---------------------------- Original Message ----------------------------

Subject: [yonsatu] Jangan Berbuka dengan yang Manis 
From:
"doedoeng z. arifin" <[EMAIL PROTECTED]> 
Date:
Thu, September 13, 2007 5:45 pm 
To: [EMAIL PROTECTED] 
--------------------------------------------------------------------------

Rekan rekan 

Ada pendapat yng agak
"berbeda" mengenai bagaimana sebaiknya kita beruka puasa
,sebagai bahan pemikiran .
Apa benar kurma yan dujual di Indonesia
itu manisan kurma , yang prosesnya kira kira sama  dengan
manisan2  lainnya di Indonesia ?

Si-Abah

+_____________________________________________________________________


Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis 
Posted by Herry
@ 00:44 | in Artikel, Sains | e-mail this 
article | + to del.icio.us


Oleh Herry Mardian 


SEBENTAR lagi Ramadhan.
Di bulan puasa itu, sering kita dengar 
kalimat &lsquo;Berbuka
puasalah dengan makanan atau minuman yang 
manis,&rsquo; katanya.
Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. 
Benarkah demikian?Dari Anas
bin Malik ia berkata : &ldquo;Adalah Rasulullah berbuka 
dengan Rutab
(kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak 
terdapat Rutab, maka
beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), 
maka jika tidak ada kurma
kering beliau meneguk air. (Hadits 
riwayat Ahmad dan Abu Dawud)Nabi
Muhammad Saw berkata : &ldquo;Apabila berbuka salah satu kamu, 
maka
hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak 
memperolehnya,
maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya 
air itu
suci.&rdquo;Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat 
kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan 
&lsquo;yang manis-manis&rsquo;? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat
kompleks 
(complex carbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat
dalam 
makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi

sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana 
(simple carbohydrate). 
Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka
dengan yang manis? 
Tidak jelas. Malah berkembang jadi waham umum di
masyarakat, 
seakan-akan berbuka puasa dengan makanan atau minuman
yang 
manis adalah &rsquo;sunnah Nabi&rsquo;. Sebenarnya tidak
demikian. Bahkan 
sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis
yang penuh 
dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak
kesehatan.Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa

&lsquo;disunnahkan&rsquo; minum atau makan yang manis-manis.
Sependek 
ingatan saya, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan
kurma 
atau air putih, bukan yang manis-manis.Kurma, dalam kondisi
asli, justru tidak terlalu manis. Kurma 
segar merupakan buah yang
bernutrisi sangat tinggi tapi 
berkalori rendah, sehingga tidak
menggemukkan (data di sini dan 
di sini). Tapi kurma yang didatangkan
ke Indonesia dalam 
kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa
&lsquo;manisan kurma&rsquo;, 
bukan lagi kurma segar. Manisan kurma
ini justru ditambah 
kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar
awet dalam 
perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma
impor 
yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat

mungkin harganya menjadi sangat mahal.Kenapa berbuka puasa dengan
yang manis justru merusak kesehatan? 
Ketika berpuasa, kadar gula
darah kita menurun. Kurma, 
sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah,
adalah karbohidrat 
kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana).
Karbohidrat 
kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses
sehingga makan 
waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis,
kadar gula 
darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak
sehat. 
Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya 
pelan-pelan.Mari kita bicara &lsquo;indeks glikemik&rsquo; (glycemic
index/GI) saja. 
Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan
diubah 
menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam

makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan 
demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons insulin.Para
praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan 
sangat
menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang 
tinggi.
Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks 
glikemiknya
rendah. Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin 
tubuh, maka
tubuh makin menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh 
adalah yang
paling dihindari mereka.Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu
langsung dibanjiri 
dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi
indeks 
glikemiknya) , sehingga respon insulin dalam tubuh langsung

melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon 
untuk menimbun lemak.Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang
sufi yang 
diberi Allah &lsquo;ilm tentang urusan kesehatan jasad
manusia. Kata 
Beliau, bila berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu.
Minum 
air putih segelas, lalu sholat maghrib. Setelah shalat, makan

