Awang

Setuju , walaupun saya sudah habis membaca , dan saya
punya kelima-limanya (wah gaya ???), sekarang lagi dipinjam sama Mas Abd
Wahab ,ADB cocok asal jangan lagi terbang  saja.
Kita kangen
kangen-an seperti mahasiswa (heheh 40 tahun yang lalu tuh), ayo dong 
siapa mau jadi valonteer ? Cak Ar , kiranya cocok.

Si-Abah

________________________________________________________________________> 

Abah, 
> 
> 
> 
> Dua bulan lalu
saya bertemu dengan Langit Kresna Hariyadi, penulis 
> kelima
roman sejarah Gajah Mada itu, kebetulan Pak Langit diundang oleh 
> Tiga Serangkai dan IKAPI untuk membedah buku-buku yang ditulisnya.

> Kelihatannya ini roman sejarah paling tebal yang pernah
ditulis. Di 
> samping Pak Langit duduk Pak Luluk Sumiarso (DirJen
Migas) yang rupanya 
> penggemar berat karya2 tersebut. Pak Langit
mengemukakan banyak hal2 
> baru yang "keluar" dari
sejarah Majapahit yang kita kenal selama ini. 
> 
> 
> 
> Kalau rekan2 mau berkumpul membahas buku2 Gajah Mada
ini, saya 
> mengusulkan Pak Andang Bachtiar (he2..) untuk nara
sumbernya, 
> kelihatannya ke mana-mana, sampai ke Perth pun buku
ini dibawanya (sudah 
> sampai jilid ke berapa nih Pak membacanya
? - hati-hati kalau membaca 
> pas jilid "Perang Bubat"
- banyak kontroversinya). 
> 
> 
> 
>
Kalau dalam bidang sejarah, Prof Slametmuljana-lah yang paling banyak 
> meneliti Majapahit ini, dan kini buku-bukunya (yang dulu zaman awal
OrBa 
> sempat dilarang beberapa di antaranya) bisa dibaca lagi,
untung ada 
> sebuah penerbit kecil di Yogya yang menerbitkan dan
mencetak lagi semua 
> buku Slametmuljana. Sejarah baik dan buruk
mestinya tak boleh 
> ditutup-tutupi, apalagi dimanipulasi lalu
diajarkan ke anak2 sekolah. 
> Hampir seluruh karier profesional
Slametmuljana adalah untuk Majapahit. 
> Kalau saya ulas di sini
tentang bukunya yang berhubungan dengan masuknya 
> Islam ke
Indonesia dan Jawa, tentang Wali-Wali Sanga, dan tentang 
>
runtuhnya Majapahit mungkin akan segera menyulut banyak pendapat pro dan

> kontra seperti buku2nya Pram. 
> 
> 
>

> Salam, 
> 
> awang 
> 
> 
> 
> 
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]

> Sent: Friday, July 20, 2007 9:09 C++ 
> To:
[email protected] 
> Subject: RE: [iagi-net-l] OOT "Saya
Terbakar Amarah Sendirian" ! 
> 
> 
> 
>> Iman dan rekan rekan 
> 
> Jangan hanya
komentar dong , apa pendapat Anda ? 
> Ngomong ngomong , mungkin
IAGI atau pencinta buku IAGI bisa bikin Club 
> yang mencoba
berdiskusi dan membahas /membongkar isi buku. 
> Ndak usah terlalu
ilmiah lah , apa yang kita rasakan setelah membaca 
> buku kita
"share". 
> Ya juga ndak usah Luxurious lah. 
>
Bagaimana kalau buku Gajah Mada (yang lima jilid) jadi pilot project. 
> Atau buku-nya ML,Pram . 
> 
> Ya , tempatnya sih di
Set IAGI , tinggal daftar (supaya konsumsi bisa 
> pas , ya yang
sederhana umpama gorengan kopi /teh panas).Waktu diluar 
> jam
kantor. 
> 
> Hayo yuk. 
> 
> Si-Abah. 
> 
>
______________________________________________________________________ 
> 
> 
> 
> Wah, makin banyak
"sejarahwan2" dari G&G ....... Enak dibaca tutur 
>> bahasanya dan mudah dicerna, banyak yang sedikit
"puitis" lagi. Kapan2 
> 
>> mestinya ada
lomba penulisan sejarah geologi modern tapi dikemas 
> dengan 
>> bahasa bebas seperti ini ?? Misal dalam acara Annual
Convention-nya 
> IAGI 
>> ? 
>> 
>> 
>> 
>> Just a comment. 
>>

