Penemuan deutrium yang sangat menarik Pak Awang. Indikasi sumber air
dari kedalaman 8000m ini bukannya tidak pernah didiskusikan. Tetapi
sebenarnya sudah saya modelkan dalam "Detak-detak kelahiran Lusi"
http://rovicky.wordpress.com/2007/04/03/detak-detak/ . Dan waktu demi
waktu akhirnya aku semakin yakin bahwa "detak-detak kelahiran Lusi"
ini dapat dipakai sebagai hipotesa untuk memperkirakan 'what next ?'.

Hubungan sekuensial ketika terjadi "intermitten flow" (semburan
terbatuk-batuk), dan amblesan setempat/"differential subsidence"
(banjir), semakin membuat aku yakin bahwa kejadian ini memang
semestinya harus ditangani secara scientific dengan baik. Bukan
sekedar dengan penelitian seadanya. Saya setuju dengan pendapat ADB
dahulu bahwa yang paling pantes menangani segi penelitian ilmiahnya
adalah BPPT. Sehingga dengan misi saintific ini data akan dapat
terbuka kepada siapa saja yang berminat meneliti. Dan akan mempermudah
scientist-saintis memperoleh data untuk diteliti dengan lebih
intensif.

Air dari kedalaman 8000 m.
Aku sendiri tidak berpikir bawa di kedalaman 8000 ini sudah masuk ke
basement. Saya memperkirakan adanya sedimen dibawah Kujung, atau
paling tidak ada sub cekungan (syn-rift) yang menjadi wadah penampung
air. Dalam model Detak-detak kelahiran Lusi aku sebut di dalam model
itu sebagai "potential hydrothermal reservoir".

Menurut pendapatku, jumlah air yang sangat banyak ini sangat sulit
kalau disebabkan oleh diffesential magmatik. Mungkin saja akan ada
fraksi-fraksi differential magmatik sebagai pembentuk air (wah ini
menjadi info baru tentang dari mana asalnya air ya ?), namun fraksi
terbesarnya kemungkina adanya wadah (reservoir) tempat penyimpanan air
dibawah sana.

Kalau gejalanya akhirnya menjunjukkan "geyser saja" (hanya uap air
yang keluar), yang perlu diperhatikan adalah debit. BIsa saja kalau
geyser ini merupakan siklus tertutup dari Gunung Penanggungan, maka
proses ini menjadi lebih mudah dikontrol. (seperti dugaan "Detak-detak
kelahiran Lusi". Namun kalau material yang keluar masih bercampur
lempung dan material padat lainnya, maka kondisi "batuk-batuk" ini
perlu dicermati karena kemungkinan akan terjadi amblesan lagi yang
akan menyebabkan banjir limpahan pada bagian tanggul yang turun.

Salam

RDP

On 10/15/07, kartiko samodro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak Awang,
> Apakah dengan GPR memang bisa memetakan struktur sampai kedalaman 8000 m,
> dan apakah biayanya lebih murah untuk bisa menggantikan seismic ?
>
>
> On 10/15/07, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Pak Soffian Hadi (ahli geologi anggota BPLS) kemarin kirim sms sbb.:
> > "Perilaku Lusi makin jelas seperti geyser, dalam 2 hari terakhir ini
> > kejadian quiet selama 20 menit-150 menit dengan interval 5-8 jam, meskipun
> > (seperti geyser) diawali semburan yang cukup kuat 3-5 meter mud kick"
> >
> > Pak Soffian pun membagi info bahwa terdapat kehadiran deuterium yang
> > signifikan, dan berdasarkan rekaman GPR (ground penetrating radar) terbaru
> > terdapat sesar2 baru yang memotong sampai kedalaman 8000-an meter. Sumber
> > air pembawa deuterium diperkirakan berasal dari kedalaman 8000-an meter itu
> > yang terpanasi oleh magma yang statik. Kalau air formasinya habis, maka Lusi
> > akan seperti bledug Kuwu.
> >
> > Info2 di atas menunjukkan perkembangan baru Lusi yang tak pernah menjadi
> > diskusi selama ini. Pendapat sumber air dari 8 km itu masih menjadi diskusi
> > kami. Harus dilakukan analisis air selama ini yang keluar saat diperkirakan
> > berasal dari kedalaman 2 km, dan yang sekarang diperkirakan dari kedalaman 8
> > km. Kedalaman 8 km di wilayah ini mestinya sudah masuk ke basement;
> > bagaimana ia bisa mengandung air - diferensiasi magmatik ?
> >
> > salam,
> > awang
> >
> > Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Senin, 15 Okt 2007
> > * BPLS: Semburan Berhenti Empat Kali
> > *
> > SIDOARJO - Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) mencatat aktivitas
> > semburan lumpur panas di Porong berhenti beberapa kali. Fenomena itu masih
> > diselidiki sebagai tanda-tanda atau gejala apa, mengingat terjadi empat
> > kali
> > dalam tiga hari.
> >
> > Menurut Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Achmad
> > Zulkarnain,
> > sejak Kamis (11/10), semburan lumpur berhenti empat kali. Kali pertama
> > terjadi pada Kamis pukul 16.25 WIB sampai 17.50 atau sekitar 85 menit.
> > Semburan berhenti untuk kali kedua pada hari yang sama pukul 22.30 hingga
> > 23.30 atau sekitar 60 menit.
> >
> > Keesokan hari, Jumat (12/10), kata Zulkarnain, semburan juga sempat
> > berhenti
> > pada pukul 10.30 hingga pukul 11.00. "Semburan berhenti sampai menjelang
> > salat Jumat. Setelah itu, lumpur menyembur lagi," ujarnya. Kejadian
> > keempat
> > berlangsung pada Sabtu (13/10). Semburan berhenti sekitar pukul 11.05 WIB
> > dan menyembur lagi pukul 11.20 atau sekitar 15 menit.
> >
> > Dia menambahkan, berhentinya aktivitas semburan lumpur panas tersebut
> > diikuti kenaikan kadar gas hydrogen sulfide (H2S) yang mencapai 22 PPM
> > dari
> > batas normal 20 PPM. Selain itu, 71 gelembung (bubble) yang ditemui di
> > berbagai tempat menunjukkan penurunan aktivitas. "Mungkin, ada kaitan
> > dengan
> > berhentinya semburan sebanyak beberapa kali itu," ucapnya.
> >
> > Berhentinya aktivitas semburan juga ditandai ritme semburan lumpur yang
> > berbeda. Di pusat semburan, sempat tidak tampak asap yang tinggi maupun
> > gelembung air.
> >
> > Zulkarnain mengatakan, BPLS berencana mendatangkan ahli untuk meneliti
> > lebih
> > lanjut fenomena tersebut. Berhentinya aktivitas semburan itu juga pernah
> > terjadi pada masa Tim Nasional Penanggulangan Lumpur sekitar Februari
> > 2007.
> > "Namun, kali ini kejadiannya berulang. Waktu terjadinya pun berdekatan,"
> > paparnya. (riq)
> >
> >
> > --
> > http://rovicky.wordpress.com/
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Catch up on fall's hot new shows on Yahoo! TV.  Watch previews, get
> > listings, and more!
>


-- 
http://rovicky.wordpress.com/

----------------------------------------------------------------------------
JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI be 
liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or 
damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, 
arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI 
mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke