Iya saya juga prihatin, kenapa Gramedia sekarang malah banyak menerbitkan buku2 yg bikin heboh yg kiranya bakal menjadi best seller, yg belum tentu teruji kebenarannya. gde
> Abah, > > Saya rasa tulisan tulisannya Mochtar Lubis juga cantik dan berat seperti > Pram, dia pun juga seorang idealis yang mengusung pesan nasionalis. > Sayang semenjak tergusurnya Indonesia Raya namanya kok hilang ya ..... at > least dari perhatian orang umum seperti saya ... > Pram dikagumi oleh "pihak luar", tapi selain dia juga ada penulis penulis > lain yang keren punya .... kenapa kita cuma menengok kearah Pram ?, karena > "orang luar" menengok kedia?. > Sayangnya kalau kita jalan jalan ke Gramed saat ini, nggak ada buku buku > bernuansa seperti itu lagi, apakah jaman sudah berubah sehingga orang > lebih > global cara berpikirnya ?. > > y > > > > > [EMAIL PROTECTED] > > 07/19/2007 01:51 To > PM [email protected] > cc > > Please respond to Subject > <[EMAIL PROTECTED] Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar > .id> Amarah Sendirian" ! > > > > > > > > > > > > Awang > > Sedari saya kecil saya sudah mengagumi Amarhum , buku buku lama eperti > Ceritera dari Blora , Keluarga Gerilya dsb saya baca berkali-kali. > Buku yang baru sudah sedikit berubah , lebih romantis walaupun pesan > pesannya mengeai penderitaan rakyat tertindas masih > mengemuka dengan nyata . > > Apakah dia seorang marxist ? > > Menurut saya dia berfikiran atau menganut sikap / pemikiran seorang > marxist > walaupun dia tidak mengakui-nya.Coba saja baca dengan teliti pesan pesan > dalam buku buku-nya. > Tapi dia adalah mrxist nasionalist. > Dia seorang nasionalist yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur dan > adil sejahtera , sebagimana diamanatkan dalam mukdimah Konstitusi kita. > > Apakah dia perlu penghargaan ? > > Saya kira orang seperti Pram tidak merasa perlu piagam penghargan , akan > tetapi kita sebagai bangsa yang besar wajib memberikan pengargaan > kepadanya , bkan saja untuk karya sastranya , akan tetapi onsistensi-nya > dalam bersikap sebagi nasionalist yang konsisten. > Hanya sayang-nya bangsa kita ini punya penyakit "aneh" , yaitu takut > mengargai karya warga bangsa-nya sendiri . > Lihat saja IAGI , berkali kali saya menyatakan didalam iagi-net , betapa > penting-nya memberikan penghargaan profesional kepada warag negara RI atau > fuhak lain yang memberikan kontribusi yang luar biasa kepada kebumian > Indonesia , Ndak ada tuh yang menanggapi . Apa ini bukan aneh (kata saya > dan Anda). > Sampai adik saya yang saya sangat sayangi dan hormati -pun , ADBt yang > katanya geologist Merdeka tidak berani untuk melakukan hal itu dimasa > kepengurusan-nya > > So ,jangan berkecil hati lah. > > Si-Abah > > ______________________________________________________________________ > > > Judul subyek di atas adalah judul sebuah buku relatif baru (Desember >> 2006) tentang Pramoedya Ananta Toer, banyak dianggap sebagai sastrawan >> terbesar Indonesia dan dunia luar mengakuinya sebagai sastrawan kelas >> dunia, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia. Buku ini memuat >> serangkaian wawancara antara Andre Vltchek dan Rossie Indira dengan Pram >> pada Desember 2003-Maret 2004, dua tahun lebih sebelum Pram meninggal >> dunia pada akhir April 2006. Andre adalah seorang penulis, wartawan, >> sineas, dan analis politik asal Eropa Tengah. Rossie adalah penulis, >> sineas dan arsitek Indonesia. Kedua orang ini mahir berbahasa Rusia dan >> Ceko, bahasa yang dipakainya ketika ngobrol dengan adik Pram yang pernah >> lama tinggal di Rusia. Wawancara dengan Pram sendiri diadakan dalam >> bahasa Indonesia sebab Pram menolak berbahasa Inggris, seperti juga ia >> menolak menulis buku2-nya dalam bahasa Inggris, walaupun buku2nya telah >> diterjemahkan kedalam banyak bahasa. >> >> >> >> Wawancara bersifat langsung, menukik ke