Mengikuti diskusi IAGI yang temanya agak melenceng dari Geology, yaitu "saya terbakar amarah sendirian" jadi pengen membaca buku seri Gajahmada-Langit Kresna Hariyadi ... Mas Andang, walau saya belum membaca seri GajahMada, namun bagus juga membaca Roman sejenis dengan background waktu beberapa tahun sebelumnya, yaitu keruntuhan Singasori dan lahirnya Majapahit dalam novelnya Arswendo "Senopati Pamungkas" (Satrio piningit)......atau jangan2 sudah membacanya? Buku tersebut menurut saya setara dengan "Taiko" dan "Musashi" nya Eiji Yosikawa ... Patriotik, inspiratif, menambah semangat, dan yang jelas menambah cinta tanah air .... dan kita bisa menemukan (sesuai pandangan penulis tentunya) tentang hal2 yang tidak kita temukan dalam buku sejarah di sekolah Salam, didik
-----Original Message----- From: Andang Bachtiar [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, July 20, 2007 11:47 To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! Wah,... Awang mulai nyangkut-nyakutin aku ke Gajahmada nech,.... hehehehe... (canda:on!!)Sebenarnya saya sedang dalam kebingungan, kata kakek saya yang dari Malang, garis keturunan saya berasal dari kakak-nya Ken Arok yang "maling" dari Singosari (gak ada di bukunya Pram ttg Ken Arok), sementara dari buku silsilah kakek saya yang dari Blitar, di ujung atas-nya adalah Gajah Mada (yg menurut bukunya Langit gak pernah nikah.....) salam adb ----- Original Message ----- From: Awang Harun <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Satyana To: [email protected] Sent: Friday, July 20, 2007 10:26 AM Subject: RE: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! Abah, Dua bulan lalu saya bertemu dengan Langit Kresna Hariyadi, penulis kelima roman sejarah Gajah Mada itu, kebetulan Pak Langit diundang oleh Tiga Serangkai dan IKAPI untuk membedah buku-buku yang ditulisnya. Kelihatannya ini roman sejarah paling tebal yang pernah ditulis. Di samping Pak Langit duduk Pak Luluk Sumiarso (DirJen Migas) yang rupanya penggemar berat karya2 tersebut. Pak Langit mengemukakan banyak hal2 baru yang "keluar" dari sejarah Majapahit yang kita kenal selama ini. Kalau rekan2 mau berkumpul membahas buku2 Gajah Mada ini, saya mengusulkan Pak Andang Bachtiar (he2..) untuk nara sumbernya, kelihatannya ke mana-mana, sampai ke Perth pun buku ini dibawanya (sudah sampai jilid ke berapa nih Pak membacanya ? - hati-hati kalau membaca pas jilid "Perang Bubat" - banyak kontroversinya). Kalau dalam bidang sejarah, Prof Slametmuljana-lah yang paling banyak meneliti Majapahit ini, dan kini buku-bukunya (yang dulu zaman awal OrBa sempat dilarang beberapa di antaranya) bisa dibaca lagi, untung ada sebuah penerbit kecil di Yogya yang menerbitkan dan mencetak lagi semua buku Slametmuljana. Sejarah baik dan buruk mestinya tak boleh ditutup-tutupi, apalagi dimanipulasi lalu diajarkan ke anak2 sekolah. Hampir seluruh karier profesional Slametmuljana adalah untuk Majapahit. Kalau saya ulas di sini tentang bukunya yang berhubungan dengan masuknya Islam ke Indonesia dan Jawa, tentang Wali-Wali Sanga, dan tentang runtuhnya Majapahit mungkin akan segera menyulut banyak pendapat pro dan kontra seperti buku2nya Pram. Salam, awang

