Turut berduka cita dengan berpulangnya Prof Dr. Teuku Jacob. Ralph von Koenigswald, ahli vertebrata dan paleo-antropologi terkenal semasa zaman Belanda di Indonesia, punya dua murid orang Indonesia yang kemudian meneruskan pekerjaannya. Dua orang Indonesia ini kemudian terkenal sebagai ahli2 paleo-antropologi pertama di Indonesia. Mereka adalah Sartono Sastrohamidjojo dan Teuku Jacob. Pak Sartono berpulang pada 1995, Pak Teuku Jacob berpulang baru kemarin (17 Oktober 2007). Kini kedua ahli paleo-antropologi Indonesia pertama itu telah tiada. Saya yakin, para penerus Pak Sartono di ITB dan Pak Teuku Jacob di UGM akan tetap mengembangkan paleo-antropologi di Indonesia - sebuah negeri "hot-spot" dalam dunia paleo-antropologi. Pak Teuku Jacob terkenal sebagai orang yang keras akan koleksi2 fosilnya. Tidak sembarang orang bisa melihat dan menelitinya, termasuk para peneliti bule yang datang ke Indonesia. Sering ditulis bahwa Pak Teuku Jacob sangat hati2 dengan koleksi fosilnya itu, sampai ia selalu membawanya ke mana-mana menggunakan kopor. Pak Teuku Jacob (lahir 1929) sebaya dengan Pak Sartono (lahir 1928), hanya berbeda setahun usianya. Tentu saja mereka berdua mempunyai beberapa penelitian paleo-antropologi bersama, terutama di Jawa. Pak Jacob memperoleh gelar doktornya di Utrecht Belanda dibimbing langsung oleh Prof. Dr. Koenigswald. Pak Sartono memperoleh gelar doktornya 12 tahun sebelumnya (1958) di Universitas Indonesia dengan disertasinya tentang Pegunungan Sewu. Dan, ternyata penyakit liver sama-sama mengakhiri hidup Pak Sartono dan Pak Teuku Jacob. Seperti Pak Sartono, Pak Teuku Jacob pun beberapa kali mengeluarkan gagasan2 yang kontroversial. Misalnya, Pak Teuku pernah mengeluarkan gagasan agar boleh menerima anak SMA lulusan IPS di Faklutas Kedokteran, juga pernah mengeluarkan gagasan agar sarjana teknik (insinyur) pun diberi kewajiban praktek di desa dan daerah terpencil, WKS (wajib kerja sarjana) itu jangan hanya jadi kewajiban para lulusan kedokteran. Dalam dunianya (paleo-antropologi) juga ada beberapa gagasan kontroversialnya. Gagasan kontroversialnya yang terakhir adalah tentang Homo floresiensis. Temuannya tentang manusia Flores sampai saat ini masih mengundang perdebatan. Sebagian ahli menilai manusia Flores adalah spesies tersendiri dari manusia yang disebut Homo floresiensis. Namun Prof Jacob bersikukuh pada pendapatnya manusia flores adalah manusia biasa seperti kita (Homo sapien) namun memiliki gangguan sehingga tubuhnya kerdil atau mengalami penyakit micro sevali (pengecilan tempurung kepala). Untuk membahas masalah temuan fosil Liang Bua Flores itu, Pak Jacob hampir tiga bulan lalu menggelar pertemuan International Seminar on Southeast Asian Paleoanthropology (ISSP) pada tanggal Senin 23 Juli hingga 25 Juli 2007 di Hotel Hyatt Regency Yogyakarta. Pak Teuku Jacob menyatakan bahwa volume otak yang kecil ini mungkin merupakan suatu tanda kelainan mental daripada sekedar bukti yang menyatakannya sebagai satu spesies terpisah. (Pak Teuku Jacob juga seorang pakar di bidang patologi.) Selain itu, proses dwarfisme yang diperkirakan menjadi penyebab ukuran otak yang kecil pada Manusia Flores ini juga ditemukan pada ras-ras manusia lain. Teuku Jacob menekankan bahwa dwarfisme semacam itu tidak hanya dapat ditemukan di Flores, tapi juga di Central Mountain, Papua dan Andaman, Aceh. Fakta bahwa dwarfisme dikenal pada ras-ras manusia lainnya memberikan petunjuk baru tentang kekeliruan menetapkan H. floresiensis sebagai suatu "spesies" terpisah berdasarkan dwarfisme tersebut. Begitulah Pak Teuku Jacob. Selamat jalan Pak Teuku. Semoga penerus2mu akan membuat Indonesia semakin berdaulat dan terpandang dalam dunia paleo-antropologi. salam duka, awang
Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: *17/10/07 21:51* Antrtopolog Prof DR Teuku Jacob Meninggal DuniaYogyakarta (ANTARA News) - Guru Besar Emeritus (pensiun) Ilmu Kedokteran dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof DR Teuku Jacob, yang juga antropolog ragawi, meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Sardjito, Yogyakarta, pada Rabu sekira pukul 18.00 WIB. "Prof Jacob meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat intensif di RS Sardjito karena penyakit liver kronis," kata Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) dan Protokol UGM, Suryo Baskoro, di Yogyakarta. Prof Jacob adalah seorang antropolog ragawi UGM yang dikenal dengan penemuannya tentang keberadaan manusia Flores yang kontroversial dan sering menghebohkan kalangan antropolog di seluruh dunia. "Ia juga dikenal sebagai seorang ilmuwan yang menghasilkan banyak karya tulis, penelitian, buku, artikel, makalah di berbagai jurnal dan surat kabar," katanya. Pada tahun 2002, Rektor UGM ke-7 periode 1981-1986 itu juga menerima penghargaan Bintang Mahaputra Nararya dari Presiden Megawati Soekarnoputri. Sebelum meninggal dunia, ia ditangani secara intensif oleh sepuluh dokter spesialis, antara lain berasal dari dokter ahli pencernaan, jantung, dan saluran kencing. "Jenazah akan disemayamkan di Balairung UGM pada Kamis pukul 12.00 WIB dan dimakamkan pada pukul 13.00 WIB di makam keluarga UGM Sawitsari," katanya menambahkan. (*) *Copyright (c) 2007 ANTARA* -- http://rovicky.wordpress.com/ --------------------------------- Pinpoint customers who are looking for what you sell.

