Aku menuliskannya disini Abah

JANGAN BERBUKA PUASA MAKAN KURMA
http://tempe.wordpress.com/2007/09/14/jangan-berbuka-puasa-dengan-makan-kurma/

Blaik judulnya kok judulnya sangat provokatif. Tapi bener loo … ini
tujuannya baik kok.

Mungkin kamu pernah mendapatkan email berjudul "*jangan berbuka puasa dengan
yang 
manis*<http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=28&func=view&catid=10&id=6788&lang=id>".
Ya itu adalah kalimat yang tepat, tetapi didalam tuisan itu sendiripun
mengandung kalimat yang sangat vital dan harus diketahui oleh kita-kita yang
berada di INDONESIA. Coba simak kalimat di dalam tulisan itu juga :

*Tapi kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan
Ramadhan sudah berupa 'manisan kurma', bukan lagi kurma segar. Manisan kurma
ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet
dalam perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang
masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya
menjadi sangat mahal.*

Nah kalau kita teliti membacanya kemudian merubah judulnya menjadi seperti
"Berbukalan dengan kurma" disini
<http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=28&func=view&catid=10&id=6788&lang=id>ini
menjadi salah kaprah terutama dalam konteks kita berada di Indonesia.
Sebenernya ada juga yang proses pembuatannya tidakditambahkan gula. Namun
karena terjadi fermentasi dan proses-proses pengawetan ini, maka sangat
mungkin bentuk "*gula sederhana*" yang asli pada kurma segar berubah menjadi
"*gula kompleks"* yang terasa manis seperti gula.

* [image: :(] "Wah pakdhe mestinya judulnya diubah doonk"
[image: :D] "Iya thole yang tepat mestinya Jangan berbuka puasa dengan
manisan kurma. Karena konteksnya selalu dibaca di Indonesia, kan. Wong
tulisane pakai Bahasa Indonesia kok. Tapi ada tindakan yang lebih tepat,
thole"
[image: :(] "Nopo Pakdhe?"
[image: :D] "Puasa itu jangan mikirin makan mlulu, jangan mikirin mau sahur
pakai apa, mau berbuka bersama dimana dsb nanti makna puasanya malah luntur"
[image: :(] "Kalau gitu aku bilang Budhe Laras
<http://yuenda.blogspot.com/>ngga usah mangsak ya dhe ?"
[image: :D] "Hust !"*

Walaupun kita mendapatkan kurma "*mentah*" (yang belum dibuat manisan),
tetap saja apa yang menjadi kisah Nabi Muhammad hanyalah memakan* tiga butir
kurma saja* sebagai pembuka. Yang tersirat disini tentunya jangan makan
terlalu banyak ketika berbuka puasa. Bukan hanya sekedar soal bahan makanan
kurma saja, barangkali ini tergantung makanan pokok di daerah masing-masing,
karena Islam dikenal Agama seluruh umat di dunia. Makna kurma bukannya harus
kurma tetapi bahan dasar ditempat itu yang menjadi makanan pokok. Dan yang
lebih penting lagi … *jangan makan berlebihan*, lah namanya saja puasa
kok [image:
:P]


RDP

On 9/14/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> ---------------------------- Original Message ----------------------------
>
> Subject: [yonsatu] Jangan Berbuka dengan yang Manis
> From:
> "doedoeng z. arifin" <[EMAIL PROTECTED]>
> Date:
> Thu, September 13, 2007 5:45 pm
> To: [EMAIL PROTECTED]
> --------------------------------------------------------------------------
>
> Rekan rekan
>
> Ada pendapat yng agak
> "berbeda" mengenai bagaimana sebaiknya kita beruka puasa
> ,sebagai bahan pemikiran .
> Apa benar kurma yan dujual di Indonesia
> itu manisan kurma , yang prosesnya kira kira sama dengan
> manisan2 lainnya di Indonesia ?
>
> Si-Abah

Kirim email ke