Harus hati-hati dan kritis menyikapi berita ini. BPMIGAS tak punya urusan dengan berita ini. Wilayah ini kosong dari blok perminyakan yang menjadi pengawasan BPMIGAS.
Beberapa hal dari berita itu yang perlu dikritisi. Yang baru teridentifikasi hanya terumbu2 yang belum diketahui umurnya, katakanlah terumbu ini berumur Miosen Awal-Miosen Tengah mengacu kepada terumbu yang menjadi objektif di Cekungan Sibolga sebelah selatan, di dekat wilayah survey BPPT-BGR ini. Terumbu2 ini pernah dieksplorasi Union Oil dan Caltex pada tahun 1970-an dan akhir 1980/awal 1990 dan telah dibor (Suma, Singkel, Ibu Suma) menghasilkan gas biogenik non-komersil. Terumbu2 ini hanya didapat dari survey geomarin yang punya jarak lintasan 60 km. Prospek/lead apa yang bisa diidentifikasi dengan space seismik 60 km ? Yang namanya prospek ia harus diidentifikasi oleh jarak lintasan seismik <5 km. Mengapa menganggap terumbu2 ini sebagai lapangan minyak ? Keberadaan terumbu tak mengindikasi keberadaan lapangan minyak. Keberadaan bright spot pun tak otomatis mengindikasi keberadaan gas column. Banyak brightspot sebagai akibat kontras impedansi litologi saja, dan telah banyak perusahaan tertipu oleh hal ini. Sumur terdalam dan terjauh di Makassar Strait dibor mengejar brightspot semacam ini, ternyata hanya kontras impedansi litologi akibat lapisan tuf di tengah lempung. Cara perhitungan sumberdaya/cadangan sangat kasar, hanya mengalikan BRV (bulk rock volume) dengan porositas; padahal kita tahu bahwa untuk sampai ke angka sumberdaya si BRV harus dipotong oleh N/G (net to gross), dipotong lagi oleh porositas, dipotong lagi oleh Sw (saturasi air) atau Shc (saturasi HC), lalu dibagi oleh FVF (formation volume factor). Kalau mau menghitung terkurasnya berapa harus banyak dipotong lagi oleh RF (recovery factor). Kalau hanya menghitung sumberdaya dengan mengalikan BRV dengan porositas, maka yang dihitung hanyalah ruang pori, bukan hidrokarbon. Mengapa mesti minyak ? Sibolga Basin dan semua cekungan muka busur di Sumatera-Jawa terkenal punya termal yang dingin (HFU <1.5; GG < 2 C/100 feet), kecuali Bengkulu Basin yang sedikit lebih panas; maka wajar saja kalau Union Oil dan Caltex menemukan gas biogenik saja di terumbu besar Singkel, Suma, Ibu Suma yang dibornya, padahal terumbu ini umurnya Miosen Awal. Minyak butuh termal yang lumayan panas. Tak cocok menganalogikan terumbu2 temuan BPPT-BGR ini ke lapangan2 migas di Arakan atau Mergui Terrace offshore Myanmar. Mereka bukan pada posisi forearc basin, tetapi berlokasi di passive margin dengan delta Gangga di teluk Benggala dan Delta Irawadi dengan Andaman Sea Floor Spreading. Belum ada terbukti lapangan minyak/gas komersil di forearc basin. Gempa Aceh Desember 2004 menggeser source rocks sehingga mengeluarkan panas dan mematangkan minyak adalah pernyataan yang menggelikan. Apakah kita tahu pasti lapisan source rocks di situ apa, apakah ia tergeser gempa ? Source rocks tak mengeluarkan panas, yang mengeluarkan panas adalah heat flow dari mantel dan panas konduktif dari tumpukan sedimen. Taruhlah gempa membuat sesar yang menghubungkan mantel dengan source rocks; tetapi harus diingat bahwa heat flow di sini minimal karena di wilayah barat Sumatera terjadi sel konveksi mantle downwelling yang membawa subduksi kerak samudera Hindia, jadi terhubung ke mantel yang dingin percuma saja. Membandingkannya dengan sumberdaya lapangan2 di Arab sungguh tak sepadan, membandingkannya bukan "apple to apple" sebab lapangan2 raksasa di Arab memang sudah dihitung menurut kaidah perhitungan sumberdaya/cadangan dalam perminyakan, bahkan membandingkannya dengan lapangan Bayu Urip pun tak sepadan. Tetapi, tak salah kalau BPPT/BGR mau menindaklanjuti temuan ini. Tetapi, pikirkanlah aspek2 negatifnya juga; dan sebaiknya berhati-hatilah mengeluarkan pendapat yang bombastis ini ke publik, dasar ilmiahnya masih sangat kurang, dan