Memang bahasanya Kang ADB ini bahasa pemimpin atau leader. Namun akan lebih
mudah dibaca dengan menganalogikan begini saja.
Apa yang akan anda perbuat jika anda sebagai seorang Manajer HR. Wah mungkin
jauh ya ..
Ya sudah, dengan kata lain "Apa yang akan anda lakukan jika anda sebagai
seorang Manager Eksplorasi, atau Chief Geologist ?"

Kalau anda bilang, "ya uwis semono wae kan cukup tole ? Manusia itu pada
dasarnya tamak kok" ... wah aku jamin pegawe atau bawahan anda akan langsung
cari lowongan lain atau mungkin malah ngirim CV ke aku ... wupst !!
Pernah denger atau baca kalimat ini kan ? -  "People don't leave their jobs,
they leave their managers."
Blaik .... pantesan RDP kluar dari posisi itu enam tahun lalu :) Ya karena
aku ngga mau ditinggalkan kawan-kawanku.

- :( "Looh tapi pakdhe meninggalkan manajer Pakdhe sebelumnya juga, kan?"
+ :D " Hust, aku dulu yo nyari duwik ... uspt !!"

Sakjane Pak Awang itu mengucapkan gaji berapapun kurag aku yakin karena
beliau juga was-was. Dan kalimat beliau dipakai supaya menahan
rekan-rekannya sesama kawan, untuk tidak ikutan braindrain. Saat menulis
barangkali beliau tidak sedang memposisikan dirinya pada posisi diatas
(BPMIGAS) ... kalau di BPMIGAS tentunya Kang Awang akan berbicara lain. Tapi
memang disini uniknya forum IAGI-net ini. Kita berada dalam dua posisi kaki
yang berbeda. Ada posisi pribadi, dan ada posisi jabatan. Mungkin ada juga
yang satu kaki posisi sebagai anak negeri, dan satu kaki pada posisi pegawe
perusahaan asing.

Makanya kalimat pak Awang direspons berbeda antara ADB dan Taufik Manan.
Karena level bicara mereka berbeda.

Nah, biar tambah mikir
"brain-drain" ini fenomena individu atau fenomena kolektif ?

RDP

On 5/28/07, Parvita Siregar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bahasanya Mas Andang  susah ih :)

Mas Awang, saya setuju, pendapat Mas Awang.  Kalau bisa bangun siang dan
tidak macet2an ke kantor, atau sempat jogging sebelum sarapan dan
berangkat ke kantor, pulang ke rumah masih melihat matahari terbenam dan
main tenis atau sepak bola dan main dengan anak-anak, sekolah
kwalitasnya baik dan gratis, ya mikir2 jugalah.

It's a matter of quality of life kok.  Kalau soal uang, ngga kan ada
cukup2nya...

Parvita H. Siregar
Salamander Energy
Jakarta-Indonesia


Disclaimer:  This email (including any attachments to it) is
confidential and is sent for the personal attention of the intended
recipient only and may contain information that is privileded,
confidential or exempt from disclosure.  If you have received this email
in error, please advise us immediately and delete it.  You are notified
that using, disclosing, copying, distributing or taking any action in
reliance on the contents of this information is strictly prohibited.

-----Original Message-----
From: Andang Bachtiar [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, May 28, 2007 1:09 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Pembedaan Gaji Bagi Profesional Asing dan WNI
di Tanah Air Picu Brain Drain

Permasalahan brain-drain yang dikemukakan di initial posting nampaknya
punya
dimensi supra-struktur kebijakan, strategi besar korporasi, lembaga
negara,
dan pemerintahan secara umum. Sementara opini yang dikemukakan broer
Awang
terlampir lebih menjelajah wilayah filosofis (kebahagiaan versus materi)
dan
penyerapan subtil individual (yang seringkali sakral) atas filosofi
tersebut
untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Repotnya adalah:
apabila para pengambil kebijakan (korporasi, negara, dsb) menerapkan
filosofi individual dalam kebijakan yang mempengaruhi kemaslahatan
masyarakat banyak, dimana bisa saja terjadi pengabaian (negligence) atas

konsern masyarakat banyak (yang punya filosofi individual
ber-beda2).......
Mudah2an berbagai perkembangan yang terjadi di kancah pertenaga-kerja-an

migas kita bisa menggugah (pelan2 juga nggak papa), membangkitkan, dan
menggerakkan para pengambil kebijakan kita untuk tanggap/concern dan
mengambil tindakan segera.

Salam

adb



----- Original Message -----
From: "Awang Harun Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Monday, May 28, 2007 12:23 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] Pembedaan Gaji Bagi Profesional Asing dan WNI
di
Tanah Air Picu Brain Drain


Yang bergaji rp 100 jt/bl atau rp 1 jt/bl sama-sama bisa hidup,
sama-sama bisa menyekolahkan anak-anaknya, dan punya kenikmatan serta
keluhannya masing-masing. Tak ada jaminan bahwa yang bergaji rp 100
jt/bl tak pernah mengeluh atau pusing atau kuatir. Di tengah kemacetan
kota Jakarta, yang bergaji Rp 100 jt/bl marah karena terjebak macet dan
kuatir mobil mewahnya terserempet metromini yang dinaiki orang bergaji
rp 1 jt/bl yang tersenyum saja melihatnya. Penghasilan tak pernah
berkorelasi positif dengan kebahagiaan. Orang yang gajinya kecil akan
menyesuaikan dengan apa yang mampu dibelinya.

Kalau "brain drain" hanya mengejar uang, hm...

Masih banyak yang tak bisa dibeli dengan uang..

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Leonard Lisapaly [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, May 28, 2007 11:04 C++
To: [email protected]; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia
Subject: RE: [iagi-net-l] Pembedaan Gaji Bagi Profesional Asing dan WNI
di Tanah Air Picu Brain Drain


Meminjam istilahnya Bapak Orang Miskin di acara Republik BBM :

"Sedikit-sedikit uang, sedikit-sedikit uang, uang kok cuma sedikit ...."

LL

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, May 28, 2007 10:48 AM
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; Forum Himpunan Ahli
Geofisika Indonesia
Subject: [iagi-net-l] Pembedaan Gaji Bagi Profesional Asing dan WNI di
Tanah
Air Picu Brain Drain

Dari 5 tahun lalu kita diskusi braindrain di IAGI-net ga pernah
selesei .... Kita bisa debat berbusa-busa soal gaji cukupnya berapa
banyak. Namun kenyataan bahwa gaji masih menjadi impian pekerja di
Indonesia. Simak uraian dari KB Antara dibawah sana.

Uang bukan segalanya
tapi segalanya perlu uang ...
waaks ! :)

RDP

Ekonomi & Bisnis

27/05/07 11:15
Pembedaan Gaji Bagi Profesional Asing dan WNI di Tanah Air Picu Brain
Drain

Canberra (ANTARA News) - Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia
(PPIA) mengusulkan perlu dihapusnya segera kebijakan yang membedakan
gaji dan fasilitas bagi para profesional asing dan orang Indonesia
berkualifikasi sama di Tanah Air, karena ditengarai turut memicu
larinya atau "brain drain" kalangan terdidik Indonesia lulusan luar
negeri.

Usul tersebut mengemuka dalam diskusi PPIA di Universitas Nasional
Australia (ANU) tentang fenomena "brain drain" di kalangan terdidik
dan profesional Indonesia yang enggan pulang ke tanah air setelah
tamat dari pendidikan di luar negeri, demikian informasi yang
diperoleh ANTARA dari PPIA ANU, Minggu.

Disebutkan, usul yang mengemuka dalam diskusi yang menghadirkan dua
orang Indonesia yang sedang bertugas di ANU, Ariane Utomo dan Wijayono
Sarosa, itu masih akan ditindaklanjuti dan digodok secara lebih
mendalam dalam konferensi perhimpunan mahasiswa Indonesia dari seluruh
dunia yang direncanakan berlangsung di Sydney pada September
mendatang.

Dalam diskusi yang dihadiri puluhan mahasiswa ANU dan doktor Indonesia
yang kini bekerja di universitas terbaik di Australia itu, terungkap
bahwa perbedaan gaji dan fasilitas yang diberikan perusahaan asing
maupun lokal kepada para tenaga ahli dan konsultan asing dan Indonesia
dengan kualifikasi keahlian yang relatif sama ini sudah berlangsung
sejak lama.

Di perusahaan pertambangan milik Amerika Serikat di Provinsi Papua, PT
Freeport Indonesia, misalnya, disebutkan bahwa sudah lama terjadi
kebijakan yang membedakan gaji para konsultan asing dengan konsultan
Indonesia, padahal mereka memiliki kualifikasi dan keahlian sama.

Kebijakan yang diskriminatif itu diyakini menjadi salah satu penyebab
terjadinya "brain drain" di kalangan terpelajar Indonesia lulusan luar
negeri atau orang-orang terbaik Indonesia yang meninggalkan Tanah Air
untuk bekerja di luar negeri sebagai profesional.

Di Malaysia, pemerintah negara itu memberikan insentif yang menarik
kepada warganya yang melanjutkan studi di luar negeri dengan beasiswa
negara untuk kembali ke Malaysia setamat dari universitas mereka.

Sementara itu, Ariane Utomo kepada ANTARA yang menghubunginya dari
Darwin mengatakan di Australia, fenomena "brain drain" itu justru
lebih banyak terjadi di kalangan anak-anak Indonesia yang lulus
program strata satu dari universitas-universitas di Australia.

"Trend jumlah lulusan S-1 universitas-universitas Australia yang asal
Indonesia cenderung tinggi. Setelah mereka tamat, mereka melamar untuk
mendapatkan status residen tetap di Australia, karena memang
Pemerintah Australia membuka pelulang untuk itu," katanya.

Menurut Ariena, Australia mendapatkan keutungan dari fenomena ini,
yakni tersedianya 'tenaga kerja terdidik yang siap pakai' kendati
"brain drain" ini sebenarnya tetap memberikan nilai positif, yakni
terbuka dan bahkan semakin luasnya jaringan kerja orang-orang
Indonesia yang memilih menetap sementara dan bekerja di luar negeri.

Seorang mahasiswa pasca sarjana asal Indonesia, Yopi, yang juga
mengikuti diskusi mengatakan sudah saatnya Bappenas dan
lembaga-lembaga lain di Tanah Air menghentikan kebijakan yang
membedakan gaji dan fasilitas bagi para profesional asing dan
Indonesia.

"Gap (ketimpangan) ini adalah isu yang sangat penting bagi kita,"
katanya.
(*)

Copyright (c) 2007 ANTARA

--
http://rovicky.wordpress.com/

--
http://rovicky.wordpress.com/

Kirim email ke