Pak Sugeng, terima kasih atas komentar dan cerita percintaan Joko Tingkir dengan Sekar Pembayun yang romantis, saya seperti sedang membaca kisah2 percintaan roman silat Kho Ping Hoo atau S.H. Mintardja he2... Kalau ada yang punya babad Guntur Pawatugunung, saya senang untuk mengkajinya kembali dalam hal akhir Majapahit ini.
Saya baru minggu lalu membaca buku2 tentang Syekh Siti Jenar (Seh Lemahbang/ Hasan Ali Ansar/Sidi Jinnar) yang kontroversial itu. Tentu saya tak akan tiba2 mengulasnya di milis IAGI ini kalau tidak ada unsur geologinya, bisa saja sih saya sebut OOT -out of topic seperti saat saya mengulas tentang Pramudya Toer (Dua minggu lalu, Lentera Dwipantara, sebuah penerbit menggelar buku2 Pramudya Ananta Toer di Bogor bersama Gramedia dan groupnya). Tetralogi buru Pramudya yang sungguh tebal itu lengkap di situ. Lentera Dwipantara adalah penerbit yang khusus menerbitkan kembali buku2 Pramudya. Kabarnya, mereka akan menerbitkan buku2 Pramudya yang selama ini belum terbit. Nah... Pertarungan Syekh Siti Jenar dan para Wali (Wali Sanga) memang erat berkaitan dengan transisi Majapahit yang Hindu dan Demak yang Islam. Keberadaan Syekh Siti Jenar apakah benar pernah ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik juga menjadi perdebatan antara yang pro dan kontra. Ajaran Syekh Siti Jenar meskipun kontroversial sangat populer di kalangan Islam Jawa. Pandangan Syekh Siti Jenar bahwa alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana dia adalah manusia dan sekaligus Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti), sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali. Ajaran Siti Jenar dinilai sangat menyimpang, membuat orang banyak bunuh diri (agar bisa segera memulai kehidupan) - walaupun menurut cerita Siti Jenar melarang murid2nya bunuh diri sebab itu dosa, maksud Siti Jenar adalah jangan takut mati sebab mati adalah awal kehidupan. Mendapat legitimasi dari Kerajaan Demak, para Wali mendatangi perguruan Siti Jenar di selatan Demak (ada buku yang menaruh perguruannya di Krendhasawa, utara Boyolali sekarang, di tepi Kali Serang), membawanya untuk menghukum mati Siti Jenar di Demak. "Tak perlu bertempur melawan aku sebab aku bisa mengalahkan kesembilan wali dengan ilmu kedigjayaanku, kematian adalah tujuanku, nanti ketika aku mati, akan keluar sinar gemilang dan bau harum ribuan bunga ciri bahwa ajaranku benar", begitu kira2 kata2 Siti Jenar sebelum menyerahkan diri kepada para Wali. Di Demak, ia dihukum mati, ada buku yang menuturkan dipenggal, atau dibakar. Para Wali kaget luar biasa ketika kata2 Siti Jenar benar2 terjadi, dari tubuhnya keluar sinar dan harum bunga. Diceritakan, seorang Wali segera mengganti mayat Siti Jenar malam itu dengan bangkai anjing kudisan dan mengumumkan kepada masyarakat bahwa lihatlah ajal seorang penganut aliran sesat ia senajis anjing kudisan. Kematian Siti Jenar mungkin bukan sekedar masalah aliran sesat, tetapi karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam. Jadi antara Ki Ageng Pengging dengan Raden Patah adalah masih terhitung hubungan seperti keponakan dan paman, Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra menceritakan asal-muasal Siti Jenar, sulit menerimanya sebab seperti dongeng saja. Ini pernah difilmkan dengan alm. Ratno Timoer sebagai Siti Jenar. Dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali. Banyak sekali versi cerita tentang asal-muasal Siti Jenar ini. Ada yang menulis bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang ikut mendengar saat Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan Kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Ada buku yang menulis bahwa Siti Jenar adalah murid Sunan Giri yang sangat sakti yang lari dari perguruan Sunan Bonang sebab pendapatnya tentang ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan Bonang. Sulendraningrat - Sejarah Cirebon (1985) menjelaskan bahwa Siti Jenar berasal dari Bagdad