semua pokok persoalan, termasuk >> masalah2 kritis seperti komunisme, atheisme, pembantaian Cina di >> Indonesia, dan borok-borok rekayasa politik Indonesia. Tegang >> membacanya, bersiaplah dengan berbagai guncangan ! Tetapi, akan juga >> kita temukan di dalamnya sebuah nasionalisme ala Pram, yang disebutnya >> Pramisme. Akan juga kita temukan sebuah keunggulan individualisme yang >> memukau, semangat pantang menyerah yang patut diteladani, tak kenal >> kompromi, keras, dan penghargaan yang hebat terhadap bahasa Indonesia. >> >> >> >> Berikut beberapa pendapat dari buku tersebut menurut analisis politik >> Andre Vltchek. >> >> >> >> Abad kedua puluh ditandai dengan hampir tiada hentinya pesta terror dan >> kekerasan serta penipuan dan pangkhianatan. Setiap manusia di berbagai >> belahan dunia menyadari bahwa kebohongan yang diulang seribu kali pada >> akhirnya dapat menjadi kebenaran, bahwa pendudukan yang brutal dapat >> diartikan sebagai pembebasan, dan membunuh jutaan orang tak berdosa >> dapat dibenarkan oleh para pemimpin negara-negara adikuasa atau bukan >> adikuasa sebagai harga yang harus dibayar demi kemajuan kemanusiaan, >> peradaban, dan kepentingan nasional. Jutaan orang lenyap di >> krematorium-krematorium, di kamp-kamp konsentrasi, di medan perang, >> ataupun di puing-puing kota yang hancur oleh bom. >> >> >> >> Tetapi, di tengah-tengah penjarahan dan kesemrawutan, ada >> manusia-manusia luar biasa yang berpendirian teguh dan terus melawan >> arus demi membela mereka yang teraniaya, mereka yang tersudut, dan para >> korban pemerintahan yang kejam dan sewenang-wenang. Ini adalah >> manusia-manusia yang menentang demagogi, militerisme, dan kekuatan >> ekonomi dengan dua alat perlawanan terkuat yang diciptakan dan dikenal >> manusia : pengetahuan dan kebenaran. >> >> >> >> Orang-orang luar biasa ini melawan kebohongan dengan kata-kata sederhana >> yang masuk akal, melawan mitos-mitos yang membahayakan dengan >> fakta-fakta, melawan fanatisme agama dengan kebenaran. Sebagian dari >> mereka menghadapi kegilaan ini dengan senyuman sarkastik di bibir, >> sebagian lagi dengan ekspresi keras dengan mulut terkatup. >> >> >> >> Indonesia adalah negeri kepulauan terluas di dunia dengan ragam budaya, >> suku, dan bahasa yang menakjubkan. Keragaman ini dipersatukan setelah >> Perang Dunia II. Sebelumnya, Indonesia dijajah dan diperas oleh >> kekuatan-kekuatan penjajah selama ratusan tahun. Tahun 1945 Indonesia >> merdeka, sebuah awal yang membanggakan. Tetapi, 20 tahun kemudian, 1965, >> mulailah terror kediktatoran militer ! >> >> >> >> Guru-guru dibunuh, studio film dan teater ditutup, bahasa Mandarin dan >> hampir semua simbol kebudayaan Cina dilarang. Ratusan ribu, bahkan >> mungkin jutaan orang kehilangan nyawa : orang-orang Cina, orang-orang >> komunis, orang-orang atheis, orang-orang berpikiran maju, dan kaum >> minoritas. Ketidaktoleransian politik, etnik, dan agama mencengkeram >> negeri ini sejak itu, dan semakin memburuk. Kemampuan orang >> berargumentasi, bertanya, dan membandingkan sudah hilang, kreativitas >> dihancurkan dan didiskreditkan, keanekaragaman tidak didukung. >> >> >> >> Lalu Indonesia pun mengalami kehancuran sosial. Mayoritas penduduk hidup >> dalam kondisi mengenaskan : tidak punya air layak minum, tidak menikmati >> aliran listrik, lebih daripada setengah penduduk hidup dengan >> penghasilan kurang daripada dua dollar AS per hari. Di Indonesia semua >> penduduk diwajibkan menganut salah satu agama, tetapi di Indonesia juga >> terjadi ketidakberperikemanusiaan dan kebrutalan. Kebenaran jarang >> sekali mengemuka, para seniman harus tunduk kepada aturan, media massa >> melakukan sensornya sendiri. >> >> >> >> Tetapi, seorang lelaki asal Blora bernama Pramoedya Ananta Toer, selama >> 40 tahun ini terus menulis, mencoba merumuskan inti dan sejarah >> bangsanya yang masih belia dan menderita. Pram menulis di penjara, di >> kamp militer, di rumahnya sebagai terpidana tahanan rumah. Pram menulis >> dalam "pengasingan diri", menulis dalam keadaan marah dan ngeri melihat >> situasi dan kondisi negerinya. Banyak bukunya dibakar, yang selamat dari >> api kemudian dilarang beredar. >> >> >> >> Beberapa cuplikan wawancara : >> >> >> >> T : Apakah perbedaan antara penjajahan Belanda dan Jepang ? >> >> J : Belanda mementingkan hukum sedangkan Jepang tidak. Dalam waktu tiga >> hari setelah mendarat di Jawa, hampir semua serdadu Jepang terlibat >> dalam pemerkosaan wanita-wanita lokal. Pada saat itu wanita2 banyak yang >> mencoreng-moreng mukanya sendiri dengan arang agar tidak dikenali >> sebagai wanita. Nenek2 pun melakukannya. Sejak awal invasi banyak >> kejadian aneh. Serdadu Jepang membuka pintu2 toko orang Cina dan >> mempersilakan para gerombolan pribumi untuk mengambil barang2nya. Lalu, >> tiga hari kemudian gerombolan2 itu ditembak mati. Yang baik dari >> penjajahan Jepang hanya satu : kewajiban berbahasa Indonesia. Bahasa >> Indonesia berkembang pesat sejak saat itu. >> >> >> >> T : Jika kita menganalisis kudeta 1965 setelah hampir 40 tahun, ada dua >> teori dasar yang mengemuka tentang apa yang terjadi. Versi pertama, yang >> resmi, bahwa PKI-lah dalang G30S, bahwa PKI-lah yang menculik dan >> membunuh para jenderal. Versi kedua adalah yang terwakili dalam "Cornell >> Paper", bahwa peristiwa G30S pada pokoknya merupakan konflik intern di >> tubuh Angkatan Darat. Namun demikian, ada pula versi lain yang sekarang >> mulai diadopsi oleh berbagai pihak di dunia, termasuk oleh para >> sejarahwan terkemuka di Indonesia, yaitu bahwa kudeta tersebut dilakukan >> oleh salah satu faksi di militer yang pro-Soeharto, dan didukung oleh >> Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Apa pendapat Bung >> mengenai hal ini ? >> >> J : Tentu saja tujuan utama negara-negara Barat adalah menggulingkan >> Soekarno karena tiga prinsipnya : anti-klonialisme, anti-imperialisme, >> anti-kapitalisme. Dan mereka yang ingin menjatuhkan Soekarno dan yang >> mau berkuasa mengambil kesempatan dari adanya friksi di dalam militer, >> yang terpecah antara pendukung Soekarno dan pendukung Soeharto. Pada >> saat kudeta, salah satu faksi merencanakan dan melaksanakan pembunuhan >> jenderal-jenderal, dan hal inilah yang memicu pembunuhan missal dan >> pendekanan-penekanan yang yang dilakukan oleh pendukung Soeharto. >> Korban2 pada saat itu termasuk orang-orang komunis, cina, dan pendukung >> Soekarno. Jadi, menurut saya, ini yang terjadi : Militer dan Soeharto >> melakukan kudeta, dan kemudian mereka membunuh dua juta orang, dan >> menimpakan kesalahannya kepada orang lain. Anda mengerti tidak ? Mereka >> membunuh dua juta orang untuk balas dendam terhadap apa yang sebenarnya >> mereka lakukan sendiri ! >> >> Di zaman kerajaan dahulu, kita punya cerita yang sama, yaitu cerita >> tentang Kebo Ijo, Ken Arok, dan Tunggul Ametung. Setelah Ken Arok >> membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok cuci tangan, dan setelah mengambil >> alih kekuasaan, Ken arok memerintahkan untuk menghukum mati Kebo Ijo, >> temannya karena menuduh Kebo Ijolah pembunuh Tunggul Ametung. Ken Arok >> sengaja meminjamkan keris Mpu Gandring yang haus darah itu kepada Kebo >> ijo beberapa hari sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Sialnya >> Kebo ijo, dia suka pamer kepada siapa pun dan mengaku2 bahwa keris bagus >> itu adalah kerisnya sendiri. Maka ketika di tubuh Tunggul Ametung >> tertancap keris Ken Arok, orang tahu itu adalah keris Kebo Ijo. >> >> >> >> T : Berapa orang yang dibunuh setelah kudeta itu ? >> >> J : Menurut Sudomo jumlahnya dua juta orang. Tapi pembunuhan tersebut >> terutama dilakukan di bawah perintah Sarwo Edhie Wibowo, yang pada saat >> itu dengan bangga mengatakan pasukannya telah membunuh tiga juta orang. >> Dan dia hanya mengatakan soal korban di Pulau Jawa saja. >> >> >> >> T : Ada beberapa dokumen yang menunjukkan dan beberapa ilmuwan yang >> berpendapat bahwa militer amerika dan Indonesia merencanakan bersama >> kudeta 1965... >> >> J : jangan lupa senjata Amerika yang paling ampuh adalah dollarnya. Dan >> jangan lupa pula bahwa Eisenhower, Presiden AS pada saat itu, >> memerintahkan untuk menyingkirkan Soekarno. Dia mengatakan hal ini dalam >> beberapa pidatonya. Dan CIA memperalat Soeharto untuk melaksanakan hal >> ini. Amerika punya pengaruh yang sangat besar terhadap militer >> Indonesia, dan kemudian pada Golkar. Walaupun pada saat itu kami sudah >> menjadi tahanan politik, kami selalu tahu bahwa Amerika pasti berada di >> belakang hal ini. >> >> >> >> T : Apakah Bung seorang Marxis ? >> >> J : Bukan, saya bukan Marxis, tapi "Pramis". Saya tidak pernah menganut >> suatu ajaran apa pun, saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri. Belajar >> dari pengalaman hidup sendiri. Tapi saya percaya pada keadilan dan >> kesetaraan sosial. >> >> >> >> T : Apakah bung setuju dengan pendapat bahwa hal paling luar biasa yang >> bisa dilakukan oleh seorang penulis untuk bangsanya adalah ketika ia >> bisa mengungkapkan bagian paling kelam bangsanya itu ? >> >> J : Tidak, saya tidak setuju dengan pendapat itu. Saya selalu melihat >> dunia ini secara dialektik. Jadi saya tidak pernah menggambarkan >> kejelekannya saja, tapi juga kebaikannya. Kalau saya gambarkan >> keburukannya saja, mungkin saya bisa sakit. >> >> >> >> T : Baru2 ini Gus Dur mengatakan pada kami bahwa dia sangat menghormati >> Bung dan merencanakan untuk membuat yayasan dengan nama Bung. Yayasan >> ini dimaksudkan untuk membantu para korban 1965 dan keluarganya. Apakah >> Bung punya harapan bahwa hal ini dapat memmbawa perubahan ? >> >> J : Sebagai mantan Ketua NU, Gus Dur ikut merasa berdosa atas apa yang >> terjadi di masa lalu (pembantaian orang-orang yang dianggap komunis >> pasca kudeta 1965). Dia merasa bersalah, walaupun secara pribadi dia >> tidak terlibat dalam pembunuhan2 itu. Itu sih bagus-bagus saja, Cuma >> masalahnya Gus Dur itu terlalu dekat dengan militer, karena dia masih >> membutuhkan dukungan politik dan perlindungan dari mereka sebelum >> pemilu. Paling tidak dia membutuhkan perlindungan. Semua politikus kita, >> kan, sangat oportunis. >> >> >> >> Akhir wawancara. >> >> >> >> T : Jadi Bung hidup terasing di negeri Bung sendiri ? >> >> J : Ya, saya hidup di dunia saya sendiri. Di luar itu yang ada hanya >> korupsi. Satu-satunya pemimpin, Soekarno, sudah tidak ada lagi. Inilah >> balasan Indonesia pada saya. Negara yang dulu saya perjuangkan sekarang >> dalam proses pembusukan, jadi bagaimana saya tidak marah ? Sangat >> bertolak-belakang dengan negara yang kami cita-citakan dahulu. Hari-hari >> ini semakin banyak memori yang kembali. Kebanyakan teman saya sudah >> tidak ada lagi. Saya teringat akan dua juta orang yang dibunuh dan >> sungai-sungai penuh dengan mayat sehingga airnya menjadi merah karena >> darah. Bagaimana orang bisa membunuh sesamanya seperti itu ? Saya tidak >> bisa bicara lagi soal hal ini. Terlalu emosional bagi saya. >> >> >> >> Ada ratusan tanya-jawab yang sangat kritis dan menukik pada pokok >> persoalan dapat ditemukan di buku ini tentang sejarah, kolonialisme, >> Soekarno, kudeta 1965, Jawanisme, Soeharto, Timor, Aceh, dan masa depan >> Indonesia. Walaupun Pram tidak percaya kepada agama, berpendapat bahwa >> berdoa adalah seperti mengemis, hanya percaya kepada dirinya sendiri dan >> hanya bisa bergantung kepada dirinya sendiri - membaca buku-buku sastra >> dan roman sejarah yang ditulisnya kita akan menemukan nasionalisme dan >> humanisme di dalamnya. Dan, kekuatan individual seorang Pram sangat >> mengagumkan ! >> >> >> >> Sebuah proyek buku "Ensiklopedia Kepulauan Indonesia" akan >> dikerjakannya dengan berbekal kepada referensi sepanjang empat meter >> yang telah dikumpulkannya. Apa daya, maut menjemputnya lebih dahulu saat >> usianya 81 tahun pada 30 April 2006. Konsisten, tidak kenal kompromi, >> kekuatan, dan semangat sampai akhir ! >> >> >> >> Sayang, sering kita selalu terlambat menghargai jasa seseorang. >> Negara-negara lain lebih dahulu menghargai Pram. Inilah daftar >> penghargaan buat Pram : >> >> >> >> 1988 PEN/Barbara Goldsmith Freedom to Write Award. >> >> 1989 The Fund for Free Expression Award, New York, USA. >> >> 1992 English P.E.N Centre Award, Great Britain. >> >> 1992 Stichting Wertheim Award, Netherland. >> >> 1995 Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature, and Creative >> Communication Arts. >> >> 1999 Doctor Honoris Causa from the University of Michigan. >> >> 1999 Chancellor's Distinguished Honor Award from the University of >> California, Berkeley. >> >> 2000 Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres Republic of France. >> >> 2000 11th Fukuoka Asian Culture Prize. >> >> 2004 Norwegian Authors' Union award for his contribution to world >> literature and his continuous struggle for the right to freedom of >> expression. >> >> 2005 Global Intellectuals Poll by the Prospect. >> >> >> >> Pram juga beberapa kali masuk nominator hadiah Nobel. Tetapi, seperti di >> buku ini, mengenai penghargaan Pram hanya bilang : "tak pernah >> mengharapkannya". "Saya mencoba untuk tidak terlalu mengharapkan apa-apa >> dari dunia luar. Saya belajar untuk mengandalkan diri saya sendiri. >> Bahkan saya tidak pernah minta apapun dari orang tua saya sendiri" >> >> >> >> Berikut adalah karya utama Pram, masih banyak karya2nya yang di luar >> ini. >> >> >> >> Kranji-Bekasi Jatuh (1947) >> >> Perburuan (The Fugitive) (1950) >> >> Keluarga Gerilya (1950) >> >> Bukan Pasarmalam (1951) >> >> Cerita dari Blora (1952) >> >> Gulat di Jakarta (1953) >> >> Korupsi (Corruption) (1954) >> >> Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954) >> >> Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957) >> >> Hoakiau di Indonesia (1960) >> >> Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962) >> >> The Buru Quartet >> >> Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980) >> >> Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980) >> >> Jejak Langkah (Footsteps) (1985) >> >> Rumah Kaca (House of Glass) (1988) >> >> Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982) >> >> Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995) >> >> Arus Balik (1995) >> >> Arok Dedes (1999) >> >> Mangir (1999) >> >> Larasati (2000) >> >> >> >> "Soliloquy" - Nyanyi Sunyi, novelnya tentang penderitaan yang tak bisa >> terucapkan di kamp konsentrasi Buru, tak hendak selamanya akan sunyi. >> Karya2 Pram sekarang bisa ditemukan cukup mudah di mana saja, bahkan ada >> penerbit yang khusus menerbitkan buku2nya, yang bertahun-tahun lalu >> dilarang. >> >> >> >> "Memukau...pilu tiada akhir" (Noam Chomsky) >> >> >> >> Salam, >> >> awang >> >> >> >> >> >> >> >> > > > This e-mail (including any attached documents) is intended only for the > recipient(s) named above. It may contain confidential or legally > privileged information and should not be copied or disclosed to, or > otherwise used by, any other person. If you are not a named recipient, > please contact the sender and delete the e-mail from your system. > > ---------------------------------------------------------------------------- > Hot News!!! > CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to > [EMAIL PROTECTED] > Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the > 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, > Bali Convention Center, 13-16 November 2007 > ---------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

