Sedikit urun rembug.

Yang saya tahu setidaknya ada 3 penyebab OP, mungkin di beberapa kasus
bisa lebih. Ketiganya adalah:

1.    Disequilibrium compaction: banyak terjadi di daerah yg rapid
sedimentation spt Pak Gde bilang dimana ada beberapa lapisan porous yang
ter-trap oleh shale yang secara cepat tersedimentasikan. Salah satu
contoh di Indonesia ya di deep waternya Unocal dulu di Selat Makassar.
Secara umum, transition zone ini mengikuti perlapisan (stratigrafi)
karena proses sedimentasi yang mengontrol adanya OP ini. Di kasus ini,
prediksi pore pressure bisa dilakukan dengan bantuan interval velocity
dari seismik.

2.    Shale transformation from smectite to illite: banyak dipengaruhi
oleh temperature dimana pada temperature tertentu (kalo ngga salah
minimumnya 270oC) mineral smectite tertransformasikan menjadi illite.
Perubahan ini menambah fluid dan pressure yang ada sehingga mampu
menimbulkan overpressure. Karena perubahan mineral tersebut tergantung
akan temperature maka kemungkinan besar keberadaan OP akibat mekanisme
ini dikontrol oleh kedalaman dan juga dikontrol stratigrafi tentunya.

3.    Hydrocarbon generation: berubahnya kerogen menjadi hydrocarbon
juga menimbulkan tambahan pressure. Ini disebabkan karena adanya
perubahan volume dari fluid dan matriks batuan. Kadang2 OP yang
dihasilkan akibat mekanisme tersebut mampu mumbuat retakan2 kecil di
lapisan batuan atasnya yang memungkinkan hydrocarbon bermigrasi secara
vertikal. Karena pembentukan hydrocarbon yang salah satunya dikontrol
oleh P dan T maka secara umum zona OP akibat hydrocarbon generation akan
mengikuti kedalaman tergantung dari geothermal gradient yang ada
disamping letak dari source di suatu basin. Karena mengikuti kedalaman
maka terkadang zona OP ini memotong perlapisan batuan (tidak mengikuti
stratigrafi). Salah satu contohnya ada di Washakie basin di Wyoming
dimana OP yang ada memotong stratigrafi yang ada. Daerah ini sering
disebut sebagai basin-centered gas. Adanya lapisan shale (Asquith
marker) di atas Mesaverde Formation mampu berfungsi sebagai top seal. 

Apakah OP yang ada tersingkap di permukaan menjadi Normal pressure? Kalo
tidak ditemukan adanya seal yang menahan pressure dari lapisan yang
porous ya tentu saja akan normal karena pressure sudah release. Tetapi
distribusi OP sendiri akan menjadi tidak jelas karena tidak ada data
penunjangnya seperti seismik misalnya. Dengan adanya seismik yang
melewati kedua daerah tersebut (offshore dan onshore) akan membantu
kemenerusan secara lateral dari OP itu sendiri. Malah mungkin bisa
interpretasi adanya struktur lain (patahan misalnya) yang mampu menahan
OP tersebut. Sehingga penyebaran OP sendiri akan lebih jelas.

Bagaimana mengantisipasi OP? Selain adanya seismik yang membantu
(interval velocity), data2 sumur sekitar juga sangat membantu misalnya
mud weight yang dipake untuk menahan zona OP, sonic log yang disebut Pak
Gde (berfungsi mendeteksi slowness pada zona transisi atau OP itu
sendiri), resistivity di shale yang biasanya menunjukkan trend menurun
terhadap kedalaman (biasa dilakukan wellsite geologist), syukur2 kalo
punya PWD.

Intinya: kalo ada shale yang cukup competent dan mampu menahan pressure
di bawahnya, pressure di shale section tersebut akan cepat naik (build
up pressure) tetapi kalo ada lapisan yang porous maka kenaikan pressure
pada lapisan yang porous tersebut akan normal.

Maaf kalo kepanjangan.

 

cheers,

-ds-

 

 

________________________________

From: M Fakhrur Razi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, June 27, 2007 10:42 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Pore Pressure

 

ada lho pak yang lebih dangkal dari itu, saya pernah ketemu well yang
jika kita plot sonicnya kelihatan jelas bahwa zone overpressurenya
dimulai dari kedalaman 400 m. MW sekitar 12 - 20 ppg. Yang saya tau
daerah itu memang uplifted > 3000 m. ini karena faktor kompaksi saat
sedimentasi. 

 

untuk keperluan drilling, yang terpenting kan sebenarnya gimana kita
mengidentifikasi caprock dari overpressure itu sendiri. kalo di deltaic,
kalo sudah drilling di interval shale-rich yang tebal tentu kita sudah
berhati-hati. Kalo di area yang kayak anhydrit malah gak perlu lapisan
tebal sudah bisa menjadi cap rock buat overpressure. 

 

salam, 

 

Razi
 

On 6/27/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

Kalau pendapat saya:
1. Andaikata depth 1950m itu memang transisi zone, dan 2500m itu sudah
overpressure pada daerah rapid sedimentation maka ini overpressure zone 
ini saya anggap dangkal (??). Posisi HC dengan structure trap bagaimana,
Pak Bambang?

2. Formasi yg overpressure itu tersingkap dipermukaan. Overpressure ini
bisa terjadi karena factor meteoric gravity driven (topography) atau 
karena kompaksi karena rapid sedimentaion itu. Atau factor lain yg saya
belum ketahui. Ini perlu data2 yg lebih lengkap.

3. Kalau ada data sonic, bisa dibuat trend normal dan tidak normal untuk
memprediksi transisi-overpessure zone. 

4. Overpressure karena factor kedalaman tidak selalu. Kalau mengikuti
stratigraphy bisa saja terjadi seperti lateral discontinuity.

Pak Bambang, aku nggak mancing2 loh...?? sekian dulu nanti disambung
lagi. 

Cheers,
gde

> Saya berharap ada yang mau share tentang pore pressure. Di sumur-sumur
> offshore yang jaraknya sekitar 25 kilometer didapatkan transition zone
> pada kedalaman sekitar 1950 meter (6000 ft). Drilling dihentikan pada 
> kedalaman 2500 m karena memerlukan lumpur 2.18 sg (18 ppg) untuk
drilling
> zona overpressure tsb.  Formasi yang overpressure di offshore tersebut
> sebagian tersingkap ke permukaan di onshore. Bagaimana mengantisipasi 
> overpressure di onshore ini, pada kedalaman berapa diperkirakan
> overpressure, atau karena terekspose ke permukaan sehingga menjadi
tidak
> overpressure? Sebenarnya zona transisi mengikuti stratigrafi atau 
> kedalaman?
>
>   Thanks
>   Pujas
>
>
> ---------------------------------
> You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck
>  in the all-new Yahoo! Mail Beta. 



------------------------------------------------------------------------
----
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED] 
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
------------------------------------------------------------------------
---- 
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
---------------------------------------------------------------------

 

Kirim email ke