....Maka, saat kita tengah memegang selembar peta geologi bersistem dari Direktorat Geologi/Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi/Pusat Survei Geologi, hargailah bahwa selembar peta itu susah payah membuatnya...
Memang peta geologi sangat berharga buat kita (Red :Geologist).. Dulu waktu kuliah ada dosen yang mengibaratkan : ...Palu dan kompas Geology diibaratkan istrimu dan Peta Geologi diibaratkan anak hasil perkawinanmu.... Rgds Yudha -----Original Message----- From: Parvita Siregar [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, September 18, 2007 9:24 AM To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] Pemetaan Geologi Bersistem Wilayah Indonesia Menarik sekali ulasan Mas Awang, terutama berkurangnya kewajiban mahasiswa melakukan tugas akhir. Bahkan ketika saya bertemu dengan beberapa rekan yang seangkatan (plus minuslah) mereka mengeluhkan fresh graduate sekarang logika geologinya sangat minim, bahkan untuk deskripsi batuanpun ada yang tidak bisa. Sekedar sharing, sewaktu IPA mengadakan kursus Core Analysis untuk mahasiswa bulan lalu, malamnya diadakan malam sharing seperti biasa. Saat itu ada Bang Sanggam dan Mas Ipul juga. Ada seorang mahasiswa yang menanyakan, "Apa yang harus saya kuasai kalau ingin diterima di oil company? Play apa yang sekarang sedang populer?". Jawaban saya saat itu adalah kalau mereka ketemu saya atau rekan2 saya pas interview, mereka akan saya sodorkan batuan dan akan saya suruh deskripsi dan cerita batuan tersebut kira2 diendapkan di energi seperti apa. Kemudian saya akan membuat sketsa outcrop, atau foto outcrop dan akan saya suruh deskripsi dan saya lihat bagaimana urut2an cara mereka berpikir. Karena laboratorium geologist adalah muka bumi ini. Bukan komputer. Bukan software. Tapi cara mengambil data di lapangan dan deskripsi batuan serta analisa geologinya. Dalam acara yang lain, Mas Andang Bachtiar juga sempat hadir dan juga memberi pengarahan, kurang lebih bahwa kalau kita melihat wireline log, kita harus otomatis bisa membayangkan batuannya seperti apa. Kalau tidak terbiasa melihat batuan, bagaimana bisa interpretasi data2 yang ada? Sangat disayangkan kalau porsi ke lapangan semasa mahasiswa dikurangi. Karena kesempatan untuk itu semakin kecil kalau sudah bekerja (kecuali kerja di lapangan), musti rebut2an kalau mau ikutan fieldtrip! Mudah2an membantu, Parvita H. Siregar Salamander Energy Jakarta-Indonesia Disclaimer: This email (including any attachments to it) is confidential and is sent for the personal attention of the intended recipient only and may contain information that is privileded, confidential or exempt from disclosure. If you have received this email in error, please advise us immediately and delete it. You are notified that using, disclosing, copying, distributing or taking any action in reliance on the contents of this information is strictly prohibited. -----Original Message----- From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, September 17, 2007 2:54 PM To: [email protected] Subject: [iagi-net-l] Pemetaan Geologi Bersistem Wilayah Indonesia Teman-teman seangkatan saya, yang lebih senior, dan yang lebih junior daripada saya yang pernah mempunyai tugas sarjana muda dan sarjana memetakan geologi suatu wilayah di Indonesia pasti akrab dengan istilah pemetaan bersistem. Dulu saat saya masih kuliah di Geologi Unpad (1983-1989), si mahasiswa saat kuliah akan melakukan pemetaan geologi dua kali : saat sarjana muda 25 km2 (5 x 5 km), dan saat sarjana 100 km2 (10 x 10 km). Ini adalah saat-saat yang berat dalam segala hal (energi, waktu, dana); tetapi manfaatnya pun luar biasa. Geologi harus berasal dari lapangan. Problematika geologi berasal dari lapangan, dan mencari pemecahan atas problematika itu pun ada di lapangan. Kini, setelah komputer mendominasi banyak analisis geologi, dan semakin berkurangnya wilayah yang bisa dipetakan; tak semua mahasiswa geologi wajib memetakan wilayah untuk tugas akhirnya. Dia yang tak mau ke lapangan bisa memilih menganalisis problem geologi melalui data seismik, log, dan lain-lain bukan data batuan; komputer PC dan workstation adalah alat analisis utamanya, bukan buku lapangan, bukan palu, bukan kompas, bukan loupe, bukan HCL N =10 %, bukan tali ukur, bukan mikroskop, dan bukan alat- lapangan lain yang berat dan kotor. Semoga yang menamakan dirinya geologist, siapa pun itu, tetap mencintai batuan-batuan di lapangan. Pemetaan bersistem adalah program pemetaan geologi seluruh permukaan wilayah Indonesia yang dilakukan oleh badan pemerintah sejak Belanda ada di Indonesia, sampai ke zaman kemerdekaan. Maka, berarti yang melakukannya adalah Dienst van het Mijnwezen saat zaman Belanda, lalu pada masa kemerdekaan dilakukan oleh Direktorat Geologi, kemudian Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G). Yang pernah memetakan Kuningan atau Banymas pasti mengenal nama Hetzel dan Kastowo, yang pernah memetakan Sukabumi pasti mengenal nama Duyfjes dan Sukamto, yang pernah memetakan Cianjur pasti mengenal nama Sujatmiko (alias Mang Okim - gemologist sekarang), yang pernah jauh ke Kepala Burung pasti mengenal Zwierzicky, dll.). Geologi wilayah Indonesia dipetakan puluhan tahun, sejak Belanda ada di Indonesia, dan dinyatakan selesai seluruhnya pada tanggal 6 Oktober 1995. Hampir 90 % pekerjaan pemetaan bersistem diselesaikan pada masa kemerdekaan. Dalam era kemerdekaan itu, Pemerintah Indonesia pernah bekerja sama dengan badan geologi Inggris untuk memetakan Kalimantan, dan bekerja sama dengan badan geologi Australia untuk memetakan Papua. Pemetaan bersistem membagi permukaan pulau2 Indonesia menjadi 239 lembar peta. Di Jawa-Madura, pemetaan dilakukan pada skala 1 : 100.000, dengan setiap lembar peta berukuran 55 x 55 km2; di luar Jawa pemetaan bersistem geologi dilakukan pada skala 1 : 250.000 dengan setiap lembar peta berukuran 165 x 110 km2. Jawa-Madura terdiri atas 58 peta, sedangkan pulau2 di luar Jawa dipetakan oleh 181 lembar peta. Ini statistik lengkapnya : Jawa-Madura : 58 peta, Sumatera : 45 peta, Kalimantan : 43 peta, Sulawesi : 24 peta, Nusa Tenggara : 14 peta, Maluku : 15 peta, Papua (Irian Jaya) : 40 peta. Bisa dibayangkan berapa banyak nama formasi yang dipakai untuk pemetaan itu ? Pak Suudi Gafoer (almarhum) dari seksi Sumatra P3G pernah menunjukkan saya buku sangat tebal sekitar 10 cm lexicon stratigrafi Sumatra yang memuat sekitar 1000 nama formasi di Sumatra beserta pemeriannya. Berapa banyak nama formasi di seluruh Indonesia ? Bisa diselidiki lebih jauh. Memetakan seluruh permukaan pulau2 di Indonesia seluas 1.9 juta km2 itu tentu sangat banyak suka dukanya. Saya mendapatkan banyak cerita dari ahli2 geologi pelaku pemetaan ini (kebetulan dulu P3G adalah tempat bermain saya). Pemetaan-pemetaan ini dimulai dengan studi2 pustaka lalu penafsiran foto udara dan citra satelit lainnya. Lalu, dimulailah ground check pemetaan geologi dengan membuat lintasan2. Semua lintasan yang telah ditentukan harus dilalui dengan berjalan kaki. Sepanjang lintasan itu tentu banyak yang ditemui selain singkapan batuan. Seorang ahli geologi harus berjiwa petualang saat di lapangan, mental dan fisiknya harus kuat. Dia juga jelas harus punya insting geologi yang kuat, analisis lapangan yang bagus, ini semua akan bergantung kepada jam "jalan" si ahli geologi. Kesulitan medan dan binatang buas sudah merupakan cerita sehari2. Menarik, mengetahui statistik berikut ini. "Perjalanan jauh dimulai dengan satu langkah", begitulah memetakan geologi Indonesia selama puluhan tahun itu akhirnya menghasilkan jarak lintasan jalan kaki sejauh 3.473.000 km (bayangkan, ini adalah sama dengan 86 kali mengelilingi Bumi di equator); contoh batuan yang dikumpulkan sebanyak 300.000 buah (sebagian bisa kita nikmati di museum geologi), dengan berat total sampel 600 ton yang diambil dari puncak gunung, dasar sungai, tepi rawa, maupun tengah hutan. Pekerjaan raksasa ini telah melibatkan 178 ahli geologi, 120 surveyor, dan 75 prospektor. Medan yang sering keras, meskipun para pahlawan geologi ini selalu berhati-hati, tak urung menelan nyawa 20 orang ahli geologi/surveyor/prospektor. Bahkan ada, yang sampai sekarang tak pernah ditemukan raganya alias ditelan rimba Indonesia. Maka, saat kita tengah memegang selembar peta geologi bersistem dari Direktorat Geologi/Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi/Pusat Survei Geologi, hargailah bahwa selembar peta itu susah payah membuatnya. Hormat saya untuk para ahli geologi/surveyor/prospektor pelaku pemetaan bersistem geologi Indonesia. Peta-peta geologi ini adalah karya yang sangat penting untuk pekerjaan2 selanjutnya. Salam, awang ------------------------------------------------------------------------ ---- JOINT CONVENTION BALI 2007 The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ------------------------------------------------------------------------ ---- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

