Teman-teman seangkatan saya, yang lebih senior, dan yang lebih junior
daripada saya yang pernah mempunyai tugas sarjana muda dan sarjana
memetakan geologi suatu wilayah di Indonesia pasti akrab dengan istilah
pemetaan bersistem. Dulu saat saya masih kuliah di Geologi Unpad
(1983-1989), si mahasiswa saat kuliah akan melakukan pemetaan geologi
dua kali : saat sarjana muda 25 km2 (5 x 5 km), dan saat sarjana 100 km2
(10 x 10 km). Ini adalah saat-saat yang berat dalam segala hal (energi,
waktu, dana); tetapi manfaatnya pun luar biasa. Geologi harus berasal
dari lapangan. Problematika geologi berasal dari lapangan, dan mencari
pemecahan atas problematika itu pun ada di lapangan. 

 

Kini, setelah komputer mendominasi banyak analisis geologi, dan semakin
berkurangnya wilayah yang bisa dipetakan; tak semua mahasiswa geologi
wajib memetakan wilayah untuk tugas akhirnya. Dia yang tak mau ke
lapangan bisa memilih menganalisis problem geologi melalui data seismik,
log, dan lain-lain bukan data batuan; komputer PC dan workstation adalah
alat analisis utamanya, bukan buku lapangan, bukan palu, bukan kompas,
bukan loupe, bukan HCL N =10 %, bukan tali ukur,  bukan mikroskop, dan
bukan alat- lapangan lain yang berat dan kotor. Semoga yang menamakan
dirinya geologist, siapa pun itu, tetap mencintai batuan-batuan di
lapangan.

 

Pemetaan bersistem adalah program pemetaan geologi seluruh permukaan
wilayah Indonesia yang dilakukan oleh badan pemerintah sejak Belanda ada
di Indonesia, sampai ke zaman kemerdekaan. Maka, berarti yang
melakukannya adalah Dienst van het Mijnwezen saat zaman Belanda, lalu
pada masa kemerdekaan dilakukan oleh Direktorat Geologi, kemudian Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G). Yang pernah memetakan
Kuningan atau Banymas pasti mengenal nama Hetzel dan Kastowo, yang
pernah memetakan Sukabumi pasti mengenal nama Duyfjes dan Sukamto, yang
pernah memetakan Cianjur pasti mengenal nama Sujatmiko (alias Mang Okim
- gemologist sekarang), yang pernah jauh ke Kepala Burung pasti mengenal
Zwierzicky, dll.). 

 

Geologi wilayah Indonesia dipetakan puluhan tahun, sejak Belanda ada di
Indonesia, dan dinyatakan selesai seluruhnya pada tanggal 6 Oktober
1995. Hampir 90 % pekerjaan pemetaan bersistem diselesaikan pada masa
kemerdekaan.  Dalam era kemerdekaan itu, Pemerintah Indonesia pernah
bekerja sama dengan badan geologi Inggris untuk memetakan Kalimantan,
dan bekerja sama dengan badan geologi Australia untuk memetakan Papua.

 

Pemetaan bersistem membagi permukaan pulau2 Indonesia menjadi 239 lembar
peta. Di Jawa-Madura, pemetaan dilakukan pada skala 1 : 100.000, dengan
setiap lembar peta berukuran 55 x 55 km2; di luar Jawa pemetaan
bersistem geologi dilakukan pada skala 1 : 250.000 dengan setiap lembar
peta berukuran 165 x 110 km2. Jawa-Madura terdiri atas 58 peta,
sedangkan pulau2 di luar Jawa dipetakan oleh 181 lembar peta. Ini
statistik lengkapnya : Jawa-Madura : 58 peta, Sumatera : 45 peta,
Kalimantan : 43 peta, Sulawesi : 24 peta, Nusa Tenggara : 14 peta,
Maluku : 15 peta, Papua (Irian Jaya) : 40 peta. Bisa dibayangkan berapa
banyak nama formasi yang dipakai untuk pemetaan itu ? Pak Suudi Gafoer
(almarhum) dari seksi Sumatra P3G pernah menunjukkan saya buku sangat
tebal sekitar 10 cm  lexicon stratigrafi Sumatra yang memuat sekitar
1000 nama formasi di Sumatra beserta pemeriannya. Berapa banyak nama
formasi di seluruh Indonesia ? Bisa diselidiki lebih jauh.

 

Memetakan seluruh permukaan pulau2 di Indonesia seluas 1.9 juta km2 itu
tentu sangat banyak suka dukanya. Saya mendapatkan banyak cerita dari
ahli2 geologi pelaku pemetaan ini (kebetulan dulu P3G adalah tempat
bermain saya). Pemetaan-pemetaan ini dimulai dengan studi2 pustaka lalu
penafsiran foto udara dan citra satelit lainnya. Lalu, dimulailah ground
check pemetaan geologi dengan membuat lintasan2. Semua lintasan yang
telah ditentukan harus dilalui dengan berjalan kaki. Sepanjang lintasan
itu tentu banyak yang ditemui selain singkapan batuan. Seorang ahli
geologi harus berjiwa petualang saat di lapangan, mental dan fisiknya
harus kuat. Dia juga jelas harus punya insting geologi yang kuat,
analisis lapangan yang bagus, ini semua akan bergantung kepada jam
"jalan" si ahli geologi. Kesulitan medan dan binatang buas sudah
merupakan cerita sehari2.

 

Menarik, mengetahui statistik berikut ini. "Perjalanan jauh dimulai
dengan satu langkah",  begitulah memetakan geologi Indonesia selama
puluhan tahun itu akhirnya menghasilkan jarak lintasan jalan kaki sejauh
3.473.000 km (bayangkan, ini adalah sama dengan 86 kali mengelilingi
Bumi di equator); contoh batuan yang dikumpulkan sebanyak 300.000 buah
(sebagian bisa kita nikmati di museum geologi), dengan berat total
sampel 600 ton yang diambil dari puncak gunung, dasar sungai, tepi rawa,
maupun tengah hutan. Pekerjaan raksasa ini telah melibatkan 178 ahli
geologi, 120 surveyor, dan 75 prospektor. 

 

Medan yang sering keras, meskipun para pahlawan geologi ini selalu
berhati-hati, tak urung menelan nyawa 20 orang ahli
geologi/surveyor/prospektor. Bahkan ada, yang sampai sekarang tak pernah
ditemukan raganya alias ditelan rimba Indonesia.

 

Maka, saat kita tengah memegang selembar peta geologi bersistem dari
Direktorat Geologi/Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi/Pusat
Survei Geologi, hargailah bahwa selembar peta itu susah payah
membuatnya.

 

Hormat saya untuk para ahli geologi/surveyor/prospektor pelaku pemetaan
bersistem geologi Indonesia. Peta-peta geologi ini adalah karya yang
sangat penting untuk pekerjaan2 selanjutnya.

 

Salam,

awang

 

 

 

 

Kirim email ke