status evaluasinya masih teramat dini. Kalau sudah terlanjur terlempar ke publik, lalu bagaimana ? Mimpi boleh, tetapi tak perlu ribut-ribut dulu ke mana2. Salam, awang -----Original Message----- From: Muhammad Taufik [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, February 12, 2008 2:50 C++ To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] JakPost - Agencies discover hydrocarbon in Aceh > lanjut berita Koran Lokal Berikut petikan koran lokal di aceh tentang berita dari BPPT ini. Ada baiknya IAGI, BPPT, maupun BP Migas bisa duduk bersama sebelum mengeluarkan berita gembira spt ini, setidaknya berita tsb tidak sampai dipolitisir oleh sekelompok massa, apalagi daerah ini yang baru saja mengakhiri konflik. Migas Raksasa Ditemukan di Aceh JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama lembaga riset geologi dan kelautan Jerman (BGR) menemukan sumber daya minyak dan gas (migas) berskala raksasa di timur laut Pulau Simeulue, Aceh. Potensi hidrokarbon itu ditaksir mencapai 50 miliar barel. Lebih besar dari yang terdapat di Banyu Urip, Jawa Timur, yang hanya 450 juta barel. Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi BPPT Yusuf Surahman menjelaskan, potensi itu berdasarkan perhitungan dengan porositas 15 persen. Porositas merupakan kemungkinan batuan menyimpan cairan (termasuk minyak) di dalam gugusannya. Karena rata rata saat ini porositas yang digunakan sekitar 20 persen. Jadi, 15 persen itu realistis, katanya dalam jumpa pers di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (11/2). Sementara, jika menggunakan porositas 30 persen, maka diperkirakan volume minimum cekungan mencapai 107,5 miliar barel dan volume maksimumnya 320,79 miliar. Jika dibandingkan dengan negara negara lain, penemuan ini termasuk kategori kakap. Arab Saudi, misalnya, cadangan terbuktinya 264,21 miliar barel, sehingga bisa dieksplorasi selama 250 tahun. Sedangkan potensi migas di Banyu Urip, Jawa Timur, sebesar 450 juta barel. Adapun lapangan migas yang dapat dikategorikan sebagai giant field adalah apabila volume cadangan terhitung mencapai 500 juta barel. Pascagempa Penemuan potensi migas di perairan Simeulue itu bermula dari penelitian yang dilakukan BPPT terkait gempa dan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Saat itu BPPT bersama lembaga riset geologi dan kelautan Jerman (BGR) meneliti struktur geologi di sekitar Aceh-Nias dan akhirnya menemukan potensi hidrokarbon di sekitar Pulau Simeulue. Yusuf Surahman menambahkan, terdeteksinya potensi migas itu karena dipicu oleh gempa yang terjadi di Aceh akhir Desember 2004 yang membuat geseran lokasi source rock. Source rock merupakan batu yang mengeluarkan panas untuk mematangkan kandungan minyak. Potensi hidrokarbon ini ditemukan di kedalaman sekitar 1.900 meter di bawah air laut. Ia tak lupa mengingatkan bahwa volume tersebut hanya merepresentasikan ruang dalam bentuk tangki yang belum tentu seluruhnya diisi oleh hidrokarbon, berhubung ruang dalam batuan dipengaruhi faktor lain, seperti indeks saturasi air, kemampuan daya tampung minyak, dan gas. Menurut Yusuf, hidrokarbon tersebut belum bisa dipastikan sebagai kandungan minyak dan gas (migas). Namun, pihaknya menemukan carbonat build up yang mencirikan minyak dan bright spot yang mencirikan gas. Begitupun, masih dibutuhkan kajian yang lebih teliti untuk mengetahui kandungan yang sebenarnya. Kepala BPPT Prof Dr Said D Jenie menyatakan sudah melaporkan penemuan ini ke Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tapi lama tak dapat respons. Sampai akhirnya Pertamina menyatakan ketertarikan untuk bekerja sama dengan BPPT melakukan kajian lebih dalam. http://serambinews.com/old/cetak.php?aksi=cetak&beritaid=42390 2 of 2 12/02/2008 14:29 Pertamina sudah kirim letter of intent, katanya. Pakar perminyakan dari Exploration Think Tank Indonesia (ETTI), Dr Andang Bachtiar, berpendapat potensi