Wah saya jadi pengen tahu lagi nih, digugah naluri kesejarahan, Tapi apa
cukup waktu

Ya, baca 5 jilid, tebal2 lagi tentang Sang Maha Patih.

Dulu saya termasuk penggemar Roman Sejarah, misalnya Rara Mendut
Pronocitro vs Wirogunonya dan Trilogi putri Rara Mendut, Lusi Lindri,
dalam Trilogi karya Romo Mangun.

Ada lagi Roman Sejarah (saya lupa nama pengarangnya, tetapi dari Bali),
pernah dimuat secara bersambung di Kompas yaitu Langit Jingga di Timur.
Kira2 sinopsisnya menggambarkan epos Wong Agung Wilis, raja terakhir
Blambangan. Yang saya prihatinkan setelah membaca Roman ini, bahwa
pelajaran sejarah di Sekolah, kurang mengapresiasi, cenderung
meminggirkan wacana yang justru lebih heroik. Saya terkaget-kaget
menemukan kisah 3 generasi perlawanan terhadap Belanda, sampai perang
puputan segala dilakoni. Lebih heroik daripada raja2 Jawa Tengah yang
mudah menyerah pada Belanda. Kenapa Wong Agung Wilis tidak ditetapkan
sebagai Pahlawan Nasional? Padahal sejaman dengan Untung Surapati. Saya
juga terkesima, bahwa ternyata pada waktu itu sudah ada pabrik gula di
Pasuruan. Kapal-Kapal perang Blambangan dengan meriam mininya, buatan
Portugis (th. 45 malah Cuma pakai bambu runcing). Taktik gerilya a la
Viet Khong, di medan perdu savana  khas Blauran, ketika pasukan
Blambangan menggunakan bambu diruncingkan seperti ujung tusuk sate
diberi racun warangan, direkatkan di tumbuhan perdu, ketika pasukan
Belanda dan antek2nya melewatinya, secara otomatis tusuk2 sate itu
meluncur menancap ditubuh pasukan lawan. Ketika para putri bangsawan
Blambanganpun turut berjuang bergerilya, maupun tetap di istana tetapi
siap dengan patrem (keris kecil) beracun, baik untuk melawan penggangu
maupun juga untuk bunuh diri, menjaga kehormatan. 

Saya menjadi pengagum berat Wong Agung Wilis, Panglima Laut Umbul Songo
dkk. antara lain juga karena (kebanggaan etnis, nih) leluhur saya
pemangku hutan di kaki G. Raung (daerah Calistyle / Kali Setail,
bertetangga (seberang timur - desa Gendoh) dengan leluhur bapak Soejono
Mertodjoyo.

 

Pak Iman sebagai bangsawan dari Keraton KaCaribonan, mestinya juga punya
kisah heroik tersembunyi di ranahnya, misalnya Sunan Gunung Jati, Jaka
Sembung?, dll. Kan? So anda sudah ditangtang tuh sama Pak abah dan
temen2, tak iye.

 

Agus Sutoto

 

________________________________

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, July 20, 2007 9:09 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" !

 

> Iman dan rekan rekan

Jangan hanya komentar dong , apa pendapat Anda ?
Ngomong ngomong , mungkin IAGI atau pencinta buku IAGI bisa bikin Club
yang mencoba berdiskusi dan membahas /membongkar isi buku.
Ndak usah terlalu ilmiah lah , apa yang kita rasakan setelah membaca
buku kita "share". 
Ya juga ndak usah Luxurious lah.
Bagaimana kalau buku Gajah Mada (yang lima jilid) jadi pilot project.
Atau buku-nya ML,Pram .

Ya , tempatnya sih di Set IAGI , tinggal daftar  (supaya konsumsi bisa
pas , ya yang sederhana umpama gorengan kopi /teh panas).Waktu diluar
jam kantor.

Hayo yuk.

Si-Abah.

______________________________________________________________________



    Wah, makin banyak "sejarahwan2" dari G&G ....... Enak dibaca tutur 
> bahasanya dan mudah dicerna, banyak yang sedikit "puitis" lagi. Kapan2

> mestinya ada lomba penulisan sejarah geologi modern tapi dikemas
dengan 
> bahasa bebas seperti ini ?? Misal dalam acara Annual Convention-nya
IAGI 
> ? 
> 
> 
> 
> Just a comment. 
> 
> 
> 
> Thanks. Iman 
> 
> 
> 
> ________________________________ 
> 
> 
From: OK Taufik [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Friday, July 20, 2007 3:57 AM 
> To: [email protected] 
> Subject: Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 
> 
> 
> 
> Bagaimanapun sebagai humanis Muchtar Lubis tentunya tak terima
kekejaman 
> PKI semasa 1948 dan 1965, ingat bahwa pembantaian yang sadis telah 
> dilakukan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) yang berideologi
marxisme 
> dalam Affair Madiun atau Peristiwa Madiun (Pemberontakan PKI di
Madiun, 
> 18 September 1948 pimpinan Muso dan Amir Syarifuddin). Dimana
peristiwa 
> Madiun menunjukkan tentang hilangnya kemanusiaan berganti dengan 
> kesadisan. dokumentasi di kantor berita foto, Ipphos, menunjukkan 
> tentang foto genangan darah ulama yang disembelihi PKI (Partai Komunis

> Indonesia) dalam Affair Madiun atau Peristiwa Madiun 18 Sepetember
1948. 
> Foto genangan darah ulama itu menunjukkan setebal bercenti-centi meter

> saking banyaknya ulama yang disembelihi PKI. Di Kampung Gorang Gareng 
> Madiun saja, ada seratusan lebih ulama beserta keluarganya yang
dibantai 
> PKI pimpinan Muso dan Amir Sjarifuddin. 
> 
> Memang terjadi pergerakan massal untuk membalikkan fakta saat ini,
bahwa 
> komunis lah sebenarnya yg paling humanis, dan paling menderita akibat 
> politik penguasa, menurut saya Pak Agus manusia-manusia yg melupakan 
> kekejaman PKI dan komunis lainnya didunia lain seperti kehilangan hati

> nuraninya.Hal yg sebenarnya ingin diungkap habis oleh Muchtar Lubis 
> "bagaimana Pram (bagian dari ) politik kelam dunia komunis Indonesia 
> harus mendapatkan penghargaan Budaya seperti yang dia dapatkan", ada 
> perasaan jijik mungkin yg dirasakan oleh Pak Muchtar Lubis
disejajarkan 
> dengan Pram, sehingga begitu kuatnya prinsipnya untuk mengembalikan 
> penghargaan Magsasay. Saya pikir Muchtar Lubis mendahulukan sikap
empati 
> humanisnya dalan case ini terlepas apapun ideologi Pram. 
> 
> KH Yusuf Hasyim, pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa 
> Timur, secara tepat mengimbangi "akal- akalan" pembalikan opini
mengenai 
> kejahatan PKI. Pada akhir 2001, ia memprakarsai Pameran Foto Kekejaman

> Komunis 1948 dan 1965, juga di berbagai negara komunis di dunia.
Pameran 
> digelar kembali di Gedung KNPI Kuningan, Jakarta. Foto-foto
dokumentasi 
> langka kekejaman PKI di Madiun terpampang, di mana puluhan kiai 
> dicemplungkan ke sumur tua. Satu dua kiai yang selamat dihadirkan
untuk 
> memberi kesaksian. Kekejaman komunis di Kamboja pun digelar, di mana 
> rezim Pol Pot membantai lebih dari dua juta warga Kamboja yang lalu 
> dikenal sebagai The Killing Field. Di mozambique, satu juta orang
tewas 
> akibat kekejaman Party komunis dalam civil war. Fakta kekejaman
komunis 
> ini sulit dimanipulasi begitu saja. 
> Bukankah sejarah menunjukkan bahwa ajaran komunislah yang senantiasa 
> menciptakan konflik horizontal dan vertikal yang mengakibatkan 
> pembantaian ummat manusia?, lantas kenapa "anda" mau balik jadi 
> komunis?. 
> 
> 
> 
> On 7/19/07, Agus Sutoto (BWM) < [EMAIL PROTECTED] 
> <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: 
> 
> Yth. pak Awang dan teman-teman semua, 
> 
> Mohon maaf saya ikut nimbrung nih, tampaknya kita harus berhati-hati 
> memasuki wilayah wacana ini, dengan lebih peka/sensitif lagi, apalagi 
> untuk wilayah publik yang lebih luas lagi. Apapun respek, penghargaan 
> kita terhadap seseorang, tentunya tidak menghalangi kita untuk tidak 
> kritis. Walaupun tampaknya wacana ini hanya menyentuh wilayah sastra 
> ataupun budaya, tapi tampak nuansa politisnya sangat kental. Seperti 
> lazimnya ranah politik, fakta dan data sering tertutupi kepentingan 
> golongan atupun komunitas tertentu. 
> 
> Saya cuma ingin berusaha menyeimbangkan wacana ini dengan wacana yang 
> berseberangan, yang walaupun referensinya sementara ini hanya 
> berdasarkan ingatan semata (tetapi bisa dilacak, dan diyakini
faktanya). 
> Benar, seperti Uni Yuriza Noor kemukakan tentang Mochtar Lubis, bahkan

> beliau merupakan lawan polemik yang sangat tangguh. Kedua-duanya 
> sama-sama pernah merasakan 'penindasan' rezim yang pernah berkuasa, 
> bahkan Mochtar, lebih 'lama' masa penindasannya, yaitu pada masa orde 
> lama dan baru, sedangkan Pram hanya pada orde baru saja (walaupun masa

> pengasingan Pram di P. Buru lebih lama). Mokhtar dua kali mengalami 
> pembreidelan,(kasus Manikebu dan harian Indonesia Raya), sedangkan
Pram 
> hanya pada masa orde baru saja. Dari sini saja tampak bahwa Mochtar 
> lebih universal perjuangannya terhadap totaliterisme, KKN,
penghianatan 
> terhadap demokrasi dll. Sedangkan Pram 'membisu seribu basa' kalau 
> tidak dapat dikatakan 'membonceng' arus kepentingan orde lama, vis a 
> vis, kaum Marxis atau lebih dikenal sebagai diktator proletariat. 
> Dalam hal ini tampaknya Pram lebih beruntung karena trend wacana
global 
> kiwari kaum humanis lebih memihak kepadanya (Post-Marxist?), sedangkan

> tipikal humanismenya Mochtar kurang diminati, terkaburi oleh euphoria 
> 'post-marxist' ini. Dapat dikatakan juga, Pram lebih piawai mengemas 
> tema, teknik narasi, bahkan lebih kaya penguasaan wacana
socio-historis, 
> sehingga tampak lebih mengena pada trend pasar humanisme global. 
> 
> Selanjutnya tidak dapat dikatakan Pram sangat eksesif meperjuangkan 
> kepentingan kaum tertindas. Sangat jelas fakta sejarah yang merekam, 
> 'hiprokitnya' / ke diktatoran budaya' Pram dengan Lekranya, menghantam

> kelompok Mochtar dengan Manikebunya. Sedangkan Mochtar tidak pernah 
> membonceng kekuasaan siapapun (baik orde lama, orde baru, orde 
> silumanpun) untuk menindas lawan-lawan budaya atau ideologinya 
> Hal inilah yang membuat Mochtar dan kawan-kawan eks Manikebunya, 
> memprotes keras pemberian hadiah Magsaysay, beberapa belas tahun yang 
> lalu kepada Pram. Saya kira protes Mochtar dkk. Bukan karena ideologi 
> Pram, tapi lebih kepada ketidak konsistenan Pram dalam bersikap, yang 
> terkesan pilih-pilih rezim, kritis pada suatu rezim, tapi tidak pada 
> rezim lainnya. 
> 
> Saya juga kurang setuju pendapat bahwa Mochtar lebih lembut paparannya

> dibanding Pram. Justru Mochtar lebih keras mengkritik penguasa, bahkan

> bukan dalam bentuk sastra saja, malah langsung menyerang jantung
politik 
> kekuasaan pada masa Orba (dalam artikel-artikel jurnalistik),
khususnya, 
> sampai-sampai korannya dibreidel (termasuk tulisan-tulisannya yang 
> mengkritik praktek-praktek KKN di Pertamina pada masa itu).Ingat pula 
> bahwa Mochtar dapat dikatakan mewakili etnis Sumatra/Tapanuli yang 
> dianggap lebih lugas. 
> 
> Ada lagi hal yang 'tidak dibela' oleh Pram (karena berlawanan 
> kepentingan/ideologi?). Taufik Ismail - sastrawan yang sangat lembut
dan 
> halus (termasuk kelompok manikebu) dibandingkan dengan Pram maupun 
> Mochtar - malahan pernah memaparkan fakta yang amat sangat mengerikan 
> (saya mengikuti sendiri paparan Taufik, di Balikpapan, tahun 2001 yang

> lalu, juga pernah dimuat di Tempo/Gatra? Tahun-tahun itu). Taufik 
> kemukakan bahwa belum pernah dalam sejarah peradaban manusia ini suatu

> rezim ideologis yang membantai 100 JUTA MANUSIA secara kumulatif dalam
1 
> 
> ABAD (1900 - 2000), selain REZIM KOMUNIS DI SEANTERO DUNIA, dari
Rusia, 
> Cina, Eropa Timur, Kampuchia/Khmer, Kuba dll. (sayang sekali,
tampaknya 
> saya harus mencari-cari lagi tulisan Taufik, karena tertumpuk tidak 
> keruan ketika menyelamatkan buku-buku dari amukan banjir Februari yang

