Terimakasih Pak Wikan atas feedbacknya yang berharga. Intinya, bagaimanapun 
juga nilai-nilai ini tidak pernah eksak banget, semuanya berdasarkan 
"statistik", sehingga kalau adapun nilai adalah hasil "estimasi" yang paling 
"optimum" alias mendekati.

Salam

AnssM

----- Original Message ----- 
  From: Winderasta, Wikan (wikanw) 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, August 06, 2007 1:21 PM
  Subject: RE: [iagi-net-l] 2nd Porosity Petrophysic vs Petrography in Carbonate


  Pak Andri dan pak Shofi,

  boleh di-share metode perbandingan kuantitif nilai log dan core/petrologi 
secara umum saja - nggak mesti untuk karbonat? 

  Apakah digunakan nilai "mean" dari delta kumpulan data point kedua 
object/data tersebut sebagai nilai "general bias"? Apabila diinginkan nilai 
"error atau uncertainty" dari log terhadap core, apakah digunakan harga 
standard deviasi dari nilai discrete data ataukah setengah dari range nilai 
low-high (misal : nilai min-max ataukah P10-P90) ? 
  Bagaimanakah bila digunakan nilai mean absolut dari delta data, apakah bisa 
dianggap sebagai magnitude dari error log terhadap core tsb? Manakah yang lebih 
tepat digunakan mean absolut tsb, bila dibandingkan dengan nilai standard 
deviasi atau setengah dari range nilai low-high ?

  Saya sendiri kurang menyukai nilai "correlation coefficien" plot kedua data 
tersebut karena tidak menyatakan unit properti batuan yang sesungguhnya, 
sehingga sulit diintegrasikan untuk kuantifikasi ketidakpastian, misal dalam 
perhitungan volume cadangan (resources).

  terima kasih atas pencerahannya.
  ww



------------------------------------------------------------------------------
  From: Andri Subandrio [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Monday, August 06, 2007 1:00 PM
  To: [email protected]
  Subject: Re: [iagi-net-l] 2nd Porosity Petrophysic vs Petrography in Carbonate


  Mungkin ini bisa jadi jalan tengah, yaitu mengawinkan log petrology & 
petrophysic. Saya pernah melakukan quantitative petrological analyses dari 
cutting. Hasilnya berupa angka porositas dalam %. Pekerjaan ini memerlukan 
ketelitian dalam pengamatan porisitas dalam butiran cutting, oleh karena itu 
untuk satu sayatan dari range kedalaman tertentu bisa dipotret sampai 100 kali 
dan kemudian setiap temuan tekstur dan porositas dimasukan dalam tabel. Hasil 
penghitungan porositas tiap kedalaman lalu kita plot terhadap kedalaman, mirip 
grafik log. Grafik log petrologi lalu kita sandingkan dengan petrofisik. Pada 
waktu kami kerjakan analisis petrologi kuantitatif dan petrofisik ternyata bisa 
saling membantu. Selamat mencoba.


  Salam 

  AnssM
    ----- Original Message ----- 
    From: Shofiyuddin 
    To: [email protected] 
    Sent: Monday, August 06, 2007 11:34 AM
    Subject: Re: [iagi-net-l] 2nd Porosity Petrophysic vs Petrography in 
Carbonate


    Mas Andri,
    Memang segala sesuatunya harus kembali kepada asal. Nah log pun sama, harus 
dikalibrasi lagi kepada batuannya, bentuknya bisa kepada deskripsi batuan inti 
(core), sayatan tipis, SEM dan XRD. Begitu juga dengan sifat fisik batuan laen 
seperti porosity dan permeability. Tanpa itu, log tidak punya referensi. 

    Kalo kita bicara batuan, kita bicara yang paling detil (dari micron same 
meter. Kalo kita bicara log, kita bicara dibilangan cm sampe meteran, 
tergantung jenis lognya apa. Bicara seismik bicara pada kisaran yang lebih 
besar lagi dari log. 

    Nah yang sedang saya share ini bagaimana usaha kita untuk mengenal adanya 
porositas sekunder dari log dimana dari pengamatan core ditemukan adanya vuggy 
porosity. Secara umum, sonic log sering disebut sebagai salah satu tool yang 
cukup efektif untuk mengenal porositas sekunder ini sehingga banyak persamaan 
muncul yang diertai dengan asumsi yang berbeda berbeda beda. Salah satu contoh 
adalah penggunaan rumus SPI (Secondary Poroitas Index) digunakan dengan aumsi 
bahwa sonic log tidak melihat sama sekali adanya vug, jadi selisih antara 
porositas total dengan sonic dilihat sebagai adanya porosoitas sekunder. Untuk 
rumus Nurmi sedikit laen lagi karena dianggap alat sonik mampu untuk melihat 
"sebagian vuggy porosity, sekitar 50% dari aktual" nya. Nah begitu juga yang 
rumus yang laen. 

    Yang menjadi masalah ditempat saya adalah kenapa justru porositas yang 
dihitung daro sonik kok lebih besar dari porositas totalnya (yang dihitung dari 
density dan neutron log)? nah itu yang saya lagi cari pak.

