Iagi.netter yang budiman, Selamat ketemu lagi.

(Ini setelah sebulan, sejak sekitar 4 September saya tak mendapatkan email dari 
milist ini, entah "nyantol" dimana. Kalau ada pertanyaan di sebulan itu, mohon 
beritahu kami).

Memang saya kaget kemarin dengan berpulangnya Prof Teuku Jacob. Seorang 
paleontolog kelas internasional, lagi bersahaja. Saya ketemu pertama, 
berdiskusi pada Desember 2005 lalu. Beliau amat ramah, amat terbuka dengan 
ilmu. Kami kasihkan softfile teoriku juga print, Beliau senang dengan ide 
global supercontinet cycle kami. Sambil bilang: loh kok banyak amat nih isinya.

Orang besar Aceh ini, ceritakan kepada kami. Setelah lulus SMA, beliau lalu 
naik pesawat ke Jogja untuk kuliah di Kedokteran. Bayangkan saja, kalau tidak 
orang besar juga kaya, mana bisa naik pesawat tahun itu di Indonesia. 

Tujuh tahun beliau menyelesaikan pendidikan dokter (1950-1956). Belajar di 
Universitas Amerika, Washington DC, hingga 1960), dan menjadi doktor di 7 th 
berikutnya (1967) di Rijksuniversiteit, Utrecht, Negeri Belanda, dibimbing dua 
arkeolog ternama: Prof. Dr. W. Montague Cobb, dan Prof. Dr. G.H.R. Koenigswald.

Menjadi Rektor ke 7 (1981-1986), di Kampus Cemara 7  UGM ini. Ini setelah 
melewati menjadi assiten ahli antropologi, sekertaris fakultas Kedokteran, dan 
dekan, serta banyak jabatan lainnya. Pada tahun ''77, menjadi  anggota Komisi 
Kerja Senat UGM. Di tahun '77 ini, beliau menarik sekali bercerita, di iringi 
banyak mobil bersirine ketika mengunjungi di Tokyo, membawa banyak kopor isi 
fosil. Meninggal di usia 77 th (6 Des 1929-17 Oktober 2007), meninggalkan 
banyak karya, dan tetap bersahaja, sampai rumah pribadipun katanya tak punya. 
Beliau tinggal di kompleks Sekip, perumahan dosen itu. (Kutimpali cerita bahwa 
th '77, waktu ku masuk UGM).

Betapa karyanya amat banyak. Lumayan, saya mempunyai beberapa karya beliau. 
Jumlah karya beliau 300'an paper. Atau rata-rata 10 paper per tahun dalam 
sepuluh - dua puluh tahun terakhir. Suatu prestasi yang sulit saya lakukan 
mencapai jumlahnya. Ada yang menyaingi ? Untuk membahas masalah temuan fosil 
Liang Bua Flores, seminar tingkat internasional 23-25 Juli 2007 di Hyatt 
Regency Yogya.

Kami merasa amat kehilangan beliau, belum sempat banyak berdiskusi. Semoga 
Alloh menerima semua amalnya, di ampuni dosanya, dan dimasuk di surga, dimana 
sabda-sambutanNya adalah "salam". 

Ma'af lahir dan bathin kepada semua netter. Aku kan bisa banyak salah ucap 
waktu berdiskusi.

Salam,
Maryanto.

----- Original Message ----
From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; Geo Unpad <[EMAIL PROTECTED]>; Eksplorasi BPMIGAS 
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, October 18, 2007 3:58:43 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Antrtopolog Prof DR Teuku Jacob Meninggal Dunia

Turut berduka cita dengan berpulangnya Prof Dr. Teuku Jacob. 
  
  Ralph von Koenigswald, ahli vertebrata dan paleo-antropologi terkenal semasa 
zaman Belanda di Indonesia, punya dua murid orang Indonesia yang kemudian 
meneruskan pekerjaannya. Dua orang Indonesia ini kemudian terkenal sebagai 
ahli2 paleo-antropologi pertama di Indonesia. Mereka adalah Sartono 
Sastrohamidjojo dan Teuku Jacob. Pak Sartono berpulang pada 1995, Pak Teuku 
Jacob berpulang baru kemarin (17 Oktober 2007). Kini kedua ahli  
paleo-antropologi Indonesia pertama itu telah tiada.
  
  Saya yakin, para penerus Pak Sartono di ITB dan Pak Teuku Jacob di UGM akan 
tetap mengembangkan paleo-antropologi di Indonesia - sebuah negeri "hot-spot" 
dalam dunia paleo-antropologi.
  
  Pak Teuku Jacob terkenal sebagai orang yang keras akan koleksi2 fosilnya. 
Tidak sembarang orang bisa melihat dan menelitinya, termasuk para peneliti bule 
yang datang ke Indonesia. Sering ditulis bahwa Pak Teuku Jacob sangat hati2 
dengan koleksi fosilnya itu, sampai ia selalu membawanya ke mana-mana 
menggunakan kopor. 
  
  Pak Teuku Jacob (lahir 1929) sebaya dengan Pak Sartono (lahir 1928), hanya 
berbeda setahun usianya. Tentu saja mereka berdua mempunyai beberapa penelitian 
paleo-antropologi bersama, terutama di Jawa. Pak Jacob memperoleh gelar 
doktornya di Utrecht Belanda dibimbing langsung oleh Prof. Dr. Koenigswald. Pak 
Sartono memperoleh gelar doktornya 12 tahun sebelumnya (1958) di Universitas 
Indonesia dengan disertasinya tentang Pegunungan Sewu.
  
  Dan, ternyata penyakit liver sama-sama mengakhiri hidup Pak Sartono dan Pak 
Teuku Jacob.
  
  Seperti Pak Sartono, Pak Teuku Jacob pun beberapa kali mengeluarkan gagasan2 
yang kontroversial. Misalnya, Pak Teuku pernah mengeluarkan gagasan agar boleh 
menerima anak SMA lulusan IPS di Faklutas Kedokteran, juga pernah mengeluarkan 
gagasan agar sarjana teknik (insinyur) pun diberi kewajiban praktek di desa dan 
daerah terpencil, WKS (wajib kerja sarjana) itu jangan hanya jadi kewajiban 
para lulusan kedokteran. Dalam dunianya (paleo-antropologi) juga ada beberapa 
gagasan kontroversialnya. Gagasan kontroversialnya yang terakhir adalah tentang 
Homo floresiensis. 
  
  Temuannya tentang  manusia Flores sampai saat ini masih mengundang 
perdebatan. Sebagian ahli menilai manusia Flores adalah spesies tersendiri dari 
manusia yang disebut 
Homo floresiensis.  Namun Prof Jacob bersikukuh pada pendapatnya manusia flores 
adalah manusia  biasa seperti kita (Homo sapien)  namun memiliki gangguan 
sehingga tubuhnya kerdil atau mengalami penyakit micro sevali (pengecilan 
tempurung kepala). Untuk membahas masalah temuan fosil Liang Bua Flores itu, 
Pak Jacob hampir tiga bulan lalu menggelar pertemuan  International Seminar on 
Southeast Asian Paleoanthropology (ISSP) pada tanggal Senin 23 Juli hingga 25 
Juli 2007 di Hotel Hyatt Regency Yogyakarta.
  
  Pak Teuku Jacob menyatakan bahwa volume otak yang kecil ini mungkin merupakan 
suatu tanda kelainan mental daripada sekedar bukti yang menyatakannya sebagai 
satu spesies terpisah. (Pak Teuku Jacob juga seorang pakar di bidang patologi.) 
Selain itu, proses dwarfisme yang diperkirakan menjadi penyebab ukuran otak 
yang kecil pada Manusia Flores ini juga ditemukan pada ras-ras manusia lain. 
Teuku Jacob menekankan bahwa dwarfisme semacam itu tidak hanya dapat ditemukan 
di Flores, tapi juga di Central Mountain, Papua dan Andaman, Aceh. Fakta bahwa 
dwarfisme dikenal pada ras-ras manusia lainnya memberikan petunjuk baru tentang 
kekeliruan menetapkan H. floresiensis sebagai suatu "spesies" terpisah 
berdasarkan dwarfisme tersebut. 
  
  Begitulah Pak Teuku Jacob. Selamat jalan Pak Teuku. Semoga penerus2mu akan 
membuat Indonesia semakin berdaulat dan terpandang dalam dunia 
paleo-antropologi.
  
  salam duka,
  awang

Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  *17/10/07 21:51*
Antrtopolog Prof DR Teuku Jacob Meninggal DuniaYogyakarta (ANTARA News) -
Guru Besar Emeritus (pensiun) Ilmu Kedokteran dari Universitas Gadjah Mada
(UGM), Prof DR Teuku Jacob, yang juga antropolog ragawi, meninggal dunia di
Rumah Sakit (RS) Sardjito, Yogyakarta, pada Rabu sekira pukul 18.00 WIB.

"Prof Jacob meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat intensif di RS
Sardjito karena penyakit liver kronis," kata Kepala Hubungan Masyarakat
(Humas) dan Protokol UGM, Suryo Baskoro, di Yogyakarta.

Prof Jacob adalah seorang antropolog ragawi UGM yang dikenal dengan
penemuannya tentang keberadaan manusia Flores yang kontroversial dan sering
menghebohkan kalangan antropolog di seluruh dunia.

"Ia juga dikenal sebagai seorang ilmuwan yang menghasilkan banyak karya
tulis, penelitian, buku, artikel, makalah di berbagai jurnal dan surat
kabar," katanya.

Pada tahun 2002, Rektor UGM ke-7 periode 1981-1986 itu juga menerima
penghargaan Bintang Mahaputra Nararya dari Presiden Megawati Soekarnoputri.

Sebelum meninggal dunia, ia ditangani secara intensif oleh sepuluh dokter
spesialis, antara lain berasal dari dokter ahli pencernaan, jantung, dan
saluran kencing.

"Jenazah akan disemayamkan di Balairung UGM pada Kamis pukul 12.00 WIB dan
dimakamkan pada pukul 13.00 WIB di makam keluarga UGM Sawitsari," katanya
menambahkan. (*)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke