> Rekan rekan
Kajian yang beraneka ragam dimulai dari geologi struktur - geo hazard - kepurbakalaan sampai ke sejarah Majapahit , dengan situs - nya dsb ...................dsb . Penelaahan bahasa jawa kuno , penterjemahan berdasarkan nalar yang sangat ilmiah ...................... Sangat menarik dan menggugah keingin tahuan !!!!!!!!!!!!! Sayang - nya , terbuka hanya sedikit sedikit dalam iagi- net ini , bagaimana ya caranya agar ilmu ilmu yang dipunyai rekan rekan yang lebih mendalami dapat disebarkan kepada umum , khususya generasi muda ???? Melalui "club" ? Omong omong di organisasi sekolah ??? Atau bagaimana ? Bukan-kah dengan mengetahui sejarah bangsa-nya kita dapat lebih bangga menjadi bangsa Indonesia ? Buan-kah kondisi saat ini , banyak yang lebih senang meng-olok2 diri sendiri sembari tidak mau dan tidak tahu menyebutkan bagaimana bangsa ini harus berbuat ??? Si-Abah _____________________________________________________________________ Wah kajian sejarah yang sangat menarik. Namun yang lebih menarik untuk > para > geologist adalah BUKTI FISIS dari semua dugaan ini. Seperti yang aku tulis > tentang Candi Kedulan tentang ditinggalkannya candi, > http://rovicky.wordpress.com/2006/08/18/candi-kedulan/ > Juga crita Situs Batujaya yang Pak Awang ceriterakan sebelumnya yang > menyebutkan adanya endapan pantai yang menguburkan, barangkali memang > ditinggalkan akibat muka air laut yg relatif naik. Namun apa bukti fisis > (geologi) utk Majapahit ini ? > > Tulisan2 seperti ini sangat disukai terutama kalau ada gambar serta > keterangan grafis yang menunjang. Termasuk tulisan dari Pak Awang kemarin > itu : > http://rovicky.wordpress.com/2007/08/29/hilang-amblas-ditelan-bumi-sirna-ilang-kertaning-bumi/ > > Dongeng ini bahkan di komentari juga oleh Pak Suparka (LIPI) yang ternyata > juga punya blog khusus di http://aki2005.multiply.com/ > > Salam > > RDP > > On 8/30/07, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> Suryasengkala "Sirna Ilang Krtaning Bhumi" alias angka tahun 1400 Caka >> (1478 Masehi) menjadi terbuka untuk ditafsir ulang. Tahun 1400 Caka >> dipakai oleh beberapa ahli sejarah sebagai akhir Majapahit berdasarkan >> dua babad sejarah terkenal "Serat Kanda" dan "Babad Tanah Jawi" dan >> catatan2 perjalanan bangsa-bangsa asing yang pernah mampir ke Jawa pada >> saat itu. Memang, masih ada raja-raja Majapahit terakhir setelah 1478 M, >> seperti raja Girindrawardhana (1478-1498 M) dan Brawijaya VIII >> (1498-1518 M), sebelum Majapahit benar2 bubar pada tahun 1518 M. Tetapi, >> dari tahun 1478 M sampai 1518 M, Majapahit adalah kerajaan bawahan Demak >> yang saat itu lebih kuat. Tahun 1518 M kekuasaan di Jawa sudah >> didominasi penguasa2 Islam seperti Raden Patah dan adipati Unus. >> >> >> >> Manurut buku de Graaf (1949) - Geschiedenis van Indonesie (Sejarah >> Indonesia) - buku ini senilai seperti buku Geology of Indonesia van >> Bemmelen (1949) - runtuhnya Majapahit terjadi pada tahun 1400 Caka atau >> 1478 M sesuai dengan catatan sejarah Jawa. Tahun 1400 Saka diperingati >> dengan sengkalan berbunyi "Sirna Ilang Krtaning Bhumi" atau 0041 (1400) >> dalam Serat Kanda. Apa arti kalimat ini ? Kita tak akan kesulitan >> mengartikan sirna, ilang, dan bhumi; pasti artinya sirna, hilang, bumi. >> Yang menarik adalah "krta". Pengecekan dari buku kamus Kawi-Indonesia >> susunan Wojowasito (1980) adalah sbb. : >> >> >> >> "krta" /kerta berasal dari bahasa Sanskerta, yang punya beberapa arti : >> 1) sudah dikerjakan, sudah dilakukan selesai, habis, baik, aman dan >> tentram, jasa. 2) dadu dengan empat buah mata. "Ilang" : hilang binasa. >> "Ni/ning" : partikel genitif. "Bhumi" : bumi, tanah. Menurut kamus >> linguistik Harimurti-Kridalaksana (2001) : partikel = kata yang >> biasanya tidak dapat diderivikasikan atau diinfleksikan, yang mengandung >> makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal; sedangkan "genitif >> partitif" = penggunaan kasus genitif untuk menyatakan bagian dari >> keseluruhan makna kata yang bersangkutan. Kasus genitif adalah kasus >> yang menandai makna 'milik' pada nomina atau yang sejenisnya. >> Berdasarkan kamus Kawi-Indonesia susunan Purwadi (2003), "kerta" = >> hasil, kemakmuran; kerta wadana : aman, sejahtera. >> >> >> >> Maka, terbuka untuk menafsirkan "sirna ilang krtaning bhumi" sebagai : >> (1) "sirna hilang sudah selesai pekerjaan bumi" atau (2) "sirna hilang >> kemakmuran bumi/di bumi". Makna yang banyak ditemukan di buku2 adalah >> makna kedua. Makna no. 1 pengalimatannya tak semulus pengalimatan makna >> kedua. Tetapi, kalau berkenaan dengan suatu bencana, maka makna no. 1 >> lebih tepat sebab "sirna hilang akibat pekerjaan bumi". Apa pekerjaan >> bumi ? Ya bisa bencana sedimentasi, erupsi gunungapi, gempa, atau erupsi >> gununglumpur. >> >> >> >> Kita mungkin akan segera memilih makna no. 2 sebab lebih gampang >> menerimanya, setelah Majapahit bubar, kemakmuran di bumi memang hilang >> (dalam kacamata orang2 Majapahit). Tetapi, penjelasan yang mudah belum >> tentu yang benar, dan penjelasan yang susah belum tentu yang salah. >> >> >> >> Ada satu lagi penyerta "sirna ilang krtaning bhumi", yang kalah populer >> dari sengkalan ini tetapi tercatat di suatu risalah kerajaan Majapahit >> yang ditemukan belakangan. Risalah tersebut mencatat suatu peristiwa >> "Guntur Pawatugunung". Peristiwa apa ini dan kapan terjadinya ? Ricklefs >> (1999) - Ricklefs adalah ahli sejarah dari Australia yang banyak >> meneliti sejarah Indonesia, bukunya "Sejarah Indonesia Moderen >> 1200-2004" sudah diterjemahkan oleh Serambi (2005), edisi pertamanya >> oleh UGM - berdasarkan tulisan2 ahli sejarah Belanda C.C. Berg, >> menyatakan bahwa peristiwa "Guntur Pawatugunung" terjadi pada tahun 1403 >> Saka (1481 M). >> >> >> >> Apa makna "guntur pawatugunung" ? Banyak yang mengartikan, itu adalah >> peristiwa yang mungkin sekali berkaitan dengan bencana letusan gunungapi >> (C.C. Berg dalam Ricklefs, 1999) yang terjadi pada masa kemunduran >> Majapahit. C.C Berg lebih lanjut menafsirkan bahwa Guntur Pawatugunung i >> merupakan tanda alam tentang (akan) munculnya suatu kerajaan baru di >> Jawa sebagai pengganti Majapahit (Kesultanan Demak). Berg meyakini bahwa >> sejarah2 penting di Indonesia banyak ditandai dengan peristiwa2 alam. >> >> >> >> Sekarang kita lihat tahun2 "sirna ilang krtaning bhumi" (1400 Caka) dan >> "guntur pawatugunung" (1403 Caka), sangat berdekatan - hanya beda 3 >> tahun. Benar berbeda tiga tahun atau ada kesalahan pencatatan ? Dua2nya >> mungkin. Ratusan tahun yang lalu kesalahan pencatatan waktu 3 tahun ya >> wajar saja. Artinya, punya potensi bahwa "sirna ilang krtaning bhumi " >> seperiode dengan "guntur pawatugunung". Kalau kita mengikuti makna ke-2 >> sirna ilang krtaning bhumi, maka dapat saja ditafsirkan bahwa Majapahit >> mundur dan habis oleh bencana semacam erupsi (bisa gunungapi, bisa >> gununglumpur ala LUSI). "sirna ilang krtaning bhumi" akibat "guntur >> pawatugunung". >> >> >> >> Alasan politik memang kuat mengakhiri Majapahit, tetapi bencana geologi >> pun besar potensinya untuk mengakhiri Majapahit - ini berdasarkan kajian >> geologi di mana dulu Majapahit berlokasi, dan peninggalan2 dalam catatan >> sejarah. >> >> >> >> Pentingnya faktor kebencanaan dalam akhir Majapahit beberapa kali pernah >> dikemukakan oleh Prof. Sampurno dari ITB. Presentasi Pak Sampurno di PIT >> IAGI 83 Yogya dijadikan berita di Kompas tanggal 2 Mei 1983, berjudul >> "Hancurnya Majapahit Bukan Akibat Munculnya Sistem Nilai Baru, tetapi >> Terlanda Bencana Alam" (oleh J. Purwanto). Dalam wawancara dengan >> wartawan Pikiran Rakyat pada acara purna bakti Pak Sampurno tahun 2004, >> Pak Sampurno menyatakan masih akan mengejar meneliti hal ini seusai >> pensiun nanti. Saya tak punya proceedings PIT IAGI 1983, dan tak punya >> artikel Kompas tahun 1983 untuk konfirmasi; tahu bahwa Pak Sampurno >> pernah mengemukakan hal itu dari buku Daldjoeni (1984) - geografi >> kesejarahan. Awal tahun 1980-an katanya ITB pernah melakukan studi >> lapangan di sekitar situs Majapahit, yang akhirnya menuju ke hipotesis >> bahwa Majapahit telah runtuh oleh bencana alam. Barangkali bapak2 dosen >> ITB anggota milis ini bisa konfirmasi ke Pak Sampurno (Pak Yahdi Zaim, >> Pak Eddy Subroto, Pak Andri Subandrio, dan bapak/ibu dosen ITB lainnya >> ?). >> >> >> >> Soal ini sudah saya komunikasikan sejak beberapa bulan yang lalu melalui >> ulasan2 sementara saya di milis ini soal Majapahit. Menarik mencoba >> mengulasnya dengan pendekatan catatan2 sejarah, buku-buku lama, kajian >> geologi wilayah Majapahit, bencana terkini ala LUSI, cerita >> rakyat/folklore, dan kesimpulan2 dari hasil peneltian yang katanya >> pernah dilakukan ITB awal 1980an. >> >> >> >> Majapahit adalah suatu kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia. >> Bagaimana ia berawal, bagaimana ia naik ke puncak dan bagaimana ia >> berakhir sama-sama penting untuk dipelajari, siapa tahu kita bisa >> menarik suatu pelajaran daripadanya. >> >> >> >> salam, >> >> awang >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> > > > -- > http://rovicky.wordpress.com/ >

