Menyimak ceritera tentang Karl May, saya jadi ingat keadaan kira-kira 6o an 
tahun yang lalu yang saya alami. Saya masih kelas2 atau 3 di HIS, sekolah dasar 
(Hollandsch Inlandsche School)i Tuban, kota kabupaten.Walaupun kota kecil, 
tetapi sekolah memiliki sekolah dasar banyak. Ada HIS, ELS (Europeesche Lagere 
School) yang khusus diperuntukkan untuk anak-2 pejabat Belanda. Anak Bupati 
boleh sekolah disini, kemudian ada Vervolg School atau sekolah lanjutan yang 
menampung lulusan dari Volk School (sekolah desa yang hanya 3 tahun masa 
belajarrnya). Ini bagi murid yang ingin meneruskan ke tingkat yang lebih 
tinggi. Baik Vervolg School maupun Volk School tidak diajari bahasa belanda. Di 
samping itu ada sekolah swasta seperti Muhammadiyah dan Taman Siswa. Pelajaran 
di sekolah ini sama dengan HIS ditambah dengan kenasionalan dan pendidikan 
agama. Umumnya sekolah swasta tersebut disegani oleh penguasa Belanda. 
Demikianlah politik "devide et impera" Belanda yang membeda-bedakan sekolah. 
Perpustakaan sekolah saya (HIS) lengkap. Semua bahasa Belanda. Buku2 tersebut  
yang berkisar  kepahlawanan Belanda. Sebagai anak bawah umur senang saja 
membacanya. Buku-buku karangan yang imaginativ seperti petualangan Karl May, 
Winnetou dan Sutherland lengkaplah. Anehnya saya dulu baru kelas 2 HIS sudah 
mampu membaca Karl May dalam bahasa Belanda. Itu karena tulisannya sangat 
memikat. Kalau sudah mulai membacanya sudah tidak ingat makan, mandi dsb. 
Sampai ibu saya berteriak menyuruh mandi dengan membawa "kebyok" (pembersih 
kasur dibuat dari lidi yang diikat jadi satu). Kalau tidak cepat-cepat berdiri 
pasti kena sabetan di betis atau paha. Lumayan sakitnya. Mengapa anak-anak 
asyik sekali membaca ceritera-ceritera itu? Bahasanya mudah dimengerti oleh 
anak-anak. Bagaimana di sekolah-sekolah kita? Apakah ada ceritera kephlawanan 
dengan bahasa yang sederhana yang dapat dicerna oleh 
anak-anak?Kejadian-kejadian zaman Majapait, Mataram dan pangeran Diponegoro 
perlu diolah kembali menjadi bacaan yang menarik terutama bagi anak-anak.
Wallahu Alam. 
M. Untung       

Kirim email ke