Wah, pendapatnya Pak Shofi sudah menjurus SARA : Suku, agama, ras, dan
angan-angan .... 8-)

 

Jadi gak boleh Pak, nanti terjadi perpecahan di antara anak bangsa ... 8-)

 

LL

 

________________________________

From: Shofiyuddin [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, May 28, 2007 4:12 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Pembedaan Gaji Bagi Profesional Asing dan WNI di
Tanah Air Picu Brain Drain

 

Maaf berat, ini khayalan saja, mudah mudahan gak cocok ..... sekali lagi ini
khayalan ...

 

Orang optimis: brain drain itu bagus untuk menunjukkan bahwa kita mampu jadi
expat dengan kualitas dunia, dapat uang dan fasilitas layaknya expat, bisa
menyekolahkan anak dengan standar international dan cas cis cus pake bahasa
inggris 

 

Orang netral1: siapapun punya hak untuk memilih kalo pilihan itu ada dan itu
mungkin terbaik buat mereka, dari segi financial dan non financial. sekarang
saya memilih untuk tetap disini.

 

Orang netral2: kerja dimana aja sama kok, uang bukan segalanya, saya cukup
bahagia dengan apa yang saya dapat. Tidak selamanya mereka bahagia hidup
sebagai expat.

 

anda?

 


 

On 5/28/07, OK Taufik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

kalau braindrain saya pikir itu fenomena kelompok, kalau individu mugnkin
lebih ke adventurelah. Braindrain itu lebih banyak unsur pilihan "terpaksa",
karena di tempat sendiri pilihan tak ada atau kalaupun ada, kualitasnya jelek
sekali untuk kepuasan lahir-bathin,jiwa-raga,materi-rohani. 
Braindrain itukan bahasa inggih untuk "pelarian", lari dari rasa
ketidakpuasan atas kondisi buruk dari kesalahan manajemen, ketidakberpihakan,
lingkungan yg "membatu"(tak mau berubah), status quo, tak innovatif akibat
politik dan low capacity dari para pelaku institusi. Karena hijjrah sudah tak
ada lagi selepas zaman Nabi, braindrain mungkin lebih cocok di kaitkan dengan
jihad. 
 

Kirim email ke