Awang 

Sedari saya kecil  saya
sudah mengagumi Amarhum , buku buku lama eperti Ceritera dari Blora ,
Keluarga Gerilya dsb saya baca berkali-kali.
Buku yang baru sudah
sedikit berubah , lebih romantis walaupun pesan pesannya mengeai
penderitaan rakyat tertindas masih 
mengemuka dengan nyata .

Apakah dia seorang marxist ?

Menurut saya dia berfikiran atau
menganut sikap / pemikiran seorang marxist walaupun dia tidak
mengakui-nya.Coba saja baca dengan teliti pesan pesan dalam buku
buku-nya.
Tapi dia adalah mrxist nasionalist.
Dia seorang
nasionalist yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur dan adil
sejahtera , sebagimana diamanatkan dalam mukdimah Konstitusi kita.

Apakah dia perlu penghargaan ?

Saya kira orang seperti
Pram tidak merasa perlu piagam penghargan , akan tetapi kita sebagai
bangsa  yang besar wajib memberikan pengargaan kepadanya , bkan saja
untuk karya sastranya , akan tetapi onsistensi-nya dalam bersikap sebagi
nasionalist yang konsisten.
Hanya sayang-nya bangsa kita ini punya
penyakit "aneh" , yaitu takut mengargai karya warga bangsa-nya
sendiri .
Lihat saja IAGI , berkali kali saya menyatakan didalam
iagi-net , betapa penting-nya memberikan penghargaan profesional kepada
warag negara RI atau fuhak lain yang memberikan kontribusi yang luar biasa
kepada kebumian Indonesia , Ndak ada tuh yang menanggapi . Apa ini bukan
aneh (kata saya dan Anda).
Sampai adik saya yang saya sangat sayangi
dan hormati -pun , ADBt yang katanya geologist Merdeka tidak berani untuk
melakukan hal itu dimasa kepengurusan-nya

So ,jangan berkecil
hati lah.

Si-Abah

______________________________________________________________________


Judul subyek di atas adalah judul sebuah buku relatif baru
(Desember 
> 2006) tentang Pramoedya Ananta Toer, banyak dianggap
sebagai sastrawan 
> terbesar Indonesia dan dunia luar mengakuinya
sebagai sastrawan kelas 
> dunia, terbitan Kepustakaan Populer
Gramedia. Buku ini memuat 
> serangkaian wawancara antara Andre
Vltchek dan Rossie Indira dengan Pram 
> pada Desember 2003-Maret
2004, dua tahun lebih sebelum Pram meninggal 
> dunia pada akhir
April 2006. Andre adalah seorang penulis, wartawan, 
> sineas, dan
analis politik asal Eropa Tengah. Rossie adalah penulis, 
> sineas
dan arsitek Indonesia. Kedua orang ini mahir berbahasa Rusia dan 
> Ceko, bahasa yang dipakainya ketika ngobrol dengan adik Pram yang
pernah 
> lama tinggal di Rusia. Wawancara dengan Pram sendiri
diadakan dalam 
> bahasa Indonesia sebab Pram menolak berbahasa
Inggris, seperti juga ia 
> menolak menulis buku2-nya dalam bahasa
Inggris, walaupun buku2nya telah 
> diterjemahkan kedalam banyak
bahasa. 
> 
> 
> 
> Wawancara bersifat
langsung, menukik ke semua pokok persoalan, termasuk 
> masalah2
kritis seperti komunisme, atheisme, pembantaian Cina di 
>
Indonesia, dan borok-borok rekayasa politik Indonesia. Tegang 
>
membacanya, bersiaplah dengan berbagai guncangan ! Tetapi, akan juga 
> kita temukan di dalamnya sebuah nasionalisme ala Pram, yang
disebutnya 
> Pramisme. Akan juga kita temukan sebuah keunggulan
individualisme yang 
> memukau, semangat pantang menyerah yang
patut diteladani, tak kenal 
> kompromi, keras, dan penghargaan
yang hebat terhadap bahasa Indonesia. 
> 
> 
> 
> Berikut beberapa pendapat dari buku tersebut menurut analisis
politik 
> Andre Vltchek. 
> 
> 
> 
> Abad kedua puluh ditandai dengan hampir tiada hentinya pesta terror
dan 
> kekerasan serta penipuan dan pangkhianatan. Setiap manusia
di berbagai 
> belahan dunia menyadari bahwa kebohongan yang
diulang seribu kali pada 
> akhirnya dapat menjadi kebenaran,
bahwa pendudukan yang brutal dapat 
> diartikan sebagai
pembebasan, dan membunuh jutaan orang tak berdosa 
> dapat
dibenarkan oleh para pemimpin negara-negara adikuasa atau bukan 
>
adikuasa sebagai harga yang harus dibayar demi kemajuan kemanusiaan, 
> peradaban, dan kepentingan nasional. Jutaan orang lenyap di 
> krematorium-krematorium, di kamp-kamp konsentrasi, di medan perang,

