Vick Salut untuk "Gallup" surveynya ringan karena olah statistiknya enggak heboh.Beberapa pertanyaan survei itu jelas bersifat inter-korelasi/multi-regresi dan 'terlalu' umum, pilahannya bertendensi subjektif, tapi tetap enak dikomentari dan menarik koq. Yang 'jelas' 'kami' di ME karena fulus dan fasilitas bukan karier (paling tidak berdasarkan ucapan verbal kebanyakan teman2 waktu perkenalan diri), yg faktor signifikan lain cukup khas yaitu dekat dgn kota suci Mekah dan Medinah. Hubungannya dengan Nasionalis/me..wah mudah2an kami akan bahas mendekati 17 Agustus ini..hhehe. Mungkin agar bergeser jawabannya bila pertanyaan dikemukakan berdasarkan kelompok umur dan year of experiences...kerasa lha yg hampir dan lewat 50th udah pasti kumpulin fulus the no. 1 factor...gitu yang aku tau di ME ini. salam hangat sgm hutabarat == Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Apakah nasionalisme sudah menjadi barang jadul ?
"Mengapa tertarik ke Malaysia, mengapa tidak ke Uni Eropa atau ke AS? Apa keuntungan/ kemudahan bekerja di Malaysia?? Apa keinginan atau harapan terhadap Indonesia sebagai tanah air, terutama dari pemerintah dimana ternyata banyak sekali ahli-ahli Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri dan membangun negara orang lain karena mendapat imbalan ekonomi yang sangat menyejahterakan dibandingkan dengan membangun negeri sendiri ? Diatas itu merupakan pertanyaan seorang "wartawan" yang suka menggelitik rasa nasionalisme para pekerja migas di Luar negeri (khususnya Malaysia). Nah apa jawaban mereka yg saat ini bekerja di LN ini ? benarkah mereka menginginkan materi saja ? Silahkan simak disini : http://rovicky.wordpress.com/2008/04/08/nasionalisme-barang-jadul/ Rovicky DP -- http://tempe.wordpress.com/ No one can monopolize the truth ! Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

