> Awang

Pertanyaan kecil dari saya : " 
mengapa di Kalimantan tidak berkembang binatang binatang besar seperti
gajah , harimau , badak dan sejenisnya".
Di Kompas hari ini
dimuat berita yang menyebutkan bahwa "banteng Kalimantan" masih
ada di kabupaten Lamandau. Jejak jejaknya serta kotoran-nya sering
ditemukan dimataair asin.
Malahan ditemukan satu induk banteng engan
anaknya , sayang induknya dibunuh , anaknya sekarang dipelihara 
disalah satu kampung , sudah dicek memang Banteng.
Kalau brita ini
benar , sangat mengembirakan dan merupakan pekerjaan rumah untuk
penelitian banteng selanjutnya.

Apakah banteng  adanya di
Jawa dan Kalimantan ? Apakah di Sumantra tidak ada ?
Kalau iya ,
apakah ini bukan merupakan penyimpangan dari theori yang Awang sebutkan
?

Si Abah

_____________________________________________________________________

   Dalam beberapa tulisan terdahulu, saya pernah
mengulas kontrol geologi
> atas biogeografi. Berikut ini saya akan
mengulas bagaimana Pulau Sumatra
> dan seluruh pulau  busur
luarnya (Simeulue-Enggano) dan pulau-pulau di
> sebelah timurnya
(Riau Kepulauan, Bangka, Belitung, Anambas-Natuna)
> memenuhi
dengan ideal apa yang disebut dengan “teori biogeografi
pulau”
> (theory of island biogeography). Data dan
interpretasi didasarkan kepada
> publikasi2 di dalam bidang
geologi, biologi, botani, zoologi, dan
> klimatologi.
>