>> 
>> 
>> Thanks. Iman 
>>

>> 
>> 
>>
________________________________ 
>> 
>> 
>

From: OK Taufik [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
>> Sent:
Friday, July 20, 2007 3:57 AM 
>> To: [email protected] 
>> Subject: Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah
Sendirian" ! 
>> 
>> 
>> 
>> Bagaimanapun sebagai humanis Muchtar Lubis tentunya tak terima

> kekejaman 
>> PKI semasa 1948 dan 1965, ingat bahwa
pembantaian yang sadis telah 
>> dilakukan oleh PKI (Partai
Komunis Indonesia) yang berideologi 
> marxisme 
>>
dalam Affair Madiun atau Peristiwa Madiun (Pemberontakan PKI di 
>
Madiun, 
>> 18 September 1948 pimpinan Muso dan Amir
Syarifuddin). Dimana 
> peristiwa 
>> Madiun
menunjukkan tentang hilangnya kemanusiaan berganti dengan 
>>
kesadisan. dokumentasi di kantor berita foto, Ipphos, menunjukkan 
>> tentang foto genangan darah ulama yang disembelihi PKI (Partai
Komunis 
> 
>> Indonesia) dalam Affair Madiun atau
Peristiwa Madiun 18 Sepetember 
> 1948. 
>> Foto
genangan darah ulama itu menunjukkan setebal bercenti-centi meter 
> 
>> saking banyaknya ulama yang disembelihi PKI. Di
Kampung Gorang Gareng 
>> Madiun saja, ada seratusan lebih
ulama beserta keluarganya yang 
> dibantai 
>> PKI
pimpinan Muso dan Amir Sjarifuddin. 
>> 
>> Memang
terjadi pergerakan massal untuk membalikkan fakta saat ini, 
>
bahwa 
>> komunis lah sebenarnya yg paling humanis, dan paling
menderita akibat 
>> politik penguasa, menurut saya Pak Agus
manusia-manusia yg melupakan 
>> kekejaman PKI dan komunis
lainnya didunia lain seperti kehilangan hati 
> 
>>
nuraninya.Hal yg sebenarnya ingin diungkap habis oleh Muchtar Lubis 
>> "bagaimana Pram (bagian dari ) politik kelam dunia komunis
Indonesia 
>> harus mendapatkan penghargaan Budaya seperti yang
dia dapatkan", ada 
>> perasaan jijik mungkin yg dirasakan
oleh Pak Muchtar Lubis 
> disejajarkan 
>> dengan Pram,
sehingga begitu kuatnya prinsipnya untuk mengembalikan 
>>
penghargaan Magsasay. Saya pikir Muchtar Lubis mendahulukan sikap 
> empati 
>> humanisnya dalan case ini terlepas apapun
ideologi Pram. 
>> 
>> KH Yusuf Hasyim, pemimpin
Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa 
>> Timur, secara
tepat mengimbangi "akal- akalan" pembalikan opini 
>
mengenai 
>> kejahatan PKI. Pada akhir 2001, ia memprakarsai
Pameran Foto Kekejaman 
> 
>> Komunis 1948 dan 1965,
juga di berbagai negara komunis di dunia. 
> Pameran 
>> digelar kembali di Gedung KNPI Kuningan, Jakarta. Foto-foto 
> dokumentasi 
>> langka kekejaman PKI di Madiun
terpampang, di mana puluhan kiai 
>> dicemplungkan ke sumur
tua. Satu dua kiai yang selamat dihadirkan 
> untuk 
>>
memberi kesaksian. Kekejaman komunis di Kamboja pun digelar, di mana 
>> rezim Pol Pot membantai lebih dari dua juta warga Kamboja yang
lalu 
>> dikenal sebagai The Killing Field. Di mozambique, satu
juta orang 
> tewas 
>> akibat kekejaman Party komunis
dalam civil war. Fakta kekejaman 
> komunis 
>> ini
sulit dimanipulasi begitu saja. 
>> Bukankah sejarah
menunjukkan bahwa ajaran komunislah yang senantiasa 
>>
menciptakan konflik horizontal dan vertikal yang mengakibatkan 
>> pembantaian ummat manusia?, lantas kenapa "anda" mau
balik jadi 
>> komunis?. 
>> 
>> 
>> 
>> On 7/19/07, Agus Sutoto (BWM) <
[EMAIL PROTECTED] 
>>
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: 
>> 
>> Yth. pak Awang dan teman-teman semua, 
>> 
>> Mohon maaf saya ikut nimbrung nih, tampaknya kita harus
berhati-hati 
>> memasuki wilayah wacana ini, dengan lebih
peka/sensitif lagi, apalagi 
>> untuk wilayah publik yang lebih
luas lagi. Apapun respek, penghargaan 
>> kita terhadap
seseorang, tentunya tidak menghalangi kita untuk tidak 
>>
kritis. Walaupun tampaknya wacana ini hanya menyentuh wilayah sastra 
>> ataupun budaya, tapi tampak nuansa politisnya sangat kental.
Seperti 
>> lazimnya ranah politik, fakta dan data sering
tertutupi kepentingan 
>> golongan atupun komunitas tertentu.

>> 
>> Saya cuma ingin berusaha menyeimbangkan
wacana ini dengan wacana yang 
>> berseberangan, yang walaupun
referensinya sementara ini hanya 
>> berdasarkan ingatan semata
(tetapi bisa dilacak, dan diyakini 
> faktanya). 
>>
Benar, seperti Uni Yuriza Noor kemukakan tentang Mochtar Lubis, bahkan 
> 
>> beliau merupakan lawan polemik yang sangat tangguh.
Kedua-duanya 
>> sama-sama pernah merasakan 'penindasan' rezim
yang pernah berkuasa, 
>> bahkan Mochtar, lebih 'lama' masa
penindasannya, yaitu pada masa orde 
>> lama dan baru,
sedangkan Pram hanya pada orde baru saja (walaupun masa 
> 
>> pengasingan Pram di P. Buru lebih lama). Mokhtar dua kali
mengalami 
>> pembreidelan,(kasus Manikebu dan harian Indonesia
Raya), sedangkan 
> Pram 
>> hanya pada masa orde baru
saja. Dari sini saja tampak bahwa Mochtar 
>> lebih universal
perjuangannya terhadap totaliterisme, KKN, 
> penghianatan 
>> terhadap demokrasi dll. Sedangkan Pram 'membisu seribu basa'
kalau 
>> tidak dapat dikatakan 'membonceng' arus kepentingan
orde lama, vis a 
>> vis, kaum Marxis atau lebih dikenal
sebagai diktator proletariat. 
>> Dalam hal ini tampaknya Pram
lebih beruntung karena trend wacana 
> global 
>>
kiwari kaum humanis lebih memihak kepadanya (Post-Marxist?), sedangkan 
> 
>> tipikal humanismenya Mochtar kurang diminati,
terkaburi oleh euphoria 
>> 'post-marxist' ini. Dapat dikatakan
juga, Pram lebih piawai mengemas 
>> tema, teknik narasi,
bahkan lebih kaya penguasaan wacana 
> socio-historis, 
>> sehingga tampak lebih mengena pada trend pasar humanisme
global. 
>> 
>> Selanjutnya tidak dapat dikatakan
Pram sangat eksesif meperjuangkan 
>> kepentingan kaum
tertindas. Sangat jelas fakta sejarah yang merekam, 
>>
'hiprokitnya' / ke diktatoran budaya' Pram dengan Lekranya, menghantam 
> 
>> kelompok Mochtar dengan Manikebunya. Sedangkan
Mochtar tidak pernah 
>> membonceng kekuasaan siapapun (baik
orde lama, orde baru, orde 
>> silumanpun) untuk menindas
lawan-lawan budaya atau ideologinya 
>> Hal inilah yang membuat
Mochtar dan kawan-kawan eks Manikebunya, 
>> memprotes keras
pemberian hadiah Magsaysay, beberapa belas tahun yang 
>> lalu
kepada Pram. Saya kira protes Mochtar dkk. Bukan karena ideologi 
>> Pram, tapi lebih kepada ketidak konsistenan Pram dalam
bersikap, yang 
>> terkesan pilih-pilih rezim, kritis pada
suatu rezim, tapi tidak pada 
>> rezim lainnya. 
>>

>> Saya juga kurang setuju pendapat bahwa Mochtar lebih lembut
paparannya 
> 
>> dibanding Pram. Justru Mochtar lebih
keras mengkritik penguasa, bahkan 
> 
>> bukan dalam
bentuk sastra saja, malah langsung menyerang jantung 
> politik

>> kekuasaan pada masa Orba (dalam artikel-artikel
jurnalistik), 
> khususnya, 
>> sampai-sampai korannya
dibreidel (termasuk tulisan-tulisannya yang 
>> mengkritik
praktek-praktek KKN di Pertamina pada masa itu).Ingat pula 
>>
bahwa Mochtar dapat dikatakan mewakili etnis Sumatra/Tapanuli yang 
>> dianggap lebih lugas. 
>> 
>> Ada lagi
hal yang 'tidak dibela' oleh Pram (karena berlawanan 
>>
kepentingan/ideologi?). Taufik Ismail - sastrawan yang sangat lembut 
> dan 
>> halus (termasuk kelompok manikebu) dibandingkan
dengan Pram maupun 
>> Mochtar - malahan pernah memaparkan
fakta yang amat sangat mengerikan 
>> (saya mengikuti sendiri
paparan Taufik, di Balikpapan, tahun 2001 yang 
> 
>>
lalu, juga pernah dimuat di Tempo/Gatra? Tahun-tahun itu). Taufik 
>> kemukakan bahwa belum pernah dalam sejarah peradaban manusia
ini suatu 
> 
>> rezim ideologis yang membantai 100
JUTA MANUSIA secara kumulatif dalam 
> 1 
>> 
>> ABAD (1900 - 2000), selain REZIM KOMUNIS DI SEANTERO DUNIA,
dari 
> Rusia, 
>> Cina, Eropa Timur, Kampuchia/Khmer,
Kuba dll. (sayang sekali, 
> tampaknya 
>> saya harus
mencari-cari lagi tulisan Taufik, karena tertumpuk tidak 
>>
keruan ketika menyelamatkan buku-buku dari amukan banjir Februari yang 
> 
>> lalu). Wallahua'lam. Lebih kurangnya , mohon maaf.

>> 
>> Agus Sutoto 
>> 
>>
PS. : Uni Yuriza, sekali2 ambil cuti ke Jakarta, pada saat Book Fair 
>> (Maret, Juni, September, biasanya). Saya pernah dapet diskon
buku 
>> gila-gilaan, hanya 40 ribuan - dari harga lebih dari
100 ribuan, 
> setebal 
>>> 500 halaman. Judulnya
Holy Blood, Holy Grail, lumayan baru, terbitan 
>> July 2006,
suatu buku yang menginspirasi The Da Vinci Code yang 
>>
legendaris itu. 
>> 
>> -----Original Message-----

>> 
> 
From: Awang Harun Satyana [mailto:
[EMAIL PROTECTED] 
>> <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ] 
>> Sent: Thursday, July 19, 2007 3:25 PM 
>> To:
[email protected] 
>> Subject: RE: [iagi-net-l] OOT
"Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 
>> 
>>
Sayangnya, mengapa Mochtar Lubis mesti mengembalikan penghargaan 
> Raymond 
>> 
>> Magsaysay yang diterimanya
saat Pram diganjar penghargaan tersebut 
> tahun 
>>
1995 ? Protes karena seorang yang dicap marxist diganjar penghargaan ? 
> 
>> Ah, itu kan karena kisah lama perseteruan antara
Mochtar Lubis dengan 
>> Pram tahun 1960-an. Asyik juga
mengikuti karya sastra Mochtar Lubis, 
>> terutama
"Harimau-Harimau !" 
>> 
>> Mbak Yuriza,
jalan-jalannya jangan hanya ke Gramedia, ke Jakarta saja 
>>
kalau sedang digelar pameran buku di Senayan, 3x setahun oleh IKAPI. 
>> Banyak sekali buku bagus, dari penerbit bagus dan sangat
beragam, 
> dengan 
>> harga discount yang besar lagi -
one stop shopping ! Mei lalu saya 
> dapat 
>> dua buku
klasik kumpulan prosa dan puisi "Gema Tanah Air" dari H.B. 
>> Jassin - masih buku2 aslinya, sudah menguning, sisa di gudang
Balai 
>> Pustaka - yakin tak akan ada dim ana pun selain di
Balai Pustaka. 
>> 
>> Salam, 
>> awang

>> 
>> -----Original Message----- 
>>

> 
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] 
>> Sent: Thursday, July 19,
2007 2:22 C++ 
>> To: [email protected] 
>> Cc:
[email protected] 
>> Subject: Re: [iagi-net-l] OOT
"Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 
>> 
>>
Abah, 
>> 
>> Saya rasa tulisan tulisannya Mochtar
Lubis juga cantik dan berat 
> seperti 
>> Pram, dia
pun juga seorang idealis yang mengusung pesan nasionalis. 
>>
Sayang semenjak tergusurnya Indonesia Raya namanya kok hilang ya ..... 
> 
>> at 
>> least dari perhatian orang umum
seperti saya ... 
>> Pram dikagumi oleh "pihak luar",
tapi selain dia juga ada penulis 
>> penulis 
>>
lain yang keren punya .... kenapa kita cuma menengok kearah Pram ?, 
>> karena 
>> "orang luar" menengok kedia?.

>> Sayangnya kalau kita jalan jalan ke Gramed saat ini, nggak
ada buku 
> buku 
>> bernuansa seperti itu lagi, apakah
jaman sudah berubah sehingga orang 
>> lebih 
>>
global cara berpikirnya ?. 
>> 
>> y 
>>

>> 
>> 
>> 
>> 
>>
[EMAIL PROTECTED] 
>> 
>> 
>> 
>> 07/19/2007 01:51 
>> To 
>> PM
[email protected] 
>> 
>> 
>> cc 
>> 
>> 
>> Please respond to 
>>
Subject 
>> < [EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> Re: 
>> [iagi-net-l] OOT
"Saya 
>> Terbakar 
>> .id> Amarah
Sendirian" ! 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> Awang 
>> 
>> Sedari saya kecil saya
sudah mengagumi Amarhum , buku buku lama eperti 
> 
>>
Ceritera dari Blora , Keluarga Gerilya dsb saya baca berkali-kali. 
>> Buku yang baru sudah sedikit berubah , lebih romantis walaupun
pesan 
>> pesannya mengeai penderitaan rakyat tertindas masih

>> mengemuka dengan nyata . 
>> 
>>
Apakah dia seorang marxist ? 
>> 
>> Menurut saya
dia berfikiran atau menganut sikap / pemikiran seorang 
>>
marxist 
>> walaupun dia tidak mengakui-nya.Coba saja baca
dengan teliti pesan 
> pesan 
>> dalam buku buku-nya.

>> Tapi dia adalah mrxist nasionalist. 
>> Dia
seorang nasionalist yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur 
>> dan 
>> adil sejahtera , sebagimana diamanatkan
dalam mukdimah Konstitusi 
> kita. 
>>
==================sorry deleted to shorten 
>
mail========================= 
>> 
>> 
>>

>> 
>
------------------------------------------------------------------------

> 
>> ---- 
>> Hot News!!! 
>>
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to 
>>
[EMAIL PROTECTED] 
>> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd
HAGI, the 36th IAGI, and the 
>> 29th IATMI Annual Convention
and Exhibition, 
>> Bali Convention Center, 13-16 November 2007

>> 
>
------------------------------------------------------------------------

> 
>> ---- 
>> To unsubscribe, send email
to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
>> To subscribe, send
email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
>> Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id 
>> Pembayaran iuran anggota
ditujukan ke: 
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta 
>> No. Rek: 123 0085005314 
>> Atas nama: Ikatan Ahli
Geologi Indonesia (IAGI) 
>> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
>> No. Rekening: 255-1088580 
>> A/n: Shinta Damayanti

>> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
> 
>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>>
--------------------------------------------------------------------- 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> --

>> OK TAUFIK 
>> 
>> 
> 
> 

Kirim email ke