Pak Sugeng, terima kasih atas komentar dan cerita percintaan Joko
Tingkir dengan Sekar Pembayun yang romantis, saya seperti sedang membaca
kisah2 percintaan roman silat Kho Ping Hoo atau S.H. Mintardja he2...
Kalau ada yang punya babad Guntur Pawatugunung, saya senang untuk
mengkajinya kembali dalam hal akhir Majapahit ini. 

Saya baru minggu lalu membaca buku2 tentang Syekh Siti Jenar (Seh
Lemahbang/ Hasan Ali Ansar/Sidi Jinnar) yang kontroversial itu. Tentu
saya tak akan tiba2 mengulasnya di milis IAGI ini kalau tidak ada unsur
geologinya, bisa saja sih saya sebut OOT -out of topic seperti saat saya
mengulas tentang Pramudya Toer (Dua minggu lalu, Lentera Dwipantara,
sebuah penerbit menggelar buku2 Pramudya Ananta Toer di Bogor bersama
Gramedia dan groupnya). Tetralogi buru Pramudya yang sungguh tebal itu
lengkap di situ. Lentera Dwipantara adalah penerbit yang khusus
menerbitkan kembali buku2 Pramudya. Kabarnya, mereka akan menerbitkan
buku2 Pramudya yang selama ini belum terbit. Nah...

Pertarungan Syekh Siti Jenar dan para Wali (Wali Sanga) memang erat
berkaitan dengan transisi Majapahit yang Hindu dan Demak yang Islam.
Keberadaan Syekh Siti Jenar apakah benar pernah ada atau hanya tokoh
imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik juga menjadi
perdebatan antara yang pro dan kontra. 

Ajaran Syekh Siti Jenar meskipun kontroversial sangat populer di
kalangan Islam Jawa. Pandangan Syekh Siti Jenar bahwa alam kehidupan
manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal
disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana dia adalah manusia dan
sekaligus Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti), sangat menyimpang dari
pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada
hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak
dalam memerintah yang didukung oleh para Wali. Ajaran Siti Jenar dinilai
sangat menyimpang, membuat orang banyak bunuh diri (agar bisa segera
memulai kehidupan) - walaupun menurut cerita Siti Jenar melarang
murid2nya bunuh diri sebab itu dosa, maksud Siti Jenar adalah jangan
takut mati sebab mati adalah awal kehidupan. 

Mendapat legitimasi dari Kerajaan Demak, para Wali mendatangi perguruan
Siti Jenar di selatan Demak (ada buku yang menaruh perguruannya di
Krendhasawa, utara Boyolali sekarang, di tepi Kali Serang), membawanya
untuk menghukum mati Siti Jenar di Demak. "Tak perlu bertempur melawan
aku sebab aku bisa mengalahkan kesembilan wali dengan ilmu
kedigjayaanku, kematian adalah tujuanku, nanti ketika aku mati, akan
keluar sinar gemilang dan bau harum ribuan bunga ciri bahwa ajaranku
benar", begitu kira2 kata2 Siti Jenar sebelum menyerahkan diri kepada
para Wali. Di Demak, ia dihukum mati, ada buku yang menuturkan
dipenggal, atau dibakar. Para Wali kaget luar biasa ketika kata2 Siti
Jenar benar2 terjadi, dari tubuhnya keluar sinar dan harum bunga.
Diceritakan, seorang Wali segera mengganti mayat Siti Jenar malam itu
dengan bangkai anjing kudisan dan mengumumkan kepada masyarakat bahwa
lihatlah ajal seorang penganut aliran sesat ia senajis anjing kudisan.

Kematian Siti Jenar mungkin bukan sekedar masalah aliran sesat, tetapi
karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa
Majapahit non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan
Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki
Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang
bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar
Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha
beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam. Jadi antara Ki Ageng
Pengging dengan Raden Patah adalah masih terhitung hubungan seperti
keponakan dan paman,

Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan
Wali Sanga himpunan Wirjapanitra menceritakan asal-muasal Siti Jenar,
sulit menerimanya sebab seperti dongeng saja. Ini pernah difilmkan
dengan alm. Ratno Timoer sebagai Siti Jenar. Dikatakan bahwa saat Sunan
Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu
yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut,
ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan
Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat
derajatnya sebagai Wali. 

