Wah kajian sejarah yang sangat menarik. Namun yang lebih menarik untuk para
geologist adalah BUKTI FISIS dari semua dugaan ini. Seperti yang aku tulis
tentang Candi Kedulan tentang ditinggalkannya candi,
http://rovicky.wordpress.com/2006/08/18/candi-kedulan/
Juga crita Situs Batujaya yang Pak Awang ceriterakan sebelumnya yang
menyebutkan adanya endapan pantai yang menguburkan, barangkali memang
ditinggalkan akibat muka air laut yg relatif naik. Namun apa bukti fisis
(geologi) utk Majapahit ini ?

Tulisan2 seperti ini sangat disukai terutama kalau ada gambar serta
keterangan grafis yang menunjang. Termasuk tulisan dari Pak Awang kemarin
itu :
http://rovicky.wordpress.com/2007/08/29/hilang-amblas-ditelan-bumi-sirna-ilang-kertaning-bumi/

Dongeng ini bahkan di komentari juga oleh Pak Suparka (LIPI) yang ternyata
juga punya blog khusus di http://aki2005.multiply.com/

Salam

RDP

On 8/30/07, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Suryasengkala "Sirna Ilang Krtaning Bhumi" alias angka tahun 1400 Caka
> (1478 Masehi) menjadi terbuka untuk ditafsir ulang. Tahun 1400 Caka
> dipakai oleh beberapa ahli sejarah sebagai akhir Majapahit berdasarkan
> dua babad sejarah terkenal "Serat Kanda" dan "Babad Tanah Jawi" dan
> catatan2 perjalanan bangsa-bangsa asing yang pernah mampir ke Jawa pada
> saat itu. Memang, masih ada raja-raja Majapahit terakhir setelah 1478 M,
> seperti raja Girindrawardhana (1478-1498 M) dan Brawijaya VIII
> (1498-1518 M), sebelum Majapahit benar2 bubar pada tahun 1518 M. Tetapi,
> dari tahun 1478 M sampai 1518 M, Majapahit adalah kerajaan bawahan Demak
> yang saat itu lebih kuat. Tahun 1518 M kekuasaan di Jawa sudah
> didominasi penguasa2 Islam seperti Raden Patah dan adipati Unus.
>
>
>
> Manurut buku de Graaf (1949) - Geschiedenis van Indonesie (Sejarah
> Indonesia) - buku ini senilai seperti buku Geology of Indonesia van
> Bemmelen (1949) - runtuhnya Majapahit terjadi pada tahun 1400 Caka atau
> 1478 M  sesuai dengan catatan sejarah Jawa. Tahun 1400 Saka diperingati
> dengan sengkalan berbunyi "Sirna Ilang Krtaning Bhumi" atau 0041 (1400)
> dalam Serat Kanda. Apa arti kalimat ini ? Kita tak akan kesulitan
> mengartikan sirna, ilang, dan bhumi; pasti artinya sirna, hilang, bumi.
> Yang menarik adalah "krta". Pengecekan dari buku kamus Kawi-Indonesia
> susunan Wojowasito (1980) adalah sbb. :
>
>
>
> "krta" /kerta berasal dari bahasa Sanskerta, yang punya beberapa arti  :
> 1) sudah dikerjakan, sudah dilakukan selesai, habis, baik, aman dan
> tentram, jasa. 2) dadu dengan empat buah mata. "Ilang" : hilang binasa.
> "Ni/ning" : partikel genitif. "Bhumi" : bumi, tanah. Menurut kamus
> linguistik Harimurti-Kridalaksana (2001) : partikel =  kata yang
> biasanya tidak dapat diderivikasikan atau diinfleksikan, yang mengandung
> makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal; sedangkan "genitif
> partitif" =  penggunaan kasus genitif untuk menyatakan bagian dari
> keseluruhan makna kata yang bersangkutan. Kasus genitif  adalah kasus
> yang menandai makna 'milik' pada nomina atau yang sejenisnya.
> Berdasarkan kamus Kawi-Indonesia susunan Purwadi (2003), "kerta" =
> hasil, kemakmuran; kerta wadana : aman, sejahtera.
>
>
>
> Maka, terbuka untuk menafsirkan "sirna ilang krtaning bhumi" sebagai :
> (1) "sirna hilang sudah selesai pekerjaan bumi"  atau (2) "sirna hilang
> kemakmuran bumi/di bumi". Makna yang banyak ditemukan di buku2 adalah
> makna kedua. Makna no. 1 pengalimatannya tak semulus pengalimatan makna
> kedua. Tetapi, kalau berkenaan dengan suatu bencana, maka makna no. 1
> lebih tepat sebab "sirna hilang akibat pekerjaan bumi". Apa pekerjaan
> bumi ? Ya bisa bencana sedimentasi, erupsi gunungapi, gempa, atau erupsi
> gununglumpur.
>
>
>
> Kita mungkin akan segera memilih makna no. 2 sebab lebih gampang
> menerimanya, setelah Majapahit bubar, kemakmuran di bumi memang hilang
> (dalam kacamata orang2 Majapahit). Tetapi, penjelasan yang mudah belum
> tentu yang benar, dan penjelasan yang susah belum tentu yang salah.
>
>
>
> Ada satu lagi penyerta "sirna ilang krtaning bhumi", yang kalah populer
> dari sengkalan ini tetapi tercatat di suatu risalah kerajaan Majapahit
> yang ditemukan belakangan. Risalah tersebut mencatat suatu peristiwa
> "Guntur Pawatugunung". Peristiwa apa ini dan kapan terjadinya ? Ricklefs
> (1999) - Ricklefs adalah ahli sejarah dari Australia yang banyak
> meneliti sejarah Indonesia, bukunya "Sejarah Indonesia Moderen
> 1200-2004" sudah diterjemahkan oleh Serambi (2005), edisi pertamanya
> oleh UGM - berdasarkan tulisan2 ahli sejarah Belanda C.C. Berg,
> menyatakan bahwa peristiwa "Guntur Pawatugunung" terjadi pada tahun 1403
> Saka (1481 M).
>
>
>
> Apa makna "guntur pawatugunung" ? Banyak yang mengartikan, itu adalah
> peristiwa yang mungkin sekali berkaitan dengan bencana letusan gunungapi
> (C.C. Berg dalam Ricklefs, 1999) yang terjadi pada masa kemunduran
> Majapahit. C.C Berg lebih lanjut menafsirkan bahwa Guntur Pawatugunung i
> merupakan tanda alam tentang (akan) munculnya suatu kerajaan baru di
> Jawa sebagai pengganti Majapahit (Kesultanan Demak). Berg meyakini bahwa
> sejarah2 penting di Indonesia banyak ditandai dengan peristiwa2 alam.
>
>
>
> Sekarang kita lihat tahun2 "sirna ilang krtaning bhumi" (1400 Caka) dan
> "guntur pawatugunung" (1403 Caka), sangat berdekatan - hanya beda 3
> tahun. Benar berbeda tiga tahun atau ada kesalahan pencatatan ? Dua2nya
> mungkin. Ratusan tahun yang lalu kesalahan pencatatan waktu 3 tahun ya
> wajar saja. Artinya, punya potensi bahwa "sirna ilang krtaning bhumi "
> seperiode dengan "guntur pawatugunung". Kalau kita mengikuti makna ke-2
> sirna ilang krtaning bhumi, maka dapat saja ditafsirkan bahwa Majapahit
> mundur dan habis oleh bencana semacam erupsi (bisa gunungapi, bisa
> gununglumpur ala LUSI). "sirna ilang krtaning bhumi" akibat "guntur
> pawatugunung".
>
>
>
> Alasan politik memang kuat mengakhiri Majapahit, tetapi bencana geologi
> pun besar potensinya untuk mengakhiri Majapahit - ini berdasarkan kajian
> geologi di mana dulu Majapahit berlokasi, dan peninggalan2 dalam catatan
> sejarah.
>
>
>
> Pentingnya faktor kebencanaan dalam akhir Majapahit beberapa kali pernah
> dikemukakan oleh Prof. Sampurno dari ITB. Presentasi Pak Sampurno di PIT
> IAGI 83 Yogya dijadikan berita di Kompas tanggal 2 Mei 1983, berjudul
> "Hancurnya Majapahit Bukan Akibat Munculnya Sistem Nilai Baru, tetapi
> Terlanda Bencana Alam" (oleh J. Purwanto). Dalam wawancara dengan
> wartawan Pikiran Rakyat pada acara purna bakti Pak Sampurno tahun 2004,
> Pak Sampurno menyatakan masih akan mengejar meneliti hal ini seusai
> pensiun nanti. Saya tak punya proceedings PIT IAGI 1983, dan tak punya
> artikel Kompas tahun 1983 untuk konfirmasi; tahu bahwa Pak Sampurno
> pernah mengemukakan hal itu dari buku Daldjoeni (1984) - geografi
> kesejarahan. Awal tahun 1980-an katanya ITB pernah melakukan studi
> lapangan di sekitar situs Majapahit, yang akhirnya menuju ke hipotesis
> bahwa Majapahit telah runtuh oleh bencana alam. Barangkali bapak2 dosen
> ITB anggota milis ini bisa konfirmasi ke Pak Sampurno (Pak Yahdi Zaim,
> Pak Eddy Subroto, Pak Andri Subandrio, dan bapak/ibu dosen ITB lainnya
> ?).
>
>
>
> Soal ini sudah saya komunikasikan sejak beberapa bulan yang lalu melalui
> ulasan2 sementara saya  di milis ini soal  Majapahit. Menarik mencoba
> mengulasnya dengan pendekatan catatan2 sejarah, buku-buku lama, kajian
> geologi wilayah Majapahit, bencana terkini ala LUSI, cerita
> rakyat/folklore, dan kesimpulan2 dari hasil peneltian yang katanya
> pernah dilakukan ITB awal 1980an.
>
>
>
> Majapahit adalah suatu kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia.
> Bagaimana ia berawal, bagaimana ia naik ke puncak dan bagaimana ia
> berakhir sama-sama penting untuk dipelajari, siapa tahu kita bisa
> menarik suatu pelajaran daripadanya.
>
>
>
> salam,
>
> awang
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


-- 
http://rovicky.wordpress.com/

Kirim email ke