    Salam 

    Shofi




     
    On 8/6/07, Andri Subandrio <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
      Bung Shofiyuddin yng budiman, saya bukan ahli petrophysic, tapi saya mau 
sharing atas dasar pengalaman saya bekerja sebagai petrologis untuk reservoir 
karbonat. Sebelumnya saya mohon segera dikorensi apabila ada yang kurang tepat. 
Beberapa ayang perlu diperhatikan pada karbonat antara lain : 
      1. Geometri, dimensi dan skala: Karbonat terutama yang berasosiasi dengan 
reef dan paparan mempunya geometri yang berbeda dengan klastik biasa seperti 
batupasir. Misalnya pada reef, tekstur dan besar butirnya sangat beragam 
tergantung jenis  "organik" seperti coral and associate yang tumbuh berdasarkan 
kedalaman. Pada lingkungan ini kemunginan ada 'primary porosity" yaitu terdapat 
disela-sela kerangka. Geometri seperti ini akan sangat baik direkonstruksi 
dengan pemodelan yang dibangun dari pengamatan lapangan modern reef seperti 
pulau Seribu dan ancient reef seperti di Formasi Rajamandala Ciatatah - 
Padalarang dan tentunya data bawah pemukaan geologi reservoir yang menjadi 
target. 

      2. Secondary porosoity didalam karbonat masuk dalam wilayah "diagenesis" 
yang berkaitan dengan fasies, lingkungan pengendapan dan "exposure" phenomena 
pasca sedimentasi dan litifikasi. Di Indonesia, 2nd Porosity (2nd por) umumnya 
dikontrol oleh diagenesis, sedang di arid climate seperti di mediterania 
sebagian porosity dikontrol oleh facies, misalnya pada oolitic limestone 
positasnya mirip dengan batupasir yang well rounded. 2nd Por didaerah tropis 
umumnya disebabkan pelarutan "fresh water" setelah formasi batugamping ter 
"expose" diatas muka laut. Pelarutan ini biasanya didahului dengan 
berkembangnya  "fracture network", lalu air tawar yang umumnya air hujan mulai 
bekerja membentuk porositas atau ruang-ruang yang dapat menghasilkan pori-pori 
yang kecil hingga raksasa! Karena itu tida heran 2nd por di ls (limestone) bisa 
dimasuki orang bahkan di Perancis gua-guanya bisa dipakai berlayar dengan boat! 
Dengan demikian dimensi di golkar (golongan karbonat) bukanlah hal yang 
sederhana untuk dipahami. 

      3. Resolusi petrofisika vs petrography: petrofisika resolusinya mungkin 
dalam dimensi cm hingga dm (atau bahkan meter ?), karenanya segmen yang bisa di 
'trace" dalam log mungkin masih relatif kasar bila dibandingan dengan 
mikroskopis dari sayatan tipis. Dengan petrografi dapat diamati besaran dari 
mikron hingga mm, selain itu kita akan dapat melihat bagaimana  fasies dan 
sejarah diagenesisnya. Dengan penelitian diagenesis ls, dapat diperkirakan 
bagaimana distribusi 2nd por nya. Data seismik juga bisa kolaburasi dengan 
petrografi, terutama untuk memperkirakan geometri dan dimensi paparan 
karbonatnya. Mungkin perlu kerjasama yang baik antara divisi petrologi, 
petrofisik dan seismik untuk membangun model underground golkar. Cutting 
petrologic analyses bisa sangat membantu petrofisik untuk memahami development 
of 2nd porosity" Selamat Ber" golkar" ria. 

      Salam

      Andri Subandrio
      ----- Original Message ----- 
        From: Shofiyuddin 
        To: [email protected] 
        Sent: Monday, August 06, 2007 7:53 AM
        Subject: [iagi-net-l] Petrophysics - Secondary Porosity

         
        Barangkali ada yang bisa bantu masalah saya.

        Saya lagi mencoba menghitung besarnya secondary porosity di carbonat 
dengan menggunakan pendekatan harga cementation factor (m). 

        Saya coba menggunakan beberapa pendekatan persamaan di beberapa 
publikasi seperti persamaan Secondary Porosity Index, Nugent (1984), Nurmi, 
Rasmus, quadratic dan laen sebagainya. Dari seluruh persamaan yang ada, 
semuanya menyebutkan bahwa Porositas yang dihasilkan oleh SONIC selalu lebih 
rendah dari Total Porosity yang dihasilkan dari perhitungan Density dan 
Neutron. Nah yang dipunyai di lapangan saya ini kebalikannya, yaitu POROSITY 
SONIC selalu lebih tinggi dari TOTAL POROSITY (dari Density Neutron) nya.  
Akhirnya saya tidak bisa menggunakan beberapa persamaan diatas untuk menentukan 
berapa besarnya m dan berapa besarnya porsi secondary porosity dari sistem. 

        Dari persamaan yang ada, hanya Nugent yang bisa diterapkan karena tidak 
mempunyai factor pengurangan Total Porosity dengan Sonic Porosity.

        Seandainya memang benar SONIC POROSITY lebih besar dari TOTAL POROSITY 
(DN), apakah saya bisa berargumanetasi bahwa SONIC tool ini bisa membaca lebih 
detil porosity laen  yang tidak terbaca oleh Density dan Neutron? 

        Apakah selisih antara SONIC Porosity dan Total Porosity adalah 
secondary porosity (vuggy)? kalo iya, berarti bertentangan dengan semua asumsi 
yang ada di publikasi.

        Thanks sebelumnya untuk yang mau berbagi ilmu.

        Salam

        Shofi




    -- 
    Salam hangat

    Shofi 

Kirim email ke