Banyak sekali versi cerita tentang asal-muasal Siti Jenar ini. Ada yang
menulis bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang ikut mendengar saat
Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan Kalijaga di atas perahu di
tengah rawa. Ada buku yang menulis bahwa Siti Jenar adalah murid Sunan
Giri yang sangat sakti yang lari dari perguruan Sunan Bonang sebab
pendapatnya tentang ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui
Sunan Bonang. Sulendraningrat - Sejarah Cirebon (1985) menjelaskan bahwa
Siti Jenar berasal dari Bagdad beraliran Syi'ah di Pengging Jawa Tengah
dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan
masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia
dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Agung Cirebon.  Cerita di atas
lain lagi, bahwa Siti Jenar dibawa ke Demak dan dihukum mati di Masjid
Agung Demak.

Dalam hubungan dengan Majapahit, Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah
cucu Raja Brawijaya V/Kertabumi yang bertahta tahun 1468-1478 M. Ki
Ageng Pengging adalah pembangkang kerajaan Demak, berarti Guru dan murid
menentang Demak sebab Siti Jenar, guru Ki Ageng Pengging membangkang
para Wali Songo yang menyokong Demak. Tahun 1581 M, putra Ki Ageng
Pengging yaitu Mas Karebet (Joko Tingkir) menjadi Raja menggantikan
Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari
Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan
Hadiwijoyo Pajang I. 

Ki Ageng Pengging yang membangkang terhadap Demak cocok dengan sang
guru, Siti Jenar, yang juga membangkang terhadap Demak. Dengan sisa-sisa
pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama
Hindu-Budha yang mungkin secara diam-diam Ki Ageng Pengging hendak
mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha
Majapahit. Perlawanan Siti Jenar juga bisa ditafsirkan sebagai
perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh
dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat
berpengaruh. Politik dan agama bercampur baur. Dalam sejarah di mana pun
di muka Bumi kita biasa menemuinya, agama dipakai sebagai alat kekuasaan
atau alat legitimasi untuk memusnahkan. Apa boleh buat, sejarah
selanjutnya menunjukkan bahwa raja-raja Islam di Mataram Islam
(Yogyakarta-Solo)- Sultan Agung dan seterusnya adalah justru keturunan
Ki Ageng Pengging, bukannya keturunan Raden Patah. 

Menarik mengkaji filsafat Siti Jenar dari buku Bratakesawa (1954 -
Falsafah Siti Jenar) atau Romo Zoetmulder (1935, Pantheisme en Monisme
in de Java) dan Manunggaling Kawula-Gusti (Zoetmulder, 1965). Menarik,
tetapi bersiaplah dengan goncangan pemikiran yang kontroversial dari
pemikiran sehari-hari. Barangkali kapan-kapan bisa kita diskusikan.

Salam,
awang
(pak Sugeng, Jabung banyak membawa sukses, tentu kontribusi pak Sugeng
sebagai wellsite geologist "abadi" selalu besar !)

-----Original Message-----
From: Sugeng Hartono [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, August 31, 2007 2:55 C++
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Sirna Ilang Krtaning Bhumi = Guntur
Pawatugunung =Akhir Majapahit oleh Bencana Geologi ?

Pak Awang,

Uraiannya sangat bagus; saya tidak menduga kalau kalau Pak Awang juga
paham
"sirno ilang kertaning bhumi" (suryasengkala keruntuhan Majapahit) yang
begitu populer di kalangan pini-sepuh di daerah saya (Jateng). Yang
pernah
saya ketahui, bahwa sirno = musnah alias nol, ilang juga sirna,
sedangkan
bhumi melambangkan angka satu sehingga "sirno ilang kertaning bhumi"
diartikan tahun Caka 1400, tahun keruntuhan Majapahit Raya.

