> Leo
Kalau sumberdaya , secara pemikiran eksplorasi SEMESTINYA kita akan lebih banyak , kita kan memiliki lebih banyak cekungan sedimen tersier , belum lagi yang Mesozoik-nya. Kalau dikatakan "mature" memang kita tahu beberapa cekungan sedimen tersier kita sudah cukup "mature". Akan tetapi kita mesti menganggap bahwa "new oil" in the old area masih selalu mungkin . Tingal kita mau atawa ndak ,melakukan intensifikasi yang "cerdas". Tapi cerdas saja tidak cukup kalau tidak ada "hepeng". jadi kita juga harus cerdas dalam melakukan pencarian hepeng , baik dari dalam mapun dari luar negeri. Payah-nya banyak orang kaya dinegeri ini takut kalau masuk ke-ekplorasi, ini saya alami sendiri . Jadi.................., saya fikir kalau uang "haram" dimasukan untuk eksplorasi mugkin pelakunya "dimaafkan " , bagaimana ya ???? Heeheee , pasti banyak lho duit seperti itu. Si-Abah _____________________________________________________________________ > > Kalau saya tidak melihat ke situ, Abah. Yang saya mau lihat apakah karena > kita duluan eksplorasi, field kita kebanyakan sudah mature, jadi jumlah > minyaknya juga lebih sedikit, sehingga ada penurunan produksi minyak. > > > > Just curious saja sih, Abah. > > > > Leo > > > > ________________________________ > > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Thursday, June 21, 2007 1:48 PM > To: [email protected] > Subject: RE: [iagi-net-l] Re: [Oil&Gas] Raport merah lima tahunan migas di > Indonesi > > > > <deleted to save bandwidth> > > > Kalau melihat bahwa Shell (dan Schlumberger ???) lahir di Indonesia , > mestinya kita lebih dahulu jauh dari Malaysia. > > Tapi Leo , kan bukan siapa yang lebih dulu-An yang akan lebih pinter , > tetapi siapa yang rajin , konsisten dan mau bekerja lebih keras. > Apakah kita kurang bekerja dengan rajin ???? > > Wah , silahkan jawab sendiri deh . > > > Si-Abah > > > Kalo boleh dapat info lebih lengkap : Kapan sejarah eksplorasi > Indonesia >> dimulai, dan kapan sejarah eksplorasi Malaysia dimulai? >> >> Thanks, >> LL >> > > > >

