> 

    Rekan rekan

    Kalau kita baca mengenai teori bencana yang
dipaparkan sdr Mu'man Nuryana memang "keterlaluan" dan kurang
berbobot.
Tapi kalau kita pelajari dengan baik teliti dan tanpa
praduga yang negatip hanya karena ybs BUKAN ahli kebumian maka ada 
hal yang positip dan dapat dipertimbangkan.

Hal ini adalah
usulan MIGRASI penduduk kedaerah yang lebih aman , menurut saya kenapa
tidak ????
Kita sebaia manusia dan ahli kebumian tahu akan akan
adanya gempa , dan kita juga sudah mengusulkan dibangun-nya bangunan tahan
gempa dan berbagai cara mitigasi gempa.

Tapi kan lebih
baik  juga "preventif"  seperti ini kalau ungkin ,
bagaimanapun usulan ini perli dipertimbangkan.

Si-Abah

_______________________________________________________________________


    Betul Pak Rovicky, isu bencana saat ini
menjadi bahan yang sangat laku
> dijual. Menyedihkan, masa bencana
dijadikan begitu. Kalau kita para
> geologist akan tahu bahwa yang
ditulis Pak Mu'man Nuryana itu berlebihan,
> dan bahasa yang
dipakai untuk menerang kan geologi/kegempaan pun "lucu".
> Yang dimaksudnya dengan patahan Sunda pastinya palung Sunda. Dan
kata
> siapa palung di Laut Kidul paling dalam di dunia, tentu
saja itu salah,
> palung terdalam di dunia masih dipegang
record-nya oleh Palung Mariana di
> timur Filipina sedalam sekitar
11.600 meter. Buat apa pula melakukan
> migrasi besar-besaran ke
Kalimantan, Sulawesi dan Australia Utara demi
> menghindari gempa
- sungguh berlebihan. Ini hanya menakuti-nakuti dan
> tidak ilmiah
sama sekali. Hanya tahu sedikit, kok berani-beraninya
>
mengeluarkan pernyataan2 yang bombastis. Coba tengok tulisan dari milis
di
> bawah yang katanya dari CNN, lucu juga...
> 
> 
> 
> Kalau orang bukan geologist, yaitu masyarakat
non-geologist, pasti akan
> bingung dan bisa jadi ketakutan
membaca isu2 bencana yang tak bisa
> dipertanggungjawabkan begitu.
Terus mestinya bagaimana untuk
> meng-counternya ? Para ahli
geologi harus mengadakan sosialisasi dengan
> benar dan agresif,
jangan kalah agresif dengan para peniup isu yang tak
> bertanggung
jawab tersebut. Para ahli geologi harus banyak menulis di
>
media-media, tulisannya pun harus benar, jangan menakut-nakuti. Memang
> sudah nasib Indonesia duduk di tepi-tepi lempeng yang saling beradu
dan
> bergesekkan, tentu akibatnya pun ada. Tetapi kita bisa kan
membahasakannya
> dengan baik, tanpa perlu menakut-nakuti seolah2
gempa superbesar akan
> terjadi dan memunahkan peradaban...
> 
> 
> 
> Segera diperlukan penyuluhan
kebencanaan yang benar, dan para
> geoscientist-lah yang harus
melakukannya, bukan ahli kebijakan politik..
> 
> 
> 
> Salam,
> 
> awang
> 
>

> 
> 
> 
>
From:
[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
>> Behalf Of asep hikmat
>> Sent: Wednesday, May 23,
2007 12:38 PM
>> To: ex FEUP79; sma2bandung
>>
Subject: [sma2bandung] Mudah-mudahan nggak bener ya ...
>>
>> FYI
>>
>> Menurut CNN,
>>
Disiarkan 3 hari yang lalu bahwa lempeng bumi di australia sedang
>> bergerak
>> ke utara menuju asia, diperkirakan bisa
bertubrukan dengan lempeng bumi
>> di
>> selatan
pulau jawa.
>> Diperkirakan 11 hari setelah gempa Yogya, atau
rabu besok (7 Juni) akan
> ada
>> gempa dahsyat dan
memungkinkan terjadinya tsunami.
>> Mohon do'a-nya n plis
forward ke temen-temen laen, jangan sampai putus
>> di
>> tangan kamu !
>>
>> Mudah²an tidak
akan terjadi......
> 
> 
> ----- Original Message
----
>
From: Rovicky Dwi Putrohari
<[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]; Forum
Himpunan Ahli Geofisika Indonesia
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, May 28, 2007 5:34:20 PM
> Subject:
[iagi-net-l] Berita - Ancaman Eksistensial Jawa-Sumatera -
>
Bagaimana dengan geoscientist ?
> 
> Seorang netter
memposting dalam komen di Blog sangat menunjukkan
> kekhawatiran
akan bencana (lihat dibawah).
> 
> Tidak bisa dipungkiri
bahwa kesadaran masyarakat Indonesia akan bencana
> sangat
meningkat pasca tsunami dan gejala-gejala alam yang lain. Ini
>
merupakan momentum pas untuk mengajarkan "ilmu geologi" ke
masyarakat
> awam. Perhatian masyarakat awam saat ini sangat
besar. Berita di koran
> Kompas (terlampir) dan juga Pikiran
rakyat pekan lalu, menunjukkan
> bagaimana media pun menjadikan
issue kebencanaan ini sebagai issue
> penting. Apalagi tulisannya
dihiasi dengan penulis dari Tokyo, Australia,
> Amerika ... pasti
soal bencana ini akan diutamakan untuk dimuat di media.
> 
> Berita kebencanaan selalu saja terdengar "njelgurr !"
ketika muncul
> dimedia saat ini dan selalu dilalap habis oleh
pembaca. Ada dua dampak
> yaitu ketakutan dan kewaspadaan.
Keduanya memang "thrilling" dan
> meningkatkan
adrenalin.
> 
> Saya ngga tahu bagaimana semestinya
menjadi geoscientis menjelaskan
> fenomena ini ke masyarakat awam?
Pembelajaran adanya fakta-fakta alam
> memang mencerahkan namun
tak dipungkiri kadang-kadang "menakutkan".
> 
>
Yth, Pak Koesoema dan Pak Untung sebagai sesepuh IAGI dan HAGI mungkin
> punya pendapat bagaimana semestinya seorang geoscientist
menjelaskan
> fenomena alam ini, dengan memberikan pencerahan dan
seminim mungkin
> memebrikan rasa takut (trauma).
>
Bagaimana pula pendapat Kang ADB, Pak Awang, juga pak ketum IAGI-HAGI ?
> 
> RDP
> "Hanya bisa mendongeng"
> 
> ===
> bagai mana dengan berita di kompas ini
> http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/26/humaniora/3555770.htm
> 
> Sabtu, 26 Mei 2007
> 
> Patahan Sunda
