> 
Noor .  

Anda benar , ML juga punya
buku buku yang cantik dan sangat humanis , mungkin bedanya dengan Pram ,
dia lebih halus.

Si-Abah

___________________________________________________________________

  Abah, 
> 
> Saya rasa tulisan tulisannya
Mochtar Lubis juga cantik dan berat seperti 
> Pram, dia pun juga
seorang idealis yang mengusung pesan nasionalis. 
> Sayang
semenjak tergusurnya Indonesia Raya namanya kok hilang ya ..... at 
> least dari perhatian orang umum seperti saya ... 
> Pram
dikagumi oleh "pihak luar", tapi selain dia juga ada penulis
penulis 
> lain yang keren punya .... kenapa kita cuma menengok
kearah Pram ?, karena 
> "orang luar" menengok kedia?.

> Sayangnya kalau kita jalan jalan ke Gramed saat ini, nggak ada
buku buku 
> bernuansa seperti itu lagi, apakah jaman sudah
berubah sehingga orang 
> lebih 
> global cara berpikirnya
?. 
> 
> y 
> 
> 
> 
> 
> [EMAIL PROTECTED] 
> 
> 07/19/2007 01:51 To 
> PM [email protected] 
> cc 
> 
> Please
respond to Subject 
> <[EMAIL PROTECTED] Re: [iagi-net-l] OOT
"Saya Terbakar 
> .id> Amarah Sendirian" ! 
>

> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Awang 
> 
> Sedari saya kecil saya sudah mengagumi Amarhum , buku buku lama
eperti 
> Ceritera dari Blora , Keluarga Gerilya dsb saya baca
berkali-kali. 
> Buku yang baru sudah sedikit berubah , lebih
romantis walaupun pesan 
> pesannya mengeai penderitaan rakyat
tertindas masih 
> mengemuka dengan nyata . 
> 
>
Apakah dia seorang marxist ? 
> 
> Menurut saya dia
berfikiran atau menganut sikap / pemikiran seorang 
> marxist 
> walaupun dia tidak mengakui-nya.Coba saja baca dengan teliti pesan
pesan 
> dalam buku buku-nya. 
> Tapi dia adalah mrxist
nasionalist. 
> Dia seorang nasionalist yang mendambakan bangsa
Indonesia bisa makmur dan 
> adil sejahtera , sebagimana
diamanatkan dalam mukdimah Konstitusi kita. 
> 
> Apakah
dia perlu penghargaan ? 
> 
> Saya kira orang seperti Pram
tidak merasa perlu piagam penghargan , akan 
> tetapi kita sebagai
bangsa yang besar wajib memberikan pengargaan 
> kepadanya , bkan
saja untuk karya sastranya , akan tetapi onsistensi-nya 
> dalam
bersikap sebagi nasionalist yang konsisten. 
> Hanya sayang-nya
bangsa kita ini punya penyakit "aneh" , yaitu takut 
>
mengargai karya warga bangsa-nya sendiri . 
> Lihat saja IAGI ,
berkali kali saya menyatakan didalam iagi-net , betapa 
>
penting-nya memberikan penghargaan profesional kepada warag negara RI atau

> fuhak lain yang memberikan kontribusi yang luar biasa kepada
kebumian 
> Indonesia , Ndak ada tuh yang menanggapi . Apa ini
bukan aneh (kata saya 
> dan Anda). 
> Sampai adik saya
yang saya sangat sayangi dan hormati -pun , ADBt yang 
> katanya
geologist Merdeka tidak berani untuk melakukan hal itu dimasa 
>
kepengurusan-nya 
> 
> So ,jangan berkecil hati lah. 
> 
> Si-Abah 
> 
>
______________________________________________________________________ 
> 
> 
> Judul subyek di atas adalah judul sebuah buku
relatif baru (Desember 
>> 2006) tentang Pramoedya Ananta Toer,
banyak dianggap sebagai sastrawan 
>> terbesar Indonesia dan
dunia luar mengakuinya sebagai sastrawan kelas 
>> dunia,
terbitan Kepustakaan Populer Gramedia. Buku ini memuat 
>>
serangkaian wawancara antara Andre Vltchek dan Rossie Indira dengan Pram

>> pada Desember 2003-Maret 2004, dua tahun lebih sebelum Pram
meninggal 
>> dunia pada akhir April 2006. Andre adalah seorang
penulis, wartawan, 
>> sineas, dan analis politik asal Eropa
Tengah. Rossie adalah penulis, 
>> sineas dan arsitek
Indonesia. Kedua orang ini mahir berbahasa Rusia dan 
>> Ceko,
bahasa yang dipakainya ketika ngobrol dengan adik Pram yang pernah 
>> lama tinggal di Rusia. Wawancara dengan Pram sendiri diadakan
dalam 
>> bahasa Indonesia sebab Pram menolak berbahasa
Inggris, seperti juga ia 
>> menolak menulis buku2-nya dalam
bahasa Inggris, walaupun buku2nya telah 
>> diterjemahkan
kedalam banyak bahasa. 
>> 
>> 
>> 
>> Wawancara bersifat langsung, menukik ke semua pokok persoalan,
termasuk 
>> masalah2 kritis seperti komunisme, atheisme,
pembantaian Cina di 
>> Indonesia, dan borok-borok rekayasa
politik Indonesia. Tegang 
>> membacanya, bersiaplah dengan
berbagai guncangan ! Tetapi, akan juga 
>> kita temukan di
dalamnya sebuah nasionalisme ala Pram, yang disebutnya 
>>
Pramisme. Akan juga kita temukan sebuah keunggulan individualisme yang 
>> memukau, semangat pantang menyerah yang patut diteladani, tak
kenal 
>> kompromi, keras, dan penghargaan yang hebat terhadap
bahasa Indonesia. 
>> 
>> 
>> 
>> Berikut beberapa pendapat dari buku tersebut menurut analisis
politik 
>> Andre Vltchek. 
>> 
>> 
>> 
>> Abad kedua puluh ditandai dengan hampir tiada
hentinya pesta terror dan 
>> kekerasan serta penipuan dan
pangkhianatan. Setiap manusia di berbagai 
>> belahan dunia
menyadari bahwa kebohongan yang diulang seribu kali pada 
>>
akhirnya dapat menjadi kebenaran, bahwa pendudukan yang brutal dapat 
>> diartikan sebagai pembebasan, dan membunuh jutaan orang tak
berdosa 
>> dapat dibenarkan oleh para pemimpin negara-negara
adikuasa atau bukan 
>> adikuasa sebagai harga yang harus
dibayar demi kemajuan kemanusiaan, 
>> peradaban, dan
kepentingan nasional. Jutaan orang lenyap di 
>>
krematorium-krematorium, di kamp-kamp konsentrasi, di medan perang, 
>> ataupun di puing-puing kota yang hancur oleh bom. 
>> 
>> 
>> 
>> Tetapi, di
tengah-tengah penjarahan dan kesemrawutan, ada 
>>
manusia-manusia luar biasa yang berpendirian teguh dan terus melawan 
>> arus demi membela mereka yang teraniaya, mereka yang tersudut,
dan para 
>> korban pemerintahan yang kejam dan
sewenang-wenang. Ini adalah 
>> manusia-manusia yang menentang
demagogi, militerisme, dan kekuatan 
>> ekonomi dengan dua alat
perlawanan terkuat yang diciptakan dan dikenal 
>> manusia :
pengetahuan dan kebenaran. 
>> 
>> 
>>

>> Orang-orang luar biasa ini melawan kebohongan dengan
kata-kata sederhana 
>> yang masuk akal, melawan mitos-mitos
yang membahayakan dengan 
>> fakta-fakta, melawan fanatisme
agama dengan kebenaran. Sebagian dari 
>> mereka menghadapi
kegilaan ini dengan senyuman sarkastik di bibir, 
>> sebagian
lagi dengan ekspresi keras dengan mulut terkatup. 
>> 
>> 
>> 
>> Indonesia adalah negeri kepulauan
terluas di dunia dengan ragam budaya, 
>> suku, dan bahasa yang
menakjubkan. Keragaman ini dipersatukan setelah 
>> Perang
Dunia II. Sebelumnya, Indonesia dijajah dan diperas oleh 
>>
kekuatan-kekuatan penjajah selama ratusan tahun. Tahun 1945 Indonesia 
>> merdeka, sebuah awal yang membanggakan. Tetapi, 20 tahun
kemudian, 1965, 
>> mulailah terror kediktatoran militer ! 
>> 
>> 
>> 
>> Guru-guru dibunuh,
studio film dan teater ditutup, bahasa Mandarin dan 
>> hampir
semua simbol kebudayaan Cina dilarang. Ratusan ribu, bahkan 
>>
mungkin jutaan orang kehilangan nyawa : orang-orang Cina, orang-orang 
>> komunis, orang-orang atheis, orang-orang berpikiran maju, dan
kaum 
>> minoritas. Ketidaktoleransian politik, etnik, dan
agama mencengkeram 
>> negeri ini sejak itu, dan semakin
memburuk. Kemampuan orang 
>> berargumentasi, bertanya, dan
membandingkan sudah hilang, kreativitas 
>> dihancurkan dan
didiskreditkan, keanekaragaman tidak didukung. 
>> 
>> 
>> 
>> Lalu Indonesia pun mengalami
kehancuran sosial. Mayoritas penduduk hidup 
>> dalam kondisi
mengenaskan : tidak punya air layak minum, tidak menikmati 
>>
aliran listrik, lebih daripada setengah penduduk hidup dengan 
>> penghasilan kurang daripada dua dollar AS per hari. Di
Indonesia semua 
>> penduduk diwajibkan menganut salah satu
agama, tetapi di Indonesia juga 
>> terjadi
ketidakberperikemanusiaan dan kebrutalan. Kebenaran jarang 
>>
sekali mengemuka, para seniman harus tunduk kepada aturan, media massa 
>> melakukan sensornya sendiri. 
>> 
>> 
>> 
>> Tetapi, seorang lelaki asal Blora bernama
Pramoedya Ananta Toer, selama 
>> 40 tahun ini terus menulis,
mencoba merumuskan inti dan sejarah 
>> bangsanya yang masih
belia dan menderita. Pram menulis di penjara, di 
>> kamp
militer, di rumahnya sebagai terpidana tahanan rumah. Pram menulis 
>> dalam "pengasingan diri", menulis dalam keadaan marah
dan ngeri melihat 
>> situasi dan kondisi negerinya. Banyak
bukunya dibakar, yang selamat dari 
>> api kemudian dilarang
beredar. 
>> 
>> 
>> 
>>
Beberapa cuplikan wawancara : 
>> 
>> 
>>

>> T : Apakah perbedaan antara penjajahan Belanda dan Jepang ?

>> 
>> J : Belanda mementingkan hukum sedangkan
Jepang tidak. Dalam waktu tiga 
>> hari setelah mendarat di
Jawa, hampir semua serdadu Jepang terlibat 
>> dalam
pemerkosaan wanita-wanita lokal. Pada saat itu wanita2 banyak yang 
>> mencoreng-moreng mukanya sendiri dengan arang agar tidak
dikenali 
>> sebagai wanita. Nenek2 pun melakukannya. Sejak
awal invasi banyak 
>> kejadian aneh. Serdadu Jepang membuka
pintu2 toko orang Cina dan 
>> mempersilakan para gerombolan
pribumi untuk mengambil barang2nya. Lalu, 
>> tiga hari
kemudian gerombolan2 itu ditembak mati. Yang baik dari 
>>
penjajahan Jepang hanya satu : kewajiban berbahasa Indonesia. Bahasa 
>> Indonesia berkembang pesat sejak saat itu. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Jika kita menganalisis kudeta
1965 setelah hampir 40 tahun, ada dua 
>> teori dasar yang
mengemuka tentang apa yang terjadi. Versi pertama, yang 
>>
resmi, bahwa PKI-lah dalang G30S, bahwa PKI-lah yang menculik dan 
>> membunuh para jenderal. Versi kedua adalah yang terwakili dalam
"Cornell 
>> Paper", bahwa peristiwa G30S pada
pokoknya merupakan konflik intern di 
>> tubuh Angkatan Darat.
Namun demikian, ada pula versi lain yang sekarang 
>> mulai
diadopsi oleh berbagai pihak di dunia, termasuk oleh para 
>>
sejarahwan terkemuka di Indonesia, yaitu bahwa kudeta tersebut dilakukan

