Untuk pak Supardan, film audio visual tentang bencana, saya ada. Kebetulan
merupakan hasil liputan 6 Potret SCTV, yang copyright diberikan ke saya. 1.
Membahas tentang Berkah dan Bencana Merapi (Narasumber : Eko Teguh Paripurno,
Geologist/ IAGI/UPN/ Kappla); 2 Bumiku patah, cerita tentang gempa jogja,
tsunami Aceh, dan kearifan lokal (Narasumber : GBPH Puger/ Budayawan; Salahudin
Husein dan Agus Hendratno / Geologist/IAGI/UGM); 3 DAPS /Disaster Awareness in
Primary Schols, yaitu Video simulasi evakuasi saat terjadi gempabumi dari
GTZ-Seqip. Sekarang, saya sedang menyiapkan dengan NGO dari German nama NGO-nya
ASB untuk membuat model pembelajaran untuk resiko bencana alam (gempa, tsunami,
longsor, erupsi volkanik) bagi murid-murid SD se-DIY, dan seabrek kegiatan NGO
di Jogja untuk PRB / pengurangan resiko bencana.
Karenanya, kemarin 27 Mei 2007, Bapenas - UNDP - Bapeda DIY mencetus bahwa
DIY sebagai Center of Execellence for Disaster Management; dan state ini
didukung oleh semua NGO internasional, nasional, lokal; masyarakat, Bapenas,
pers, akademisi (termasuk geologist di belakangnya, yang saat dideklarasikan :
hadir 3 geologist : Eko Teguh Paripurno, Agus Hendratno, Arif Rianto).
Oleh karena itu, ada usulan jika bicara mengenai proses pembelajaran
penanggulangan bencana, penanganan bencana, pengurangan resiko bencana,
pendidikan kebencanaan untuk publik dan riset bencana, maka JOGJA bisa jadi
referensi nasional. Sekarang syarat-syarat apa yang diperlukan untuk menjadi
Pusat Unggulan dalam Managemen Bencana, pihak Bapenas dan UNDP sedang memproses
itu. Dibelakang UNDP ini ada 2 geologist yang terlibat yaitu : Mas Eko Teguh
Paripurno / UPN dan Agus Hendratno / UGM. Dan juga didukung oleh MPBI /
Masyarakat Penanggulangan Bencana INdonesia untuk menjadi JOGJA PEKA, TANGGAP,
dan TANGGUH terhadap BENCANA. Ide-nya apik, tinggal implementasinya yang
membutuhkan banyak energi.
Jadi, proses belajar kebencanaan kepada masyarakat saat ini SEDANG
BERLANGSUNG, tidak begitu saja seperti membalikkan telapak tangan. Dan sadar
bahwa semua ini tergantung dengan media, bahasa, mekanisme penyampiannnya.
Depdiknas sudah paham masalah SUPLEMEN dalam Kurikulum dikdasmen untuk
memasukan Muatan Lokal Kebencanaan. Nah, prinsipnya IAGI dan
geosaintis...khususnya sudah bergerak dan tidak perlu khawatir....
salam, agus hendratno
Anggota Tim Kerja Pengurangan Resiko Bencana UNDP
Supardan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Rovicky dan teman-teman,
Mumpung mas Vicky lagi menyampaikan masalah geohazard, saya ingin minta
bantuan temen-teman semua. Barusan saya ditanya bos di kantor, apakah saya
punya materi sosialisasi yang lengkap mengenai gempabumi dan tsunami. Saya
jawab kalau yang lengkap sekali, saya tidak punya. Kemudian beliau bicara
terus, dan dari situ saya simpulkan bahwa yang dihendaki adalah materi
sosialisasi yang berbentuk audio-visual, dilengkapi dengan contoh-contoh kasus
nyata seperti gempa/ tsunami Aceh, gempa Jogja dan gempa/ tsunami Pangandaran.
Barangkali di antara teman-teman ada yang memiliki bahan tersebut, atau
memiliki informasi dimana saya dapat memperoleh bahan tersebut, dengan rendah
hati kami mohon bantuannya.
Wass.
Pardan - ESDM Jatim.
On 5/28/07, Dwiyatno Rumlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Bung Vicky,
Dalam hal ini, menurut saya, yang terpenting adalah niat dari pada
penulisnya. Kalau penulisnya memang berniat baik, yakni untuk memperingatkan
dan mengedukasi masyarakat akan adanya potensi bencana, meskipun kemungkinanya
sangat kecil, tentunya niatan baik dan tulus tersebut akan keluar sebagai
tulisan yang mengedukasi-menyenjukan, bukan tulisan yang 'medeni-menakutkan'.
Orang akan mudah menerimanya dengan kearifan.
Nah golongan penulis kedua, adalah yang menuliskan potensi bencana dari sudut
geoscience tapi niatnya bikin sensasi-menakutnakuti-bottom linenya menyebabkan
keresahan orang banyak, instabilitas negara. Pokoknya tulisanya dibuat
se-bombastis mungkin gitu lah.
Misalnya nih, karena didorong oleh plate india-australia, maka pulau jawa
akan menabrak pulau kalimantan. Lho ... hebat orak ?! Karena niatnya memang
cuma bikin sensasi (biasanya kalau yang berbau sensasi ini, bottom line adalah
keuntungan financial, urusan ekonomomoni juga), tidak ditambahkan informasi
kapan hal itu bisa terjadi dan prasyarat apa saja yang diperlukan untuk bisa
terjadinya hal itu.
Jadi ya, tergantung niatan kita-kita juga, mau membuat geoscience ini sebagai
cara untuk popularitas, hingga sampai dipanggil Thukul dalam acara Empat-Mata
misalnya, atau menggunakan geoscience ini untuk "memanyu-hayuning-bawono"-untuk
kehidupan bersama yang lebih baik-untuk memaslahatan bersama ...... monggo
saja......
Lebih kurangnya minta maaf .........
Salam
----- Original Message -----
From: Rovicky Dwi Putrohari
To: [email protected] ; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia
Sent: Monday, May 28, 2007 5:34 PM
Subject: [TAG] [iagi-net-l] Berita - Ancaman Eksistensial Jawa-Sumatera -
Bagaimana dengan geoscientist ?
Seorang netter memposting dalam komen di Blog sangat menunjukkan kekhawatiran
akan bencana (lihat dibawah).
Tidak bisa dipungkiri bahwa kesadaran masyarakat Indonesia akan bencana sangat
meningkat pasca tsunami dan gejala-gejala alam yang lain. Ini merupakan
momentum pas untuk mengajarkan "ilmu geologi" ke masyarakat awam. Perhatian
masyarakat awam saat ini sangat besar. Berita di koran Kompas (terlampir) dan
juga Pikiran rakyat pekan lalu, menunjukkan bagaimana media pun menjadikan
issue kebencanaan ini sebagai issue penting. Apalagi tulisannya dihiasi dengan
penulis dari Tokyo, Australia, Amerika ... pasti soal bencana ini akan
diutamakan untuk dimuat di media.
Berita kebencanaan selalu saja terdengar "njelgurr !" ketika muncul dimedia
saat ini dan selalu dilalap habis oleh pembaca. Ada dua dampak yaitu ketakutan
dan kewaspadaan. Keduanya memang "thrilling" dan meningkatkan adrenalin.
Saya ngga tahu bagaimana semestinya menjadi geoscientis menjelaskan fenomena
ini ke masyarakat awam? Pembelajaran adanya fakta-fakta alam memang mencerahkan
namun tak dipungkiri kadang-kadang "menakutkan".
Yth, Pak Koesoema dan Pak Untung sebagai sesepuh IAGI dan HAGI mungkin punya
pendapat bagaimana semestinya seorang geoscientist menjelaskan fenomena alam
ini, dengan memberikan pencerahan dan seminim mungkin memebrikan rasa takut
(trauma).
Bagaimana pula pendapat Kang ADB, Pak Awang, juga pak ketum IAGI-HAGI ?
RDP
"Hanya bisa mendongeng"
===
bagai mana dengan berita di kompas ini
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/26/humaniora/3555770.htm
Sabtu, 26 Mei 2007
Patahan Sunda
Ancaman Eksistensial Jawa-Sumatera
Mu'man Nuryana
Gempa bumi hebat yang mengguncang Pulau Sumatera dan Jawa dalam tiga tahun
terakhir ini adalah sebuah bukti bahwa Patahan Sunda (Sunda Trench)salah satu
seksi dari Ring of Fire di belahan barat Pacific rimtelah memperlihatkan
aktivitas seismik paling berbahaya.
