Berita di koran hari ini , Lha kok ada  jual beli " Proyek akademis " apa itu 
ya ................
Kemudian ada juga ajakan revolosi , Wah gara gara Lapindo ada 
Revolosi.nanti.............

ISM
===================================


Interpelasi Lapindo Hindari Jebakan 

Hentikan jual beli proyek akademis yang mengorbankan aspek kemanusiaan. 


JAKARTA -- Dukungan interpelasi kasus semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa 
Timur, menguat di DPR. Hingga Jumat (15/6), sudah 163 penandatangan dukungan 
penggunaan hak meminta penjelasan dan bertanya kepada pemerintah itu yang akan 
dibacakan di Rapat Paripurna DPR, Selasa (19/5).

Penggagas interpelasi memastikan tak akan terjebak dan berkutat dalam polemik 
Tata Tertib DPR tentang perlu hadir-tidaknya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
seperti dalam kasus interpelasi Iran. Namun, kali ini mereka penekannya lebih 
pada substansi menyelesaikan persoalan lumpur Lapindo yang sudah berlangsung 
sekitar setahun itu.

''Hingga saat ini masih ada korban 30 ribu orang yang terlunta-lunta. Sekarang 
tergantung SBY dalam merespon interpelasi kemanusiaan ini, karena kami tak 
ingin terjebak langkah Presiden untuk datang atau tidak,'' ujar Komisi V DPR, 
Abdullah Azwar Anas (FKB), salah satu penggagas interpelasi lumpur Lapindo, 
kepada pers, kemarin.

Namun Azwar mengingatkan, interpelasi tersebut adalah kesempatan Presiden SBY 
untuk membenahi citra yang menurun untuk menyelesaikan kasus Lapindo.

Persoalan kebijakan
Komisi VII DPR, lanjut Azwar, sudah mengundang para menteri terkait di 
antaranya Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri 
Perumahan Rakyat, Menteri Perhubungan, Menneg PPN/Kepala Badan Perencanaan 
Pembangunan Nasional (Bappenas), Gubernur Jatim, dan Bupati Sidoarjo, untuk 
menjelaskan kasus Lapindo. Namun jawaban mereka dianggap belum menjamin 
kebijakan nasional penyelesaian lumpur Lapindo.

''Dalam interpelasi ini kami tak ingin terjebak soal teknis, dan menggeser 
substansi masalah. Yang penting substansinya, ada kebijakan nasional yang salah 
dalam menyelesaikan Lapindo,'' jelas Azwar.

Azwar mencontohkan adanya perbedaan kewenangan penyelesaian luapan lumpur 
Lapindo beberapa waktu lalu, saat membuat kanalisasi luapan lumpur. Dalam hal 
ini, apakah menjadi domain PT Lapindo Brantas atau pemerintah, apakah 
mengganggu ekosistem, dan dalam skala besar mengganggu masyarakat?

''Lima BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) pun tidak akan mampu 
menyelesaikan dengan cepat karena BPLS berasal dari pejabat eselon satu dan dua 
yang harus mengkoordinasi setingkat menteri. Ini salah satu contoh persoalan 
kebijakan itu,'' tegas Azwar.

Pada Ahad (17/6), lanjut Azwar, tim penggagas interpelasi lumpur Lapindo akan 
menerima kedatangan Pansus Lapindo DPRD Jawa Timur dan DPRD Sidoarjo. ''Mereka 
sudah punya rekomendasi. Harapan kita, rekomendasi itu sejalan dengan persepsi 
kami soal pentingnya interpelasi,'' ujarnya.

Mengenai dukungan interpelasi lumpur Lapindo sendiri, Azwar mengulas, pelan 
tapi pasti terus bergerak naik, khususnya dari anggota DPR dari daerah 
pemilihan Jawa Timur. ''Penambahan signifikan juga dari Fraksi PPP sekitar 17 
orang. Tapi dari Fraksi Partai Demokrat yakni Achmad Fauwzi dan Ajie Massaid 
menarik dukungan, sementara dari Fraksi Partai Golkar tetap satu, Yuddy 
Chrisnandi. Golkar kabarnya masih menunggu arahan dari pimpinan mereka,'' 
ungkapnya.

Investigasi FPDIP
Sementara Fraksi PDIP DPR juga turun tangan dengan membentuk tim investigasi 
lumpur Lapindo. ''Kami akan segera menyusun tim itu,'' ujar Sekretaris Fraksi 
PDIP, Bambang Wuryanto, usai rapat fraksi kemarin. Menurut dia, tim investigasi 
akan beranggotakan seluruh anggota Fraksi PDIP di semua komisi di DPR. Tim 
bertugas mengumpulkan bahan dan masukan serta memberikan solusi kepada 
pemerintah.

''Kami telah mendapat bahan masukan dari pakar bahwa ini bisa diselesaikan. 
Kenapa pemerintah tidak bisa? Kalau masukan tim tidak digubris, kita bisa 
revolusi,'' cetus Bambang.

Sosiologi Universitas Airlangga (Unai) Surabaya, Hotman Siahaan, yang hadir 
dalam rapat Fraksi PDIP, juga mengatakan, pemerintah harus segera menuntaskan 
kasus lumpur Lapindo. ''Harus pula dihentikan jual beli proyek akademis. Solusi 
yang diberikan harus untuk kesejahteraan rakyat di sana,'' tegasnya, menyindir 
timbalnya kelompok kampus yang mengabaikan aspek kemanusiaan para korban lumpur 
Lapindo. 

(eye ) 

Kirim email ke