Rekan-rekan ada berita yg menarik dari koran PikiranRakyat minggu lalu
ada yg bisa menjelaskan fenomena ini

salam

Air Panas Mengandung Gas Muncul di Bukit Kapur
Semburannya Mencapai Tiga Meter & Suhunya 50 Derajat Celsius

SUMBER, (PR).-
Sumber air panas yang mengandung gas dan lumpur muncul di perbukitan kapur
di Desa Palimanan Barat, Kec. Palimanan, Kab. Cirebon. Belum jelas
penyebabnya, namun ada dugaan semburan itu muncul karena ada proses
vulkanologi di dasar perbukitan kapur dan batu cadas di wilayah Cirebon
barat itu.
   *SEMBURAN air panas bercampur gas belerang muncul di perbukitan batu
kapur di Desa Palimanan Barat Kec. Palimanan Kab. Cirebon. Sudah hampir
sebulan air terus keluar, bahkan pernah sampai setinggi tiga meter.* *AGUNG
NUGROHO/"PR"

Semburan air itu sudah muncul sebelum bulan Puasa lalu atau sekitar
September 2007. Sampai Rabu (24/10), semburan sudah berlangsung lebih dari
sebulan dan kini membentuk kolam dengan air mengalir deras.

"Usianya sudah sebulan. Selama ini hanya segelintir orang yang tahu," ujar
Husein (60), warga setempat yang mengaku pertama kali mengetahui munculnya
semburan air panas tersebut.

Husein yang sehari-hari bertindak sebagai "kuncen", menceritakan, dia
melihat dari salah satu perbukitan kapur, ada semburan air setinggi 3 meter.

Husein lalu melaporkan kejadian itu ke desa dan PT ITP (Indocement Tunggal
Prakasa), pabrik semen yang menjadikan perbukitan kapur Palimanan, sebagai
bahan baku. Karena, lokasi semburan itu berada tak jauh dari perbukitan
kapur yang hak konsesi penggaliannya dipegang PT ITP.

PT ITP langsung melakukan penelitian atas semburan air yang panasnya
mencapai 50 sampai 60 derajat Celsius tersebut. "Kami masih sebatas
merapikan dan mengalirkan air ke saluran terdekat," kata Humas Resources
Development (HRD) PT ITP, Ir. Murdiono.

Penelitian geologis

Selanjutnya, PT ITP melakukan penelitian dan pengkajian geologis. Sejumlah
ahlinya diterjunkan dengan menggunakan peralatan penggalian dan penelitian,
guna meneliti kandungan gas dalam air dan lumpur yang keluar dari bawah
tanah itu serta mencari kemungkinan ada lokasi semburan lain.

"Sejauh penelitian kami, air itu tidak mengandung gas berbahaya. Hanya
memang panasnya cukup tinggi mencapai di atas 50 derajat Celsius. Kadar
belerangnya cukup terasa," ujar dia.

Rabu kemarin, tim dari Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, & Pertambangan
(DLHKP) Kab. Cirebon, melakukan peninjauan ke lokasi semburan air. Tiga
pejabat ahli diterjunkan ke lokasi itu, masing-masing Drs. E. Satriaji
(Kabud Pengendalian Lingkungan), Ir. Iwan Rizki (Kasi Pengawasan &
Penanggulangan), dan Wahyu Suprayogi, S.H (Kasi Informasi & Sengketa
Lingkungan).(A-93)***


On 10/23/07, Fajar Lubis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pengkayaan deuterium biasanya lebih berasosiasi dengan sebaran lateral
> atau indikasi gabungan dari sistem fluida lainnya.
>
>   Kalau memang sistem meteorik ikut berperanan dalam semburan LUSI ini.
> Adakah yang berkenan berbagi info mengenai perkembangan pola aliran airtanah
> di wilayah ini?
>
>   Pola aliran airtanah detail dalam skala waktu ke waktu, dapat juga kita
> gunakan sebagai indikasi awal amblesan tanah (subsidence) atau hipotesa
> diatas.
>
>
>   Salam,
>   Fajar (1141)
>   *Butuh lebih dari sekedar overburden, untuk menekan fluida dari
> kedalaman 8.000 meter untuk mencapai permukaan tanah secara alami*
>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com

Kirim email ke