> lalu). Wallahua'lam. Lebih kurangnya , mohon maaf. 
> 
> Agus Sutoto 
> 
> PS. : Uni Yuriza, sekali2 ambil cuti ke Jakarta, pada saat Book Fair 
> (Maret, Juni, September, biasanya). Saya pernah dapet diskon buku 
> gila-gilaan, hanya 40 ribuan - dari harga lebih dari 100 ribuan,
setebal 
>> 500 halaman. Judulnya Holy Blood, Holy Grail, lumayan baru, terbitan 
> July 2006, suatu buku yang menginspirasi The Da Vinci Code yang 
> legendaris itu. 
> 
> -----Original Message----- 
> 
From: Awang Harun Satyana [mailto: [EMAIL PROTECTED] 
> <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ] 
> Sent: Thursday, July 19, 2007 3:25 PM 
> To: [email protected] 
> Subject: RE: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 
> 
> Sayangnya, mengapa Mochtar Lubis mesti mengembalikan penghargaan
Raymond 
> 
> Magsaysay yang diterimanya saat Pram diganjar penghargaan tersebut
tahun 
> 1995 ? Protes karena seorang yang dicap marxist diganjar penghargaan ?

> Ah, itu kan karena kisah lama perseteruan antara Mochtar Lubis dengan 
> Pram tahun 1960-an. Asyik juga mengikuti karya sastra Mochtar Lubis, 
> terutama "Harimau-Harimau !" 
> 
> Mbak Yuriza, jalan-jalannya jangan hanya ke Gramedia, ke Jakarta saja 
> kalau sedang digelar pameran buku di Senayan, 3x setahun oleh IKAPI. 
> Banyak sekali buku bagus, dari penerbit bagus dan sangat beragam,
dengan 
> harga discount yang besar lagi - one stop shopping ! Mei lalu saya
dapat 
> dua buku klasik kumpulan prosa dan puisi "Gema Tanah Air" dari H.B. 
> Jassin - masih buku2 aslinya, sudah menguning, sisa di gudang Balai 
> Pustaka - yakin tak akan ada dim ana pun selain di Balai Pustaka. 
> 
> Salam, 
> awang 
> 
> -----Original Message----- 
> 
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Thursday, July 19, 2007 2:22 C++ 
> To: [email protected] 
> Cc: [email protected] 
> Subject: Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 
> 
> Abah, 
> 
> Saya rasa tulisan tulisannya Mochtar Lubis juga cantik dan berat
seperti 
> Pram, dia pun juga seorang idealis yang mengusung pesan nasionalis. 
> Sayang semenjak tergusurnya Indonesia Raya namanya kok hilang ya .....

> at 
> least dari perhatian orang umum seperti saya ... 
> Pram dikagumi oleh "pihak luar", tapi selain dia juga ada penulis 
> penulis 
> lain yang keren punya .... kenapa kita cuma menengok kearah Pram ?, 
> karena 
> "orang luar" menengok kedia?. 
> Sayangnya kalau kita jalan jalan ke Gramed saat ini, nggak ada buku
buku 
> bernuansa seperti itu lagi, apakah jaman sudah berubah sehingga orang 
> lebih 
> global cara berpikirnya ?. 
> 
> y 
> 
> 
> 
> 
> 
> [EMAIL PROTECTED] 
> 
> 
> 
> 07/19/2007 01:51 
> To 
> PM [email protected] 
> 
> 
> cc 
> 
> 
> Please respond to 
> Subject 
> < [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Re: 
> [iagi-net-l] OOT "Saya 
> Terbakar 
> .id> Amarah Sendirian" ! 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Awang 
> 
> Sedari saya kecil saya sudah mengagumi Amarhum , buku buku lama eperti

> Ceritera dari Blora , Keluarga Gerilya dsb saya baca berkali-kali. 
> Buku yang baru sudah sedikit berubah , lebih romantis walaupun pesan 
> pesannya mengeai penderitaan rakyat tertindas masih 
> mengemuka dengan nyata . 
> 
> Apakah dia seorang marxist ? 
> 
> Menurut saya dia berfikiran atau menganut sikap / pemikiran seorang 
> marxist 
> walaupun dia tidak mengakui-nya.Coba saja baca dengan teliti pesan
pesan 
> dalam buku buku-nya. 
> Tapi dia adalah mrxist nasionalist. 
> Dia seorang nasionalist yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur 
> dan 
> adil sejahtera , sebagimana diamanatkan dalam mukdimah Konstitusi
kita. 
> ==================sorry deleted to shorten
mail========================= 
> 
> 
> 
>
------------------------------------------------------------------------

> ---- 
> Hot News!!! 
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to 
> [EMAIL PROTECTED] 
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 
> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, 
> Bali Convention Center, 13-16 November 2007 
>
------------------------------------------------------------------------

> ---- 
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id 
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta 
> No. Rek: 123 0085005314 
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
> No. Rekening: 255-1088580 
> A/n: Shinta Damayanti 
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
> --------------------------------------------------------------------- 
> 
> 
> 
> 
> -- 
> OK TAUFIK 
> 
> 

Kirim email ke