Ya, Prof. Samporno ITB pernah menulis makalah bahwa keruntuhan Majapahit
mungkin sekali karena bencana alam (mengacu buku babad Guntur
Watugunung;
mungkin mirip dengan hilangnya kerjaan-2 Hindu di sekitar Merapi yha?
Kalau
diadakan penelitian fisik di lapangan (sekitar Trowulan) secara bersama
antara geologist dan antropolog pasti hasilnya sangat menarik. Pak Awang
kok
yha ingat KOmpas edisi 2-5-83?
Namun, di daerah saya masih ada kepercayaan bahwa keruntuhan Majapahit
karena gempuran kerajaan Demak (kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa)
walaupun Raden Patah itu sebenarnya juga putra Majapahit. Konon (ini
hanya
cerita) Raden Patah itu "berani melawan orang tua" sehingga, raja-2
penerus
Dinasti Demak tidak ada yang keturunan langsung dari Raden Patah.
Setelah
Demak surut, mucullah kerajaan baru: Pajang (yang berseteru dengan Arya
Penangsang dari Kadipaten Jipang...bukan yang dari Star Energy lho)
dengan
rajanya Sultan Hadiwijaya (Mas Karebet alias Joko Tingkir) yang tak lain
dan
tak bukan adalah hanya cucu-menantu saja.

Setelah kerajaan runtuh, para pangeran-2 Majapahit meninggalkan istana,
mengembara ke berbagai daerah (Jateng bagian selatan), menjadi rakyat
biasa.
Mereka rela melepaskan semua gelar kebangsawanannya dengan syarat tidak
tunduk Demak dan tidak dipaksa masuk agama baru. Mereka tetap
berkeinginan
agar keturunan Majapahit kembali memegang kekuasaan (menjadi raja). Maka
mas
Karebet, putra Ki Ageng Pengging (20 km di sebelah barat Solo) yang
masih
trah Majapahit, diatur sedemikian rupa supaya bisa masuk menjadi Tamtama
di
istana Demak. Mungkin ada pendapat bahwa pemuda ini harus "dekat dengan
pusat kekuasaan". Sejarah Ki Ageng Pengging (yang makamnya masih sering
untuk ziarah, sejuk, banyak pepohonan dengan mata air dari Merapi)
sangat
erat dengan tokoh sufi yang legendaris dan konroversial Syeh Siti Jenar
(kapan Pak Awang mengulas tokoh ini?).

Cerita makam, di daerah sekitar saya ada beberapa makam (keramat atau
dikeramatkan, yang dulu hanya sederhana, sekarang sudah lebih bagus dan
mewah) yang diyakini sebagai makam (petilasan) para pengeran Majapahit
yang
sudah menjadi rakyat jelata tadi. Makam-2 ini mempunyai keistimewaan
bermacam-macam: ada yang dapat dimintai untuk mencari kekayaan
(pesugihan),
kenaikan pangkat (rasanya kita tidak perlu ke sana, lha Pak Awang kan
pangkatnya sudah cukup, sedangkan saya sudah pensiun-he-he), gampang
jodoh,
perdamaian orang berperkara, dan bahkan ada yang dimintai bantuan kalau
menjelang pemilihan lurah (kepala desa).
Saya agak lupa bagaimana bukunya Prof.Slamet Mulyana mengulas Majapahit.
Namun buku-2 Prof De Graaf sangat bagus. Saya mengoleksi: Masa Kejayaan
Mataram dan Runtuhnya Kerajaan Mataram. Saya tidak dapat membayangkan
bagaimana Sultan Agung "menyandra" pelaut-2 Belanda untuk bercerita
pengalamannya, menggambar Peta Dunia. Kelihatannya Sultan Agung sangat
haus
pengetahuan. Di situ juga diceritakan bagaimana tawanan Belanda yang
dihukum
mati lalu dilemparkan ke kandang buaya piaraannya. Anehnya binatang yang
mengerikan itu tidak mau menyentuhnya, maka almarhum terus dinyatakan
tidak
bersalah ("not gulity"), lalu dimakamkan.
Dalam buku Runtuhnya Kerajaan Mataram lebih bnyak cerita yang memilukan
(ingat kelaliman Amangkurat). Betapa kuasanya seorang raja pada waktu
itu.
Buku-2 De Graaf ini sudah ditulis sebagai trilogi novel sejarah oleh
Romo
Mangunwijaya (Roro Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri) dengan bahasa
"gaul" yang jenaka tetapi tetap memikat (ketika saya baca novel ini di
rig,
kawan yang tidur di dipan di atas saya suka terbangun karena dipannya
tergoncang...alur ceritanya dibuat sangat lucu).

