Bung Vicky, 
Dalam hal ini, menurut saya, yang terpenting adalah niat dari pada penulisnya. 
Kalau penulisnya memang berniat baik, yakni untuk memperingatkan dan 
mengedukasi masyarakat akan adanya potensi bencana, meskipun kemungkinanya 
sangat kecil, tentunya niatan baik dan tulus tersebut akan keluar sebagai 
tulisan yang mengedukasi-menyenjukan, bukan tulisan yang 'medeni-menakutkan'. 
Orang akan mudah menerimanya dengan kearifan.

Nah golongan penulis kedua, adalah yang menuliskan potensi bencana dari sudut 
geoscience tapi niatnya bikin sensasi-menakutnakuti-bottom linenya menyebabkan 
keresahan orang banyak, instabilitas negara. Pokoknya tulisanya dibuat 
se-bombastis mungkin gitu lah.

Misalnya nih, karena didorong oleh plate india-australia, maka pulau jawa akan 
menabrak pulau kalimantan. Lho ... hebat orak ?! Karena niatnya memang cuma 
bikin sensasi (biasanya kalau yang berbau sensasi ini, bottom line adalah 
keuntungan financial, urusan ekonomomoni juga), tidak ditambahkan informasi 
kapan hal itu bisa terjadi dan prasyarat apa saja yang diperlukan untuk bisa 
terjadinya hal itu.

Jadi ya, tergantung niatan kita-kita juga, mau membuat geoscience ini sebagai 
cara untuk popularitas, hingga sampai dipanggil Thukul dalam acara Empat-Mata 
misalnya, atau menggunakan geoscience ini untuk "memanyu-hayuning-bawono"-untuk 
kehidupan bersama yang lebih baik-untuk memaslahatan bersama ...... monggo 
saja......

Lebih kurangnya minta maaf .........
Salam

  ----- Original Message ----- 
  From: Rovicky Dwi Putrohari 
  To: [email protected] ; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia 
  Sent: Monday, May 28, 2007 5:34 PM
  Subject: [TAG] [iagi-net-l] Berita - Ancaman Eksistensial Jawa-Sumatera - 
Bagaimana dengan geoscientist ?


  Seorang netter memposting dalam komen di Blog sangat menunjukkan kekhawatiran 
akan bencana (lihat dibawah).

  Tidak bisa dipungkiri bahwa kesadaran masyarakat Indonesia akan bencana 
sangat meningkat pasca tsunami dan gejala-gejala alam yang lain. Ini merupakan 
momentum pas untuk mengajarkan "ilmu geologi" ke masyarakat awam. Perhatian 
masyarakat awam saat ini sangat besar. Berita di koran Kompas (terlampir) dan 
juga Pikiran rakyat pekan lalu, menunjukkan bagaimana media pun menjadikan 
issue kebencanaan ini sebagai issue penting. Apalagi tulisannya dihiasi dengan 
penulis dari Tokyo, Australia, Amerika ... pasti soal bencana ini akan 
diutamakan untuk dimuat di media. 

  Berita kebencanaan selalu saja terdengar "njelgurr !" ketika muncul dimedia 
saat ini dan selalu dilalap habis oleh pembaca. Ada dua dampak yaitu ketakutan 
dan kewaspadaan. Keduanya memang "thrilling" dan meningkatkan adrenalin.

  Saya ngga tahu bagaimana semestinya menjadi geoscientis menjelaskan fenomena 
ini ke masyarakat awam? Pembelajaran adanya fakta-fakta alam memang mencerahkan 
namun tak dipungkiri kadang-kadang "menakutkan".  

  Yth, Pak Koesoema dan Pak Untung sebagai sesepuh IAGI dan HAGI mungkin punya 
pendapat bagaimana semestinya seorang geoscientist menjelaskan fenomena alam 
ini, dengan memberikan pencerahan dan seminim mungkin memebrikan rasa takut 
(trauma). 
  Bagaimana pula pendapat Kang ADB, Pak Awang, juga pak ketum IAGI-HAGI ?

  RDP
  "Hanya bisa mendongeng"

  ===
  bagai mana dengan berita di kompas ini
  http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/26/humaniora/3555770.htm

  Sabtu, 26 Mei 2007

  Patahan Sunda
  Ancaman Eksistensial Jawa-Sumatera


  Mu'man Nuryana

  Gempa bumi hebat yang mengguncang Pulau Sumatera dan Jawa dalam tiga tahun 
terakhir ini adalah sebuah bukti bahwa Patahan Sunda (Sunda Trench)—salah satu 
seksi dari Ring of Fire di belahan barat Pacific rim—telah memperlihatkan 
aktivitas seismik paling berbahaya.

  Aktivitasnya bisa saja terus berlanjut karena terkait dengan pergerakan 
lempeng-lempeng permukaan bumi. Tetapi, bagi penduduk yang menghuni kedua pulau 
tersebut dapat menjadi sebuah ancaman serius terhadap keberlangsungan hidupnya.

  Magnitude gempa bumi di Sumatera dan Jawa bisa saja melampaui apa yang pernah 
dialami selama ini, sementara tidak ada orang yang mampu memprediksi kapan dan 
bagaimana hal itu terjadi. Dengan asumsi bahwa penduduk tetap tinggal di situ, 
maka maksimum yang dapat mereka lakukan adalah mengurangi risiko bencana.

  Tetapi, sebagaimana yang kita alami sekarang, rehabilitasi dan rekonstruksi 
pasca-bencana di Aceh, Nias, Yogyakarta, Pangandaran, dan Padang yang telah 
menyedot sumber daya demikian besar, hasilnya masih jauh dari yang diharapkan.

  Pemerintah Indonesia terpaksa menangguhkan berbagai prioritas pembangunan 
nasional untuk mendahulukan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana. 
Penanggulangan bencana dengan pendekatan pencegahan juga tidak gampang karena 
perlu koordinasi, integrasi, dan sinergi serta pengerahan sumber daya yang luar 
biasa besar.

  Ongkos penanggulangan bencana alam bisa jauh lebih mahal dibandingkan dengan 
pemindahan penduduk secara massal dari daerah rawan bencana ke wilayah yang 
relatif lebih aman.

  Muasal semua gempa

  Patahan Sunda membentang mulai dari Teluk Bengali, bersambung ke Pulau 
Andaman dan Nikobar, Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan seterusnya, berakhir di 
Tanimbar. Patahan Sunda adalah patahan vulkanik yang membentuk Kepulauan Sunda 
Besar dan Sunda Kecil.

  Patahan ini termasuk ke dalam tipe convergent boundary, di mana dua buah 
lempeng permukaan bumi—Eurasian Plate dan Indian-Australian Plate—dalam proses 
bertumbukan (subduction). Di atas Sunda Plate inilah terhampar pulau-pulau 
besar dan kecil, laksana mutu manikam di khatulistiwa yang dikenal dengan 
Kepulauan Nusantara, sebuah kompleks kepulauan terbesar di dunia.

  Patahan Sunda adalah sebuah contoh klasik dari patahan vulkanik. Deformasi 
tektonik sepanjang zone subduksi Patahan Sunda inilah yang menimbulkan gempa 
bumi di Samudra Hindia tanggal 26 Desember 2004. Begitu pula peristiwa gempa 
bumi di Nias (28 Maret 2005), di Yogyakarta (27 Mei 2006), di Pangandaran (17 
Juli 2006), dan di Padang (6 Maret 2007). Semua disebabkan oleh aktivitas 
Patahan Sunda.

  Masih banyak lagi peristiwa gempa bumi dengan magnitude lebih rendah yang 
tidak menimbulkan korban manusia dan kerugian harta benda, sehingga kurang 
mendapat perhatian masyarakat. Padahal, ini semua merupakan tanda-tanda alam 
yang memberikan peringatan kepada manusia untuk berpikir.

  Fenomena yang sama muncul pada April tahun 1815 dengan sebuah ledakan 
cataclysmic volcano Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, yang merupakan sebuah 
letusan paling kuat yang tercatat dalam sejarah. Debu vulkanik Tambora sampai 
menutupi langit berbulan-bulan lamanya sehingga menurunkan temperatur bumi 
sampai 3 derajat Celsius.

  Meskipun telah setahun pasca-letusan Tambora pada waktu itu, hampir semua 
lapisan hemisphere di belahan utara mengalami temperatur lebih dingin selama 
bulan-bulan musim panas. Masyarakat di sebagian Benua Eropa dan Amerika Utara 
mengenal tahun 1816 itu sebagai "the year without a summer", akibat tertutupnya 
permukaan bumi oleh awan debu dari vulkanik Tambora.

  Ancaman eksistensial

  Motivasi tulisan ini sekadar mengingatkan bahwa aktivitas seismik Patahan 
Sunda adalah sebuah ancaman paling realistis dan serius dewasa ini bagi 
keberlanjutan bangsa Indonesia, terutama bagi mereka yang tinggal di Pulau 
Sumatera dan Jawa.

  Di lepas pantai barat Pulau Sumatera dan lepas pantai selatan Pulau Jawa, 
terbentang Patahan Sunda yang menakutkan, seperti dilukiskan dalam konsep 
mitologi Jawa Kuno; yang menyebut Laut Hindia sebagai "Laut Kidul" yang penuh 
misteri karena memiliki palung laut paling dalam di dunia (7,725 meter) setelah 
Patahan Diamantina di Lautan Hindia (8,047 m).

  Subduksi atau benturan antara Eurasian Plate dan India-Australian Plate itu 
dikenal dengan Patahan Sunda dengan aktivitas seismik yang semakin intensif 
akhir-akhir ini. Apakah fenomena alam ini perlu dihiraukan atau biarkan saja 
berlalu bagai air mengalir di sungai? Jawabannya bergantung pada kita sendiri. 
Kalau gempa bumi di Pulau Sumatera dan Jawa dinilai sebagai peristiwa alam 
biasa, maka kita cukup menjalaninya saja sebagai sebuah realitas dalam 
kehidupan sehari-hari.

  Akan tetapi, kalau kita berpikir untuk kepentingan eksistensi bangsa 
Indonesia dalam kerangka jangka panjang, maka bencana alam akhir-akhir ini 
dapat menjadi sebuah informasi penting bagi kajian lebih lanjut. Dengan begitu 
didapatkan sebuah landasan berpikir ilmiah untuk mendukung sebuah kebijakan 
nasional berupa migrasi penduduk untuk kepentingan eksistensi sebuah bangsa 
Indonesia dalam kerangka jangka panjang.

  Migrasi besar-besaran

  Cukup beralasan bila mulai berpikir tentang konsep migrasi penduduk dalam 
skala besar dalam konteks jangka panjang bagi mereka yang tinggal di Pulau 
Sumatera dan Jawa ke pulau lain yang relatif lebih aman. Di dalam Nusantara 
sendiri, Indonesia memiliki Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi yang relatif 
aman bagi permukiman penduduk.

  Bahkan, kalau perlu memikirkan bagaimana agar bisa mengembangkan permukiman 
penduduk di daerah baru di Benua Australia bagian utara karena lebih mudah 
terjangkau dan lebih aman. Benua yang demikian luas itu belum mampu 
dimanfaatkan secara optimal oleh penduduknya untuk permukiman dalam skala besar.

  Benua itu pada hakikatnya adalah tanah milik bangsa Aborigin yang serumpun 
dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Hanya karena konsep kolonialisasi yang 
diterapkan oleh pemerintah kolonial sehingga muncul batas-batas antarnegara, di 
mana penduduk serumpun sudah tidak bisa lagi saling bersilaturahmi dan berbagi 
tanah bagi kehidupan bersama.

  Bangsa-bangsa Eropa (Inggris, Portugis, Spanyol, Perancis, Belanda, Irlandia) 
bisa mengembangkan permukiman dalam skala massal (koloni) di luar wilayah 
negara mereka, yakni Amerika Utara, Kanada, Asia (Canton, Hongkong, Macao), 
Australia, dan Afrika (Afrika Selatan), dan Pulau Timor. Kenapa bangsa-bangsa 
Asia Tenggara tidak boleh melakukan hal yang sama dengan motivasi yang lebih 
mulia, yakni kemanusiaan? Kalau dahulu bangsa Eropa melakukan ekspansi karena 
alasan ekonomi dengan menguasai sumber daya alam, tetapi kita dapat melakukan 
hal yang sama atas dasar keselamatan dan eksistensi manusia.

  Kerja sama internasional dapat membuka ruang bagi kita untuk memperoleh hak 
hidup lebih layak dan aman. Apa artinya warga dunia menyebut dirinya sebagai 
"komunitas global" kalau dalam situasi kesulitan seperti yang kita hadapi 
mereka tidak mampu memberikan solusi yang lebih adil....

  Mu'man Nuryana Peneliti Tamu di Hosei School of Policy Sciences, Universitas 
Hosei, Tokyo

  -- 
  http://rovicky.wordpress.com/ 

Kirim email ke