>   Teori Biogeografi Pulau mengatakan bahwa pulau2 kecil dan
jauh mendukung
> lebih sedikit spesies (jenis) daripada pulau2
besar yang dekat dengan
> daratan utama. Penghunian pulau akan
merupakan kesetimbangan dari dua
> hal : kolonisasi pulau oleh
spesies imigran dan punahnya spesies di
> pulau itu. Tingkat
kolonisasi akan tinggi bila pulau terletak dekat
> daratan utama.
Sebaliknya, tingkat kepunahan akan lebih besar di pulau
> yang
jauh dan kecil karena populasinya terbatas sehingga sekali kena
>
penyakit yang pandemik peluang kepunahannya besar. Maka, pulau besar
dan
> dekat akan semakin kaya jenis, pulau kecil dan jauh akan
semakin miskin
> jenis.
> 
>   Yang mengontrol
pulau besar-dekat atau pulau kecil-jauh adalah geologi.
> Yang
mengontrol pulau terhubung dengan daratan utama atau terisolasi
>
adalah geologi. Yang mengontrol perkembangan pulau-pulau dari waktu ke
> waktu dalam sejarah alam adalah geologi. Maka, memahami dengan
baik
> evolusi geologi sebuah wilayah kepulauan akan memampukan
kita membuat
> prediksi keragaman jenis wilayah itu.
> 
>   Hubungan antara ukuran pulau dan jumlah jenis/spesies adalah
linier dan
> relatif konstan untuk sekelompok hewan dan tanaman.
Whitten et al.
> (2000) membuktikan hal ini. Mereka
mempublikasikan penelitian jumlah
> jenis burung darat dan air
tawar 23 pulau terpilih di Indonesia dan
> sekitarnya, dan
menemukan bahwa jumlah jenis terendah ada di Pulau
> Christmas
(sekitar 10 jenis) dan jumlah jenis terbanyak dimiliki Papua
>
(Indonesia dan PNG) sekitar 800 jenis. Tiga besar pemegang jumlah jenis
> terbanyak adalah : Papua, Kalimantan, Sumatra – sesuai dengan
pemegang
> predikat tiga ukuran pulau terbesar. Umumnya, bila
sebuah pulau
> berkurang ukurannya 10 x, maka jumlah jenisnya
berkurang setengahnya.
> 
>   Ukuran pulau pun berhubungan
dengan ukuran jenis yang ada. Binatang
> besar yang ada di pulau
kecil akan punah terlebih dahulu sebab berbagai
> faktor dalam
seleksi alam. Menariknya, binatang-binatang kecil yang ada
> di
pulau kecil bisa menjadi lebih besar ukurannya dibandingkan dengan
> saudara sejenisnya yang hidup di pulau besar (tentang ini pernah
saya
> ulas mengapa Homo floresiansis menjadi kerdil di Flores -
sementara
> tikus2nya menjadi berukuran raksasa –lihat
lampiran di bawah; theory of
> island dwarfism). Maka, bila kita
melakukan pekerjaan geologi lapangan
> ke pulau-pulau di sebelah
barat Sumatra tidak perlu kuatir akan berjumpa
> dengan harimau,
macan tutul, gajah, banteng, atau badak Sumatra.
> 
>  
Sekarang kita lihat kasus Sumatra. Sumatra merupakan salah satu pulau
> terkaya akan jenis binatang. Jenis mamalia terbanyak di Indonesia
ada di
> Sumatra, jenis burungnya terbanyak kedua setelah Papua.
Kekayaan jenis
> ini karena ukuran pulaunya yang besar, variasi
habitatnya, dan hubungan
> masa lampaunya dengan daratan utama
Asia. Ada 23 spesies endemik (khas,
> hanya ada di tempat itu di
dunia) di Sumatra, 14 di antaranya ada di
> Kepulauan Mentawai
(Corbert dan Hill, 1992; Ruedi dan Fumagalli, 1996).
> 
> 
 Sementara itu, Pulau Simeulue di posisi paling utara rangkaian
kepulauan
> busur luar ini, dan Pulau Enggano di posisi paling
selatan; sangat
> miskin akan kekayaan spesies. Mengapa Kepulauan
Mentawai memiliki
> kontras tersendiri ? Sejarah geologi
perkembangan pulau-pulau ini akan
> menjadi kunci ke arah
jawaban.
> 
>   Sejarah geologi dan perkembangan
pulau-pulau ini relatif terhadap
> daratan utama Sumatra paling
tidak sejak 1 juta tahun yang lalu sampai
> saat ini menunjukkan
bahwa bagian paling utara (Simeulue) dan bagian
> paling selatan
(Enggano) busur luar ini tidak pernah bersatu dengan
> Sumatra,
sementara bagian tengahnya (Mentawai) bersatu dari 1 – 0.5 Ma
> (juta tahun yang lalu) dan terpisah dari Sumatra sejak 500 ribu
