Pak Daru,
Mengapa umur cekungan dan sedimennya mesti menjadi pembatas mineralisasi
sedex ini ? Tokh apa yang terjadi pada Proterozoikum atau Paleozoikum pun bisa
terjadi pada kebanyakan cekungan di Indonesia yang berumur Mesozoikum - Tersier
(Indonesia Timur) atau Tersier (Indonesia Barat). Cekungan2 di Indonesia
umumnya diisi sedimen tebal yang bisa memeras melalui diagenesis metal-bearing
brines panas mengandung Zn-Cu-Pb ini, memigrasikannya ke atas via bounding
faults di cekungan atau batas cekungan, dan mengendapakannya di dasar laut lalu
bereaksi dengan air laut dan diendapkan sebagai deposit sedex stratiform yang
mengandung Zn, Pb, atau barit.
Proses ekshalasi semacam di atas biasa terjadi pada dolomitisasi karbonat.
Saya pernah mempelajari semua dolomit di Cekungan Salawati yang kadar
dolomitisasinya di atas 90 %. Di sana, ternyata dolomitisasi itu terjadi pada
semua reefal carbonate yang berposisi menghadap dalaman di depannya dan ada
sesar penghubung antara dalaman itu ke puncak reef. Saat diagenesis, kompaksi
sedimen penyusun cekungan terjadi, Mg-Ca brines terperas dari sedimen marin di
bawah akibat burial sediments di atasnya. Mg-Ca fluids (ini fluida dolomit)
lalu bermigrasi ke atas mencari tekanan yang rendah dan begitu saja masuk ke
sesar di dekatnya. Mg-Ca fluids naik sepanjang sesar lalu bereaksi dengan CaCO3
penyusun reef yang tersesarkan itu. Di sini terjadilah proses dolomitisasi
tersebut, mirip dengan proses ekshalasi Zn-Pb brines dengan fine-grained
sediments (clay) di dasar laut.
Sedimen2 Paleogen di Indonesia Barat mulai Oligo-Miosen umumnya transgresif
dan marin, jadi akan punya saline-hypersaline brine, Zn-Pb-Cu-nya terdapat
sebagai trace metals di sedimen2 itu yang saat diagenesis bersama brine
tersebut akan terperas lalu membentuk hot Zn-Pb-Cu saline-hypersaline brine
yang siap bermigrasi menghasilkan mineralisasi ekshalatif. Ikatan kimiawi/atom
trace metal ini dengan hydrous clays lemah maka mudah terlepas saat diagenesis.
Kalau bisa dengan skenario genesis di atas pada umur2 sedimen yang tak mesti
Proterozoikum atau Paleozoikum; data seismik regional dan detil cekungan2 di
Indonesia akan membantu para hardrock geologists. Sebab, dengan data seismik
tersebut bisa diketahui dan direkonstruksi mana sedimen2 yang banyak trace
metal Zn-Pb-Cu-nya (fine grained sediments macam clay dengan reflektor seismik
yang khas -low energy). Seberapa dalam sedimen itu sekarang terkubur agar dapat
mencapai sedex brine yang biasanya pada temperatur 150-350 C, menduga di mana
stratiform terbentuk misalnya menyisip di antara clay beds sisa sea bed masa
lalu, di mana sesar2 konduit untuk migrasi metal-bearing fluids tersebut, dll
-pasti akan ada kolaborasi yang baik antara soft dan hard rock geologist.
Contoh2 yang Pak Daru sebutkan itu (Riau-Belitung-Kal Bar) tak pernah
diidentifikasi keberadaan cekungan yang dalam, tetapi merupakan Sundaland yang
granitik, meragukan kalau deposit sedex di situ benar merupakan exhalative
mineralisasi oleh diagenetic fluids karena terperas oleh burial sediments;
kelihatannya malahan merupakan deposit sedex yang punya source magmatic fluids
dari subseafloor magma chambers dan hydrothermal fluids yang digenerasi panas
magma chamber lalu mengintrusi saturated sediments.
salam,
awang
Sukmandaru Prihatmoko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan-rekan,
Saya baru membaca paper Pak Awang (Cekungan Sedimen Indonesia...) yang
diterbitkan di MGI (Majalah Geologi Indonesia) Vol.12 No.1, Nov 2007, yang
mengulas ada lebih dari 60 cekungan di Indonesia. Karena saya banyak
berkecimpung di dunia "hard rocks" - pikiran jadi melayang, mungkinkah ada
deposit sedex (sediment exhalatives) di cekungan-cekungan Indonesia?
Sebagai ilustrasi saja, deposit sedex (dan saudara-saudara-nya di kelompok
sediment hosted) saat ini merupakan sumber dari produksi dan cadangan Pb dan
Zn di dunia. Deposit tipe ini sudah dipelajari dan dieksplorasi dengan rinci
di Australia, Kanada dan USA yg memang geologi-nya "favorable". Tetapi di
daerah yang paleotectonic-nya kompleks spt Indonesia study ttg deposit ini
sangat sedikit (???). Walaupun banyak "occurrences" Pb-Zn diketemukan di
Indonesia dan memiliki kemiripan dengan tipe sedex. Sebut saja misalnya
Tanjung Balit di Riau, Kelapa Kampit di Belitung, Riam Kusik di Kalbar, juga
yg masih aktif dieksplorasi - Dairi di Sumut.
Beberapa ahli dan penulis memberikan bbrp criteria untuk bisa terbentuknya
deposit sedex di suatu cekungan, baik dari aspek geologi, geokimia dlsb.
Salah satu aspek yg mungkin agak susah ketemu di Indonesia adalah umur
cekungan. Deposit-deposit sedex di dunia rata-rata memang berumur tua -
peak-nya ada di Proterozoic, tetapi ada juga sedikit yg di Carboniferous.
Umur termuda dari deposit ini yg pernah diketemukan adalah Tertiary (Lan
Ping di China) - walau masih jadi perdebatan apakah Lan Ping benar-benar
sedex.
Seandainya cekungan-cekungan Indonesia memang favorable untuk Pb-Zn sedex,
makin lebarlah target eksplorasi para geologist "hard rocks", yang tentunya
memungkinkan disinergikannya teknik-teknik eksplorasi yang sering dipakai di
"soft rocks". Adakah yg punya pengalaman demikian?
Selamat akhir pekan.
Salam - Daru
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.