Tokoh Joko Tingkir juga sangat pupuler di daerah saya. Walaupun hanya
prajurit krocuk, tetapi karena memang ada darah Majapahit, dia memang
berbeda dengan parajurit lainnya. Tidak heran kalau Bunga Istana Demak
(Sekar Pembayun?) dapat kesengsem sama dia. Hampir setiap malam Minggu
si
prajurit ini suka "apel" dan mereka berduaan di taman sampai larut
malam.
Dalam istana sudah biasa banyak gunjingan. Cerita ini pun sampai ke
telinga
sang raja (Sultan Trenggana?). Sultan pun marah (mungkin tidak betulan)
dan
ingin membuktikannya. Pada suatu malam, Sultan dengan memakai kain hitam
penutup wajah masuk, mengendap ke taman, dimana dua sejoli sedang duduk
berduaan sambil berpegangan tangan. Dalam hati Sultan terkejut, kok
bisa-bisanya parjurit ini masuk keputren. Sultan lebih terkejut lagi
setelah
Karebet segera mendongakkan kepala pertanda dia tahu ada seseorang
hadir,
padahal Sultan sudah menerapkan ilmu kesaktiannya. Sebelum Sultan
bertindak,
Karebet sudah melompat menghadangnya sambil membentak-benta, sambil
menuduhnya sebagai pencuri (padahal beliau ini raja Demak!). Akhirnya
terjadilah perkelahian (duel) di keremangan malam. Sultan secara
bertahap
mengeluarkan semua ilmu-2 nya, namun semuanya dapat di-imbangi dengan
baik
oleh si Prajurit balok satu. Sampai-2 ilmu yang tidak lazim (ilmu
hitan?:
Belut Putih dan Rog-rog asem) dari Sultan juga dapat dilayani Karebet.
Sang Sultan sudah tidak sabar lagi, segera membuka kedoknya. Sang Putri
segera ambruk, menangis, merangkul kaki Ayahhanda, sementara Karebet
segera
duduk memohon ampun. Sang Putri segera dibawa masuk istana, si parjurit
segera digelandang masuk ruang tahanan. Belakangan, si prajurit ini
menjadi
penguasa Pajang yang menurunkan dinasti Mataram.

Alangkah bagusnya kalau geologist dan arkeolog bekerja-sama melakukan
penelitian.
Selamat menikmati akhir pekan.

Sugeng
Nb. Pak Awang, sumur West Betara-5 sangat bagus.




----- Original Message ----- 
From: "Awang Harun Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, August 30, 2007 4:07 PM
Subject: [iagi-net-l] Sirna Ilang Krtaning Bhumi = Guntur Pawatugunung
=Akhir Majapahit oleh Bencana Geologi ?


Suryasengkala "Sirna Ilang Krtaning Bhumi" alias angka tahun 1400 Caka
(1478 Masehi) menjadi terbuka untuk ditafsir ulang. Tahun 1400 Caka
dipakai oleh beberapa ahli sejarah sebagai akhir Majapahit berdasarkan
dua babad sejarah terkenal "Serat Kanda" dan "Babad Tanah Jawi" dan
catatan2 perjalanan bangsa-bangsa asing yang pernah mampir ke Jawa pada
saat itu. Memang, masih ada raja-raja Majapahit terakhir setelah 1478 M,
seperti raja Girindrawardhana (1478-1498 M) dan Brawijaya VIII
(1498-1518 M), sebelum Majapahit benar2 bubar pada tahun 1518 M. Tetapi,
dari tahun 1478 M sampai 1518 M, Majapahit adalah kerajaan bawahan Demak
yang saat itu lebih kuat. Tahun 1518 M kekuasaan di Jawa sudah
didominasi penguasa2 Islam seperti Raden Patah dan adipati Unus.