tahun
> yang lalu.
> 
>   Antara 1-0.5 Ma,
Kepulauan Mentawai mengalami kolonisasi oleh spesies2
> yang
bermigrasi dari daratan utama Sumatra, sementara Simeulue dan
>
Enggano tidak karena mereka selamanya terisolasi. Kemudian, pada 0.5 Ma
> hubungan Mentawai-Sumatra terputus, sejak itu Mentawai mengalami
> isolasi. Bentuk-bentuk primitif spesies yang mengkolonisasi
Mentawai
> berkembang sendiri melalui mekanisme spesiasi dalam
evolusi. Spesies2
> awal Indo-Malaya yang
”terperangkap” di Mentawai kemudian berkembang
>
sendiri dan menjadi endemik saat ini, jauh lebih endemik daripada
hewan2
> di daratan Sumatra yang pernah menjadi sumber aliran
gen-nya.
> 
>   Pulau-pulau di sebelah timur Sumatra (Riau
Kepulauan, Bangka-Belitung)
> hampir selalu bersatu secara geologi
dengan Sumatra; maka dapat
> diprediksi bahwa variasi spesiesnya
tak akan jauh berbeda dengan
> Sumatra, spesies endemiknya akan
minimal. Benar, pulau2 Riau dan Lingga
> serta Anambas/Natuna tak
punya jenis yang endemik (meskipun dalam
> tingkat sub-jenis ada
juga yang endemik). Mamalianya lebih mirip Sumatra
> atau
Kalimantan daripada Mentawai. Menurut data van der Zon (1979),
>
jumlah jenis di kepulauan Riau-Lingga-Bangka-Belitung-Anambas-Natuna
> 45-58 % mirip jenis-jenis Sumatra dan Kalimantan; sedangkan jumlah
jenis
> di kepulauan Mentawai hanya 26 % mirip jumlah jenis di
Sumatra dan
> Kalimantan. Sebuah kontras bio/zoogeografi; tetapi
kita bisa memahaminya
> sebab terdapat kontras geologi yang
signifikan antara Mentawai dengan
>
Sumatra-Riau-Bangka-Belitung-Natuna.
> 
>   Di dalam Pulau
Sumatra sendiri terdapat juga kontras biogeografi yang
> juga
dikendalikan oleh geologi. Barier terhadap biogeografi di daratan
> Sumatra berupa sungai-sungai yang terlalu lebar dan pegunungan
yang
> terlalu tinggi untuk diseberangi. Sebuah minor boundary 
zone
> biogeografi ditaruh para ahli biogeografi tepat di
sepanjang Sesar
> Sumatra. Apakah sesar ini menjadi garis
demarkasi yang gagal dilewati
> para hewan ? Tidak, garis
demarkasinya adalah Pegunungan Bukit Barisan
> yang tinggi yang
memang duduk di sepanjang Sesar Sumatra. Minor boundary
> ini
membatasi aliran pertukaran gen dan memisahkan subspesies.
> 
>   Sebuah major boundary menarik yang memisahkan seluruh spesies
ditaruh
> para ahli memanjang BD-TL dari timurlaut Pulau Nias ke
arah timurlaut
> memotong Danau Toba sampai ke sekitar Medan.
Garis demarkasi besar ini
> di sekitar Pulau Nias berimpit dengan
barier besar geologi Sesar Batee
> yang memisahkan platelet Aceh
dari sisa plate Eurasia yang diduduki
> Sumatra; tetapi makin ke
timur laut ia menyimpang dari jalur Sesar
> Batee. Jumlah jenis di
sebelah utara dan selatan major boundary ini
> lumayan kontras.
Beberapa spekulasi dikemukakan, berhubungan dengan
> sebaran tuf
erupsi Toba 75.000 tahun yang lalu yang lebih banyak di
> sebelah
utara batas biogeografi, atau berhubungan dengan tiupan angin
>
kering tipe Fohn  dari Padang Lawas-Padang Sidempuan yang akan
>
mengeringkan cuaca dan menghentikan migrasi hewan dari selatan yang
> mencoba melalui garis demarkasi ini (Oldeman et al., 1970).
Aliran
> migrasi yang berhenti akan menghentikan aliran gen untuk
spesiasi,
> sehingga variasi spesies dua
>  wilayah akan
kontras.
> 
>   Demikian tinjauan sederhana bagaimana
geologi mengendalikan
> keanekaragaman hayati sebuah wilayah. Di
Indonesia, persada kita
> tercinta, sejarah alam telah
mengawetkannya dan kini memperlihatkannya
> kepada kita. Semoga
kita sadar dan menghargai kekayaan sejarah alam ini.
> 
> 
 salam,
>   awang
> 
>   LAMPIRAN
> 
>   Date: Sun, 31 Oct 2004 18:13:20 -0800 (PST)
>  
From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>  Add to
Address Book