minyak dan gas (hidrokarbon) yang baru ditemukan di perairan timur laut Pulau Simeulue itu perlu segera ditindaklanjuti. Kalau potensinya mencapai 107,5 miliar sampai 320,79 miliar barel itu suatu jumlah yang sangat besar. Jika dari potensi itu hanya terbukti 25 persen saja, masih juga merupakan angka yang sangat menarik, ujarnya di Jakarta kemarin. Ia perkirakan butuh tiga tahun untuk membuktikan cadangan dengan melakukan pengeboran 14 sumur dan studi seismik senilai US$ 3 juta. Sementara itu, Kepala BPPT Prof Said Jenie berharap, Pemerintah Indonesia segera mengamankan potensi tersebut agar dapat dikuasai oleh negara. BPPT menyarankan untuk segera dilakukan penelitian lanjutan semaksimal mungkin yang dilaksanakan para peneliti dalam negeri yang sudah memiliki kemampuan dan fasilitas. BPPT dan LIPI memiliki sejumlah armada kapal riset Baruna Jaya untuk membuktikan kebenaran ada-tidaknya cadangan itu, katanya. Titik koordinat Guna memastikan titik kordinat tempat ditemukannya ladang migas baru itu, Serambi coba menghubungi Kepala Divisi Komunikasi Pertamina Pusat Jakarta, Wisnuntoro petang kemarin. Namun, Wisnuntoro mengaku hingga kemarin belum mengetahui persis lokasi tersebut. Saya belum tahu lokasi temuan migas itu. Besok akan saya tanyakan ke BP Migas. Soalnya, kalau menyangkut eksplorasi minyak dan gas itu kewenangan BP Migas (Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi -red), kata Wisnuntoro yang mantan kepala Pertamina Unit Pemasaran I Medan. (dtf/usb/ant) Copyright (c) 2008 Serambi Indonesia. All rights reserved. ----- Mesej Asal ---- Daripada: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Dihantar: Selasa, 12 Februari, 2008 10:51:38 Subjek: Re: [iagi-net-l] JakPost - Agencies discover hydrocarbon in Aceh 2008/2/12 Ferry Bastaman Hakim <[EMAIL PROTECTED]>: > Tapi terus terang saya ragu biogenic gas generation mampu efektif untuk > mengisi tank sebesar itu. Paling tidak ada dua hal yang menjadi unsur penting dalam menghasilkan kuantitas minyak sebesar itu : 1. Source (charging) - Apakah ada source rock yang mampu menggenerate HC sebanyak itu ? 2. Container capacity - Apakah ada tanki atau kontener yang mampu menampungnya ? Porosity, Seal capacity ..... dalam hal ini termasuk rentesion (seberapa kuat menahan dalam waktu tertentu. (btw, setahuku jarang (tidak ada) reef build-up yang terisi "full to spill", jangan-jangan yang dihitung hanya ukuran dari kontainernya saja) 3 ... Salah satu cara utk "reality check" adalah mencari analogi, adakah analoginya di lokal Indonesia (region Asia) kalau masih mau mencoba lagi, mencari analogi secara global, adakah analoginya "somewhere on earth"?. Mari bermimpi bareng-bareng ! Lupakan sejenak "reality check" kita coba "out of the box". Kalau masih akan mencoba improvisasi "out of the box", boleh saja dilakukan. Walaupun harus disadari kita akan tetep harus dalam koridor "BOX". Boxnya bisa saja "local analogue", bisa saja dalam box "global analogue". Kalau masih kurang dalam "fundamental physics". artinya apakah spekulasi kita masih akan diakui dalam ilmu fisika ? Misalnya, apakah source rock yang diperkirakan ada itu akan mampu 50% efficient menghasilkan HC ? Yang ingin saya sampaikan adalah ... penyampaian "angka" (walaupun spekulatif) itu mestinya selalu dalam sebuah koridor ilmiah, apalagi BPPT. Dan saya yakin mereka sudah melakukannya dengan baik. Tentusaja, menyampaikan angka sebesar itu walaupun ingin out of the box, tetap harus dalam koridor hukum-hukum ilmu dasar fisika dan kimia. Salam mimpi RDP ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. --------------------------------------------------------------------- Search, browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel http://sg.travel.yahoo.com This email was Anti Virus checked by Administrator. http://www.bpmigas.com ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