Manurut buku de Graaf (1949) - Geschiedenis van Indonesie (Sejarah
Indonesia) - buku ini senilai seperti buku Geology of Indonesia van
Bemmelen (1949) - runtuhnya Majapahit terjadi pada tahun 1400 Caka atau
1478 M  sesuai dengan catatan sejarah Jawa. Tahun 1400 Saka diperingati
dengan sengkalan berbunyi "Sirna Ilang Krtaning Bhumi" atau 0041 (1400)
dalam Serat Kanda. Apa arti kalimat ini ? Kita tak akan kesulitan
mengartikan sirna, ilang, dan bhumi; pasti artinya sirna, hilang, bumi.
Yang menarik adalah "krta". Pengecekan dari buku kamus Kawi-Indonesia
susunan Wojowasito (1980) adalah sbb. :



"krta" /kerta berasal dari bahasa Sanskerta, yang punya beberapa arti  :
1) sudah dikerjakan, sudah dilakukan selesai, habis, baik, aman dan
tentram, jasa. 2) dadu dengan empat buah mata. "Ilang" : hilang binasa.
"Ni/ning" : partikel genitif. "Bhumi" : bumi, tanah. Menurut kamus
linguistik Harimurti-Kridalaksana (2001) : partikel =  kata yang
biasanya tidak dapat diderivikasikan atau diinfleksikan, yang mengandung
makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal; sedangkan "genitif
partitif" =  penggunaan kasus genitif untuk menyatakan bagian dari
keseluruhan makna kata yang bersangkutan. Kasus genitif  adalah kasus
yang menandai makna 'milik' pada nomina atau yang sejenisnya.
Berdasarkan kamus Kawi-Indonesia susunan Purwadi (2003), "kerta" =
hasil, kemakmuran; kerta wadana : aman, sejahtera.



Maka, terbuka untuk menafsirkan "sirna ilang krtaning bhumi" sebagai :
(1) "sirna hilang sudah selesai pekerjaan bumi"  atau (2) "sirna hilang
kemakmuran bumi/di bumi". Makna yang banyak ditemukan di buku2 adalah
makna kedua. Makna no. 1 pengalimatannya tak semulus pengalimatan makna
kedua. Tetapi, kalau berkenaan dengan suatu bencana, maka makna no. 1
lebih tepat sebab "sirna hilang akibat pekerjaan bumi". Apa pekerjaan
bumi ? Ya bisa bencana sedimentasi, erupsi gunungapi, gempa, atau erupsi
gununglumpur.



Kita mungkin akan segera memilih makna no. 2 sebab lebih gampang
menerimanya, setelah Majapahit bubar, kemakmuran di bumi memang hilang
(dalam kacamata orang2 Majapahit). Tetapi, penjelasan yang mudah belum
tentu yang benar, dan penjelasan yang susah belum tentu yang salah.



Ada satu lagi penyerta "sirna ilang krtaning bhumi", yang kalah populer
dari sengkalan ini tetapi tercatat di suatu risalah kerajaan Majapahit
yang ditemukan belakangan. Risalah tersebut mencatat suatu peristiwa
"Guntur Pawatugunung". Peristiwa apa ini dan kapan terjadinya ? Ricklefs
(1999) - Ricklefs adalah ahli sejarah dari Australia yang banyak
meneliti sejarah Indonesia, bukunya "Sejarah Indonesia Moderen
1200-2004" sudah diterjemahkan oleh Serambi (2005), edisi pertamanya
oleh UGM - berdasarkan tulisan2 ahli sejarah Belanda C.C. Berg,
menyatakan bahwa peristiwa "Guntur Pawatugunung" terjadi pada tahun 1403
Saka (1481 M).



Apa makna "guntur pawatugunung" ? Banyak yang mengartikan, itu adalah
peristiwa yang mungkin sekali berkaitan dengan bencana letusan gunungapi
(C.C. Berg dalam Ricklefs, 1999) yang terjadi pada masa kemunduran
Majapahit. C.C Berg lebih lanjut menafsirkan bahwa Guntur Pawatugunung i
merupakan tanda alam tentang (akan) munculnya suatu kerajaan baru di
Jawa sebagai pengganti Majapahit (Kesultanan Demak). Berg meyakini bahwa
sejarah2 penting di Indonesia banyak ditandai dengan peristiwa2 alam.



Sekarang kita lihat tahun2 "sirna ilang krtaning bhumi" (1400 Caka) dan
"guntur pawatugunung" (1403 Caka), sangat berdekatan - hanya beda 3
tahun. Benar berbeda tiga tahun atau ada kesalahan pencatatan ? Dua2nya
mungkin. Ratusan tahun yang lalu kesalahan pencatatan waktu 3 tahun ya
wajar saja. Artinya, punya potensi bahwa "sirna ilang krtaning bhumi "
seperiode dengan "guntur pawatugunung". Kalau kita mengikuti makna ke-2
sirna ilang krtaning bhumi, maka dapat saja ditafsirkan bahwa Majapahit
mundur dan habis oleh bencana semacam erupsi (bisa gunungapi, bisa
gununglumpur ala LUSI). "sirna ilang krtaning bhumi" akibat "guntur
pawatugunung".



Alasan politik memang kuat mengakhiri Majapahit, tetapi bencana geologi
pun besar potensinya untuk mengakhiri Majapahit - ini berdasarkan kajian
geologi di mana dulu Majapahit berlokasi, dan peninggalan2 dalam catatan
sejarah.



Pentingnya faktor kebencanaan dalam akhir Majapahit beberapa kali pernah
dikemukakan oleh Prof. Sampurno dari ITB. Presentasi Pak Sampurno di PIT
IAGI 83 Yogya dijadikan berita di Kompas tanggal 2 Mei 1983, berjudul
"Hancurnya Majapahit Bukan Akibat Munculnya Sistem Nilai Baru, tetapi
Terlanda Bencana Alam" (oleh J. Purwanto). Dalam wawancara dengan
wartawan Pikiran Rakyat pada acara purna bakti Pak Sampurno tahun 2004,
Pak Sampurno menyatakan masih akan mengejar meneliti hal ini seusai
pensiun nanti. Saya tak punya proceedings PIT IAGI 1983, dan tak punya
artikel Kompas tahun 1983 untuk konfirmasi; tahu bahwa Pak Sampurno
pernah mengemukakan hal itu dari buku Daldjoeni (1984) - geografi
kesejarahan. Awal tahun 1980-an katanya ITB pernah melakukan studi
lapangan di sekitar situs Majapahit, yang akhirnya menuju ke hipotesis
bahwa Majapahit telah runtuh oleh bencana alam. Barangkali bapak2 dosen
ITB anggota milis ini bisa konfirmasi ke Pak Sampurno (Pak Yahdi Zaim,
Pak Eddy Subroto, Pak Andri Subandrio, dan bapak/ibu dosen ITB lainnya
?).



Soal ini sudah saya komunikasikan sejak beberapa bulan yang lalu melalui
ulasan2 sementara saya  di milis ini soal  Majapahit. Menarik mencoba
mengulasnya dengan pendekatan catatan2 sejarah, buku-buku lama, kajian
geologi wilayah Majapahit, bencana terkini ala LUSI, cerita
rakyat/folklore, dan kesimpulan2 dari hasil peneltian yang katanya
pernah dilakukan ITB awal 1980an.



Majapahit adalah suatu kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia.
Bagaimana ia berawal, bagaimana ia naik ke puncak dan bagaimana ia
berakhir sama-sama penting untuk dipelajari, siapa tahu kita bisa
menarik suatu pelajaran daripadanya.



salam,

awang













------------------------------------------------------------------------
----
Hot News!!!
EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION:
228 papers have been accepted to be presented;
send the extended-abstract or full paper
by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
------------------------------------------------------------------------
----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION:
228 papers have been accepted to be presented;
send the extended-abstract or full paper
by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke