji bukan lagi ekspat non ekspat. Cara
>> berpikir perusahaan (mestinya) : jika memiliki
>> ekspektasi  mempekerjakan tenaga kerja  dengan level
>> kemampuan tertentu maka harga ybs juga dipatok
>> dengan
>> harga tertentu pula (tak memandang ekspat, eks
>> ekspat
>> dan non ekspat). Jadi apakah di ekspat, bekas
>> ekspat,
>> non ekspat jika kualifikasinya memenuhi persyaratan
>> yang ditentukan oleh perusahaan tersebut 'dengan
>> sendirinya (mestinya) harganya ngikut . . .  ada
>> barang ada rupa . . . bagi karyawan lama yang
>> memiliki
>> kualifikasi sama dengan sendirinya mesti teraktrol .
>> .
>> untuk yang lain tapi sekedar berkebangsaan sama tapi
>> kualifikasinya berbeda ya mesti belajar lagi dan
>> bekerja lebih smart&keras lagi untuk sampai ke sana
>> .
>> . .
>>
>> Hal ini  menjadi terasa fair baik bagi mereka yang
>> pernah jadi ekspat mau balik kembali atau yang tidak
>> pernah jadi ekspat tapi kualifikasinya sama akan
>> memperoleh perlakuan yang sama pula . . . .
>>
>> Kecuali ada perlakuan khusus spt yang telah dibahas
>> di
>> sini: spt kemudahan berkarir dalam jalur managerial
>> role di Mly dll . . . .
>>
>> Sekedar sharing saja:
>>
>> Idealnya hal-hal di atas juga berlaku bagi
>> perusahaan
>> Asing yang beroperasi di Indonesia . .  saya sendiri
>> pernah pada posisi ditawari untuk bekerja di negeri
>> sendiri oleh asing dengan posisi 'lebih' dari yang
>> sekarang, tapi gaji yang mereka tawarkan adalah gaji
>> (pasar-bahasa mereka) tenaga ahli indonesia yang
>> mereka bayarkan selama ini . . . jadi ya  . . matur
>> nuwun - lain kali saja mister!!
>>
>> sTJ - Mineral Geologist
>>
>>
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________Shape
> Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!
> http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7
>
>
>
>
----------------------------------------------------------------------------
> Hot News!!!
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
> [EMAIL PROTECTED]
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
> Bali Convention Center, 13-16 November 2007
>
----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>




----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007

----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


Kirim email ke