nasi seperti biasa. Jangan pernah makan yang manis-manis, 
karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau. 
Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di 
Indonesia adalah &lsquo;manisan kurma&rsquo;, bukan kurma asli. Manisan

kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.Kenapa
nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu 
untuk
diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh 
juga tidak
melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka 
kecenderungan
tubuh untuk menabung lemak juga rendah.Inilah sebabnya, banyak sekali
orang di bulan puasa yang justru 
lemaknya bertambah di daerah-daerah
penimbunan lemak: perut, 
pinggang, bokong, paha, belakang lengan,
pipi, dan sebagainya. 
Itu karena langsung membanjiri tubuh dengan
insulin, melalui 
makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun
lemak, padahal 
otot sedang mengecil karena puasa.Pantas saja kalau
badan kita di bulan Ramadhan malah makin 
terlihat seperti
&lsquo;buah pir&rsquo;, penuh lemak di daerah pinggang. 
Karena waham
umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan 
yang manis-manis
adalah &rsquo;sunnah&rsquo;, maka puasa bukannya malah 
menyehatkan
kita. Banyak orang di bulan puasa justru menjadi 
lemas, mengantuk,
atau justru tambah gemuk karena kebanyakan 
gula. Karena salah
memahami hadits di atas, maka efeknya &lsquo;rajin 
puasa = rajin
berbuka dengan gula.&rsquo;Ingin &lsquo;Kurus&rsquo; 
Melenceng dikit
dari topik blog ya. Dikit aja. Itung-itung bonus. 
Untuk
sahabat-sahabat yang ingin kurus: jangan diet (dalam 
pengertian
mengurangi frekuensi makan). Diet justru menambah 
kecenderungan
tubuh untuk menabung lemak karena &lsquo;dilaparkan&rsquo;. 
Ketika
diet memang makanan tidak masuk, tapi begitu makanan 
masuk,
kecenderungan tubuh untuk menimbun lemak dari makanan 
justru lebih
besar.Rahasia kurus sebenarnya adalah menjaga agar respon insulin 
dalam tubuh stabil, tidak melonjak-lonjak. Caranya, hanya makan 
makanan yang memberi respon insulin rendah, yaitu yang indeks 
glikemiknya rendah.Respon insulin tubuh meningkat bila: 
(1) Makin
tinggi jumlah karbohidrat yang dimakan dalam satu 
porsi, makin
tinggi pula respon insulin tubuh (ini umumnya 
porsi kita di
Indonesia: lebih dari 70 persen dari satu porsi 
makannya adalah
nasi).Makanya, makanlah dengan karbohidrat cukup lima puluh persennya 
saja. Sisanya protein, dan 5-10 persennya lemak. Lemak ini 
cukup
dari lemak yang terkandung dalam daging yang kita makan, 
misalnya.
Atau kuning telur. Tidak perlu menambah minyak atau 
memakan lemak
hewan (yang justru buruk pengaruhnya bagi tubuh). 
Lemak (sedikit!)
masih diperlukan untuk mengolah beberapa 
nutrisi dan vitamin, dan
untuk membawa nutrisi ke seluruh 
tubuh.(2) Semakin tinggi GI
(Glycemic Index) karbohidrat yang 
dikonsumsi, semakin meningkat pula
respon insulin tubuh. 
Makanya, makan hanya makanan yang GI-nya
rendah. Nanti saya 
jelaskan di bawah.(3) Semakin jarang makan,
semakin meningkat respon insulin 
setiap kali makan.Ini sebabnya diet
(dalam pengertian: mengurangi frekuensi makan 
supaya kurus) tidak
akan pernah berhasil untuk jangka lama. 
Setelah diet selesai, tubuh
justru akan cenderung lebih gemuk 
dari sebelum diet. Supaya kurus
(baca: supaya respon insulin 
tidak melonjak) justru harus makan
lebih sering (4-5 kali 
sehari) tapi dengan porsi setengah atau
sepertiga porsi biasa, 
dengan karbohidrat maksimal 50 persen saja
setiap porsi.Kalau respon insulin tubuh sudah stabil, maka tinggal diatur:

kalau ingin kurus, kalori yang masuk harus lebih sedikit dari 
kalori makanan yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari hari. 
Tambah
dengan olahraga teratur untuk membakar lemak berlebih 
dalam tubuh,
dan memperbesar otot. Otot membutuhkan energi, 
maka makin terlatih
otot, ia akan makin mengkonsumsi lemak 
dalam tubuh kita untuk
energi.Sebaliknya kalau ingin memperbesar otot (bukan gemuk) atau 
mengencangkan badan, maka kalori yang masuk harus agak lebih 
banyak dari jumlah kalori yang akan kita pakai untuk aktivitas 
selama sehari, agar otot mengalami pertumbuhan. Otot sendiri 
dirangsang pertumbuhannya dan &lsquo;kekencangannya&rsquo; dengan
olahraga 
teratur. Perbanyak protein agar pertumbuhan otot optimal.

Karbohidrat cukup diposisikan sebagai bahan pemberi energi, 
bukan untuk mengenyangkan perut.Lucu ya: kalau ingin kurus atau
memperbaiki bentuk badan, 
termasuk menumbuhkan otot, justru harus
makan lebih sering 
dengan porsi kecil. Makan yang mengandung lemak,

goreng-gorengan, kanji, atau karbohidrat sederhana seperti 
gula, manisan, minuman ringan bersoda dan sebangsanya itu sudah 
out of the question. Kalau kita jarang makan, atau makan tidak 
teratur dan sekalinya makan &lsquo;balas dendam habis-habisan&rsquo; ,
ya 
justru respon insulin kita juga melonjak dan membuat tubuh jadi

menimbun lemak.Sekali lagi, baik ketika berbuka puasa atau dalam
makanan 
keseharian, makanlah makanan yang seimbang: 50 persen 
karbohidrat kompleks, 40-45 persen protein dan 5-10 persen 
lemak
dalam setiap porsinya. Jauhilah karbohidrat sederhana 
sebisa
mungkin. Kalaupun harus makan karbohidrat sederhana 
karena butuh
energi cepat carilah yang nilai indeks glikemiknya 
rendah.Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh 
menjadi energi. Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan 
dan
tenaga diperoleh sedikit demi sedikit. Dengan demikian, 
kita tidak
cepat lapar dan energi tersedia dalam waktu lama, 
cukup untuk
aktivitas sehari penuh. Sebaliknya, karbohidrat 
sederhana
menyediakan energi sangat cepat, tapi akan cepat 
sekali habis
sehingga kita mudah lemas. Maka, ketika makan 
sahur, jangan makan
yang banyak mengandung gula, karena kita 
akan cepat lemas. Makanlah
karbohidrat kompleks (protein jangan 
dilupakan!) sehingga kita tetap
berenergi sampai waktu berbuka.Karbohidrat sederhana, GI tinggi (energi
sangat cepat habis, 
respon insulin tinggi: merangsang penimbunan
lemak) adalah: 
sukrosa (gula-gulaan) , makanan manis-manis, manisan,
minuman 
ringan, jagung manis, sirop, atau apapun makanan dan minuman

yang mengandung banyak gula. Hindari, puasa atau tidak
puasa.Karbohidrat sederhana, GI rendah (energi cepat, respon insulin 
rendah): buah-buahan yang tidak terlalu manis seperti pisang, 
apel, pir, dan sebagainya. Sekarang ngerti kan, kenapa para 
pemain
tenis dunia, pemain bola, pemain basket atau pelari 
sering terlihat
&lsquo;ngemil pisang&rsquo; di pinggir lapangan? Karena 
mereka butuh
energi cepat, tapi nggak ingin badannya gembul 
berlemak.Karbohidrat
Kompleks, GI tinggi (energi pelan-pelan, tapi 
respon insulinnya
tinggi): Nasi putih, kentang, jagung.Karbohidrat Kompleks, GI rendah
(energi dilepas pelan-pelan 
sehingga tahan lama, respon insulin juga
rendah): Gandum, beras 
merah, umbi-umbian, sayuran. Ini yang paling
dicari para 
praktisi fitness.Makanan yang diproses pelan-pelan
(karbohidrat kompleks) akan 
membuat kita tidak cepat lapar dan
energi dihabiskan cukup 
untuk aktivitas satu hari penuh; respon
insulin rendah membuat 
tubuh kita tidak cenderung untuk menabung
lemak.Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah 
gula sedikiiiiiit) , atau roti coklat gandum, dua atau tiga 
butir
telur rebus (kuningnya saya hancurkan dan ditebarkan di 
rumput untuk
makanan semut-semut di halaman rumah), sayuran 
segar, dan air putih.
Ini sudah cukup untuk membuat tenaga saya 
tidak habis sampai buka
puasa karena energi dari karbohidrat 
kompleksnya (gandum) akan
dilepas pelan-pelan ke dalam tubuh 
sepanjang hari. Ketika berbuka,
sesuai anjuran Rasulullah dan 
sufi tadi, saya biasanya minum segelas
air, lalu shalat 
maghrib. Setelah shalat makan nasi seperti biasa,
sebisa 
mungkin dengan porsi karbohidrat- protein-lemak- air 
proporsional. Dan tentu tidak untuk &lsquo;balas dendam&rsquo; karena
puasa 
seharian. Ini justru saat yang penting untuk melatih melawan

keinginan hawa nafsu &lsquo;makan sekenyang-kenyangny a&rsquo;.
Belajar 
sabar.Waham Umum 
Oke, kembali ke topik. Nah, saya
kira, &ldquo;berbukalah dengan yang 
manis-manis&rdquo; itu adalah
kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa 
atas hadits tentang berbuka
diatas. Karena kurma rasanya manis, 
maka muncul anggapan bahwa
(disunahkan) berbuka harus dengan 
yang manis-manis. Pada akhirnya
kesimpulan ini menjadi waham 
dan memunculkan budaya berbuka puasa
yang keliru di tengah 
masyarakat. Yang jelas, &lsquo;berbukalah
dengan yang manis&rsquo; itu 
disosialisasikan oleh slogan
advertising banyak sekali 
perusahaan makanan di bulan suci
Ramadhan.Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang 
menemukan hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang 
memerintahkan
berbuka dengan yang manis-manis, mohon ditulis di 
komentar di bawah,
ya. Saya, mungkin juga para sahabat yang 
lain, ingin sekali
tahu.Semoga tidak termakan waham umum &lsquo;berbukalah dengan yang 
manis&rsquo;. Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum 
tentang agama. Periksa dulu kebenarannya.Kalau ingin sehat, ikuti saja
kata Rasulullah: &ldquo;Makanlah hanya 
ketika lapar, dan berhentilah
makan sebelum kenyang.&rdquo; Juga, isi 
sepertiga perut dengan
makanan, sepertiga lagi air, dan 
sepertiga sisanya biarkan
kosong.&ldquo;Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah
merasa 
lapar barulah makan, dan apabila makan tidak hingga
kenyang,&rdquo; 
kata Rasulullah.&ldquo;Tidak ada satu wadah pun yang
diisi oleh Bani Adam, lebih 
buruk daripada perutnya. Cukuplah
baginya beberapa suap untuk 
memperkokoh tulang belakangnya agar
dapat tegak. Apabila tidak 
dapat dihindari, cukuplah sepertiga untuk
makanannya, sepertiga 
lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi
untuk nafasnya.&rdquo; (HR 
Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban
dalam Shahihnya yang 
bersumber dari Miqdam bin Ma&rsquo;di
Kasib)Semoga bermanfaat&hellip;. 
Wassalaamu &lsquo;alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh. 




___________________________________________________________ 
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id 



-- 
--[YONSATU -
ITB]--------------------------------------------- 

Info milis :
<http://pub.mahawarman.net/milis/list-info-yonsatu.html> 

Kirim email ke