Aktivitasnya bisa saja terus berlanjut karena terkait dengan pergerakan
lempeng-lempeng permukaan bumi. Tetapi, bagi penduduk yang menghuni kedua pulau
tersebut dapat menjadi sebuah ancaman serius terhadap keberlangsungan hidupnya.
Magnitude gempa bumi di Sumatera dan Jawa bisa saja melampaui apa yang pernah
dialami selama ini, sementara tidak ada orang yang mampu memprediksi kapan dan
bagaimana hal itu terjadi. Dengan asumsi bahwa penduduk tetap tinggal di situ,
maka maksimum yang dapat mereka lakukan adalah mengurangi risiko bencana.
Tetapi, sebagaimana yang kita alami sekarang, rehabilitasi dan rekonstruksi
pasca-bencana di Aceh, Nias, Yogyakarta, Pangandaran, dan Padang yang telah
menyedot sumber daya demikian besar, hasilnya masih jauh dari yang diharapkan.
Pemerintah Indonesia terpaksa menangguhkan berbagai prioritas pembangunan
nasional untuk mendahulukan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana.
Penanggulangan bencana dengan pendekatan pencegahan juga tidak gampang karena
perlu koordinasi, integrasi, dan sinergi serta pengerahan sumber daya yang luar
biasa besar.
Ongkos penanggulangan bencana alam bisa jauh lebih mahal dibandingkan dengan
pemindahan penduduk secara massal dari daerah rawan bencana ke wilayah yang
relatif lebih aman.
Muasal semua gempa
Patahan Sunda membentang mulai dari Teluk Bengali, bersambung ke Pulau Andaman
dan Nikobar, Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan seterusnya, berakhir di Tanimbar.
Patahan Sunda adalah patahan vulkanik yang membentuk Kepulauan Sunda Besar dan
Sunda Kecil.
Patahan ini termasuk ke dalam tipe convergent boundary, di mana dua buah
lempeng permukaan bumiEurasian Plate dan Indian-Australian Platedalam proses
bertumbukan (subduction). Di atas Sunda Plate inilah terhampar pulau-pulau
besar dan kecil, laksana mutu manikam di khatulistiwa yang dikenal dengan
Kepulauan Nusantara, sebuah kompleks kepulauan terbesar di dunia.
Patahan Sunda adalah sebuah contoh klasik dari patahan vulkanik. Deformasi
tektonik sepanjang zone subduksi Patahan Sunda inilah yang menimbulkan gempa
bumi di Samudra Hindia tanggal 26 Desember 2004. Begitu pula peristiwa gempa
bumi di Nias (28 Maret 2005), di Yogyakarta (27 Mei 2006), di Pangandaran (17
Juli 2006), dan di Padang (6 Maret 2007). Semua disebabkan oleh aktivitas
Patahan Sunda.
Masih banyak lagi peristiwa gempa bumi dengan magnitude lebih rendah yang tidak
menimbulkan korban manusia dan kerugian harta benda, sehingga kurang mendapat
perhatian masyarakat. Padahal, ini semua merupakan tanda-tanda alam yang
memberikan peringatan kepada manusia untuk berpikir.
Fenomena yang sama muncul pada April tahun 1815 dengan sebuah ledakan
cataclysmic volcano Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, yang merupakan sebuah
letusan paling kuat yang tercatat dalam sejarah. Debu vulkanik Tambora sampai
menutupi langit berbulan-bulan lamanya sehingga menurunkan temperatur bumi
sampai 3 derajat Celsius.
Meskipun telah setahun pasca-letusan Tambora pada waktu itu, hampir semua
lapisan hemisphere di belahan utara mengalami temperatur lebih dingin selama
bulan-bulan musim panas. Masyarakat di sebagian Benua Eropa dan Amerika Utara
mengenal tahun 1816 itu sebagai "the year without a summer", akibat tertutupnya
permukaan bumi oleh awan debu dari vulkanik Tambora.
Ancaman eksistensial
Motivasi tulisan ini sekadar mengingatkan bahwa aktivitas seismik Patahan Sunda
adalah sebuah ancaman paling realistis dan serius dewasa ini bagi keberlanjutan
bangsa Indonesia, terutama bagi mereka yang tinggal di Pulau Sumatera dan Jawa.
Di lepas pantai barat Pulau Sumatera dan lepas pantai selatan Pulau Jawa,
terbentang Patahan Sunda yang menakutkan, seperti dilukiskan dalam konsep
mitologi Jawa Kuno; yang menyebut Laut Hindia sebagai "Laut Kidul" yang penuh
misteri karena memiliki palung laut paling dalam di dunia (7,725 meter) setelah
Patahan Diamantina di Lautan Hindia (8,047 m).
Subduksi atau benturan antara Eurasian Plate dan India-Australian Plate itu
dikenal dengan Patahan Sunda dengan aktivitas seismik yang semakin intensif
akhir-akhir ini. Apakah fenomena alam ini perlu dihiraukan atau biarkan saja
berlalu bagai air mengalir di sungai? Jawabannya bergantung pada kita sendiri.
Kalau gempa bumi di Pulau Sumatera dan Jawa dinilai sebagai peristiwa alam
biasa, maka kita cukup menjalaninya saja sebagai sebuah realitas dalam
kehidupan sehari-hari.
Akan tetapi, kalau kita berpikir untuk kepentingan eksistensi bangsa Indonesia
dalam kerangka jangka panjang, maka bencana alam akhir-akhir ini dapat menjadi
sebuah informasi penting bagi kajian lebih lanjut. Dengan begitu didapatkan
sebuah landasan berpikir ilmiah untuk mendukung sebuah kebijakan nasional
berupa migrasi penduduk untuk kepentingan eksistensi sebuah bangsa Indonesia
dalam kerangka jangka panjang.
Migrasi besar-besaran
Cukup beralasan bila mulai berpikir tentang konsep migrasi penduduk dalam skala
besar dalam konteks jangka panjang bagi mereka yang tinggal di Pulau Sumatera
dan Jawa ke pulau lain yang relatif lebih aman. Di dalam Nusantara sendiri,
Indonesia memiliki Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi yang relatif aman bagi
permukiman penduduk.
Bahkan, kalau perlu memikirkan bagaimana agar bisa mengembangkan permukiman
penduduk di daerah baru di Benua Australia bagian utara karena lebih mudah
terjangkau dan lebih aman. Benua yang demikian luas itu belum mampu
dimanfaatkan secara optimal oleh penduduknya untuk permukiman dalam skala
besar.
Benua itu pada hakikatnya adalah tanah milik bangsa Aborigin yang serumpun
dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Hanya karena konsep kolonialisasi yang
diterapkan oleh pemerintah kolonial sehingga muncul batas-batas antarnegara, di
mana penduduk serumpun sudah tidak bisa lagi saling bersilaturahmi dan berbagi
tanah bagi kehidupan bersama.
Bangsa-bangsa Eropa (Inggris, Portugis, Spanyol, Perancis, Belanda, Irlandia)
bisa mengembangkan permukiman dalam skala massal (koloni) di luar wilayah
negara mereka, yakni Amerika Utara, Kanada, Asia (Canton, Hongkong, Macao),
Australia, dan Afrika (Afrika Selatan), dan Pulau Timor. Kenapa bangsa-bangsa
Asia Tenggara tidak boleh melakukan hal yang sama dengan motivasi yang lebih
mulia, yakni kemanusiaan? Kalau dahulu bangsa Eropa melakukan ekspansi karena
alasan ekonomi dengan menguasai sumber daya alam, tetapi kita dapat melakukan
hal yang sama atas dasar keselamatan dan eksistensi manusia.
Kerja sama internasional dapat membuka ruang bagi kita untuk memperoleh hak
hidup lebih layak dan aman. Apa artinya warga dunia menyebut dirinya sebagai
"komunitas global" kalau dalam situasi kesulitan seperti yang kita hadapi
mereka tidak mampu memberikan solusi yang lebih adil....
Mu'man Nuryana Peneliti Tamu di Hosei School of Policy Sciences, Universitas
Hosei, Tokyo
--
http://rovicky.wordpress.com/
---------------------------------
Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing.