> > Leo
Yang Anda maksud "sekarah eksplorasi " itu apa ? Apakah dimulai egiatan "cari minyak" ? Kalau itu sudah dimulai thn 1885 di Nangroe Aceh oleh Belanda (cikal bakal Shell). Tapi kalau ekplorasi secara terencana ,mungkin mesti buka buku dulu ya . Yang jelas , yang mulai kutak katik cari minyak awalnya bukan Belanad yang geologist, Seperti Zylker (1830-1890) adalah seorang CEO di perusahaan tembakau di -daerah sekitar Telaga Said, dia yang ngebor Telaga Said. Jan Reerink (1830-1923) adalah seorang pengusaha toko di Cirebon , dia melakukan dau pemboran disekitar Cirebon , berhasil , tapi pemboran selanjutnya tidak. Mungkin asal ngebor aja ya . Kalau melihat bahwa Shell (dan Schlumberger ???) lahir di Indonesia , mestinya kita lebih dahulu jauh dari Malaysia. Tapi Leo , kan bukan siapa yang lebih dulu-An yang akan lebih pinter , tetapi siapa yang rajin , konsisten dan mau bekerja lebih keras. Apakah kita kurang bekerja dengan rajin ???? Wah , silahkan jawab sendiri deh . Si-Abah Kalo boleh dapat info lebih lengkap : Kapan sejarah eksplorasi Indonesia > dimulai, dan kapan sejarah eksplorasi Malaysia dimulai? > > Thanks, > LL > > -----Original Message----- > From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Thursday, June 21, 2007 8:04 AM > To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; Forum Himpunan > Ahli > Geofisika Indonesia > Subject: [iagi-net-l] Re: [Oil&Gas] Raport merah lima tahunan migas di > Indonesi > > Maaf Mas Zein, kalau saya malah membuat bingung :) > Tapi menurut seorang guru, bingung itu tanda-tanda orang berpikir :) > > On 6/21/07, Zein Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> Terus terang jadi agak bingung nich untuk memahami isi tulisan Pak > Rovicky (mohon pencerahannya krn saya agak tulalit ), di satu sisi Pak > Rovicky mengatakan UU Migas menyebabkan menurunnya investasi, di satu sisi > banyak opini dalam mailing list bahwa investor asing hanya mengeruk hasil > bumi Ind untuk dibawa ke luar negeri, di sisi lain, pemerintah dan kita > semua > berteriak bahwa produksi migas kita semakin menurun dan tidak ada kenaikan > yg > signifikan dalam reserve... >> > > Mas Zein, > Konteks investor ini bisa diartikan investor asing dan juga investor > lokal (dalam negeri). Dalam hal ini tentunya materi duwitnya yang > diutamakan. Sedangkan "pengelolaa" juga bisa orang asing (bule) atau > orang Indonesia, jelas disini manusianya. > > Konteks Cepu adalah konteks pengelola, duwitnya bisa saja Pertamina > meminjam bank asing maupun bank lkal sebagai sumber duwit > modalnya/investasi. > > Dalam kaitannya dengan UU-MIGAS yang "dituduh" sebagai pemicu > menurunnya investasi tentunnya investasi secara keseluruhan dalam > pembelanjaan untuk kebutuhan investasi didunia migas. Investasi bisa > dari asing maupun dari luar. Kalau dikaitkan dengan jumlah sumur, > sepertinya tidak terlalu signifikan, karena jumlah sumur tidak merosot > tajam. Justru penemuannya yang meorost tajam (volumetrik). > > Nah ketika bebicara lebih baik dikelola sendiri itu bisa saja > diartikan atau diasumsikan kemampuan teknis manusia Indonesia dalam > mengelola industri ini. Tetapi kalau kita kembalikan ke konteks > tulisan saya sebelumnya ternyata ada raport merah dalam > explorasi-produksi dalam periode limatahun terkahir ini. > > Sebenernya ada yang aneh kalau kita memasukkan faktor investasi dan > pengelolaan ini. Kalau sumur2 yang dibor itu masuk "cost recovery" > apakah dimasukkan dalam kkelompok investasi dari asing atau investasi > lokal ? Uang yang dipakai untuk mengebor eksplorasi termasuk capital > yang akan dikembalikan pada tahun yang sama kan ? (cmiiw). > > Dalam satu sisi saya bisa melihat bahwa sepertinya investasi > menggunakan dana sendiri tetapi dikelola oleh pihak asing. Jadi > duwiknya duwik kita tetapi dikontrol oleh prang lain. Looh piye iki ? > >> Pertanyaan saya : kenapa pemerintah enggak memberikan saja kesempatan > kepada pertamina untuk melakukan explorasi migas di seluruh blok di > Indonesia. >> BPMIgas tidak perlu membuka tender blok blok kepada investor asing, > berikan aja tender blok kepada pertamina dan perusahaan minyak > nasional....khan kita udah punya kemampuan mengelola sendiri lapangan > migas...Man power kita cukup handal menaikkan cadangan minyak di negara > lain....tarik aja semua GGE Indo yg ada di luar negeri dengan bayaran yg > sama > dengan expat.... >> Ini untuk membuktikan theori dan wacana yg selama ini berkembang, >> bahwa > negara kita sudah punya kemampuan untuk mengelola sendiri kekayaan > alamnya...tidak perlu bantuan asing... > > Pertanyaan anda cukup bagus nih, sayangnya saya ngga punya data > lengkap khusus Pertamina, jadi saya tidak dapat melakukan assesment > khusus Ptm. > Nah kalau saja mas zein berkenan coba saja membuktikan kemampuan > Pertamina dalam pengelolaannya. Berapa jumlah migas yang dihasilkan > oleh Pertamina selama ini baik sisi produksi maupun rate discovery > (volumetric maupun numbers of wells). > Sepintas menurutku, Pertamina memilki kemampuan dalam E&P, tetapi > duwiknya Pertamina ini "mungkin" masih dikelola dep Keu. Jadi ya > seperti yang banyak dikeluhkan kawan-kawan Pertamina kepalanya lepas > buntutnya dipegang :) > > Mengapa Pemerintah tidak membesarkan pertamina ? Wah ini beyond my > knowledge, dan diskusinya nanti melebar ke politik, aku ndak ngerti > soal politik dan kepentingan yg ada disitu. Namun secara tehnis Saya > yakin Pertamina mampu. > Pertanyaan selanjutnya, sberapa mampu ? Apakah" seluruh Indonesia ? > atau sebagian saja itu perlu penelitian lebih lanjut, tentu saja. > >> Karena selama ini wacana yg berkembang : Kalo pihak asing udah >> menemukan > cadangan minyak besar, biasanya akan timbul opini, kenapa sich harus > dikelola > pihak asing , enggak dikelola sendiri oleh kita.. >> > > Dikelola sendiri atau dimodali sendiri ? > Modal sendiri milik orang Indonesia mungkin cukup banyak, hanya saja, > investor lokal masih jarang yang terekspose dalam dunia migas. Namun > saat ini sudah mulai investor2 lokal yg mencoba berkiprah dalam > industri padat modal dan berisiko. > Dikelola sendiri, ya tentusaja perlu GGE tambahan juga, kan ? > >> Mohon pencerahannya karena saya bingung dengan situasi yg >> ada...bagusnya > solusinya gimana dong untuk menaikkan produksi migas Indonesia : >> - menarik investor terutama investor asing sebanyak banyaknya (tapi > banyak opini yg bilang kita tidak perlu investor asing krn mereka hanya > mengeruk kekayaan alam kita) >> - menarik pulang GGE kita yg bertebaran di luar negeri untuk sama >> sama > meningkatkan produksi migas >> - atau ??? > > Yang saya tahu permasalahan kompleks seperti ini tidak mungkin bin > impossible untuk diseleseikan dalam tiga atau empat kali seminar. > Hanya satu demi satu yang bisa dilakukan. Dan setiap opini (termasuk > tulisan saya) hanyalah menyetuh satu sisi kecil saja, yaitu soal > "braindrain". Sangat jelas bisa terlihat bahwa ada hubungan > korelasional (temporal) antara braindrain dengan volume discovery. > Tetapi juga ada kemungkinan penjelasan lain karena ternyata sumur > eksplorasi yang dibor di daerah yg sudah berproduksi, yang > konsekuensinya hanya berpotensi (prospect sizes-nya) kecil. > > Menarik atau menolak investor ? > Seperti yang saya tulis sebelumnya hal ini akan sangat panjang. Namun > satu yang terpenting seharusnya mana yang terbaik buat negara (rakyat > dan pemerintah nya). Juga tentusaja harus dimengerti bahwa hal ini > tidak bisa digeneralisasikan untuk segala aspek. > > Menarik GGE dari LN ? Aku bilang sih jauh lebih sulit ketimbang > menahan yang akan keluar. Tetapi disisi lain, yang masih berada > didalam setelah dinaikkannilai belinya" supaya setara dengan > rekan-rekan yg hengkang kok ya tidak menunjukkan perforemance dalam > volumetric discovery maupun produksi ? > > Saya memang mendengar ada usaha PTM menarik GGE ini tetapi sepertinya > masih belum sepenuhnya berhasil. > >> Mohon pencerahannya > > Maaf kalau masih butek :) > > rdp > -- > http://rovicky.wordpress.com/ > > ---------------------------------------------------------------------------- > Hot News!!! > CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to > [EMAIL PROTECTED] > Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the > 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, > Bali Convention Center, 13-16 November 2007 > ---------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > ---------------------------------------------------------------------------- > Hot News!!! > CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to > [EMAIL PROTECTED] > Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the > 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, > Bali Convention Center, 13-16 November 2007 > ---------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > >

