Pak Andri dan pak Shofi,
 
boleh di-share metode perbandingan kuantitif nilai log dan
core/petrologi secara umum saja - nggak mesti untuk karbonat? 
 
Apakah digunakan nilai "mean" dari delta kumpulan data point kedua
object/data tersebut sebagai nilai "general bias"? Apabila diinginkan
nilai "error atau uncertainty" dari log terhadap core, apakah digunakan
harga standard deviasi dari nilai discrete data ataukah setengah dari
range nilai low-high (misal : nilai min-max ataukah P10-P90) ? 
Bagaimanakah bila digunakan nilai mean absolut dari delta data, apakah
bisa dianggap sebagai magnitude dari error log terhadap core tsb?
Manakah yang lebih tepat digunakan mean absolut tsb, bila dibandingkan
dengan nilai standard deviasi atau setengah dari range nilai low-high ?
 
Saya sendiri kurang menyukai nilai "correlation coefficien" plot kedua
data tersebut karena tidak menyatakan unit properti batuan yang
sesungguhnya, sehingga sulit diintegrasikan untuk kuantifikasi
ketidakpastian, misal dalam perhitungan volume cadangan (resources).
 
terima kasih atas pencerahannya.
ww

________________________________

From: Andri Subandrio [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, August 06, 2007 1:00 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] 2nd Porosity Petrophysic vs Petrography in
Carbonate


Mungkin ini bisa jadi jalan tengah, yaitu mengawinkan log petrology &
petrophysic. Saya pernah melakukan quantitative petrological analyses
dari cutting. Hasilnya berupa angka porositas dalam %. Pekerjaan ini
memerlukan ketelitian dalam pengamatan porisitas dalam butiran cutting,
oleh karena itu untuk satu sayatan dari range kedalaman tertentu bisa
dipotret sampai 100 kali dan kemudian setiap temuan tekstur dan
porositas dimasukan dalam tabel. Hasil penghitungan porositas tiap
kedalaman lalu kita plot terhadap kedalaman, mirip grafik log. Grafik
log petrologi lalu kita sandingkan dengan petrofisik. Pada waktu kami
kerjakan analisis petrologi kuantitatif dan petrofisik ternyata bisa
saling membantu. Selamat mencoba.
 
 
Salam 
 
AnssM

        ----- Original Message ----- 
        From: Shofiyuddin <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  
        To: [email protected] 
        Sent: Monday, August 06, 2007 11:34 AM
        Subject: Re: [iagi-net-l] 2nd Porosity Petrophysic vs
Petrography in Carbonate

        Mas Andri,
        Memang segala sesuatunya harus kembali kepada asal. Nah log pun
sama, harus dikalibrasi lagi kepada batuannya, bentuknya bisa kepada
deskripsi batuan inti (core), sayatan tipis, SEM dan XRD. Begitu juga
dengan sifat fisik batuan laen seperti porosity dan permeability. Tanpa
itu, log tidak punya referensi. 
         
        Kalo kita bicara batuan, kita bicara yang paling detil (dari
micron same meter. Kalo kita bicara log, kita bicara dibilangan cm sampe
meteran, tergantung jenis lognya apa. Bicara seismik bicara pada kisaran
yang lebih besar lagi dari log. 
         
        Nah yang sedang saya share ini bagaimana usaha kita untuk
mengenal adanya porositas sekunder dari log dimana dari pengamatan core
ditemukan adanya vuggy porosity. Secara umum, sonic log sering disebut
sebagai salah satu tool yang cukup efektif untuk mengenal porositas
sekunder ini sehingga banyak persamaan muncul yang diertai dengan asumsi
yang berbeda berbeda beda. Salah satu contoh adalah penggunaan rumus SPI
(Secondary Poroitas Index) digunakan dengan aumsi bahwa sonic log tidak
melihat sama sekali adanya vug, jadi selisih antara porositas total
dengan sonic dilihat sebagai adanya porosoitas sekunder. Untuk rumus
Nurmi sedikit laen lagi karena dianggap alat sonik mampu untuk melihat
"sebagian vuggy porosity, sekitar 50% dari aktual" nya. Nah begitu juga
yang rumus yang laen. 
         
        Yang menjadi masalah ditempat saya adalah kenapa justru
porositas yang dihitung daro sonik kok lebih besar dari porositas
totalnya (yang dihitung dari density dan neutron log)? nah itu yang saya
lagi cari pak.
         
        Salam 
         
        Shofi
         
         


         
        On 8/6/07, Andri Subandrio <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

                Bung Shofiyuddin yng budiman, saya bukan ahli
petrophysic, tapi saya mau sharing atas dasar pengalaman saya bekerja
sebagai petrologis untuk reservoir karbonat. Sebelumnya saya mohon
segera dikorensi apabila ada yang kurang tepat. Beberapa ayang perlu
diperhatikan pada karbonat antara lain : 
                1. Geometri, dimensi dan skala: Karbonat terutama yang
berasosiasi dengan reef dan paparan mempunya geometri yang berbeda
dengan klastik biasa seperti batupasir. Misalnya pada reef, tekstur dan
besar butirnya sangat beragam tergantung jenis  "organik" seperti coral
and associate yang tumbuh berdasarkan kedalaman. Pada lingkungan ini
kemunginan ada 'primary porosity" yaitu terdapat disela-sela kerangka.
Geometri seperti ini akan sangat baik direkonstruksi dengan pemodelan
yang dibangun dari pengamatan lapangan modern reef seperti pulau Seribu
dan ancient reef seperti di Formasi Rajamandala Ciatatah - Padalarang
dan tentunya data bawah pemukaan geologi reservoir yang menjadi target. 
                 
                2. Secondary porosoity didalam karbonat masuk dalam
wilayah "diagenesis" yang berkaitan dengan fasies, lingkungan
pengendapan dan "exposure" phenomena pasca sedimentasi dan litifikasi.
Di Indonesia, 2nd Porosity (2nd por) umumnya dikontrol oleh diagenesis,
sedang di arid climate seperti di mediterania sebagian porosity
dikontrol oleh facies, misalnya pada oolitic limestone positasnya mirip
dengan batupasir yang well rounded. 2nd Por didaerah tropis umumnya
disebabkan pelarutan "fresh water" setelah formasi batugamping ter
"expose" diatas muka laut. Pelarutan ini biasanya didahului dengan
berkembangnya  "fracture network", lalu air tawar yang umumnya air hujan
mulai bekerja membentuk porositas atau ruang-ruang yang dapat
menghasilkan pori-pori yang kecil hingga raksasa! Karena itu tida heran
2nd por di ls (limestone) bisa dimasuki orang bahkan di Perancis
gua-guanya bisa dipakai berlayar dengan boat! Dengan demikian dimensi di
golkar (golongan karbonat) bukanlah hal yang sederhana untuk dipahami. 
                 
                3. Resolusi petrofisika vs petrography: petrofisika
resolusinya mungkin dalam dimensi cm hingga dm (atau bahkan meter ?),
karenanya segmen yang bisa di 'trace" dalam log mungkin masih relatif
kasar bila dibandingan dengan mikroskopis dari sayatan tipis. Dengan
petrografi dapat diamati besaran dari mikron hingga mm, selain itu kita
akan dapat melihat bagaimana  fasies dan sejarah diagenesisnya. Dengan
penelitian diagenesis ls, dapat diperkirakan bagaimana distribusi 2nd
por nya. Data seismik juga bisa kolaburasi dengan petrografi, terutama
untuk memperkirakan geometri dan dimensi paparan karbonatnya. Mungkin
perlu kerjasama yang baik antara divisi petrologi, petrofisik dan
seismik untuk membangun model underground golkar. Cutting petrologic
analyses bisa sangat membantu petrofisik untuk memahami development of
2nd porosity" Selamat Ber" golkar" ria. 
                 
                Salam
                 
                Andri Subandrio
                ----- Original Message ----- 

                        From: Shofiyuddin <mailto:[EMAIL PROTECTED]>

                        To: [email protected] 
                        Sent: Monday, August 06, 2007 7:53 AM
                        Subject: [iagi-net-l] Petrophysics - Secondary
Porosity

                         
                        Barangkali ada yang bisa bantu masalah saya.
                         
                        Saya lagi mencoba menghitung besarnya secondary
porosity di carbonat dengan menggunakan pendekatan harga cementation
factor (m). 
                         
                        Saya coba menggunakan beberapa pendekatan
persamaan di beberapa publikasi seperti persamaan Secondary Porosity
Index, Nugent (1984), Nurmi, Rasmus, quadratic dan laen sebagainya. Dari
seluruh persamaan yang ada, semuanya menyebutkan bahwa Porositas yang
dihasilkan oleh SONIC selalu lebih rendah dari Total Porosity yang
dihasilkan dari perhitungan Density dan Neutron. Nah yang dipunyai di
lapangan saya ini kebalikannya, yaitu POROSITY SONIC selalu lebih tinggi
dari TOTAL POROSITY (dari Density Neutron) nya.  Akhirnya saya tidak
bisa menggunakan beberapa persamaan diatas untuk menentukan berapa
besarnya m dan berapa besarnya porsi secondary porosity dari sistem. 
                         
                        Dari persamaan yang ada, hanya Nugent yang bisa
diterapkan karena tidak mempunyai factor pengurangan Total Porosity
dengan Sonic Porosity.
                         
                        Seandainya memang benar SONIC POROSITY lebih
besar dari TOTAL POROSITY (DN), apakah saya bisa berargumanetasi bahwa
SONIC tool ini bisa membaca lebih detil porosity laen  yang tidak
terbaca oleh Density dan Neutron? 
                         
                        Apakah selisih antara SONIC Porosity dan Total
Porosity adalah secondary porosity (vuggy)? kalo iya, berarti
bertentangan dengan semua asumsi yang ada di publikasi.
                         
                        Thanks sebelumnya untuk yang mau berbagi ilmu.
                         
                        Salam
                         
                        Shofi
                         




        -- 
        Salam hangat
        
        Shofi 

Kirim email ke