Pak Awang, Pak Andri dkk,

Terima kasih berbagi ilmunya. 

Pada awalnya deposit tipe ini memang diduga berasosiasi (host rock-nya)
dengan reduced sediment seperti black shale, namun penemuan belakangan
menunjukkan bahwa host rock deposit ini sangat bervariasi walau masih
terbatas pada "clastic sediments". 

Saya belum menemukan juga penjelasan kenapa umur deposit ini kebanyakan
sangat tua. Dugaan saya di umur-umur tua tsb cekungan-cekungan sediment tsb
tidak banyak terganggu oleh tektonisme (??) sehingga memberikan kesempatan
metalliferous brines untuk mengendapkan Pb-Zn -nya dalam jumlah yg
signifikan di sea floor. Sedangkan basin-basin muda (bacan Tertiary)
terutama di Indonesia memeliki rentang waktu pengendapan relative pendek
(karena terganggu tektonisme) dibanding dengan basi-basin tua (Proterozic/
Paleozoic). Benarkah ???

Dugaan lain, metalliferous brines yg berumur tua kebanyakan bersifat lebih
dingin dan kental, sehingga waktu keluar di dasar laut dan bereaksi dengan
air laut unsur logam-nya langsung mengendap menjadi deposit sedex, sementara
yg muda lebih panas dan encer sehingga terhambur begitu saja bersama air
laut. Kenapa demikian ya??

Seandainya dugaan-dugaan di atas salah, tentunya basin-basin Tertiary adalah
target yg bagus untuk eksplorasi sedex.

Salam - Daru       

-----Original Message-----
From: Andri Subandrio [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Saturday, January 26, 2008 5:11 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Cekungan Sedimen Indonesia dan deposit sedex

Pak Sukmadaru dan Rekan IAGI Netter,

Sebagian besar riset cekungan di Indonesia berkaitan dengan hydrocarbon, 
sangat sedikit yang menelaah mineralisasi logamnya. Padahal bukan tidak 
mungkin mineralisasi juga berasosiasi dengan source atau reservoir rocks 
hydrocarbon. Apalagi di Indonesia yang merupakan jalur volkanik-magmatik 
yang panas intrusinya juga punya andil dalam pematangan HC. Beberapa 
mineralisasi  akhir-akhir ini ditemukan pada cekungan sedimen, seperti 
stratiform galena-sfalerit-kalkopirit di Dairi - Padangsidempuan, juga 
lapisan bijih besi hematit yang berasosiasi dengan VMS di Kendawangan yang 
telah mengekspor ratusan ribu ton bijihnya ke Asia timur. Mungkin sedex, VMS

atau BIF di Indonesia berasal dari sempalan atau fragment benua yang 
kemudian bersatu menjadi mozaic kepuluan Indonesia, bisa jadi ada 
Paleozoikum hingga Arhean ?!

Serpih cekungan hidrokarbon juga memungkinkan bagi terdaptnya mineral 
radioaktif seperti pitchblende atau uraninit seperti yang terdapat di bawah 
kota Dresden, Jerman (Dulu Jerman Timur), atau juga Coppershale seperti yang

terdapat di cekungan eropa tengah. Saya setuju dengan Pak Sukmadaru, bila 
memungkinkan, dalam xplorasi energi fossil juga dilihat kemungkinan 
mineralisasi di source dan reservoir rocknya.

Nuhun

Andri SSM

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, January 25, 2008 10:21 PM
To: [email protected]; Forum HAGI; Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS
Subject: Re: [iagi-net-l] Cekungan Sedimen Indonesia dan deposit sedex

Pak Daru,
   
  Mengapa umur cekungan dan sedimennya mesti menjadi pembatas mineralisasi
sedex ini ? Tokh apa yang terjadi pada Proterozoikum atau Paleozoikum pun
bisa terjadi pada kebanyakan cekungan di Indonesia yang berumur Mesozoikum -
Tersier (Indonesia Timur) atau Tersier (Indonesia Barat). Cekungan2 di
Indonesia umumnya diisi sedimen tebal yang bisa memeras melalui diagenesis
metal-bearing brines panas mengandung Zn-Cu-Pb ini, memigrasikannya ke atas
via bounding faults di cekungan atau batas cekungan, dan mengendapakannya di
dasar laut lalu bereaksi dengan air laut dan diendapkan sebagai deposit
sedex stratiform yang mengandung Zn, Pb, atau barit. 
   
  Proses ekshalasi semacam di atas biasa terjadi pada dolomitisasi karbonat.
Saya pernah mempelajari semua dolomit di Cekungan Salawati yang kadar
dolomitisasinya di atas 90 %. Di sana, ternyata dolomitisasi itu terjadi
pada semua reefal carbonate yang berposisi menghadap dalaman di depannya dan
ada sesar penghubung antara dalaman itu ke puncak reef. Saat diagenesis,
kompaksi sedimen penyusun cekungan terjadi, Mg-Ca brines terperas dari
sedimen marin di bawah akibat burial sediments di atasnya. Mg-Ca fluids (ini
fluida dolomit) lalu bermigrasi ke atas mencari tekanan yang rendah dan
begitu saja masuk ke sesar di dekatnya. Mg-Ca fluids naik sepanjang sesar
lalu bereaksi dengan CaCO3 penyusun reef yang tersesarkan itu. Di sini
terjadilah proses dolomitisasi tersebut, mirip dengan proses ekshalasi Zn-Pb
brines dengan fine-grained sediments (clay) di dasar laut.
   
  Sedimen2 Paleogen di Indonesia Barat mulai Oligo-Miosen umumnya
transgresif dan marin, jadi akan punya saline-hypersaline brine,
Zn-Pb-Cu-nya terdapat sebagai trace metals di sedimen2 itu yang saat
diagenesis bersama brine tersebut akan terperas lalu membentuk hot Zn-Pb-Cu
saline-hypersaline brine yang siap bermigrasi menghasilkan mineralisasi
ekshalatif. Ikatan kimiawi/atom trace metal ini dengan hydrous clays lemah
maka mudah terlepas saat diagenesis.
   
  Kalau bisa dengan skenario genesis di atas pada umur2 sedimen yang tak
mesti Proterozoikum atau Paleozoikum; data seismik regional dan detil
cekungan2 di Indonesia akan membantu para hardrock geologists. Sebab, dengan
data seismik tersebut bisa diketahui dan direkonstruksi mana sedimen2 yang
banyak trace metal Zn-Pb-Cu-nya (fine grained sediments macam clay dengan
reflektor seismik yang khas -low energy). Seberapa dalam sedimen itu
sekarang terkubur agar dapat mencapai sedex brine yang biasanya pada
temperatur 150-350 C, menduga di mana stratiform terbentuk misalnya menyisip
di antara clay beds sisa sea bed masa lalu, di mana sesar2 konduit untuk
migrasi metal-bearing fluids tersebut, dll -pasti akan ada kolaborasi yang
baik antara soft dan hard rock geologist.
   
  Contoh2 yang Pak Daru sebutkan itu (Riau-Belitung-Kal Bar) tak pernah
diidentifikasi keberadaan cekungan yang dalam, tetapi merupakan Sundaland
yang granitik, meragukan kalau deposit sedex di situ benar merupakan
exhalative mineralisasi oleh diagenetic fluids karena terperas oleh burial
sediments; kelihatannya malahan merupakan  deposit sedex yang punya source
magmatic fluids dari subseafloor magma chambers dan hydrothermal fluids yang
digenerasi panas magma chamber lalu mengintrusi saturated sediments.
   
  salam,
  awang 

Sukmandaru Prihatmoko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Rekan-rekan,



Saya baru membaca paper Pak Awang (Cekungan Sedimen Indonesia...) yang
diterbitkan di MGI (Majalah Geologi Indonesia) Vol.12 No.1, Nov 2007, yang
mengulas ada lebih dari 60 cekungan di Indonesia. Karena saya banyak
berkecimpung di dunia "hard rocks" - pikiran jadi melayang, mungkinkah ada
deposit sedex (sediment exhalatives) di cekungan-cekungan Indonesia?



Sebagai ilustrasi saja, deposit sedex (dan saudara-saudara-nya di kelompok
sediment hosted) saat ini merupakan sumber dari produksi dan cadangan Pb dan
Zn di dunia. Deposit tipe ini sudah dipelajari dan dieksplorasi dengan rinci
di Australia, Kanada dan USA yg memang geologi-nya "favorable". Tetapi di
daerah yang paleotectonic-nya kompleks spt Indonesia study ttg deposit ini
sangat sedikit (???). Walaupun banyak "occurrences" Pb-Zn diketemukan di
Indonesia dan memiliki kemiripan dengan tipe sedex. Sebut saja misalnya
Tanjung Balit di Riau, Kelapa Kampit di Belitung, Riam Kusik di Kalbar, juga
yg masih aktif dieksplorasi - Dairi di Sumut. 



Beberapa ahli dan penulis memberikan bbrp criteria untuk bisa terbentuknya
deposit sedex di suatu cekungan, baik dari aspek geologi, geokimia dlsb.
Salah satu aspek yg mungkin agak susah ketemu di Indonesia adalah umur
cekungan. Deposit-deposit sedex di dunia rata-rata memang berumur tua -
peak-nya ada di Proterozoic, tetapi ada juga sedikit yg di Carboniferous.
Umur termuda dari deposit ini yg pernah diketemukan adalah Tertiary (Lan
Ping di China) - walau masih jadi perdebatan apakah Lan Ping benar-benar
sedex. 



Seandainya cekungan-cekungan Indonesia memang favorable untuk Pb-Zn sedex,
makin lebarlah target eksplorasi para geologist "hard rocks", yang tentunya
memungkinkan disinergikannya teknik-teknik eksplorasi yang sering dipakai di
"soft rocks". Adakah yg punya pengalaman demikian?



Selamat akhir pekan.



Salam - Daru








----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.

---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke