>Herman
Atuh bukan penduduk asli nya , itu hasil
transmigrasi.
Si Abah
_____________________________________________________________________
Abah,
>
> Sekedar info...
> Di
pulau Kalimantan atau Borneo ada gajah di bagian utara. Tapi ceritanya
> berbeda dengan gajah Sumatra.
> Konon raja Thailand
memberikan gajah sebagai kenang-kenangan kepada
> kerajaan di
Sabah-Brunei. Di Thailand gajah ini dianggap suci. Kerajaan di
>
Sabah, tidak tau apa harus dibuat dengan gajah-gajah ini. Jadi mereka
> lepaskan saja di hutan. Akhirnya mereka berkembang biak di hutan,
tapi
> jumlahnya masih tetap terbatas.
>
>
Herman
>
> -----Original Message-----
>
From: yanto R.Sumantri [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent:
Tuesday, April 29, 2008 8:17 AM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Kendali Geologi atas Biogeografi
Sumatra
>
>
>
>
>
>> Awang
>
> Pertanyaan kecil dari saya : "
> mengapa di Kalimantan tidak berkembang binatang binatang besar
seperti
> gajah , harimau , badak dan sejenisnya".
>
Di Kompas hari ini
> dimuat berita yang menyebutkan bahwa
"banteng Kalimantan" masih
> ada di kabupaten Lamandau.
Jejak jejaknya serta kotoran-nya sering
> ditemukan dimataair
asin.
> Malahan ditemukan satu induk banteng engan
>
anaknya , sayang induknya dibunuh , anaknya sekarang dipelihara
>
disalah satu kampung , sudah dicek memang Banteng.
> Kalau brita
ini
> benar , sangat mengembirakan dan merupakan pekerjaan rumah
untuk
> penelitian banteng selanjutnya.
>
>
Apakah banteng adanya di
> Jawa dan Kalimantan ? Apakah di
Sumantra tidak ada ?
> Kalau iya ,
> apakah ini bukan
merupakan penyimpangan dari theori yang Awang sebutkan
> ?
>
> Si Abah
>
>
_____________________________________________________________________
>
> Dalam beberapa tulisan terdahulu, saya pernah
> mengulas kontrol geologi
>> atas biogeografi. Berikut
ini saya akan
> mengulas bagaimana Pulau Sumatra
>> dan
seluruh pulau busur
> luarnya (Simeulue-Enggano) dan pulau-pulau
di
>> sebelah timurnya
> (Riau Kepulauan, Bangka,
Belitung, Anambas-Natuna)
>> memenuhi
> dengan ideal
apa yang disebut dengan “teori biogeografi
>
pulau”
>> (theory of island biogeography). Data
dan
> interpretasi didasarkan kepada
>> publikasi2 di
dalam bidang
> geologi, biologi, botani, zoologi, dan
>> klimatologi.
>>
>
>> Teori
Biogeografi Pulau mengatakan bahwa pulau2 kecil dan
> jauh
mendukung
>> lebih sedikit spesies (jenis) daripada pulau2
> besar yang dekat dengan
>> daratan utama. Penghunian
pulau akan
> merupakan kesetimbangan dari dua
>> hal :
kolonisasi pulau oleh
> spesies imigran dan punahnya spesies di
>> pulau itu. Tingkat
> kolonisasi akan tinggi bila pulau
terletak dekat
>> daratan utama.
> Sebaliknya, tingkat
kepunahan akan lebih besar di pulau
>> yang
> jauh dan
kecil karena populasinya terbatas sehingga sekali kena
>>
> penyakit yang pandemik peluang kepunahannya besar. Maka, pulau
besar
> dan
>> dekat akan semakin kaya jenis, pulau
kecil dan jauh akan
> semakin miskin
>> jenis.
>>
>> Yang mengontrol
> pulau besar-dekat
atau pulau kecil-jauh adalah geologi.
>> Yang
>
mengontrol pulau terhubung dengan daratan utama atau terisolasi
>>
> adalah geologi. Yang mengontrol perkembangan
pulau-pulau dari waktu ke
>> waktu dalam sejarah alam adalah
geologi. Maka, memahami dengan
> baik
>> evolusi
geologi sebuah wilayah kepulauan akan memampukan
> kita membuat
>> prediksi keragaman jenis wilayah itu.
>>
>> Hubungan antara ukuran pulau dan jumlah jenis/spesies
adalah
> linier dan
>> relatif konstan untuk sekelompok
hewan dan tanaman.
> Whitten et al.
>> (2000)
membuktikan hal ini. Mereka
> mempublikasikan penelitian jumlah
>> jenis burung darat dan air
> tawar 23 pulau terpilih di
Indonesia dan
>> sekitarnya, dan
> menemukan bahwa
jumlah jenis terendah ada di Pulau
>> Christmas
>
(sekitar 10 jenis) dan jumlah jenis terbanyak dimiliki Papua
>>
> (Indonesia dan PNG) sekitar 800 jenis. Tiga besar
pemegang jumlah jenis
>> terbanyak adalah : Papua, Kalimantan,
Sumatra – sesuai dengan
> pemegang
>>
predikat tiga ukuran pulau terbesar. Umumnya, bila
> sebuah
pulau
>> berkurang ukurannya 10 x, maka jumlah jenisnya
> berkurang setengahnya.
>>
>> Ukuran pulau
pun berhubungan
> dengan ukuran jenis yang ada. Binatang
>> besar yang ada di pulau
> kecil akan punah terlebih
dahulu sebab berbagai
>> faktor dalam
> seleksi alam.
Menariknya, binatang-binatang kecil yang ada
>> di
>
pulau kecil bisa menjadi lebih besar ukurannya dibandingkan dengan
>> saudara sejenisnya yang hidup di pulau besar (tentang ini
pernah
> saya
>> ulas mengapa Homo floresiansis menjadi
kerdil di Flores -
> sementara
>> tikus2nya menjadi
berukuran raksasa –lihat
> lampiran di bawah; theory
of
>> island dwarfism). Maka, bila kita
> melakukan
pekerjaan geologi lapangan
>> ke pulau-pulau di sebelah
> barat Sumatra tidak perlu kuatir akan berjumpa
>> dengan
harimau,
> macan tutul, gajah, banteng, atau badak Sumatra.
>>
>>
> Sekarang kita lihat kasus Sumatra.
Sumatra merupakan salah satu pulau
>> terkaya akan jenis
binatang. Jenis mamalia terbanyak di Indonesia
> ada di
>> Sumatra, jenis burungnya terbanyak kedua setelah Papua.
> Kekayaan jenis
>> ini karena ukuran pulaunya yang besar,
variasi
> habitatnya, dan hubungan
>> masa lampaunya
dengan daratan utama
> Asia. Ada 23 spesies endemik (khas,
>> hanya ada di tempat itu di
> dunia) di Sumatra, 14 di
antaranya ada di
>> Kepulauan Mentawai
> (Corbert dan
Hill, 1992; Ruedi dan Fumagalli, 1996).
>>
>>
> Sementara itu, Pulau Simeulue di posisi paling utara rangkaian
> kepulauan
>> busur luar ini, dan Pulau Enggano di posisi
paling
> selatan; sangat
>> miskin akan kekayaan
spesies. Mengapa Kepulauan
> Mentawai memiliki
>>
kontras tersendiri ? Sejarah geologi
> perkembangan pulau-pulau
ini akan
>> menjadi kunci ke arah
> jawaban.
>>
>> Sejarah geologi dan perkembangan
>
pulau-pulau ini relatif terhadap
>> daratan utama Sumatra
paling
> tidak sejak 1 juta tahun yang lalu sampai
>>
saat ini menunjukkan
> bahwa bagian paling utara (Simeulue) dan
bagian
>> paling selatan
> (Enggano) busur luar ini
tidak pernah bersatu dengan
>> Sumatra,
> sementara
bagian tengahnya (Mentawai) bersatu dari 1 – 0.5 Ma
>> (juta tahun yang lalu) dan terpisah dari Sumatra sejak 500
ribu
> tahun
>> yang lalu.
>>
>>
Antara 1-0.5 Ma,
> Kepulauan Mentawai mengalami kolonisasi oleh
spesies2
>> yang
> bermigrasi dari daratan utama
Sumatra, sementara Simeulue dan
>>
> Enggano tidak
karena mereka selamanya terisolasi. Kemudian, pada 0.5 Ma
>>
hubungan Mentawai-Sumatra terputus, sejak itu Mentawai mengalami
>> isolasi. Bentuk-bentuk primitif spesies yang mengkolonisasi
> Mentawai
>> berkembang sendiri melalui mekanisme
spesiasi dalam
> evolusi. Spesies2
>> awal Indo-Malaya
yang
> ”terperangkap” di Mentawai kemudian
berkembang
>>
> sendiri dan menjadi endemik saat ini,
jauh lebih endemik daripada
> hewan2
>> di daratan
Sumatra yang pernah menjadi sumber aliran
> gen-nya.
>>
>> Pulau-pulau di sebelah timur Sumatra (Riau
> Kepulauan, Bangka-Belitung)
>> hampir selalu bersatu
secara geologi
> dengan Sumatra; maka dapat
>>
diprediksi bahwa variasi spesiesnya
> tak akan jauh berbeda
dengan
>> Sumatra, spesies endemiknya akan
> minimal.
Benar, pulau2 Riau dan Lingga
>> serta Anambas/Natuna tak
> punya jenis yang endemik (meskipun dalam
>> tingkat
sub-jenis ada
> juga yang endemik). Mamalianya lebih mirip
Sumatra
>> atau
> Kalimantan daripada Mentawai. Menurut
data van der Zon (1979),
>>
> jumlah jenis di kepulauan
Riau-Lingga-Bangka-Belitung-Anambas-Natuna
>> 45-58 % mirip
jenis-jenis Sumatra dan Kalimantan; sedangkan jumlah
> jenis
>> di kepulauan Mentawai hanya 26 % mirip jumlah jenis di
> Sumatra dan
>> Kalimantan. Sebuah kontras
bio/zoogeografi; tetapi
> kita bisa memahaminya
>>
sebab terdapat kontras geologi yang
> signifikan antara Mentawai
dengan
>>
> Sumatra-Riau-Bangka-Belitung-Natuna.
>>
>> Di dalam Pulau
> Sumatra sendiri
terdapat juga kontras biogeografi yang
>> juga
>
dikendalikan oleh geologi. Barier terhadap biogeografi di daratan
>> Sumatra berupa sungai-sungai yang terlalu lebar dan
pegunungan
> yang
>> terlalu tinggi untuk diseberangi.
Sebuah minor boundary
> zone
>> biogeografi ditaruh
para ahli biogeografi tepat di
> sepanjang Sesar
>>
Sumatra. Apakah sesar ini menjadi garis
> demarkasi yang gagal
dilewati
>> para hewan ? Tidak, garis
> demarkasinya
adalah Pegunungan Bukit Barisan
>> yang tinggi yang
>
memang duduk di sepanjang Sesar Sumatra. Minor boundary
>>
ini
> membatasi aliran pertukaran gen dan memisahkan
subspesies.
>>
>> Sebuah major boundary menarik
yang memisahkan seluruh spesies
> ditaruh
>> para ahli
memanjang BD-TL dari timurlaut Pulau Nias ke
> arah timurlaut
>> memotong Danau Toba sampai ke sekitar Medan.
> Garis
demarkasi besar ini
>> di sekitar Pulau Nias berimpit dengan
> barier besar geologi Sesar Batee
>> yang memisahkan
platelet Aceh
> dari sisa plate Eurasia yang diduduki
>> Sumatra; tetapi makin ke
> timur laut ia menyimpang
dari jalur Sesar
>> Batee. Jumlah jenis di
> sebelah
utara dan selatan major boundary ini
>> lumayan kontras.
> Beberapa spekulasi dikemukakan, berhubungan dengan
>>
sebaran tuf
> erupsi Toba 75.000 tahun yang lalu yang lebih banyak
di
>> sebelah
> utara batas biogeografi, atau
berhubungan dengan tiupan angin
>>
> kering tipe Fohn
dari Padang Lawas-Padang Sidempuan yang akan
>>
>
mengeringkan cuaca dan menghentikan migrasi hewan dari selatan yang
>> mencoba melalui garis demarkasi ini (Oldeman et al., 1970).
> Aliran
>> migrasi yang berhenti akan menghentikan aliran
gen untuk
> spesiasi,
>> sehingga variasi spesies
dua
>> wilayah akan
> kontras.
>>
>> Demikian tinjauan sederhana bagaimana
> geologi
mengendalikan
>> keanekaragaman hayati sebuah wilayah. Di
> Indonesia, persada kita
>> tercinta, sejarah alam
telah
> mengawetkannya dan kini memperlihatkannya
>>
kepada kita. Semoga
> kita sadar dan menghargai kekayaan sejarah
alam ini.
>>
>>
> salam,
>>
awang
>>
>> LAMPIRAN
>>
>>
Date: Sun, 31 Oct 2004 18:13:20 -0800 (PST)
>>
>
From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]> Add
to
> Address Book
>> Subject: Re: [iagi-net-l]
Manusia Hobbit Homo
> floresiensis
>> To:
[email protected],
> [EMAIL PROTECTED]
>>
>> Laporan Rowland (1992) :
> Timor : including islands
of Roti and Ndao –
>> World
> Bibliographical
Series V. 142, Oxford Press (bisa dibaca di
>>
>
Kathryn Monk et al., 1997 : The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku
> –
>> Periplus Editions, Singapore) ternyata
sudah menyebut2
> keberadaan
>> semacam
“hobbit” ini di Flores bahkan di
> beberapa
pulau lainnya di Nusa
>> Tenggara. Disebutnya bahwa di
> Upper Paleolithic (40.000-6000 BP), Nusa
>> Tenggara dan
sekitarnya
> dihuni oleh manusia moderen Homo sapiens yang
>> merupakan golongan
> pemburu dan pengumpul
(hunter-gatherers) Australoid
>> pygmy yang
>
bermigrasi dari barat. Mereka diperkirakan datang dari
>>
daratan
> utama Asia melalui Filipina. Kehadirannya juga ditandai
dengan
>>
> alat2 batu yang besar dan punahnya beberapa
fauna (stegodon, kadal
>> raksasa, dan penyu daratan) di
Sulawesi, Flores, dan Timor.
> Orang2
>> kerdil ini
kata Rowland (1992) tinggal di dalam gua2 atau
> rumah batu
>> yang digali di bukit2 atau di dekat pantai. Penghuni2
>
kerdil di Timor
>> ini bisa jadi yang
>> bermigrasi
ke
> Australia.
>>
>> Pendapat Rowland ini
berarti tidak
> sejalan dengan pendapat bahwa
>>
aborigin Australia berasal dari
> manusia Ngandong yang bermigrasi
dari
>> Jawa melalui Nusa
> Tenggara. Di Nusa Tenggara
banyak artefak industri
>> Pacitanian
> atau
Sangiranian yang diperkirakan pembuatnya adalah manusia
>>
> Ngandong (van den Bergh et al., 1996 : Did Homo erectus reach
the
> island
>> of Flores ? – BIPPA / Bull.
of the Indo-Pacific
> Prehistory Association,
>> v. 14,
p. 27-36).
>>
>>
> Jacob (1967) :
“Some Problems Pertaining to the Racial History of
>
the
>> Indonesian Region“ pernah menemukan rangka
manusia
> perempuan dewasa
>> bersosok kecil di sebuah
gua bernama Liang Toge
> di Flores dengan umur
>> 2000
SM. Sisa rangka dari beberapa situs
> di Flores semuanya diduga
>> bertarikh Holosen dan termasuk ke para
> leluhur
populasi
>> Australo-Melanesia yang sekarang mendiami pulau
> Flores.
>>
>> Saya pikir
“hobbit” di Flores
> itu hanya menunjukkan
suatu ras dalam Homo
>> sapiens, bukan
> hominid.
Memang benar bahwa semua populasi mengalami
>> seleksi
> alamiah dan genetic drift yang akan berakibat menimbulkan
>>
> kelompok ras tertentu melalui polimorfisme, tetapi
kurun waktu yang
>> singkat menyulitkan untuk menerima bahwa
suatu evolusi lokal
> telah
>> terjadi di sini. Dan
sangat mungkin pula bahwa
> “hobbit” di Flores
itu
>> juga merupakan sisa ras lama
> yang terawetkan
saat ekspansi migrasi ras
>> Mongoloid Selatan
>
terjadi ke seluruh dunia. Sebagian besar penduduk
>> kawasan
> Indo-Malaysia sekarang termasuk ke fenotipe Mongoloid Selatan.
>>
> Tetapi di wilayah2 ini juga ada populasi2 lain yang
walaupun kecil
>> jumlahnya tetapi penting dalam sejarah, yaitu
ras Negrito
>>
> (Australoid/Austro-Melanesia) yang
masih tinggal di Malaysia dan
>>
> Filipina yang
bertubuh kecil. Tubuh pendek ini juga memang bisa terjadi
>>
sebagai adaptasi terhadap lingkungan, walaupun ini tak selalu
>
benar
>> sebab penelitian terhadap orang
>> pygmy
di Afrika
> (Merimee et al., 1981) : “Dwarfism in the
Pygmy” –
> New
>> England Journal
of Medicine vol.305, no. 17 menemukan bahwa
> mereka
>> ternyata kekurangan hormon IGF-I, yaitu hormon mirip
>
insulin yang
>> dibutuhkan untuk pertumbuhan.
>>
>>
>
>> Salam,
>> awang
>>
>>
>>
>
---------------------------------
>> Be a better friend,
newshound,
> and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
>> now.
>
>
> --
>
_______________________________________________
> Nganyerikeun
hate batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate
> jalma
hirupna pada ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.
>
>
>
--------------------------------------------------------------------------------
> PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)
> * acara utama: 27-28 Agustus
2008
> * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008
>
* pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008
> * batas akhir
penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008
> * abstrak / makalah
dikirimkan ke:
> www.grdc.esdm.go.id/aplod
> username:
iagi2008
> password: masukdanaplod
>
>
--------------------------------------------------------------------------------
> PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:
> * pendaftaran calon
ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008
> * penghitungan suara: waktu PIT
IAGI Ke-37 di Bandung
> AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG
JUGA!!!
>
>
-----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123
0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI
or others. In no event
> shall IAGI and its members be liable for
any, including but not limited to
> direct or indirect damages, or
damages of any kind whatsoever, resulting
> from loss of use, data
or profits, arising out of or in connection with
> the use of any
information posted on IAGI mailing list.
>
---------------------------------------------------------------------
>
>
--
_______________________________________________
Nganyerikeun hate
batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma hirupna pada
ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.