> Ancaman Eksistensial Jawa-Sumatera
> 
> 
>
Mu'man Nuryana
> 
> Gempa bumi hebat yang mengguncang
Pulau Sumatera dan Jawa dalam tiga tahun
> terakhir ini adalah
sebuah bukti bahwa Patahan Sunda (Sunda Trench)-salah
> satu seksi
dari Ring of Fire di belahan barat Pacific rim-telah
>
memperlihatkan aktivitas seismik paling berbahaya.
> 
>
Aktivitasnya bisa saja terus berlanjut karena terkait dengan pergerakan
> lempeng-lempeng permukaan bumi. Tetapi, bagi penduduk yang menghuni
kedua
> pulau tersebut dapat menjadi sebuah ancaman serius
terhadap
> keberlangsungan hidupnya.
> 
>
Magnitude gempa bumi di Sumatera dan Jawa bisa saja melampaui apa yang
> pernah dialami selama ini, sementara tidak ada orang yang mampu
> memprediksi kapan dan bagaimana hal itu terjadi. Dengan asumsi
bahwa
> penduduk tetap tinggal di situ, maka maksimum yang dapat
mereka lakukan
> adalah mengurangi risiko bencana.
> 
> Tetapi, sebagaimana yang kita alami sekarang, rehabilitasi dan
> rekonstruksi pasca-bencana di Aceh, Nias, Yogyakarta, Pangandaran,
dan
> Padang yang telah menyedot sumber daya demikian besar,
hasilnya masih jauh
> dari yang diharapkan.
> 
>
Pemerintah Indonesia terpaksa menangguhkan berbagai prioritas
pembangunan
> nasional untuk mendahulukan rehabilitasi dan
rekonstruksi pasca-bencana.
> Penanggulangan bencana dengan
pendekatan pencegahan juga tidak gampang
> karena perlu
koordinasi, integrasi, dan sinergi serta pengerahan sumber
> daya
yang luar biasa besar.
> 
> Ongkos penanggulangan bencana
alam bisa jauh lebih mahal dibandingkan
> dengan pemindahan
penduduk secara massal dari daerah rawan bencana ke
> wilayah yang
relatif lebih aman.
> 
> Muasal semua gempa
> 
> Patahan Sunda membentang mulai dari Teluk Bengali, bersambung ke
Pulau
> Andaman dan Nikobar, Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan
seterusnya, berakhir
> di Tanimbar. Patahan Sunda adalah patahan
vulkanik yang membentuk
> Kepulauan Sunda Besar dan Sunda
Kecil.
> 
> Patahan ini termasuk ke dalam tipe convergent
boundary, di mana dua buah
> lempeng permukaan bumi-Eurasian Plate
dan Indian-Australian Plate-dalam
> proses bertumbukan
(subduction). Di atas Sunda Plate inilah terhampar
> pulau-pulau
besar dan kecil, laksana mutu manikam di khatulistiwa yang
>
dikenal dengan Kepulauan Nusantara, sebuah kompleks kepulauan terbesar
di
> dunia.
> 
> Patahan Sunda adalah sebuah
contoh klasik dari patahan vulkanik. Deformasi
> tektonik
sepanjang zone subduksi Patahan Sunda inilah yang menimbulkan
>
gempa bumi di Samudra Hindia tanggal 26 Desember 2004. Begitu pula
> peristiwa gempa bumi di Nias (28 Maret 2005), di Yogyakarta (27 Mei
2006),
> di Pangandaran (17 Juli 2006), dan di Padang (6 Maret
2007). Semua
> disebabkan oleh aktivitas Patahan Sunda.
>

> Masih banyak lagi peristiwa gempa bumi dengan magnitude lebih
rendah yang
> tidak menimbulkan korban manusia dan kerugian harta
benda, sehingga kurang
> mendapat perhatian masyarakat. Padahal,
ini semua merupakan tanda-tanda
> alam yang memberikan peringatan
kepada manusia untuk berpikir.
> 
> Fenomena yang sama
muncul pada April tahun 1815 dengan sebuah ledakan
> cataclysmic
volcano Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, yang merupakan sebuah
>
letusan paling kuat yang tercatat dalam sejarah. Debu vulkanik Tambora
> sampai menutupi langit berbulan-bulan lamanya sehingga
menurunkan
> temperatur bumi sampai 3 derajat Celsius.
>

> Meskipun telah setahun pasca-letusan Tambora pada waktu itu,
hampir semua
> lapisan hemisphere di belahan utara mengalami
temperatur lebih dingin
> selama bulan-bulan musim panas.
Masyarakat di sebagian Benua Eropa dan
> Amerika Utara mengenal
tahun 1816 itu sebagai "the year without a summer",
>
akibat tertutupnya permukaan bumi oleh awan debu dari vulkanik Tambora.
> 
> Ancaman eksistensial
> 
> Motivasi
tulisan ini sekadar mengingatkan bahwa aktivitas seismik Patahan
>
Sunda adalah sebuah ancaman paling realistis dan serius dewasa ini bagi
> keberlanjutan bangsa Indonesia, terutama bagi mereka yang tinggal
di Pulau
> Sumatera dan Jawa.
> 
> Di lepas pantai
barat Pulau Sumatera dan lepas pantai selatan Pulau Jawa,
>
terbentang Patahan Sunda yang menakutkan, seperti dilukiskan dalam
konsep
> mitologi Jawa Kuno; yang menyebut Laut Hindia sebagai
"Laut Kidul" yang
> penuh misteri karena memiliki palung
laut paling dalam di dunia (7,725
> meter) setelah Patahan
Diamantina di Lautan Hindia (8,047 m).
> 
> Subduksi atau
benturan antara Eurasian Plate dan India-Australian Plate
> itu
dikenal dengan Patahan Sunda dengan aktivitas seismik yang semakin
> intensif akhir-akhir ini. Apakah fenomena alam ini perlu dihiraukan
atau
> biarkan saja berlalu bagai air mengalir di sungai?
Jawabannya bergantung
> pada kita sendiri. Kalau gempa bumi di
Pulau Sumatera dan Jawa dinilai
> sebagai peristiwa alam biasa,
maka kita cukup menjalaninya saja sebagai
> sebuah realitas dalam
kehidupan sehari-hari.
> 
> Akan tetapi, kalau kita
berpikir untuk kepentingan eksistensi bangsa
> Indonesia dalam
kerangka jangka panjang, maka bencana alam akhir-akhir ini
> dapat
menjadi sebuah informasi penting bagi kajian lebih lanjut. Dengan
> begitu didapatkan sebuah landasan berpikir ilmiah untuk mendukung
sebuah
> kebijakan nasional berupa migrasi penduduk untuk
kepentingan eksistensi
> sebuah bangsa Indonesia dalam kerangka
jangka panjang.
> 
> Migrasi besar-besaran
> 
> Cukup beralasan bila mulai berpikir tentang konsep migrasi penduduk
dalam
> skala besar dalam konteks jangka panjang bagi mereka yang
tinggal di Pulau
> Sumatera dan Jawa ke pulau lain yang relatif
lebih aman. Di dalam
> Nusantara sendiri, Indonesia memiliki Pulau
Kalimantan dan Pulau Sulawesi
> yang relatif aman bagi permukiman
penduduk.
> 
> Bahkan, kalau perlu memikirkan bagaimana
agar bisa mengembangkan
> permukiman penduduk di daerah baru di
Benua Australia bagian utara karena
> lebih mudah terjangkau dan
lebih aman. Benua yang demikian luas itu belum
> mampu
dimanfaatkan secara optimal oleh penduduknya untuk permukiman dalam
> skala besar.
> 
> Benua itu pada hakikatnya adalah
tanah milik bangsa Aborigin yang serumpun
> dengan bangsa-bangsa
di Asia Tenggara. Hanya karena konsep kolonialisasi
> yang
diterapkan oleh pemerintah kolonial sehingga muncul batas-batas
>
antarnegara, di mana penduduk serumpun sudah tidak bisa lagi saling
> bersilaturahmi dan berbagi tanah bagi kehidupan bersama.
>

> Bangsa-bangsa Eropa (Inggris, Portugis, Spanyol, Perancis,
Belanda,
> Irlandia) bisa mengembangkan permukiman dalam skala
massal (koloni) di
> luar wilayah negara mereka, yakni Amerika
Utara, Kanada, Asia (Canton,
> Hongkong, Macao), Australia, dan
Afrika (Afrika Selatan), dan Pulau Timor.
> Kenapa bangsa-bangsa
Asia Tenggara tidak boleh melakukan hal yang sama
> dengan
motivasi yang lebih mulia, yakni kemanusiaan? Kalau dahulu bangsa
> Eropa melakukan ekspansi karena alasan ekonomi dengan menguasai
sumber
> daya alam, tetapi kita dapat melakukan hal yang sama atas
dasar
> keselamatan dan eksistensi manusia.
> 
>
Kerja sama internasional dapat membuka ruang bagi kita untuk memperoleh
> hak hidup lebih layak dan aman. Apa artinya warga dunia menyebut
dirinya
> sebagai "komunitas global" kalau dalam situasi
kesulitan seperti yang kita
> hadapi mereka tidak mampu memberikan
solusi yang lebih adil....
> 
> Mu'man Nuryana Peneliti
Tamu di Hosei School of Policy Sciences,
> Universitas Hosei,
Tokyo
> 
> --
> http://rovicky.wordpress.com/
> 
> 
> 
> 
> 
>   _____
> 
> Park yourself in front of a world of choices in
alternative vehicles.
> Visit the Yahoo! Auto Green Center.
>
<http://us.rd.yahoo.com/evt=48246/*http:/autos.yahoo.com/green_center/;_ylc=X3oDMTE5cDF2bXZzBF9TAzk3MTA3MDc2BHNlYwNtYWlsdGFncwRzbGsDZ3JlZW4tY2VudGVy>
> 
>

Kirim email ke