Belum habis permasalahan dg Gas untuk listrik , gantian sekarang dg batubara bermasalah , selama ini ada subsidi untuk Migas dan sebentar lagi ada subsidi untuk batubara. Problem utama energi adalah di penyediaannya energi primernya , disisi lain banyak sumber energi primer lain yg berlimpah tapi kurang optimal pemanfaatannya , Wah bakalan Byar Pet diJawa ini kalau sampai mandeg suplai batubaranya.... =============================== Pasokan Batu Bara PLTU Suralaya Bermasalah
Harga batu bara di pasar dunia saat ini cukup tinggi. JAKARTA -- Pasokan batu bara di PLTU Suralaya, Jawa Barat, kembali bermasalah. Pasokan untuk Januari tahun depan yang seharusnya sudah bisa tersedia bulan-bulan ini belum juga ada. Pihak PLTU Suralaya mengeluhkan mahalnya harga batu bara yang diminta oleh pemasok ke pemerintah. General Manager PLTU Suralaya, Bambang Susianto, menjelaskan, saat ini perusahaannya sudah mendapat pasokan batu bara dari PT Bukit Asam (PTBA). Tetapi, jumlah pasokannya kurang. PTBA hanya menyanggupi 5,1 juta ton pasokan dari kesepakatan 6,1 juta ton. Akibatnya, PLTU Suralaya harus mencari tambahan pasokan dengan membuka tender. Tender itu sudah dua kali dilakukan, namun belum juga mendapat hasil. Dalam dua kali tender itu pesertanya hanya Kideco dan Berrau. Akhirnya, PLTU Suralaya melakukan proses pemilihan langsung. Tapi, proses ini juga tidak membuahkan hasil karena harga penawarannya jauh di atas harga yang sudah ditetapkan perusahaan dan pemerintah. Bambang melanjutkan, saat ini, harga batu bara yang ditawarkan pemasok sudah naik sekitar 26 persen dengan alasan biaya transportasi batu bara yang mahal dan kurang pasokan. PLTU Suralaya mematok harga Rp 384 ribu per ton, tapi dari pemasok meminta harga Rp 424 ribu per ton. Sedangkan pasokan batu bara yang diminta adalah batu bara dengan nilai 5.100 kalori. ''Harganya sangat tinggi, harga batu bara di pasar internasional naik sekarang. Bagi kami kan sangat memberatkan,'' keluh Bambang, saat dihubungi wartawan, Jumat (27/7). Bambang mensinyalir, saat ini pasokan batu bara di dalam negeri banyak yang diekspor keluar, sehingga harganya di tingkat lokal menjadi melejit. Untuk itu, ia meminta pemerintah turun tangan membenahi pasokan batu bara tersebut. ''Saya khawatir mungkin banyak di ekspor, karena harga internasional tinggi, mungkin perlu regulasi khusus untuk batu bara listrik, kan kepentingan hajat hidup orang banyak,'' ungkap dia. PLTU Suralaya sebenarnya bisa saja mendapat pasokan batu bara, tapi tidak dengan spesifikasi 5.100 kalori dan dengan harga yang lebih rendah. Tapi penawaran ini ditolak karena bakal mengganggu kinerja PLTU yang mengaliri listrik ke Jawa-Bali, dan pasokannya tidak terjamin karena datang dari pemasok kecil. ''Kalau dipaksakan nanti kita tidak bisa optimal. Kalau tidak bisa optimal nanti mengurangi pasokan Jawa Bali. (Selain itu) dikawatirkan pasokannya tigak stabil dan kualitasnya tidak terjamin,'' sambungnya lagi. Untuk itu, saat ini PLTU Suralaya sedang mengkaji jalan keluar masalah batu bara ini. Tenggat waktu paling lambat untuk pasokan Januari 2008 adalah Oktober mendatang. Kata Bambang, masalah pasokan ini dibahas di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlangsung di Yogyakarta. ''Kita usulkan pada PLN bagaimana ini masalahnya? Apa jalan keluarnya? Kalau kita tidak punya pasokan batu bara, PLTU tidak bisa operasi. (Mungkin) Pemerintah harus menambah subsidi ke PLN, kan untuk harga batu bara yang lebih tinggi,'' pintanya. Dihubungi terpisah, Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM, J Purwono, menilai, PLTU Suralaya harus mampu menyelesaikan masalah pasokan batu baranya dengan pendekatan bisnis tanpa melibatkan pemerintah. ''Ini urusan korporat, tidak perlu bantuan pemerintah, karena sudah mekanisme pasar,'' tandas dia. Purwono juga meminta PLN bertindak dengan mengkaji kembali kenapa pemasok batu bara tidak mau memasok atau ikut tender di PLN. Fakta Angka Rp 424 Ribu per Ton Harga batu bara yang ditawarkan pemasok kepada PLTU Suralaya