> ataupun di puing-puing kota yang hancur oleh bom. 
>

> 
> 
> Tetapi, di tengah-tengah penjarahan dan
kesemrawutan, ada 
> manusia-manusia luar biasa yang berpendirian
teguh dan terus melawan 
> arus demi membela mereka yang
teraniaya, mereka yang tersudut, dan para 
> korban pemerintahan
yang kejam dan sewenang-wenang. Ini adalah 
> manusia-manusia yang
menentang demagogi, militerisme, dan kekuatan 
> ekonomi dengan
dua alat perlawanan terkuat yang diciptakan dan dikenal 
> manusia
: pengetahuan dan kebenaran. 
> 
> 
> 
>
Orang-orang luar biasa ini melawan kebohongan dengan kata-kata sederhana

> yang masuk akal, melawan mitos-mitos yang membahayakan dengan

> fakta-fakta, melawan fanatisme agama dengan kebenaran. Sebagian
dari 
> mereka menghadapi kegilaan ini dengan senyuman sarkastik
di bibir, 
> sebagian lagi dengan ekspresi keras dengan mulut
terkatup. 
> 
> 
> 
> Indonesia adalah
negeri kepulauan terluas di dunia dengan ragam budaya, 
> suku,
dan bahasa yang menakjubkan. Keragaman ini dipersatukan setelah 
>
Perang Dunia II. Sebelumnya, Indonesia dijajah dan diperas oleh 
>
kekuatan-kekuatan penjajah selama ratusan tahun. Tahun 1945 Indonesia 
> merdeka, sebuah awal yang membanggakan. Tetapi, 20 tahun kemudian,
1965, 
> mulailah terror kediktatoran militer ! 
> 
> 
> 
> Guru-guru dibunuh, studio film dan teater
ditutup, bahasa Mandarin dan 
> hampir semua simbol kebudayaan
Cina dilarang. Ratusan ribu, bahkan 
> mungkin jutaan orang
kehilangan nyawa : orang-orang Cina, orang-orang 
> komunis,
orang-orang atheis, orang-orang berpikiran maju, dan kaum 
>
minoritas. Ketidaktoleransian politik, etnik, dan agama mencengkeram 
> negeri ini sejak itu, dan semakin memburuk. Kemampuan orang 
> berargumentasi, bertanya, dan membandingkan sudah hilang,
kreativitas 
> dihancurkan dan didiskreditkan, keanekaragaman
tidak didukung. 
> 
> 
> 
> Lalu Indonesia
pun mengalami kehancuran sosial. Mayoritas penduduk hidup 
> dalam
kondisi mengenaskan : tidak punya air layak minum, tidak menikmati 
> aliran listrik, lebih daripada setengah penduduk hidup dengan 
> penghasilan kurang daripada dua dollar AS per hari. Di Indonesia
semua 
> penduduk diwajibkan menganut salah satu agama, tetapi di
Indonesia juga 
> terjadi ketidakberperikemanusiaan dan
kebrutalan. Kebenaran jarang 
> sekali mengemuka, para seniman
harus tunduk kepada aturan, media massa 
> melakukan sensornya
sendiri. 
> 
> 
> 
> Tetapi, seorang
lelaki asal Blora bernama Pramoedya Ananta Toer, selama 
> 40
tahun ini terus menulis, mencoba merumuskan inti dan sejarah 
>
bangsanya yang masih belia dan menderita. Pram menulis di penjara, di 
> kamp militer, di rumahnya sebagai terpidana tahanan rumah. Pram
menulis 
> dalam "pengasingan diri", menulis dalam
keadaan marah dan ngeri melihat 
> situasi dan kondisi negerinya.
Banyak bukunya dibakar, yang selamat dari 
> api kemudian dilarang
beredar. 
> 
> 
> 
> Beberapa cuplikan
wawancara : 
> 
> 
> 
> T : Apakah
perbedaan antara penjajahan Belanda dan Jepang ? 
> 
> J :
Belanda mementingkan hukum sedangkan Jepang tidak. Dalam waktu tiga 
> hari setelah mendarat di Jawa, hampir semua serdadu Jepang terlibat

> dalam pemerkosaan wanita-wanita lokal. Pada saat itu wanita2
banyak yang 
> mencoreng-moreng mukanya sendiri dengan arang agar
tidak dikenali 
> sebagai wanita. Nenek2 pun melakukannya. Sejak
awal invasi banyak 
> kejadian aneh. Serdadu Jepang membuka pintu2
toko orang Cina dan 
> mempersilakan para gerombolan pribumi untuk
mengambil barang2nya. Lalu, 
> tiga hari kemudian gerombolan2 itu
ditembak mati. Yang baik dari 
> penjajahan Jepang hanya satu :
kewajiban berbahasa Indonesia. Bahasa 
> Indonesia berkembang
pesat sejak saat itu. 
> 
> 
> 
> T : Jika
kita menganalisis kudeta 1965 setelah hampir 40 tahun, ada dua 
>
teori dasar yang mengemuka tentang apa yang terjadi. Versi pertama, yang

> resmi, bahwa PKI-lah dalang G30S, bahwa PKI-lah yang menculik
dan 
> membunuh para jenderal. Versi kedua adalah yang terwakili
dalam "Cornell 
> Paper", bahwa peristiwa G30S pada
pokoknya merupakan konflik intern di 
> tubuh Angkatan Darat.
Namun demikian, ada pula versi lain yang sekarang 
> mulai
diadopsi oleh berbagai pihak di dunia, termasuk oleh para 
>
sejarahwan terkemuka di Indonesia, yaitu bahwa kudeta tersebut dilakukan

> oleh salah satu faksi di militer yang pro-Soeharto, dan
didukung oleh 
> Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya.
Apa pendapat Bung 
> mengenai hal ini ? 
> 
> J :
Tentu saja tujuan utama negara-negara Barat adalah menggulingkan 
> Soekarno karena tiga prinsipnya : anti-klonialisme,
anti-imperialisme, 
> anti-kapitalisme. Dan mereka yang ingin
menjatuhkan Soekarno dan yang 
> mau berkuasa mengambil kesempatan
dari adanya friksi di dalam militer, 
> yang terpecah antara
pendukung Soekarno dan pendukung Soeharto. Pada 
> saat kudeta,
salah satu faksi merencanakan dan melaksanakan pembunuhan 
>
jenderal-jenderal, dan hal inilah yang memicu pembunuhan missal dan 
> pendekanan-penekanan yang yang dilakukan oleh pendukung Soeharto.