beraliran Syi'ah di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Agung Cirebon. Cerita di atas lain lagi, bahwa Siti Jenar dibawa ke Demak dan dihukum mati di Masjid Agung Demak. Dalam hubungan dengan Majapahit, Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V/Kertabumi yang bertahta tahun 1468-1478 M. Ki Ageng Pengging adalah pembangkang kerajaan Demak, berarti Guru dan murid menentang Demak sebab Siti Jenar, guru Ki Ageng Pengging membangkang para Wali Songo yang menyokong Demak. Tahun 1581 M, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet (Joko Tingkir) menjadi Raja menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo Pajang I. Ki Ageng Pengging yang membangkang terhadap Demak cocok dengan sang guru, Siti Jenar, yang juga membangkang terhadap Demak. Dengan sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama Hindu-Budha yang mungkin secara diam-diam Ki Ageng Pengging hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha Majapahit. Perlawanan Siti Jenar juga bisa ditafsirkan sebagai perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Politik dan agama bercampur baur. Dalam sejarah di mana pun di muka Bumi kita biasa menemuinya, agama dipakai sebagai alat kekuasaan atau alat legitimasi untuk memusnahkan. Apa boleh buat, sejarah selanjutnya menunjukkan bahwa raja-raja Islam di Mataram Islam (Yogyakarta-Solo)- Sultan Agung dan seterusnya adalah justru keturunan Ki Ageng Pengging, bukannya keturunan Raden Patah. Menarik mengkaji filsafat Siti Jenar dari buku Bratakesawa (1954 - Falsafah Siti Jenar) atau Romo Zoetmulder (1935, Pantheisme en Monisme in de Java) dan Manunggaling Kawula-Gusti (Zoetmulder, 1965). Menarik, tetapi bersiaplah dengan goncangan pemikiran yang kontroversial dari pemikiran sehari-hari. Barangkali kapan-kapan bisa kita diskusikan. Salam, awang (pak Sugeng, Jabung banyak membawa sukses, tentu kontribusi pak Sugeng sebagai wellsite geologist "abadi" selalu besar !) -----Original Message----- From: Sugeng Hartono [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, August 31, 2007 2:55 C++ To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Sirna Ilang Krtaning Bhumi = Guntur Pawatugunung =Akhir Majapahit oleh Bencana Geologi ? Pak Awang, Uraiannya sangat bagus; saya tidak menduga kalau kalau Pak Awang juga paham "sirno ilang kertaning bhumi" (suryasengkala keruntuhan Majapahit) yang begitu populer di kalangan pini-sepuh di daerah saya (Jateng). Yang pernah saya ketahui, bahwa sirno = musnah alias nol, ilang juga sirna, sedangkan bhumi melambangkan angka satu sehingga "sirno ilang kertaning bhumi" diartikan tahun Caka 1400, tahun keruntuhan Majapahit Raya. Ya, Prof. Samporno ITB pernah menulis makalah bahwa keruntuhan Majapahit mungkin sekali karena bencana alam (mengacu buku babad Guntur Watugunung; mungkin mirip dengan hilangnya kerjaan-2 Hindu di sekitar Merapi yha? Kalau diadakan penelitian fisik di lapangan (sekitar Trowulan) secara bersama antara geologist dan antropolog pasti hasilnya sangat menarik. Pak Awang kok yha ingat KOmpas edisi 2-5-83? Namun, di daerah saya masih ada kepercayaan bahwa keruntuhan Majapahit karena gempuran kerajaan Demak (kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa) walaupun Raden Patah itu sebenarnya juga putra Majapahit. Konon (ini hanya cerita) Raden Patah itu "berani melawan orang tua" sehingga, raja-2 penerus Dinasti Demak tidak ada yang keturunan langsung dari Raden Patah. Setelah Demak surut, mucullah kerajaan baru: Pajang (yang berseteru dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang...bukan yang dari Star Energy lho) dengan rajanya Sultan Hadiwijaya (Mas Karebet alias Joko Tingkir) yang tak lain dan tak bukan adalah hanya cucu-menantu saja. Setelah kerajaan runtuh, para pangeran-2 Majapahit meninggalkan istana, mengembara ke berbagai daerah (Jateng bagian selatan), menjadi rakyat biasa. Mereka rela melepaskan semua gelar kebangsawanannya dengan syarat tidak tunduk Demak dan tidak dipaksa masuk agama baru. Mereka tetap berkeinginan agar keturunan Majapahit kembali memegang kekuasaan (menjadi raja). Maka mas Karebet, putra Ki Ageng Pengging (20 km di sebelah barat Solo) yang masih trah Majapahit, diatur sedemikian rupa supaya bisa masuk menjadi Tamtama di istana Demak. Mungkin ada pendapat bahwa pemuda ini harus "dekat dengan pusat kekuasaan". Sejarah Ki Ageng Pengging (yang makamnya masih sering untuk ziarah, sejuk, banyak pepohonan dengan mata air dari Merapi) sangat erat dengan tokoh sufi yang legendaris dan konroversial Syeh Siti Jenar (kapan Pak Awang mengulas tokoh ini?). Cerita makam, di daerah sekitar saya ada beberapa makam (keramat atau dikeramatkan, yang dulu hanya sederhana, sekarang sudah lebih bagus dan mewah) yang diyakini sebagai makam (petilasan) para pengeran Majapahit yang sudah menjadi rakyat jelata tadi. Makam-2 ini mempunyai keistimewaan bermacam-macam: ada yang dapat dimintai untuk mencari kekayaan (pesugihan), kenaikan pangkat (rasanya kita tidak perlu ke sana, lha Pak Awang kan pangkatnya sudah cukup, sedangkan saya sudah pensiun-he-he), gampang jodoh, perdamaian orang berperkara, dan bahkan ada yang dimintai bantuan kalau menjelang pemilihan lurah (kepala desa). Saya agak lupa bagaimana bukunya Prof.Slamet Mulyana mengulas Majapahit. Namun buku-2 Prof De Graaf sangat bagus. Saya mengoleksi: Masa Kejayaan Mataram dan Runtuhnya Kerajaan Mataram. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana Sultan Agung "menyandra" pelaut-2 Belanda untuk bercerita pengalamannya, menggambar Peta Dunia. Kelihatannya Sultan Agung sangat haus pengetahuan. Di situ juga diceritakan bagaimana tawanan Belanda yang dihukum mati lalu dilemparkan ke kandang buaya piaraannya. Anehnya binatang yang mengerikan itu tidak mau menyentuhnya, maka almarhum terus dinyatakan tidak bersalah ("not gulity"), lalu dimakamkan. Dalam buku Runtuhnya Kerajaan Mataram lebih bnyak cerita yang memilukan (ingat kelaliman Amangkurat). Betapa kuasanya seorang raja pada waktu itu. Buku-2 De Graaf ini sudah ditulis sebagai trilogi novel sejarah oleh Romo Mangunwijaya (Roro Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri) dengan bahasa "gaul" yang jenaka tetapi tetap memikat (ketika saya baca novel ini di rig, kawan yang tidur di dipan di atas saya suka terbangun karena dipannya tergoncang...alur ceritanya dibuat sangat lucu). Tokoh Joko Tingkir juga sangat pupuler di daerah saya. Walaupun hanya prajurit krocuk, tetapi karena memang ada darah Majapahit, dia memang berbeda dengan parajurit lainnya. Tidak heran kalau Bunga Istana Demak (Sekar Pembayun?) dapat kesengsem sama dia. Hampir setiap malam Minggu si prajurit ini suka "apel" dan mereka berduaan di taman sampai larut malam. Dalam istana sudah biasa banyak gunjingan. Cerita ini pun sampai ke telinga sang raja (Sultan Trenggana?). Sultan pun marah (mungkin tidak betulan) dan ingin membuktikannya. Pada suatu malam, Sultan dengan memakai kain hitam penutup wajah masuk, mengendap ke taman, dimana dua sejoli sedang duduk berduaan sambil berpegangan tangan. Dalam hati Sultan terkejut, kok bisa-bisanya parjurit ini masuk keputren. Sultan lebih terkejut lagi setelah Karebet segera mendongakkan kepala pertanda dia tahu ada seseorang hadir, padahal Sultan sudah menerapkan ilmu kesaktiannya. Sebelum Sultan bertindak, Karebet sudah melompat menghadangnya sambil membentak-benta, sambil menuduhnya sebagai pencuri (padahal beliau ini raja Demak!). Akhirnya terjadilah perkelahian (duel) di keremangan malam. Sultan secara bertahap mengeluarkan semua ilmu-2 nya, namun semuanya dapat di-imbangi dengan baik oleh si Prajurit balok satu. Sampai-2 ilmu yang tidak lazim (ilmu hitan?: Belut Putih dan Rog-rog asem) dari Sultan juga dapat dilayani Karebet. Sang Sultan sudah tidak sabar lagi, segera membuka kedoknya. Sang Putri segera ambruk, menangis, merangkul kaki Ayahhanda, sementara Karebet segera duduk memohon ampun. Sang Putri segera dibawa masuk istana, si parjurit segera digelandang masuk ruang tahanan. Belakangan, si prajurit ini menjadi penguasa Pajang yang menurunkan dinasti Mataram. Alangkah bagusnya kalau geologist dan arkeolog bekerja-sama melakukan penelitian. Selamat menikmati akhir pekan. Sugeng Nb. Pak Awang, sumur West Betara-5 sangat bagus. ----- Original Message ----- From: "Awang Harun Satyana" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Thursday, August 30, 2007 4:07 PM Subject: [iagi-net-l] Sirna Ilang Krtaning Bhumi = Guntur Pawatugunung =Akhir Majapahit oleh Bencana Geologi ? Suryasengkala "Sirna Ilang Krtaning Bhumi" alias angka tahun 1400 Caka (1478 Masehi) menjadi terbuka untuk ditafsir ulang. Tahun 1400 Caka dipakai oleh beberapa ahli sejarah sebagai akhir Majapahit berdasarkan dua babad sejarah terkenal "Serat Kanda" dan "Babad Tanah Jawi" dan catatan2 perjalanan bangsa-bangsa asing yang pernah mampir ke Jawa pada saat itu. Memang, masih ada raja-raja Majapahit terakhir setelah 1478 M, seperti raja Girindrawardhana (1478-1498 M) dan Brawijaya VIII (1498-1518 M), sebelum Majapahit benar2 bubar pada tahun 1518 M. Tetapi, dari tahun 1478 M sampai 1518 M, Majapahit adalah kerajaan bawahan Demak yang saat itu lebih kuat. Tahun 1518 M kekuasaan di Jawa sudah didominasi penguasa2 Islam seperti Raden Patah dan adipati Unus. Manurut buku de Graaf (1949) - Geschiedenis van Indonesie (Sejarah Indonesia) - buku ini senilai seperti buku Geology of Indonesia van Bemmelen (1949) - runtuhnya Majapahit terjadi pada tahun 1400 Caka atau 1478 M sesuai dengan catatan sejarah Jawa. Tahun 1400 Saka diperingati dengan sengkalan berbunyi "Sirna Ilang Krtaning Bhumi" atau 0041 (1400) dalam Serat Kanda. Apa arti kalimat ini ? Kita tak akan kesulitan mengartikan sirna, ilang, dan bhumi; pasti artinya sirna, hilang, bumi. Yang menarik adalah "krta". Pengecekan dari buku kamus Kawi-Indonesia susunan Wojowasito (1980) adalah sbb. : "krta" /kerta berasal dari bahasa Sanskerta, yang punya beberapa arti : 1) sudah dikerjakan, sudah dilakukan selesai, habis, baik, aman dan tentram, jasa. 2) dadu dengan empat buah mata. "Ilang" : hilang binasa. "Ni/ning" : partikel genitif. "Bhumi" : bumi, tanah. Menurut kamus linguistik Harimurti-Kridalaksana (2001) : partikel = kata yang biasanya tidak dapat diderivikasikan atau diinfleksikan, yang mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal; sedangkan "genitif partitif" = penggunaan kasus genitif untuk menyatakan bagian dari keseluruhan makna kata yang bersangkutan. Kasus genitif adalah kasus yang menandai makna 'milik' pada nomina atau yang sejenisnya. Berdasarkan kamus Kawi-Indonesia susunan Purwadi (2003), "kerta" = hasil, kemakmuran; kerta wadana : aman, sejahtera. Maka, terbuka untuk menafsirkan "sirna ilang krtaning bhumi" sebagai : (1) "sirna hilang sudah selesai pekerjaan bumi" atau (2) "sirna hilang kemakmuran bumi/di bumi". Makna yang banyak ditemukan di buku2 adalah makna kedua. Makna no. 1 pengalimatannya tak semulus pengalimatan makna kedua. Tetapi, kalau berkenaan dengan suatu bencana, maka makna no. 1 lebih tepat sebab "sirna hilang akibat pekerjaan bumi". Apa pekerjaan bumi ? Ya bisa bencana sedimentasi, erupsi gunungapi, gempa, atau erupsi gununglumpur. Kita mungkin akan segera memilih makna no. 2 sebab lebih gampang menerimanya, setelah Majapahit bubar, kemakmuran di bumi memang hilang (dalam kacamata orang2 Majapahit). Tetapi, penjelasan yang mudah belum tentu yang benar, dan penjelasan yang susah belum tentu yang salah. Ada satu lagi penyerta "sirna ilang krtaning bhumi", yang kalah populer dari sengkalan ini tetapi tercatat di suatu risalah kerajaan Majapahit yang ditemukan belakangan. Risalah tersebut mencatat suatu peristiwa "Guntur Pawatugunung". Peristiwa apa ini dan kapan terjadinya ? Ricklefs (1999) - Ricklefs adalah ahli sejarah dari Australia yang banyak meneliti sejarah Indonesia, bukunya "Sejarah Indonesia Moderen 1200-2004" sudah diterjemahkan oleh Serambi (2005), edisi pertamanya oleh UGM - berdasarkan tulisan2 ahli sejarah Belanda C.C. Berg, menyatakan bahwa peristiwa "Guntur Pawatugunung" terjadi pada tahun 1403 Saka (1481 M). Apa makna "guntur pawatugunung" ? Banyak yang mengartikan, itu adalah peristiwa yang mungkin sekali berkaitan dengan bencana letusan gunungapi (C.C. Berg dalam Ricklefs, 1999) yang terjadi pada masa kemunduran Majapahit. C.C Berg lebih lanjut menafsirkan bahwa Guntur Pawatugunung i merupakan tanda alam tentang (akan) munculnya suatu kerajaan baru di Jawa sebagai pengganti Majapahit (Kesultanan Demak). Berg meyakini bahwa sejarah2 penting di Indonesia banyak ditandai dengan peristiwa2 alam. Sekarang kita lihat tahun2 "sirna ilang krtaning bhumi" (1400 Caka) dan "guntur pawatugunung" (1403 Caka), sangat berdekatan - hanya beda 3 tahun. Benar berbeda tiga tahun atau ada kesalahan pencatatan ? Dua2nya mungkin. Ratusan tahun yang lalu kesalahan pencatatan waktu 3 tahun ya wajar saja. Artinya, punya potensi bahwa "sirna ilang krtaning bhumi " seperiode dengan "guntur pawatugunung". Kalau kita mengikuti makna ke-2 sirna ilang krtaning bhumi, maka dapat saja ditafsirkan bahwa Majapahit mundur dan habis oleh bencana semacam erupsi (bisa gunungapi, bisa gununglumpur ala LUSI). "sirna ilang krtaning bhumi" akibat "guntur pawatugunung". Alasan politik memang kuat mengakhiri Majapahit, tetapi bencana geologi pun besar potensinya untuk mengakhiri Majapahit - ini berdasarkan kajian geologi di mana dulu Majapahit berlokasi, dan peninggalan2 dalam catatan sejarah. Pentingnya faktor kebencanaan dalam akhir Majapahit beberapa kali pernah dikemukakan oleh Prof. Sampurno dari ITB. Presentasi Pak Sampurno di PIT IAGI 83 Yogya dijadikan berita di Kompas tanggal 2 Mei 1983, berjudul "Hancurnya Majapahit Bukan Akibat Munculnya Sistem Nilai Baru, tetapi Terlanda Bencana Alam" (oleh J. Purwanto). Dalam wawancara dengan wartawan Pikiran Rakyat pada acara purna bakti Pak Sampurno tahun 2004, Pak Sampurno menyatakan masih akan mengejar meneliti hal ini seusai pensiun nanti. Saya tak punya proceedings PIT IAGI 1983, dan tak punya artikel Kompas tahun 1983 untuk konfirmasi; tahu bahwa Pak Sampurno pernah mengemukakan hal itu dari buku Daldjoeni (1984) - geografi kesejarahan. Awal tahun 1980-an katanya ITB pernah melakukan studi lapangan di sekitar situs Majapahit, yang akhirnya menuju ke hipotesis bahwa Majapahit telah runtuh oleh bencana alam. Barangkali bapak2 dosen ITB anggota milis ini bisa konfirmasi ke Pak Sampurno (Pak Yahdi Zaim, Pak Eddy Subroto, Pak Andri Subandrio, dan bapak/ibu dosen ITB lainnya ?). Soal ini sudah saya komunikasikan sejak beberapa bulan yang lalu melalui ulasan2 sementara saya di milis ini soal Majapahit. Menarik mencoba mengulasnya dengan pendekatan catatan2 sejarah, buku-buku lama, kajian geologi wilayah Majapahit, bencana terkini ala LUSI, cerita rakyat/folklore, dan kesimpulan2 dari hasil peneltian yang katanya pernah dilakukan ITB awal 1980an. Majapahit adalah suatu kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia. Bagaimana ia berawal, bagaimana ia naik ke puncak dan bagaimana ia berakhir sama-sama penting untuk dipelajari, siapa tahu kita bisa menarik suatu pelajaran daripadanya. salam, awang ------------------------------------------------------------------------ ---- Hot News!!! EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION: 228 papers have been accepted to be presented; send the extended-abstract or full paper by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ------------------------------------------------------------------------ ---- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION: 228 papers have been accepted to be presented; send the extended-abstract or full paper by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