>   Subject: Re: [iagi-net-l] Manusia Hobbit Homo
floresiensis
>   To: [email protected],
[EMAIL PROTECTED]
> 
>   Laporan Rowland (1992) :
Timor : including islands of Roti and Ndao &ndash;
> World
Bibliographical Series V. 142, Oxford Press (bisa dibaca di
>
Kathryn Monk et al., 1997 : The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku
&ndash;
> Periplus Editions, Singapore) ternyata sudah menyebut2
keberadaan
> semacam &ldquo;hobbit&rdquo; ini di Flores bahkan di
beberapa pulau lainnya di Nusa
> Tenggara. Disebutnya bahwa di
Upper Paleolithic (40.000-6000 BP), Nusa
> Tenggara dan sekitarnya
dihuni oleh manusia moderen Homo sapiens yang
> merupakan golongan
pemburu dan pengumpul (hunter-gatherers) Australoid
> pygmy yang
bermigrasi dari barat. Mereka diperkirakan datang dari
> daratan
utama Asia melalui Filipina. Kehadirannya juga ditandai dengan
>
alat2 batu yang besar dan punahnya beberapa fauna (stegodon, kadal
> raksasa, dan penyu daratan) di Sulawesi, Flores, dan Timor.
Orang2
> kerdil ini kata Rowland (1992) tinggal di dalam gua2 atau
rumah batu
> yang digali di bukit2 atau di dekat pantai. Penghuni2
kerdil di Timor
> ini bisa jadi yang
>  bermigrasi ke
Australia.
> 
>   Pendapat Rowland ini berarti tidak
sejalan dengan pendapat bahwa
> aborigin Australia berasal dari
manusia Ngandong yang bermigrasi dari
> Jawa melalui Nusa
Tenggara. Di Nusa Tenggara banyak artefak industri
> Pacitanian
atau Sangiranian yang diperkirakan pembuatnya adalah manusia
>
Ngandong (van den Bergh et al., 1996 : Did Homo erectus reach the
island
> of Flores ? &ndash; BIPPA / Bull. of the Indo-Pacific
Prehistory Association,
> v. 14, p. 27-36).
> 
>  
Jacob (1967) : &ldquo;Some Problems Pertaining to the Racial History of
the
> Indonesian Region&ldquo; pernah menemukan rangka manusia
perempuan dewasa
> bersosok kecil di sebuah gua bernama Liang Toge
di Flores dengan umur
> 2000 SM. Sisa rangka dari beberapa situs
di Flores semuanya diduga
> bertarikh Holosen dan termasuk ke para
leluhur populasi
> Australo-Melanesia yang sekarang mendiami pulau
Flores.
> 
>   Saya pikir &ldquo;hobbit&rdquo; di Flores
itu hanya menunjukkan suatu ras dalam Homo
> sapiens, bukan
hominid.  Memang benar bahwa semua populasi mengalami
> seleksi
alamiah dan genetic drift yang akan berakibat menimbulkan
>
kelompok ras tertentu melalui polimorfisme, tetapi kurun waktu yang
> singkat menyulitkan untuk menerima bahwa suatu evolusi lokal
telah
> terjadi di sini. Dan sangat mungkin pula bahwa
&ldquo;hobbit&rdquo; di Flores itu
> juga merupakan sisa ras lama
yang terawetkan saat ekspansi migrasi ras
> Mongoloid Selatan
terjadi ke seluruh dunia. Sebagian besar penduduk
> kawasan
Indo-Malaysia sekarang termasuk ke fenotipe Mongoloid Selatan.
>
Tetapi di wilayah2 ini juga ada populasi2 lain yang walaupun kecil
> jumlahnya tetapi penting dalam sejarah, yaitu ras Negrito
>
(Australoid/Austro-Melanesia) yang masih tinggal di Malaysia dan
>
Filipina yang bertubuh kecil. Tubuh pendek ini juga memang bisa terjadi
> sebagai adaptasi terhadap lingkungan, walaupun ini tak selalu
benar
> sebab penelitian terhadap orang
>  pygmy di Afrika
(Merimee et al., 1981) : &ldquo;Dwarfism in the Pygmy&rdquo; &ndash;
New
> England Journal of Medicine vol.305, no. 17  menemukan bahwa
mereka
> ternyata kekurangan hormon IGF-I, yaitu hormon mirip
insulin yang
> dibutuhkan untuk pertumbuhan.
> 
>

>   Salam,
>   awang
> 
> 
>
---------------------------------
> Be a better friend, newshound,
and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it
> now.


-- 
_______________________________________________
Nganyerikeun hate batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate
jalma hirupna pada ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.

Kirim email ke