> Korban2 pada saat itu termasuk orang-orang komunis, cina, dan
pendukung 
> Soekarno. Jadi, menurut saya, ini yang terjadi :
Militer dan Soeharto 
> melakukan kudeta, dan kemudian mereka
membunuh dua juta orang, dan 
> menimpakan kesalahannya kepada
orang lain. Anda mengerti tidak ? Mereka 
> membunuh dua juta
orang untuk balas dendam terhadap apa yang sebenarnya 
> mereka
lakukan sendiri ! 
> 
> Di zaman kerajaan dahulu, kita
punya cerita yang sama, yaitu cerita 
> tentang Kebo Ijo, Ken
Arok, dan Tunggul Ametung. Setelah Ken Arok 
> membunuh Tunggul
Ametung, Ken Arok cuci tangan, dan setelah mengambil 
> alih
kekuasaan, Ken arok memerintahkan untuk menghukum mati Kebo Ijo, 
> temannya karena menuduh Kebo Ijolah pembunuh Tunggul Ametung. Ken
Arok 
> sengaja meminjamkan keris Mpu Gandring yang haus darah itu
kepada Kebo 
> ijo beberapa hari sebelum Ken Arok membunuh Tunggul
Ametung. Sialnya 
> Kebo ijo, dia suka pamer kepada siapa pun dan
mengaku2 bahwa keris bagus 
> itu adalah kerisnya sendiri. Maka
ketika di tubuh Tunggul Ametung 
> tertancap keris Ken Arok, orang
tahu itu adalah keris Kebo Ijo. 
> 
> 
> 
> T : Berapa orang yang dibunuh setelah kudeta itu ? 
> 
> J : Menurut Sudomo jumlahnya dua juta orang. Tapi pembunuhan
tersebut 
> terutama dilakukan di bawah perintah Sarwo Edhie
Wibowo, yang pada saat 
> itu dengan bangga mengatakan pasukannya
telah membunuh tiga juta orang. 
> Dan dia hanya mengatakan soal
korban di Pulau Jawa saja. 
> 
> 
> 
> T :
Ada beberapa dokumen yang menunjukkan dan beberapa ilmuwan yang 
>
berpendapat bahwa militer amerika dan Indonesia merencanakan bersama 
> kudeta 1965... 
> 
> J : jangan lupa senjata
Amerika yang paling ampuh adalah dollarnya. Dan 
> jangan lupa
pula bahwa Eisenhower, Presiden AS pada saat itu, 
> memerintahkan
untuk menyingkirkan Soekarno. Dia mengatakan hal ini dalam 
>
beberapa pidatonya. Dan CIA memperalat Soeharto untuk melaksanakan hal 
> ini. Amerika punya pengaruh yang sangat besar terhadap militer 
> Indonesia, dan kemudian pada Golkar. Walaupun pada saat itu kami
sudah 
> menjadi tahanan politik, kami selalu tahu bahwa Amerika
pasti berada di 
> belakang hal ini. 
> 
> 
> 
> T : Apakah Bung seorang Marxis ? 
> 
> J
: Bukan, saya bukan Marxis, tapi "Pramis". Saya tidak pernah
menganut 
> suatu ajaran apa pun, saya hanya mengikuti ajaran saya
sendiri. Belajar 
> dari pengalaman hidup sendiri. Tapi saya
percaya pada keadilan dan 
> kesetaraan sosial. 
> 
> 
> 
> T : Apakah bung setuju dengan pendapat bahwa
hal paling luar biasa yang 
> bisa dilakukan oleh seorang penulis
untuk bangsanya adalah ketika ia 
> bisa mengungkapkan bagian
paling kelam bangsanya itu ? 
> 
> J : Tidak, saya tidak
setuju dengan pendapat itu. Saya selalu melihat 
> dunia ini
secara dialektik. Jadi saya tidak pernah menggambarkan 
>
kejelekannya saja, tapi juga kebaikannya. Kalau saya gambarkan 
>
keburukannya saja, mungkin saya bisa sakit. 
> 
> 
> 
> T : Baru2 ini Gus Dur mengatakan pada kami bahwa dia
sangat menghormati 
> Bung dan merencanakan untuk membuat yayasan
dengan nama Bung. Yayasan 
> ini dimaksudkan untuk membantu para
korban 1965 dan keluarganya. Apakah 
> Bung punya harapan bahwa
hal ini dapat memmbawa perubahan ? 
> 
> J : Sebagai
mantan Ketua NU, Gus Dur ikut merasa berdosa atas apa yang 
>
terjadi di masa lalu (pembantaian orang-orang yang dianggap komunis 
> pasca kudeta 1965). Dia merasa bersalah, walaupun secara pribadi
dia 
> tidak terlibat dalam pembunuhan2 itu. Itu sih bagus-bagus
saja, Cuma 
> masalahnya Gus Dur itu terlalu dekat dengan militer,
karena dia masih 
> membutuhkan dukungan politik dan perlindungan
dari mereka sebelum 
> pemilu. Paling tidak dia membutuhkan
perlindungan. Semua politikus kita, 
> kan, sangat oportunis. 
> 
> 
> 
> Akhir wawancara. 
> 
> 
> 
> T : Jadi Bung hidup terasing di negeri Bung
sendiri ? 
> 
> J : Ya, saya hidup di dunia saya sendiri.
Di luar itu yang ada hanya 
> korupsi. Satu-satunya pemimpin,
Soekarno, sudah tidak ada lagi. Inilah 
> balasan Indonesia pada
saya. Negara yang dulu saya perjuangkan sekarang 
> dalam proses
pembusukan, jadi bagaimana saya tidak marah ? Sangat 
>
bertolak-belakang dengan negara yang kami cita-citakan dahulu. Hari-hari

> ini semakin banyak memori yang kembali. Kebanyakan teman saya
sudah 
> tidak ada lagi. Saya teringat akan dua juta orang yang
dibunuh dan 
> sungai-sungai penuh dengan mayat sehingga airnya
menjadi merah karena 
> darah. Bagaimana orang bisa membunuh
sesamanya seperti itu ? Saya tidak 
> bisa bicara lagi soal hal
ini. Terlalu emosional bagi saya. 
> 
> 
> 
> Ada ratusan tanya-jawab yang sangat kritis dan menukik pada pokok

> persoalan dapat ditemukan di buku ini tentang sejarah,
kolonialisme, 
> Soekarno, kudeta 1965, Jawanisme, Soeharto,
Timor, Aceh, dan masa depan 
> Indonesia. Walaupun Pram tidak
percaya kepada agama, berpendapat bahwa 
> berdoa adalah seperti
mengemis, hanya percaya kepada dirinya sendiri dan 
> hanya bisa
bergantung kepada dirinya sendiri - membaca buku-buku sastra 
>
dan roman sejarah yang ditulisnya kita akan menemukan nasionalisme dan 
> humanisme di dalamnya. Dan, kekuatan individual seorang Pram sangat

> mengagumkan ! 
> 
> 
> 
>
Sebuah proyek buku "Ensiklopedia Kepulauan Indonesia" akan 
> dikerjakannya dengan berbekal kepada referensi sepanjang empat
meter 
> yang telah dikumpulkannya. Apa daya, maut menjemputnya
lebih dahulu saat 
> usianya 81 tahun pada 30 April 2006.
Konsisten, tidak kenal kompromi, 
> kekuatan, dan semangat sampai
akhir ! 
> 
> 
> 
> Sayang, sering kita
selalu terlambat menghargai jasa seseorang. 
> Negara-negara lain
lebih dahulu menghargai Pram. Inilah daftar 
> penghargaan buat
Pram : 
> 
> 
> 
> 1988 PEN/Barbara
Goldsmith Freedom to Write Award. 
> 
> 1989 The Fund for
Free Expression Award, New York, USA. 
> 
> 1992 English
P.E.N Centre Award, Great Britain. 
> 
> 1992 Stichting
Wertheim Award, Netherland. 
> 
> 1995 Ramon Magsaysay
Award for Journalism, Literature, and Creative 
> Communication
Arts. 
> 
> 1999 Doctor Honoris Causa from the University
of Michigan. 
> 
> 1999 Chancellor's Distinguished Honor
Award from the University of 
> California, Berkeley. 
>

> 2000 Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres Republic of
France. 
> 
> 2000 11th Fukuoka Asian Culture Prize. 
> 
> 2004 Norwegian Authors' Union award for his contribution
to world 
> literature and his continuous struggle for the right
to freedom of 
> expression. 
> 
> 2005 Global
Intellectuals Poll by the Prospect. 
> 
> 
> 
> Pram juga beberapa kali masuk nominator hadiah Nobel. Tetapi,
seperti di 
> buku ini, mengenai penghargaan Pram hanya bilang :
"tak pernah 
> mengharapkannya". "Saya mencoba
untuk tidak terlalu mengharapkan apa-apa 
> dari dunia luar. Saya
belajar untuk mengandalkan diri saya sendiri. 
> Bahkan saya tidak
pernah minta apapun dari orang tua saya sendiri" 
> 
> 
> 
> Berikut adalah karya utama Pram, masih banyak
karya2nya yang di luar 
> ini. 
> 
> 
>

> Kranji-Bekasi Jatuh (1947) 
> 
> Perburuan (The
Fugitive) (1950) 
> 
> Keluarga Gerilya (1950) 
>

> Bukan Pasarmalam (1951) 
> 
> Cerita dari Blora
(1952) 
> 
> Gulat di Jakarta (1953) 
> 
>
Korupsi (Corruption) (1954) 
> 
> Midah - Si Manis Bergigi
Emas (1954) 
> 
> Cerita Calon Arang (The King, the Witch,
and the Priest) (1957) 
> 
> Hoakiau di Indonesia (1960)

> 
> Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962) 
> 
> The Buru Quartet 
> 
> Bumi Manusia
(This Earth of Mankind) (1980) 
> 
> Anak Semua Bangsa
(Child of All Nations) (1980) 
> 
> Jejak Langkah
(Footsteps) (1985) 
> 
> Rumah Kaca (House of Glass)
(1988) 
> 
> Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982)

> 
> Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy)
(1995) 
> 
> Arus Balik (1995) 
> 
> Arok
Dedes (1999) 
> 
> Mangir (1999) 
> 
>
Larasati (2000) 
> 
> 
> 
>
"Soliloquy" - Nyanyi Sunyi, novelnya tentang penderitaan yang
tak bisa 
> terucapkan di kamp konsentrasi Buru, tak hendak
selamanya akan sunyi. 
> Karya2 Pram sekarang bisa ditemukan cukup
mudah di mana saja, bahkan ada 
> penerbit yang khusus menerbitkan
buku2nya, yang bertahun-tahun lalu 
> dilarang. 
> 
> 
> 
> "Memukau...pilu tiada akhir" (Noam
Chomsky) 
> 
> 
> 
> Salam, 
> 
> awang 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

Kirim email ke