>> oleh salah satu faksi di militer yang pro-Soeharto, dan
didukung oleh 
>> Amerika Serikat dan negara-negara Barat
lainnya. Apa pendapat Bung 
>> mengenai hal ini ? 
>> 
>> J : Tentu saja tujuan utama negara-negara Barat
adalah menggulingkan 
>> Soekarno karena tiga prinsipnya :
anti-klonialisme, anti-imperialisme, 
>> anti-kapitalisme. Dan
mereka yang ingin menjatuhkan Soekarno dan yang 
>> mau
berkuasa mengambil kesempatan dari adanya friksi di dalam militer, 
>> yang terpecah antara pendukung Soekarno dan pendukung Soeharto.
Pada 
>> saat kudeta, salah satu faksi merencanakan dan
melaksanakan pembunuhan 
>> jenderal-jenderal, dan hal inilah
yang memicu pembunuhan missal dan 
>> pendekanan-penekanan yang
yang dilakukan oleh pendukung Soeharto. 
>> Korban2 pada saat
itu termasuk orang-orang komunis, cina, dan pendukung 
>>
Soekarno. Jadi, menurut saya, ini yang terjadi : Militer dan Soeharto 
>> melakukan kudeta, dan kemudian mereka membunuh dua juta orang,
dan 
>> menimpakan kesalahannya kepada orang lain. Anda
mengerti tidak ? Mereka 
>> membunuh dua juta orang untuk balas
dendam terhadap apa yang sebenarnya 
>> mereka lakukan sendiri
! 
>> 
>> Di zaman kerajaan dahulu, kita punya
cerita yang sama, yaitu cerita 
>> tentang Kebo Ijo, Ken Arok,
dan Tunggul Ametung. Setelah Ken Arok 
>> membunuh Tunggul
Ametung, Ken Arok cuci tangan, dan setelah mengambil 
>> alih
kekuasaan, Ken arok memerintahkan untuk menghukum mati Kebo Ijo, 
>> temannya karena menuduh Kebo Ijolah pembunuh Tunggul Ametung.
Ken Arok 
>> sengaja meminjamkan keris Mpu Gandring yang haus
darah itu kepada Kebo 
>> ijo beberapa hari sebelum Ken Arok
membunuh Tunggul Ametung. Sialnya 
>> Kebo ijo, dia suka pamer
kepada siapa pun dan mengaku2 bahwa keris bagus 
>> itu adalah
kerisnya sendiri. Maka ketika di tubuh Tunggul Ametung 
>>
tertancap keris Ken Arok, orang tahu itu adalah keris Kebo Ijo. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Berapa orang
yang dibunuh setelah kudeta itu ? 
>> 
>> J :
Menurut Sudomo jumlahnya dua juta orang. Tapi pembunuhan tersebut 
>> terutama dilakukan di bawah perintah Sarwo Edhie Wibowo, yang
pada saat 
>> itu dengan bangga mengatakan pasukannya telah
membunuh tiga juta orang. 
>> Dan dia hanya mengatakan soal
korban di Pulau Jawa saja. 
>> 
>> 
>>

>> T : Ada beberapa dokumen yang menunjukkan dan beberapa
ilmuwan yang 
>> berpendapat bahwa militer amerika dan
Indonesia merencanakan bersama 
>> kudeta 1965... 
>> 
>> J : jangan lupa senjata Amerika yang paling
ampuh adalah dollarnya. Dan 
>> jangan lupa pula bahwa
Eisenhower, Presiden AS pada saat itu, 
>> memerintahkan untuk
menyingkirkan Soekarno. Dia mengatakan hal ini dalam 
>>
beberapa pidatonya. Dan CIA memperalat Soeharto untuk melaksanakan hal 
>> ini. Amerika punya pengaruh yang sangat besar terhadap militer

>> Indonesia, dan kemudian pada Golkar. Walaupun pada saat itu
kami sudah 
>> menjadi tahanan politik, kami selalu tahu bahwa
Amerika pasti berada di 
>> belakang hal ini. 
>>

>> 
>> 
>> T : Apakah Bung seorang
Marxis ? 
>> 
>> J : Bukan, saya bukan Marxis, tapi
"Pramis". Saya tidak pernah menganut 
>> suatu ajaran
apa pun, saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri. Belajar 
>>
dari pengalaman hidup sendiri. Tapi saya percaya pada keadilan dan 
>> kesetaraan sosial. 
>> 
>> 
>>

>> T : Apakah bung setuju dengan pendapat bahwa hal paling
luar biasa yang 
>> bisa dilakukan oleh seorang penulis untuk
bangsanya adalah ketika ia 
>> bisa mengungkapkan bagian paling
kelam bangsanya itu ? 
>> 
>> J : Tidak, saya tidak
setuju dengan pendapat itu. Saya selalu melihat 
>> dunia ini
secara dialektik. Jadi saya tidak pernah menggambarkan 
>>
kejelekannya saja, tapi juga kebaikannya. Kalau saya gambarkan 
>> keburukannya saja, mungkin saya bisa sakit. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Baru2 ini Gus Dur mengatakan
pada kami bahwa dia sangat menghormati 
>> Bung dan
merencanakan untuk membuat yayasan dengan nama Bung. Yayasan 
>> ini dimaksudkan untuk membantu para korban 1965 dan
keluarganya. Apakah 
>> Bung punya harapan bahwa hal ini dapat
memmbawa perubahan ? 
>> 
>> J : Sebagai mantan
Ketua NU, Gus Dur ikut merasa berdosa atas apa yang 
>> terjadi
di masa lalu (pembantaian orang-orang yang dianggap komunis 
>>
pasca kudeta 1965). Dia merasa bersalah, walaupun secara pribadi dia 
>> tidak terlibat dalam pembunuhan2 itu. Itu sih bagus-bagus saja,
Cuma 
>> masalahnya Gus Dur itu terlalu dekat dengan militer,
karena dia masih 
>> membutuhkan dukungan politik dan
perlindungan dari mereka sebelum 
>> pemilu. Paling tidak dia
membutuhkan perlindungan. Semua politikus kita, 
>> kan, sangat
oportunis. 
>> 
>> 
>> 
>>
Akhir wawancara. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Jadi Bung hidup terasing di negeri Bung sendiri ? 
>> 
>> J : Ya, saya hidup di dunia saya sendiri. Di
luar itu yang ada hanya 
>> korupsi. Satu-satunya pemimpin,
Soekarno, sudah tidak ada lagi. Inilah 
>> balasan Indonesia
pada saya. Negara yang dulu saya perjuangkan sekarang 
>> dalam
proses pembusukan, jadi bagaimana saya tidak marah ? Sangat 
>>
bertolak-belakang dengan negara yang kami cita-citakan dahulu. Hari-hari

>> ini semakin banyak memori yang kembali. Kebanyakan teman
saya sudah 
>> tidak ada lagi. Saya teringat akan dua juta
orang yang dibunuh dan 
>> sungai-sungai penuh dengan mayat
sehingga airnya menjadi merah karena 
>> darah. Bagaimana orang
bisa membunuh sesamanya seperti itu ? Saya tidak 
>> bisa
bicara lagi soal hal ini. Terlalu emosional bagi saya. 
>> 
>> 
>> 
>> Ada ratusan tanya-jawab yang
sangat kritis dan menukik pada pokok 
>> persoalan dapat
ditemukan di buku ini tentang sejarah, kolonialisme, 
>>
Soekarno, kudeta 1965, Jawanisme, Soeharto, Timor, Aceh, dan masa depan

>> Indonesia. Walaupun Pram tidak percaya kepada agama,
berpendapat bahwa 
>> berdoa adalah seperti mengemis, hanya
percaya kepada dirinya sendiri dan 
>> hanya bisa bergantung
kepada dirinya sendiri - membaca buku-buku sastra 
>> dan roman
sejarah yang ditulisnya kita akan menemukan nasionalisme dan 
>> humanisme di dalamnya. Dan, kekuatan individual seorang Pram
sangat 
>> mengagumkan ! 
>> 
>> 
>> 
>> Sebuah proyek buku "Ensiklopedia Kepulauan
Indonesia" akan 
>> dikerjakannya dengan berbekal kepada
referensi sepanjang empat meter 
>> yang telah dikumpulkannya.
Apa daya, maut menjemputnya lebih dahulu saat 
>> usianya 81
tahun pada 30 April 2006. Konsisten, tidak kenal kompromi, 
>>
kekuatan, dan semangat sampai akhir ! 
>> 
>> 
>> 
>> Sayang, sering kita selalu terlambat menghargai
jasa seseorang. 
>> Negara-negara lain lebih dahulu menghargai
Pram. Inilah daftar 
>> penghargaan buat Pram : 
>>

>> 
>> 
>> 1988 PEN/Barbara Goldsmith
Freedom to Write Award. 
>> 
>> 1989 The Fund for
Free Expression Award, New York, USA. 
>> 
>> 1992
English P.E.N Centre Award, Great Britain. 
>> 
>>
1992 Stichting Wertheim Award, Netherland. 
>> 
>>
1995 Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature, and Creative 
>> Communication Arts. 
>> 
>> 1999 Doctor
Honoris Causa from the University of Michigan. 
>> 
>> 1999 Chancellor's Distinguished Honor Award from the University
of 
>> California, Berkeley. 
>> 
>> 2000
Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres Republic of France. 
>> 
>> 2000 11th Fukuoka Asian Culture Prize. 
>> 
>> 2004 Norwegian Authors' Union award for his
contribution to world 
>> literature and his continuous
struggle for the right to freedom of 
>> expression. 
>> 
>> 2005 Global Intellectuals Poll by the Prospect.

>> 
>> 
>> 
>> Pram juga
beberapa kali masuk nominator hadiah Nobel. Tetapi, seperti di 
>> buku ini, mengenai penghargaan Pram hanya bilang : "tak
pernah 
>> mengharapkannya". "Saya mencoba untuk
tidak terlalu mengharapkan apa-apa 
>> dari dunia luar. Saya
belajar untuk mengandalkan diri saya sendiri. 
>> Bahkan saya
tidak pernah minta apapun dari orang tua saya sendiri" 
>>

>> 
>> 
>> Berikut adalah karya utama
Pram, masih banyak karya2nya yang di luar 
>> ini. 
>> 
>> 
>> 
>> Kranji-Bekasi
Jatuh (1947) 
>> 
>> Perburuan (The Fugitive) (1950)

>> 
>> Keluarga Gerilya (1950) 
>> 
>> Bukan Pasarmalam (1951) 
>> 
>> Cerita
dari Blora (1952) 
>> 
>> Gulat di Jakarta (1953)

>> 
>> Korupsi (Corruption) (1954) 
>>

>> Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954) 
>> 
>> Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957)

>> 
>> Hoakiau di Indonesia (1960) 
>>

>> Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962) 
>>

>> The Buru Quartet 
>> 
>> Bumi Manusia
(This Earth of Mankind) (1980) 
>> 
>> Anak Semua
Bangsa (Child of All Nations) (1980) 
>> 
>> Jejak
Langkah (Footsteps) (1985) 
>> 
>> Rumah Kaca (House
of Glass) (1988) 
>> 
>> Gadis Pantai (The Girl from
the Coast) (1982) 
>> 
>> Nyanyi Sunyi Seorang Bisu
(A Mute's Soliloquy) (1995) 
>> 
>> Arus Balik
(1995) 
>> 
>> Arok Dedes (1999) 
>> 
>> Mangir (1999) 
>> 
>> Larasati (2000) 
>> 
>> 
>> 
>>
"Soliloquy" - Nyanyi Sunyi, novelnya tentang penderitaan yang
tak bisa 
>> terucapkan di kamp konsentrasi Buru, tak hendak
selamanya akan sunyi. 
>> Karya2 Pram sekarang bisa ditemukan
cukup mudah di mana saja, bahkan ada 
>> penerbit yang khusus
menerbitkan buku2nya, yang bertahun-tahun lalu 
>> dilarang.

>> 
>> 
>> 
>>
"Memukau...pilu tiada akhir" (Noam Chomsky) 
>> 
>> 
>> 
>> Salam, 
>> 
>> awang 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
> 
> 
> This e-mail (including any attached
documents) is intended only for the 
> recipient(s) named above.
It may contain confidential or legally 
> privileged information
and should not be copied or disclosed to, or 
> otherwise used by,
any other person. If you are not a named recipient, 
> please
contact the sender and delete the e-mail from your system. 
> 
>
----------------------------------------------------------------------------

> Hot News!!! 
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by
30 March 2007 to 
> [EMAIL PROTECTED] 
> Joint
Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 
>
29th IATMI Annual Convention and Exhibition, 
> Bali Convention
Center, 13-16 November 2007 
>
----------------------------------------------------------------------------

> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id 
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta 
> No. Rek: 123
0085005314 
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
> No. Rekening: 255-1088580 
> A/n: Shinta Damayanti 
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> 

Kirim email ke