Pak Mitfah mungkin pemakainan data hydrocarbon suppression pada  SP bisa
dipakai bila pemakaian mud nya harus water base mud dan mud nya tidak boleh
asin melebihi formation water, karen bila water base mud nya lebih asin
curva SP akan  mengarah kekanan sehingga suppression  dari hydrocarbon nya
ndak terbaca.

harga resistivity fresh water rata-rata diatas 10 ohm dan harga ressistivity
hydrocabon pada daerah sumatra rata-rata juga diatas 10 ohm (berbeda dengan
daerah kalimantan yg rata2 harga resistivity HC diatas 3 ohm). Tetapi
harga  resistivity antara fresh water dan HC pasti berbeda dengan catatan
harga HC lebih tinggi dari harga fresh water. jadi jika terdapat perbedaan
harga resistivity yg berebda pada satu sand body atau pada satu lingkungan
pengendapan yg sama bisa di senyalir adanya keberadaan HC (tetapi harus pada
lithology yg sama pak, kalo lithology nya berbeda itu lain lg cerita nya )

Semoga bisa membantu.


Salam, Rimba

On 6/14/07, Miftah Mazied <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 Dear IAGI-Net,



Mohon bantuannya, Kami akan mengebor satu sumur delineasi di sekitar
Central Sumatra. Problem kami adalah sulitnya membedakan zona oil dan air
yang sangat fresh karena keduanya menghasilkan bacaan resistivity yang
sama-sama tinggi.



Bos saya mengusulkan running NMR untuk menyelesaikan masalah ini , tapi
saya agak ragu karena kami tidak punya data capillary pressure atau Swirr
dari core untuk mengkalibrasi nilai T2 cutoff nya. Pertanyaan saya adalah
apakah tanpa kalibrasi T2 cuttof,  akurasi fluids identification yang
dilakukan oleh tool ini bisa dipercaya?



Terimakasih sebelumnya,

Miftah Mazied

Kirim email ke